"Maafkan aku karena aku sudah mengkhianatimu, sayang," batin Kaisar.
Kaisar sangat kaget saat mengetahui dirinya sudah merenggut kesucian seorang gadis cantik yang tidak lain adalah anak dari pembantunya.
Kaisar mabuk berat, sehingga menganggap Luna sebagai istrinya. Padahal istrinya saat ini sedang terbaring koma di rumah sakit.
Masalah semakin pelik, saat mengetahui Luna mengandung anaknya dan bersamaan dengan sang istri sadar dari komanya.
Apa yang akan dilakukan Kaisar? Apakah dia akan menikahi Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Medina Dan Mark
Luna pergi ke rumah sakit bersama Bi Sum dengan ditemani Pak Didin.
"Nak, lebih baik mulai sekarang kamu gak usah nyiapin sarapan dan makan malam soalnya Ibu tidak tega melihat kamu sedih terus melihat Tuan Kai dan Nyonya Medina," seru Bi Sum.
"Tidak Bu, Luna baik-baik saja kok jadi Ibu tidak usah khawatir," sahut Luna dengan menggenggam tangan Ibunya itu.
Bi Sum tahu kalau anaknya itu sangat terluka tapi Luna menyembunyikan kesedihannya dari Bi Sum.
Sementara itu di kediaman Kai. "Sayang, hari ini aku ke kantor dulu ya soalnya aku sudah lama absen gak enak kalau bolos terus dan nyusahin Papa," seru Kai.
"Iya, Mas," sahut Medina dingin.
Kai segera merapikan pakaiannya, kemudian menghampiri istrinya itu.
"Sayang, kamu marah ya?"
"Ya iyalah marah, coba lihat Mama dan Papa kamu Mas, mereka begitu perhatian kepada anak pembantu itu memangnya mereka pikir, dia sedang mengandung cucu mereka sampai diperlakukan istimewa kaya itu," kesal Medina.
Deg...
Jantung Kai berdetak tak karuan, Medina memang tidak tahu kalau anak yang sedang dikandung Luna adalah anak Kai.
Kai menggenggam tangan istrinya itu lalu menciuminya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan bicara seperti itu sayang, Mama sama Papa hanya kasihan saja kepada Luna karena Luna tidak mempunyai suami," sahut Kai.
"Apa? tidak punya suami? idih, pasti dia bukan wanita baik-baik sampai-sampai tidak punya suami seperti itu," cibir Medina.
"Sudahlah sayang, lebih baik sekarang kamu fokus saja dengan kesehatan kamu dan jangan banyak pikiran."
Medina menganggukkan kepalanya. "Mas, boleh tidak kalau hari ini aku pergi ke rumah Mama?"
"Ya sudah, biar sekalian aku antar dulu kamu."
"Ah, tidak usah aku bisa pergi sendiri kok," tolak Medina.
"Tapi kan Pak Didinnya lagi nganterin Luna, terus nanti kamu pergi sama siapa?"
Medina memeluk Kai. "Kamu tidak usah khawatir, aku bisa naik taksi."
"Tapi kan-----"
"Ssstttt...sudah gak apa-apa, aku sudah sehat kok lebih baik sekarang kamu cepat-cepat berangkat ke kantor jangan sampai kamu terlambat."
"Ya sudah, tapi kalau kamu sudah sampai di rumah Mama, langsung kasih tahu aku ya."
"Oke."
Kai pun memeluk Medina dan menciumi seluruh wajah Medina, lalu setelah itu Kai langsung pergi meninggalkan kamar.
Medina terlihat tersenyum sinis, dengan cepat dia mengotak-ngatik ponselnya untuk memesan taksi online. Medina segera mengganti pakaiannya dan mematut wajahnya di cermin, kemudian Medina pun keluar dari kamarnya.
"Medina, kamu mau ke mana?" tanya Mama Arini.
"Aku mau ke rumah Mama dulu."
"Memangnya kamu sudah sembuh?"
"Ma, Medina tidak sakit stroke, Mama bisa lihat sendiri Medina sekarang sehat wala'fiat," sahut Medina dengan nada yang sedikit menyebalkan.
"Ya sudah, terserah kamu saja."
Medina pun segera pergi dari rumah itu membuat Mama Arini geleng-geleng kepala.
"Semenjak menikah sampai sekarang, Medina memang tidak pernah menghargai aku sebagai mertuanya. Kelakuannya seenaknya saja, tidak punya sopan santun berbeda sekali dengan Luna," gumam Mama Arini.
Medina segera masuk ke dalam taksi yang sudah tadi dia pesan, hari ini dia akan pergi ke suatu tempat. Hingga tidak lama kemudian, Medina pun sampai di sebuah bangunan bertingkat yang sangat mewah.
Medina dengan cepat masuk ke dalam gedung itu, ternyata itu sebuah apartemen mewah. Sesampainya di depan pintu salah satu apartemen, Medina dengan sangat cepat menekan password dan pintu pun terbuka.
Seseorang yang saat ini sedang menyantap sarapannya, langsung mengerutkan keningnya saat melihat Medina masuk dengan wajah yang cemberut.
"Hai, kenapa pagi-pagi kamu sudah cemberut?" tanya Mark.
"Aku lagi kesal sama orangtua Kai, Mark."
Mark segera menghabiskan sarapannya, dan menghampiri Medina kemudian memeluk dan menciumi Medina membuat Medina semakin kesal.
"Mark hentikan! aku sedang tidak ingin bercanda denganmu," geram Medina.
"Memangnya kenapa dengan kedua orangtua Kai?" tanya Mark.
"Kamu tahu tidak, mereka begitu sangat perhatian kepada wanita hamil itu, sedangkan aku yang jelas-jelas menantu mereka dan bahkan baru saja sembuh tidak pernah mereka perhatikan," kesal Medina.
"Wanita hamil? siapa yang kamu maksud?"
"Si Luna, anaknya Bi Sum."
"Ah iya, aku ingat. Tapi kenapa Tante Arini dan Om Mahaprana sangat perhatian sama dia?"
"Entahlah, aku juga bingung."
Mark menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya. "Sudahlah jangan banyak pikiran, lagipula kamu baru saja sembuh. Aku sampai merasa sangat bersalah saat kamu mengalami koma berbulan-bulan seperti itu karena memang pada kenyataannya semuanya ulah aku, kalau saja dulu aku tidak cemburu dan mengajak kamu bertengkar di telepon mungkin kamu tidak akan mengalami kecelakaan," seru Mark.
"Aku sudah memaafkanmu Mark, salahku juga waktu itu aku gak bisa tepati janji untuk datang menemuimu karena Kai tidak memberiku izin untuk pergi."
Medina dan Mark memang menjalin hubungan terlarang dibelakang Kai, dulu mereka bertiga adalah sahabatan dan ternyata Kai dan Mark sama-sama mencintai Medina.
Bedanya, Kai berani mengungkapkan cintanya sedangkan Mark hanya bisa memendam perasaannya karena dalam urusan materi Mark kalah telak dari Kai yang memang sudah punya segala-galanya.
Ditambah kedua orangtua Medina sangat gila harta, jadi otomatis mereka sangat bahagia Medina menikah dengan Kai.
Mark melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sayang, sudah siang aku harus segera pergi ke kantor," seru Mark.
"Mark, bisakah hari ini kamu gak pergi ke kantor dan temani aku saja di sini," rengek Medina.
"Tidak bisa sayang, Kai bisa marah soalnya aku sudah lama tidak masuk ke kantor. Selama kamu sakit, aku yang temani kamu jadi sekarang aku harus kerja."
Medina kembali cemberut membuat Mark menjadi serba salah.
"Jangan marah dong, bukannya Minggu ini kamu mau pergi ke pantai? aku janji, akan bawa kami jalan-jalan ke pantai."
"Hah serius, kamu bakalan bawa aku jalan-jalan ke pantai?"
"Iya, makanya sekarang aku harus kerja dulu."
"Ya sudah, kamu boleh pergi ke kantor," seru Medina.
"Nah gitu dong, sekarang kamu mau ke mana? pulang ke rumah Kai?" tanya Mark.
"Tidak, aku mau pulang ke rumahku saja."
"Ya sudah, sekarang aku antarkan kamu pulang dulu."
Akhirnya Mark pun mengantarkan Medina pulang ke rumah kedua orangtuanya. Ternyata mempunyai suami tampan dan kaya raya tidak menjamin Medina untuk tidak selingkuh, padahal Kai sangat mencintai Medina bahkan dia rela melakukan apa pun demi istri tercinta tapi Medina dengan kejamnya mengkhianati Kai dengan selingkuh bersama Mark yang merupakan sahabat Kai sendiri.
Ternyata memang benar kata orang-orang, kalau orang yang setia akan kalah oleh orang yang selalu ada.