Memperjuangkan cinta adalah sesuatu hal yang lumrah, terlebih lagi ketika kita memperjuangkan cinta istri kita sendiri yang tidak mencintai kita.
Hal itulah yang di alami Azriel yang sangat di benci oleh istrinya.
penasaran dengan ceritanya, yuk baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 09
"Kamu mau sarapan di rumah atau dimana?" tanya Azriel saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Tadi memang saat di rumah sakit Febby tidak mau makan makanan rumah sakit, karena katanya rasanya hambar dia tidak suka.
"Terserah kamu saja," balas Febby sekenanya.
"Pengen sih makan di restoran yang baru buka di depan, tapi mau ngomong malu," batin Febby yang ingin makan di restoran yang baru saja buka.
"Ya sudah kita makan di restoran depan sana saja ya, takutnya kalau di rumah bi Sumi belum masak karena gak tahu kalau kita udah pulang," ajak Azriel.
"Hmm," balas Febby padahal dalam hatinya dia senang karena akhirnya bisa makan di tempat yang dia inginkan.
"Mungkin dia cenayang," pikir Febby karena merasa kalau Azriel tahu apa yang dia inginkan.
Azriel pun membelokkan mobilnya ke restoran yang baru saja buka itu, dia langsung keluar dari mobil setelah memakirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Febby.
"Silahkan," ucap Azriel mempersilahkan Febby bak ratu.
Febby tetap cuek dengan muka datarnya menerima perlakuan manis dari Azriel.
Azriel pun tetap tersenyum menerima perlakuan itu dari Febby, dia akan tetap sabar menghadapi sikap sikap Febby sampai nanti dia bisa mengambil hati Febby dan menjadi bucin kepada dirinya.
"Mau duduk di luar atau di private room?" tanya Azriel saat mereka berjalan memasuki restoran.
"Di luar saja," balas Febby dan langsung mengambil tempat duduk yang berada di pojok yang langsung menghadap ke arah taman.
Azriel mengikuti Febby, dia langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan buat mereka.
"Ingat, gak boleh makan pedes pedes," peringat Azriel sebelum Febby memesan makanan, karena Azriel tahu kalau Febby adalah salah satu pasukan orang orang yang suka makan makanan pedas.
"Iya," balas Febby.
Pelayan pun datang dan Febby sama Azriel pun langsung memesan makanan yang mereka inginkan.
"Nanti sampai rumah kamu gak papa kan aku tinggal kerja dulu, nanti ada bi Sumi yang akan selalu menemani kamu," ucap Azriel sambil menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Kerja ya kerja saja, urusin tuh perusahaan milikmu, gak usah urusin aku, aku juga bisa jaga diri baik baik," balas Febby judes.
"Feb, berulang kali aku bilang, perusahaan itu milik orang tua kamu yang otomatis menjadi milik kamu, aku hanya menjalankan perusahaannya saja tidak menjadi pemiliknya," balas Azriel menjelaskan.
"Oh ya, masak sih, gak percaya aku, palingan juga nanti kalau udah dapat tuh perusahaan kamu akan langsung mengusirku dari rumah," balas Febby.
"Astaghfirullah, berulang kali aku bilang sama kamu kalau aku gak ada niatan sedikitpun untuk merebut harta kamu, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, harus dengan cara apa aku membuktikan agar kamu percaya sama aku." Azriel sudah mulai menipis kesabarannya dalam menghadapi Febby.
"Cih, jago banget kamu kalau ngomong seperti itu, emang ya dasar mulut penjahat itu pada pintar pintar dalam berbicara,"
"Feb...."
"Permisi tuan nona, ini pesanan kalian," ucap pelayan yang menghentikan perdebatan antara suami istri itu.
"Terimakasih mbak," balas Azriel dan di angguki oleh pelayan itu.
Pelayan itu pun pergi, Azriel dan Febby sama sama hanya memandangi makanan yang ada di hadapan mereka.
"Hufft...." Azriel menarik nafasnya dalam untuk menetralkan emosinya.
Dia harus tetap sabar menghadapi Febby, tidak boleh terbawa emosi.
"Sudah lupakan yang tadi, ayo kamu makan dulu," ucap Azriel dengan lembut menyuruh Febby agar segera makan.
"Tanpa membalas ucapan Azriel, Febby langsung menyantap makanannya. Febby makan dengan lahap karena memang dia merasa sangat kelaparan, apalagi rasa makanannya sangat pas di lidahnya, membuat Febby rasanya ingin merasakan semua menu yang ada di restoran ini.
"Kamu cantik banget kalau makan," puji Azriel pada Febby tapi itu hanya dalam hatinya saja.
Saking asiknya memandangi wajah cantik Febby, Azriel sampai lupa tidak memakan makanan miliknya.
Febby tidak menyadari kalau sedari tadi Azriel melihatnya karena dia fokus pada makanannya.
Melihat Febby yang ribet dengan rambutnya, Azriel pun pergi meminta karet gelang kepada pelayan dan kembali langsung berdiri di belakang Febby.
"Ehh," kaget Febby saat merasa ada orang yang menyentuh rambutnya.
"Sudah kamu fokus makan saja dulu, aku mau ikatkan rambut kamu biar tidak menganggu kamu makan," ucap Azriel membuat Febby membiarkan saja aksi Azriel.
"Nah, kalau gini kan gak ganggu kamu makan," ucap Azriel setelah menyelesaikan aksinya.
Febby hanya diam saja, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa tentang perlakuan Azriel kepada dirinya.
Yang ada di pikiran Febby, dia bingung Azriel mendapatkan ikat rambut itu dari mana, karena dia terlalu fokus makan sampai sampai dia tidak menyadari kalau Azriel pergi.
"Kok makanan dia masih banyak, apa dia tidak menyukai makanannya, sepertinya itu sangat enak, sayang banget kalau sampai harus di buang nanti," batin Febby yang melihat makanan Azriel masih banyak.
"Tapi mau minta pun aku malu, pasti nanti dia akan langsung kegeeran," lanjutnya dalam hati.
"Kenapa, kamu mau makanan ini?" tanya Azriel yang melihat Febby tengah memandangi makanan miliknya.
"Eh, itu kenapa kamu tidak makan?" Febby langsung menutup mulutnya yang sangat lancang bertanya seperti itu tanpa meminta izin kepada dirinya.
"Aku sudah kenyang, kalau kamu mau ini ambil saja, atau aku pesankan yang baru saja soalnya ini ada bekasku," balas Azriel.
"Mbak," Azriel melambaikan tangannya memanggil pelayan.
"Ehh, enggak mbak enggak jadi," ucap Febby kepada pelayan yang Azriel panggil.
"Kenapa, kamu mau makanan seperti inikan, biar aku pesankan dulu," heran Azriel.
Azriel sangat tahu, pasti Febby sangat menginginkan makanan seperti miliknya itu.
"Enggak usah pesan lagi, aku makan punya kamu saja, sayang kalau nanti di buang," balas Febby membuat Azriel yang mendengarnya tidak percaya.
"Hah, kamu beneran mau makan bekas ku, ini sudah aku makan sedikit loh tadi?" tak percaya Azriel.
"Iya aku mau, tapi kamu jangan geer dulu, aku mau makan karena aku tahu mencari uang untuk membeli makanan itu sangat susah, banyak orang orang di luar sana yang kesusahan dalam mencari makanan, maka sangat di sayangkan kalau kita membuang buang makanan," balas Febby menjelaskan agar Azriel tidak kegeeran.
"Ya sudah, ini kamu langsung makan saja," Azriel menyerahkan piring makanannya untuk Febby dan langsung di terima oleh Febby.
Azriel tersenyum melihat Febby yang sangat lahap makan pagi ini, mungkin ini juga salah satu reaksi dari obat penambah nafsu makan yang dokter berikan tadi pagi.
Apalagi saat tahu kalau makanan yang Febby makan itu adalah bekas miliknya, membuat Azriel sangat bahagia sekali, mungkin ini awal dari kisah kehidupannya dengan Febby yang akan membaik.
"Semoga ini awal dari semuanya," batin Azriel menatap Febby dengan penuh cinta.
Azriel sudah merasa kenyang dengan menatap wajah cantik Febby saja, apalagi kalau dia bisa memeluk dan memiliki tubuh Febby, mungkin dia tidak akan pernah merasakan kelaparan meskipun tidak makan.
...***...