Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Breakfast
Sarapan pagi di ruang makan Mansion Costra awalnya hanya di isi percakapan ringan seputaran kehidupan Arabella dan Vivianne serta hubungannya dengan Frederic. Pertanyaan tentu saja di berikan oleh sang tuan rumah Tuan Enrico Costra.
Baik Arabella maupun Vivianne hanya menjawab dengan dengan cara biasa. Arabella mengakhiri setiap jawaban dengan senyum sopan, sedangkan Vivi hanya menatap ketika menjawab pertanyaan Enrico, lalu dengan cepat berpaling kembali menatap Alan yang duduk tepat di hadapan gadis itu. Enrico sedikit menyesal kenapa Alan memilih duduk tepat di hadapan Vivi.
Ketika tadi sarapan dimulai dan Enrico mengambil tempat duduk di bagian kepala meja, secara berurutan Frederic, Vivi, lalu Arabella duduk di sisi kanan Rico. Di sisi kiri duduk Pedro, Alan dan kemudian Lori.
"Jadi ayah Frederic dan ayah Vivian adalah putramu, Arabella?" tanya Enrico.
"Benar, Tuan."
"Ah, tolong bantu aku Arabella. Panggil aku Rico saja."
Arabella tersenyum. " Tidak akan, Tuan. Anda adalah atasan Frederic." Kemudian Arabella kembali menatap piringnya.
Enrico beralih melirik Vivi. "Kau punya saudara, Vivian?"
Kernyitan halus di kening Vivi terbentuk setiap Enrico memanggil namanya dengan nama Vivian. Gadis itu mengalihkan matanya dari Alan dan menatap langsung ke mata Enrico.
"Tidak, Tuan. Saya anak tunggal. Sama seperti Sepupu Fred."
Setelahnya wajah Vivi kembali melirik ke arah Alan.
Merasa terus diperhatikan, Alan akhirnya bersuara.
"Vivi, boleh aku bertanya?"
Vivianne mengangguk sambil tersenyum sangat manis ke arah Alan.
"Kenapa kau suka mata biru?"
Tawa merdu gadis itu terdengar kembali di meja makan.Tawa yang bagai magnet, membuat orang segera menoleh untuk memandangnya. Ia menatap Alan dengan mata berkilat-kilat senang, seolah tengah mengenang sesuatu, atau seseorang.
"Bukan hanya mata biru, Alan. Tapi rambut pirang kecoklatan dan senyum itu ... Ah, kau bocah cilik yang tampan."
"Terima kasih. Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku." Alan mengerucutkan bibirnya, membuat tawa Vivianne kembali terdengar.
"Itu rahasia," ucap Vivianne sambil mengedipkan mata menggoda ke arah Alan.
Mata Frederic, Pedro dan Lori menatap ke arah tuan mereka. Mata hijau jernih yang menatap tak berkedip ke arah Vivianne. Berulang kali pria itu menggosok rahangnya. Frederic sampai mengira apakah tuannya itu mengalami serangan gatal-gatal. Karena terus mengelus dan menggosok rahangnya sendiri.
Frederic bersyukur sepupunya bersikap biasa saja. Kehadiran Alan mengalihkan perhatian sepupunya itu dari tuan mereka. Perkataan Vivianne tadi yang mengatakan Alan tidak mirip dengan ayahnya pastilah kesalahpahaman. Vivi pasti mengira Tuan Enrico adalah ayah Alan. Namun tidak ada satupun di antara mereka yang merasa perlu meluruskan hal itu. Baik dirinya, Pedro maupun Lori.
Frederic ingat dengan jelas bagaimana dulu Selena keponakan Pedro yang ketika itu datang di ajak makan malam bersama, tuannya terkadang melakukan hal itu jika anggota keluarga mereka datang. Gadis itu menyuap sayuran ke mulut, lalu karena matanya tidak pernah beralih dari tuan Enrico, sayuran itu masuk mulut, dengan kuah yang meleleh ke dagu. Sisa sayuran hijau malah menempel di bawah bibir gadis itu. Pedro menjadi malu setengah mati, bila makan malam waktu itu tidak segera berakhir, Pedro mengatakan Selena akan duduk sambil meneteskan air liur dengan mata terus menatap ke arah tuan mereka. Menurut Frederic, itu semua kesalahan tuan Enrico. Pria itu bersikap mempesona, dengan senyum hangat dan pandangan mata menggoda selama makan malam berlangsung.
Lain lagi dengan Leah, putri Loraina atau Lori. Gadis itu tidak bisa lebih terang-terangan lagi. Leah sengaja memakai pakaian minim dan berpura-pura melintas di hadapan tuan mereka yang saat itu sedang bersantai setelah makan malam. Frederic terkejut sekali waktu itu, berpikir entah di mana Leah mendapatkan pakaian yang tidak cocok dipakai, meski di klub malam sekalipun.
Untunglah Lori menghentikan kegilaan Leah dengan segera memindahkan gadis itu ke Desa Costra Land. Ibu dan anak itu sampai bertengkar hebat, lalu di desa, Leah bertemu Nathan, yang akhirnya membuat obsesi gadis itu pada tuan Enrico perlahan memudar.
Sarapan pagi itu akhirnya selesai. Enrico meninggalkan meja dengan Alan dalam gandengannya. Namun Alan sempat membuat janji dengan Vivi bahwa mereka akan mengobrol jika nanti ada waktu.
Belum lama tuan mereka dan Alan pergi, Lori yang mulai membereskan meja bertanya pada Vivi yang juga membantunya mengumpulkan piring.
"Vivi Sayang. Aku melihat kenyitan halus setiap Tuan Rico memanggil namamu dengan nama Vivian. Kenapa Sayang?"
"Oh, kau melihatnya!?" seru Vivi.
"Tidak akan terlewatkan olehku, Sayang. Aku terus memperhatikanmu."
"Bukan hanya kau saja. Pedro dan kau Fred ... memangnya kenapa kalian tampak ... apa ya ... tegang mungkin? Selama sarapan tadi. Apakah dia atasan yang buruk?"
Ketiga pegawai Enrico itu saling berpandangan, lalu Fredericlah yang akhirnya menjawab. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak. Tidak, Sepupu. Dia atasan yang baik."
"Oh, syukurlah, Fred."
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Vivi Sayang. Kenapa kau mengernyit setiap nama Vivian terdengar." Lori kembali bertanya.
"Oh ... itu ... sebenarnya aku tidak suka seseorang memanggilku begitu. Panggilan itu mengingatkanku pada seseorang yang aku benci."
"Siapa sepupu?" tanya Frederic.
"Seseorang di kampusku dulu, Fred dan aku tidak mau mengingatnya lagi."
"Tuan Enrico tidak tahu itu, Vivi. Jadi jangan menyalahkannya. Namamu memang Vivianne. Vivian ...." Arabella ikut menimpali dari tempat duduknya.
"Aku tahu, Nonna. Tapi tetap saja, rasanya menjengkelkan."
Langkah Enrico terhenti di luar ruang makan. Ia tadinya ingin menyampaikan sesuatu pada Pedro tentang agendanya hari ini. Karena ia meliburkan Frederic, maka ia ingin meminta Pedro menggantikan asistennya itu.
Setelah mendengar tentang alasan kenapa Vivianne selalu mengernyit mesti samar saat ia menyebut namanya dengan panggilan Vivian, Enrico memutuskan kembali berbalik, menunda menemui Pedro.
Sepupu Frederic tidak suka dipanggil Vivian. Juga tidak bersikap berlebihan ketika bertemu dengannya. Jauh berbeda dengan sikap para gadis yang biasanya akan terpikat, terpesona padanya. Satu hal lagi yang disadari oleh Enrico, Gadis itu mengira ia adalah ayah Alan. Seringai di bibir Enrico terbentuk ketika ia menyadari, tidak ada satu pun pegawainya yang meluruskan kesalahpahaman itu. Baik Frederic, Pedro maupun Lori.
"Senyummu luar biasa Vivianne. Tawamu juga bagai magnet, membuat orang selalu ingin menatapmu, terdengar amat merdu ... aku jadi ingin tahu ... kau salah satu yang benar-benar kebal dengan pria tampan, atau hanya karena sepupumu Frederic yang menyuruhmu jangan bersikap berlebihan." Enrico berbisik pada dirinya sendiri sambil terus tersenyum, melangkah menuju ruangan depan dan memutuskan akan menunggu Pedro di sana.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Kira-kira mau ngapain nih Mr. Costra ya....
Jangan lupa klik likenya, klik love, bintang lima juga komentar. Yang punya koin dan poin, bantu author vote ya, heheh
Terima kasih semuanya, Luv you....
S****alam hangat, DIANAZ.
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.