Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Rumah keluarga Lestari yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi riuh tawa kini telah berubah menjadi lautan air mata dan duka.
Suara isak tangis yang memilukan terdengar dari tiap sudut rumah. Para tamu undangan yang datang mengenakan pakaian rapi untuk menghadiri pesta pernikahan kini hanya bisa berdiri terpaku kaku. Tak ada seorang pun yang pernah mengira, hari bahagia yang paling dinanti-nanti itu mendadak menjadi hari tragedi.
Anindiya masih berdiri mematung tak jauh dari ambang pintu kamar pengantin. Wajahnya pucat pasi bagai kertas, pikirannya hampa. Pandangan matanya terus terkunci pada pintu kamar yang kini dipenuhi sanak keluarga dan petugas medis yang baru saja tiba.
Jemarinya tak berhenti gemetaran. Jeritan histeris yang memekakkan telinga dari mulutnya beberapa saat lalu masih terus bergema dan membakar kesadarannya sendiri.
Sepanjang kariernya sebagai perias pengantin, ia tak pernah menyaksikan pemandangan semengerikan ini.
Siska.
Lalu kini... Lestari.
Dua pengantin. Dua kematian tragis. Dan keduanya mengembuskan napas terakhir dibalut gaun yang sama.
Anindiya berusaha menggelengkan kepala pelan-pelan. Logikanya masih berjuang keras meyakinkan diri bahwa semua kejadian mengerikan ini hanyalah deretan kebetulan yang fatal.
Namun, makin keras ia mencoba menepis pikiran ganjil itu, bayangan paras pucat Lestari yang duduk mati di depan cermin justru terpeta kian benderang di pelupuk matanya. Dadanya mendadak terasa dihimpit batu raksasa. Untuk pertama kalinya, muncul benih rasa takut luar biasa saat ia mengingat wujud gaun pengantin yang selama ini amat ia banggakan.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Lestari berjalan menghampirinya. Wajah pasangan suami istri itu basah oleh linangan air mata, dengan sepasang mata yang membengkak parah.
Anindiya refleks menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Perasaan bersalah mendadak membanjiri dadanya, meski secara akal sehat ia tak pernah tahu di mana letak kesalahannya.
Dengan suara parau dan patah-patah, ibu Lestari berbisik bahwa mereka akan mengembalikan gaun tersebut setelah seluruh prosesi pemakaman usai. Beliau bahkan menyampaikan permohonan maaf karena gaun indah itu terpaksa mengiringi kepergian putri tercinta mereka.
Anindiya hanya sanggup mengangguk pelan. Tak ada sepatah kata pun yang mampu meluncur melewati bibirnya yang kaku. Ia bahkan tak berani mengangkat wajah untuk memandang lurus mata kedua orang tua yang sedang kehilangan itu.
Saat sang surya mulai tenggelam di ufuk barat, Anindiya dan Rina memutuskan untuk meninggalkan rumah duka.
Perjalanan pulang menuju sanggar di Kota A berlangsung amat sunyi. Tak ada percakapan, tak ada radio yang menyala. Hanya deru mesin mobil yang memecah keheningan malam.
Rina duduk termenung menatap kosong ke balik jendela mobil. Wajahnya tampak makin pucat pasi. Ia masih bisa membayangkan aroma melati busuk yang merebak tajam di dalam kamar pengantin tadi siang—seolah wangi mencekam itu telah mengendap dan menempel di indra penciumannya.
Tiap kali Rina memejamkan mata, yang terlintas bukanlah kegelapan, melainkan wujud sosok perempuan bermata hitam kelam yang berdiri tepat di belakang punggung Lestari. Bayangan kelam itu terus merayapi pikirannya tanpa henti.
Sementara itu, Anindiya menggenggam erat lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, tenggelam dalam rasa takut dan bingung.
Sesampainya di sanggar rias, mereka menurunkan peralatan kerja dengan gerakan lambat dan lunglai. Gaun pengantin putih gading itu telah tersimpan kembali di dalam kotak . Anindiya sempat memandangi kotak tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya meminta Rina untuk langsung pulang beristirahat.
Rina mengangguk tanpa suara. Ia segera menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju menembus dinginnya malam.
Langit malam sudah benar-benar gelap ketika Rina menginjakkan kaki di kediamannya.
Begitu melangkah masuk, ia langsung mengunci rapat pintu depan. Semua jendela ia periksa satu per satu, lalu tirai tebal ditutup rapat-rapat hingga tak ada sedikit pun celah bagi cahaya luar untuk masuk.
Rumah yang biasanya terasa hangat dan menenangkan kini mendadak berubah sangat asing dan mencekam.
Rina tak berminat menyalakan televisi ataupun mengecek ponselnya. Ia hanya terduduk kaku di sudut sofa ruang tamu seraya memeluk erat kedua lututnya. Kesunyian malam terasa begitu menghimpit.
Tiap gemerisik kecil sukses membuat jantungnya melompat kaget: letupan kayu atap rumah yang memuai, suara dedaunan kering yang bergesekan, hingga cicitan angin yang menyelinap lewat ventilasi. Semuanya terdengar bagikan derap langkah seseorang yang sedang mengintai dan berjalan mengelilingi rumahnya.
Makin larut, rasa teror itu kian mencekik. Rina akhirnya memilih beranjak masuk ke dalam kamar tidur. Lampu utama kamar sengaja ia biarkan tetap menyala terang—ia sama sekali tak sanggup berduaan dengan kegelapan.
Meski tubuhnya terasa amat lelah dan remuk, sepasang matanya menolak untuk terpejam. Tiap kali kelopak matanya terpejam sejenak, wajah pucat Lestari seketika melintas. Lalu berubah menjadi wajah kaku Siska. Dan akhirnya menjelma menjadi wujud sosok perempuan bermata hitam yang kerap meneror mimpinya.
Rina menarik selimut tebal hingga membungkus dada. Bibirnya yang gemetar berusaha merapalkan doa pelan-pelan.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang membakar.
Tiba-tiba...
Tok... Tok... Tok...
Suara langkah kaki misterius terdengar menggema dari arah ruang tengah!
Suaranya pelan, kaku, dan amat teratur—seolah-olah ada seseorang yang sedang melangkah tanpa terburu-buru.
Rina mendadak membuka matanya lebar-lebar. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menajamkan pendengarannya dalam teror yang memuncak.
Derap langkah itu mendadak berhenti... tepat di balik pintu kamarnya!
Sunyi senyap. Tak ada lagi suara gemerisik.
Rina tak berani menggerakkan sejari pun. Ia tinggal seorang diri malam itu.
Beberapa detik kemudian...
Gagang pintu kamarnya perlahan-lahan bergerak turun! Lalu terangkat kembali ke posisi semula. Sangat lambat dan halus, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang mencoba memutar gagang pintu dari luar!
Rina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa asin darah, berjuang keras menahan jeritan histeris. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya.
Lalu...
Aroma bunga melati busuk kembali memenuhi seluruh penjuru kamar! Wanginya jauh lebih tajam dan menusuk hidung ketimbang saat di kamar pengantin tadi siang.
Hawa udara di sekitar tempat tidur merosot dingin membeku. Embusan angin misterius yang entah darimana asalnya membuat tirai jendela meliuk-liuk pelan.
Lampu kamar mulai berkedip-kedip liar.
Sekali...
Dua kali...
Tiga kali...
Hingga akhirnya kembali menyala redup.
Rina memberanikan diri melihat ke arah cermin rias di samping lemari pakaian.
Awalnya, tak ada hal aneh. Hanya ada pantulan dirinya yang sedang duduk menggigil di atas kasur.
Namun secara perlahan... pantulan di dalam cermin itu bertransformasi.
Tepat di belakang tubuh Rina...
Muncul sosok perempuan yang berdiri kaku!
Gaun pengantin putih yang melekat di tubuh sosok itu tampak jauh lebih kusam dan kotor oleh noda cokelat. Rambut hitam panjangnya yang basah dan lengket menutupi separuh parasnya. Kulit wajahnya tampak pucat keabu-abuan bagai mayat membusuk.
Dan sepasang matanya... tetap berwarna hitam kelam tanpa ada selaput putih sedikit pun!
Kali ini, senyuman kaku di bibir kebiruan sosok itu terangkat makin lebar dan mengerikan.
Perlahan-lahan, perempuan itu mengangkat satu jari tangannya yang berkuku hitam ke depan bibir—sebuah isyarat tak terbantahkan agar Rina tetap bungkam.
Lalu, terdengar bisikan parau yang amat lirih, namun bergema tajam mengutak-atik isi kepala Rina:
"...se...ben...tar... la...gi... gi...li...ran...mu..."
Rina membekap mulutnya sendiri erat-erat agar tak menjerit histeris. Air mata ketakutan meluncur deras melintasi pipinya. Seluruh persendian tubuhnya terkunci mati akibat kecemasan tingkat tinggi.
Sementara itu, di dalam cermin...
Sosok perempuan gaun pengantin itu tetap berdiri mematung. Masih memamerkan senyum dinginnya yang mengerikan, tanpa pernah sekali pun mengalihkan tatapan mata hitam kelamnya dari paras Rina.