Bagaimana rasanya jika kamu tiba-tiba terbangun dengan wajah dan tubuh yang asing, juga keadaan yang sudah sepenuhnya berubah? Eliora, seorang ketua gengster berbahaya di California, tiba-tiba terjebak di dalam tubuh seorang wanita lemah bernama Tiara yang sudah memiliki suami dan juga anak.
Dia merasa kasihan ketika mengetahui bahwa selama ini Tiara diperlakukan semena-mena oleh suami dan mertuanya, hingga membuat Elora bertekad untuk mendapatkan keadilan bagi Tiara dan anakknya.
Perjalanannya semakin berwarna saat dirinya dipertemukan kembali dengan Charly, agen rahasia yang beberapa kali menjadikannya target operasi.
Mampukah Eliora membantu Tiara dan anaknya untuk mendapatkan keadilan? Bagaimanakah dengan masa lalu yang dia tinggalkan, apakah dia masih hidup atau sudah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warnyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9 Hanya tawanan?
Liora turun dari angkutan umum dengan membawa dua tas belanja berisi daging dan sayuran, sedangkan Mak Onah membawa satu tas belanja berisi bumbu. Davi pun membawa sendiri aneka jajanan yang dia beli.
Dengan membawa belanja yang lumayan berat itu, mereka harus berjalan kurang lebih lima menit lagi ke dalam komplek untuk mencapai rumah. Liora menghembuskan napasnya kasar, melihat jauhnya jalan yang harus dia lewati di bawah teriknya matahari pagi menjelang siang ini.
"Biar Mak saja yang bawa belanjaannya, Non." Mak Onah mencoba mengambil satu tas belanjaan di tangan Liora. Namun, Liora langsung menjauhkan tas belanjaan dari tangan wanita tua itu.
"Biar aku saja," ujarnya berusaha tersenyum, walau tubuhnya ternyata tidak sekuat perkiraannya dan kini dia sudah merasa lelah.
Ya ampun, bukan hanya otaknya yang bodoh, ternyata wanita ini juga memiliki tubuh yang lemah. Ck! Liora berdecak mendapati keringat sudah mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Sepertinya mulai sekarang aku harus melatih tubuhku lagi agar bisa lebih kuat lagi untuk melawan pelakor dan suami biadab itu. Aku juga tidak suka dengan bentuk tubuh yang sama sekali tidak menarik seperti ini, batin Liora mulai menyusun rencana.
Liora yang masih merasa heran dengan sikap Tiara selama ini, akhirnya memberanikan diri bertanya pada Mak Onah. Di dalam kesabaran dan emosinya yang hanya setipis tisu, Liora tidak bisa mengerti, mengapa Tiara bisa tetap bertahan di tengah tekanan batin suaminya sendiri.
"Mak, kenapa dulu aku bisa pasrah banget ya menerima perlakuan Mas Dery yang kayak gini?" Liora mencoba mencari informasi dari wanita yang disebut sebagai pengasuh Tiara.
"Baru sehari saja aku mengalami semua ini, rasanya aku sudah mau pergi saja dari rumah itu. Bukannya kalau kita sudah bercerai, Mas Dery tidak bisa menggangguku lagi?" gerutu Liora.
Setelah terbangun karena mimpi malam tadi, Liora memutuskan untuk mencari tau sistem pernikahan di negara ini dan semua informasi yang bisa dia dapatkan di dalam internet.
Ya, Rere sempat menyerahkan isi tas Tiara padanya yang ternyata berisi ponsel, dompet dan beberapa barang pribadi milik Tiara. Dari sana saja dia bisa melihat kalau Tiara adalah sosok perempuan yang sederhana. Bahkan ponselnya saja tidak dikunci sama sekali.
Di dalam kamar Tiara, Liora juga menemukan laptop yang mungkin sudah sangat lama milik Tiara, hanya saja ada beberapa berkas yang terkunci, dan dia belum bisa membukanya.
"Karena ini bukan hanya masalah pernikahan, Non. Non Tiara bertahan di rumah itu karena perusahan papa Non Tiara yang sekarang masih berada di dalam kuasa Tuan Dery," jelas Mak Onah.
"Perusahaan, Mak? Jadi selama ini Tiara, eh maksunya aku ... memiliki perusahaan?" tanya Liora dengan kening berkerut dalam.
"Iya, Non. Dulu sewaktu papa dan mama Non Tiara kecelakaan mereka meninggalkan warisan berupa perusahan dan beberapa aset lainnya. Tapi, karena Non Tiara masih kecil, warisan itu diambil alih oleh mertua Non Tiara untuk dikelola. Setelah Non Tiara menikah dengan Tuan Dery, perusahan itu sekarang ada di tangan Tuan Dery," jawab Mak Onah yang membuat Liora melebarkan mata.
Ada sesuatu yang janggal, jika memang semua jawaban Mak Onah benar adanya. Kalau begini Tiara lebih seperti seorang tawanan di keluarga Dery untuk menguasai harta warisan dari kedua orang tua Tiara. Dery memang menikahinya bukan karena cinta, tetapi bisa saja itu hanya kerana harta.
"Tapi, kenapa Rere enggak tau tentang masalah ini, Mak?" tanya Liora, mengingat selama ini Rere tidak pernah menyinggung soal perusahaan.
"Masalah ini tidak ada yang tahu, kecuali petinggi di perusahaan dan keluarga Tuan Dery. Sedangkan Mak, tahu karena Mak mendengar sendiri ketika pengacara papa Non membacakan hak waris di depan keluarga Tuan Dery." Mak Onah kembali bercerita.
"Sewaktu Non Tiara dan Tuan Dery masih kuliah, kalian pernah bekerja di perusahaan keluarga Non Tiara bersama-sama. Tapi, setelah menikah, Non Tiara memutuskan untuk berhenti dan fokus di rumah," sambung Mak Onah lagi.
Liora mengangguk-anggukkan kepalanya samar, dalam hati dia terkejut bukan main karena ternyata masalah yang dihadapi oleh Tiara lumayan rumit. Pantas saja, bahkan setelah Tiara mengetahui kalau suaminya menikah lagi dengan mantan wanita panggilan, dia masih tetap bertahan.
"Lalu, bagaimana dengan kasus kecelakaannya? Apa pelakunya sudah dihukum?" tanya Tiara lagi. Dia mengingat cerita Rere yang mengatakan kalau Tiara koma karena tertabrak mobil. Liora juga mulai mencurigai kecelakaan yang menimpa Tiara.
"Sudah, Non. Pelakunya adalah sopir pribadi salah satu kolega Tuan Dery. Dia mengaku kalau mengemudi dalam keadaan mengantuk," jawab Mak Onah.
"Jadi begitu ceritanya." Liora bergumam lirih, dengan segala pikiran yang mengingat kembali perkataan tidak selesai Tiara sewaktu dia bermimpi semalam.
Sebenarnya kecelakaan itu–
Tanpa terasa kini mereka hanya tinggal melewati beberapa rumah lagi untuk sampai, ketika tiba-tiba ada sebuah mobil Pajero sport berwarna hitam melintas mendahului mereka berdua.
Kaca mobil yang terbuka membuat Liora bisa melihat jelas siapa yang duduk di dalam mobil itu. Matanya melebar ketika dia melihat orang yang sangat dia kenal tengah menoleh ke luar tepat saat melintasinya, hingga mata keduanya sempat bertemu.
"Charly?" gumam Liora sambil melihat mobil yang sudah mendahuluinya, kemudian berbelok masuk ke rumah, di depan rumahnya.
Untuk sesaat Liora mematung, dia masih tidak menyangka akan melihat laki-laki itu lagi, di kehidupan yang ke dua ini. Laki-laki yang merupakan musuhnya ketika dia California. Laki-laki yang terus memburunya seperti seekor binatang. Dan, laki-laki yang juga mampu membuatnya terpesona berkali-kali.
Aku tidak salah lihat kan? Itu tadi Charly? Kenapa dia ada di sini juga? Apa mungkin benar dugaanku sebelumnya, kalau dia yang merubahku menjadi seperti ini, dan ini adalah sekenarionya? Dia ingin mengawasi aku, itu sebabnya dia ada di sini? batin Liora bertanya.
"Mak? Itu rumah siapa?" Cepat Liora bertanya pada Mak Onah, untuk memastikan kalau itu memang Charly.
"Oh, rumah itu tadinya kosong, katanya terjual baru-baru ini. Sepertinya orang yang membelinya baru pindah," jawab Mak Onah sambil melihat sekilas pada rumah dengan dominan cat berwarna abu-abu muda dan hitam.
"Mak tahu siapa yang membelinya?" tanya Liora mencoba menyelidiki.
"Enggak," geleng Mak Onah dengan kerutan di keningnya.
"Tapi, katanya yang akan tinggal di sini orang luar negeri," sambung Mak Onah lagi.
Liora kembali mengangguk pelan, dia melihat kembali ke tetangga baru itu sebelum melewati gerbang. Namun, gerbang di rumah depan dudah tertutup, hingga yang terlihat hanya pagar besi berwarna hitam yang tak kalah tinggi dari rumahnya sendiri.
Enggak mungkin kan, kalau Charly tau aku adalah Liora? Mana bisa begitu, sementara aku terdampar di tubuh wanita lemah ini. Liora membatin, dengan rasa khawatir di dalam hatinya.
.
Sementara itu di sebuah restoran yang menyediakan menu sarapan, seorang laki-laki berkulit coklat dan berbadan kekar, tampak sedang duduk bersama Dery dan beberapa laki-laki lainnya.
"Bagaimana dengan persiapan transaksi kita tanggal dua puluh lima nanti?" tanya laki-laki berkulit coklat itu.
"Semuanya sudah hampir siap, Tuan. Kita hanya tinggal berkoordinasi dengan pihak di sana," jawab Dery yakin.
"Bagus, usahakan mereka tidak mengganti lokasi, agar kita bisa mulai untuk memperhatikan situasi di sana." Laki-laki itu berujar tegas, tatapannya yang tajam dengan pakaian yang terlihat mewah khas seorang pengusaha membuat semua orang tidak ada yang curiga dengan pembicaraan mereka.
"Baik, Tuan," jawab Dery dan laki-laki lainnya sambil mengangguk pasti.
Beberapa orang itu kembali meneruskan perbincangan di antara mereka, hingga akhirnya bubar setelah lebih dari satu jam berada di sana.
Dery tampak kembali melajukan mobil BMW X7 berwarna hitam itu, bergabung dengan pengendara lainnya di jalanan yang terlihat masih padat. Memutar musik jazz untuk menemani perjalananya.
dan setelah itu menghancurkan Roxy dan antek-anteknya..