Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah perjalanan kereta selama hampir dua jam, disusul jalan kaki menyusuri jalan setapak berbatu, Ling Qi akhirnya tiba di gerbang masuk Desa Xihu.
Pemandangan yang menyambutnya jauh berbeda dari yang dia bayangkan. Alih-alih desa sepi yang ketakutan karena ancaman retakan, jalanan utama desa itu justru dipenuhi deretan kios kecil yang menjajakan berbagai makanan—bau daging panggang, kuah mi hangat, dan kue kukus yang baru matang bercampur di udara, menciptakan suasana yang lebih mirip festival dibandingkan desa dalam bahaya.
Sebagian besar penjual berjualan langsung dari teras rumah mereka sendiri, meja-meja kayu sederhana dipenuhi mangkuk dan piring, beberapa anak kecil berlarian riang di antara kerumunan Hunter yang lalu-lalang mengenakan seragam dan senjata berbagai bentuk.
'Sepertinya keberadaan retakan ini justru jadi berkah bagi penduduk desa,' Ling Qi membatin, sedikit terkejut menyaksikan betapa hidupnya suasana yang seharusnya mencekam itu.
Matanya tertuju pada sebuah kios kecil yang menjual minuman dingin berwarna oranye cerah, uap dingin mengepul dari gelas-gelas kaca yang berjajar rapi di meja. Rasa haus setelah perjalanan panjang mendorongnya mendekat.
"Satu, ya, Kek," ucapnya kepada seorang pria tua yang berdiri di balik meja, senyum kakek itu ramah menyambut setiap Hunter yang lewat.
"Ini, silakan," pria tua itu menyodorkan segelas minuman dengan cepat, tangannya cekatan meski usianya sudah cukup lanjut.
Ling Qi mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, mengulurkannya kepada pria tua itu. Namun, alih-alih menerima, pria itu justru menggeleng cepat, menolak dengan tangan terangkat.
"Tidak usah, Nak. Uangmu simpan saja."
Ling Qi mengerutkan kening. "Kenapa? Aku sudah memesan, seharusnya aku bayar."
Pria tua itu tersenyum lebih lebar, matanya berkerut karena usia namun masih terlihat hangat. "Kami di sini melayani para Hunter dengan cuma-cuma. Kalian datang untuk menutup retakan itu, memastikan monster tidak keluar dan mengancam kami. Anggap saja ini balas budi kecil dari penduduk desa."
Ling Qi terdiam sejenak, menatap pria tua itu dengan rasa hormat yang tumbuh tiba-tiba. "...Terima kasih."
Dia mengangkat gelas minuman itu, ragu sesaat karena wajahnya masih tertutup topeng dan masker. Namun begitu gelas itu mendekat ke bibirnya, bagian bawah Niraura Mask tiba-tiba membuka celah kecil dengan sendirinya, cukup untuk memungkinkan cairan masuk tanpa membuka seluruh wajahnya.
'Canggih juga,' pikirnya, sedikit takjub dengan mekanisme sistem yang selalu menemukan cara untuk memudahkannya.
Setelah menghabiskan minumannya dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, Ling Qi melanjutkan langkahnya menuju ujung desa, tempat kerumunan paling padat berkumpul—area di sekitar retakan yang menjadi tujuan misinya.
Sebuah pos pendaftaran sederhana berdiri di dekat mulut retakan yang mengeluarkan cahaya keperakan samar, dijaga oleh dua orang berseragam Liezhe Dian yang memeriksa kartu misi setiap Hunter yang hendak masuk.
Ling Qi mengantre sebentar, lalu dia menyerahkan kartu misinya kepada petugas jaga.
"Misi Menutup Retakan Tingkat C, atas nama... Qi," petugas itu membaca sekilas, mencocokkan data di tabletnya. "Silakan masuk. Batas waktu misi dua belas jam."
Ling Qi mengangguk, menerima kembali kartunya, lalu melangkah mendekati mulut retakan.
Sebelum masuk, matanya tanpa sengaja tertuju pada sekelompok orang yang berdiri tidak jauh darinya, tampaknya juga bersiap memasuki retakan yang sama—empat orang laki-laki berpakaian seragam Hunter yang serasi, dan satu orang wanita muda yang berdiri sedikit terpisah, memegang tombak dengan gerakan canggung yang jelas menunjukkan dia baru saja terjun ke dunia ini.
"Aku janji akan bekerja keras! Mohon bimbingannya, Senior-senior!" wanita muda itu berseru penuh semangat, membungkuk dalam-dalam ke arah keempat pria di sekitarnya, suaranya begitu polos hingga terdengar hampir naif.
Salah satu pria di antara mereka tersenyum, tetapi senyumnya terlihat sedikit aneh di mata Ling Qi—terlalu lebar, terlalu manis untuk situasi seperti ini, disertai pandangan sekilas yang saling bertukar dengan rekan-rekannya, seperti sebuah kode diam yang hanya mereka pahami.
Ling Qi berhenti sejenak, matanya menyipit di balik topengnya, memperhatikan interaksi kecil itu lebih lama dari yang seharusnya.
'Sesuatu terasa tidak beres dengan kelompok itu.' Dia tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang mengganggunya, hanya insting yang sudah terlatih bertahun-tahun membaca niat busuk di balik senyuman manis para penambang senior yang dulu sering memerasnya di Heishan.
'Sepertinya akan terjadi sesuatu yang menarik di dalam sana.' Ling Qi melangkah maju, mengikuti kelompok itu dari kejauhan, memasuki cahaya keperakan retakan yang menuntunnya ke dunia lain yang menunggu di baliknya.