"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.
🍁🍁🍁
Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.
Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.
Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.
Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Bisikan orang
"Ma, nana," ucap Ditrian menunjukkan makanan di tangannya.
"Kamu lapar lagi?" Dinia menunduk dan menggendong Ditrian. Ada banyak staf yang mengikuti mereka dari belakang. Taran termasuk di dalamnya.
Dalam gendongan Dinia, Ditrian menengok ke belakang. Matanya tertuju pada Taran. Anak itu mengulurkan tangan. Taran raih tangan Ditrian, lalu menarik kembali. Dia seakan ingin bermain dengan pria itu. Setiap kali tangannya lolos Ditrian tertawa dengan puas.
"Itu anaknya Dira Kenan, ya?" bisik suara-suara.
Kebetulan saat itu mereka tengah main ke mall. Rencananya, Dinia ingin membelikan mainan untuk putranya. Namun, tanggapan orang lain berbeda.
"Dia udah gak malu bawa bayinya ke luar, ya? Tapi Bapaknya masih disembunyikan."
Tentu saja, orang-orang akan terus menggunjingkan masa lalu Ditrian. Mendengar itu, tidak hanya Dinia yang risi. Taran juga. Menurutnya selama ini Dinia selalu menjadi ibu yang baik. Ditrian juga anak yang manis dan aktif. Sungguh keterlaluan jika menjadikan mereka objek bully-an.
Dinia naik ke eskalator. Ditrian menyembunyikan wajah. Ketika kepalanya menyembul dari bahu Dinia, dia manyun ke arah Taran. Namun, mata Taran melihat ke arah lain.
"A~an!" panggil Ditrian.
"Apa?" tanya Taran.
Ditrian bergerak dengan cepat menyembunyikan wajahnya kembali. Hingga di ujung eskalator, Dinia memutuskan masuk ke dalam restoran. "Buatkan Ditrian susu, Sus," pinta wanita itu pada pengasuh Ditrian.
"Baik, Nona."
Lagi-lagi orang menatap ke arah Dinia. "Masih muda, karir sukses. Sayang punya anak gak jelas."Meski berbisik, mereka seolah sengaja membuat itu terdengar ke telinga Dinia.
"Dulu juga bapaknya begitu. Ibunya hamil du luar nikah sama anak pertama. Turun mungkin ke anaknya," timpal lainnya.
"Anak muda sekarang memang banyak yang sudah berhubungan intim sebelum menikah. Anehnya dinormalisasi lagi."
"Taran, aku minta ruangan VIP, ya?"
Taran mengangguk. Dia lekas menghubungi pihak restoran agar menyediakan ruangan agar privasi Dinia terjaga. Syukur, stafnya cekatan hingga mereka tak perlu menunggu lama.
"Nona Kenan, jika Anda akan hadir, mungkin akan lebih baik Anda menghubungi kami lebih dahulu. Sehingga kami bisa memberikan pelayanan terbaik," saran manajer restoran itu, datang menemui Dinia.
"Aku tidak tahu kapan aku lapar besar. Biasanya aku hanya makan makanan kecil. Jadi tak apa. Ini salah perutku, bukan restoran Anda," balas Dinia.
"Bukan maksud saya demikian, Nona. Hanya saja, saya malu dengan keluarga Kenan karena kurang maksimal dalam melayani Anda."
"Aku hanya ingin makan, Pak. Hidangkan saja makanan yang aku pesan. Aku bukan orang yang ribet soal makanan."
Tak lama manajer pamit undur diri. Ditrian turun dari pangkuan Dinia. Dia menarik lengan Taran. "Ada apa, Tuan?" tanya Taran.
Ditrian menunjuk ke luar pintu. "Lebih baik Anda makan dulu. Saya suapi mau?" tawar Taran.
Ditrian menggeleng. Dia terus saja menarik lengan Taran ke luar dari ruangan itu.
"Ajak main saja. Kalau lapar, dia pasti kembali ke sini," izin Dinia.
"Baik." Taran akhirnya mengikuti ke mana Ditrian mengajak. Anak itu terdiam di depan pintu. Dia terlena dengan lampion di langit-langit. Memang restoran itu mengusung tema oriental.
"Anda ingin itu, Tuan Ditrian?" Taran berlutut agar sejajar dengan wajah putra Dinia itu.
Ditrian menggelengkan kepala. Dia peluk Taran dengan erat. "Kenapa? Anda sedih?"
Taran gendong Ditrian. Dia melihat ke sekitar di mana mata orang-orang melihat Ditrian. Anak itu memang masih kecil, tapi dia bisa merasakan ketidaksukaan orang padanya.
🍁🍁🍁
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁