NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Astirai

Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

*SEMBILAN*

HATI

YANG TERLUKA#

Jam 6 pagi ponsel Renata

berbunyi. Setelah dilihat, ternyata panggilan dari Bram. Dengan malas dia

mengangkat ponselnya.

“Halooo... pagi mas”

“Pagi Ren, sudah bangun?

Gimana kakinya? Mudah-mudahan sudah lebih baik ya. Bisa tidur gak semalam?” Bram

memberondong dengan pertanyaan.

“Satu-satu mas... Yang mana

dulu...?”

“Upsss... soryyyy. Gimana

kakinya?”

“Masih tetep bengkak.

Tapi kayaknya udah gak sesakit kmaren...”

“Yaaa... syukurlah kalo

begitu. Tapi jangan banyak gerak dulu ya. Kalo perlu apa-apa minta tolong mbok

Jum aja..”

“Iya mas...

“Ren aku pagi ini ada acara

tenis sama temen-temen club. Ntar malem aja ya aku datang..”

Tidak ada jawaban dari

Renata. Bisu sejenak

“Ren... masih di situ..?”

“Eee... iya mas...

sory... ada apa.?”

“Aku ntar malem dateng

ya. Boleh kan..?”

“Mas maaf... kalo boleh

aku pengen sendiri dulu malem ini. Gak papa kan? Aku kayaknya capek banget,

lagian kakiku rasanya masih nyut-nyutan. Soryyy... ya mas”

“Oke gak papa. Gimana kalo

besok malem. Boleh kan?” Bram masih berharap

”Terserah mas....” Akhirnya

Renata menyetujui. Dia tidak tega juga menolak Bram

“Makasih Ren. Kamu mau

pesen apa, biar aku bawain?”

“Gak usah bawa apa-apa

mas. Trims banyak.”

“Oke dech, aku mau siap-siap

dulu. Met istirahat ya. Daaa....”

Pembicaraan berhenti

Sekitar jam 10an Tia datang

ke rumah Renata. Baru masuk rumah saja, suaranya sudah heboh kemana-mana.

“Aduuuuhhh... kenapa loe

Ren...?”

“Tau dari mana kalo gua

invalid?”

“Yaaaa... siapa lagi kalo

bukan mas Bram. Semalem dia phone katanya loe keseleo sampai bengkak...”

“Yaaaa... lagi apes

Tia..” Kemudian Renata menceritakan kejadian di mall tadi malam.

“Mbak Tia minumnya..”

tiba-tiba mbok Jum sudah nongol di kamar sambil membawa minuman dan kue.

“Makasih mbok. Ngomong-ngomong

masak apa hari ini mbok...?”

“Mbak Tia mau dimasakin

apa...?”

“Heee.... tawarin yang

sakit dulu mbok. Saya mah ngikut aja...”

“Heee... loe kesini mau

nengok gue atau minta makan sih...?” tida-tiba Renata motong.

“Nengok sihh... tapi dapat

bonus maksi... ha...ha...”

Keduanya lanjut ngobrol

dengan asyik. Banyak hal yang diobrolkan, padahal sudah tiap hari ketemu di

kantor, tapi masih aja ada bahan yang diobrolin. Tiba-tiba dengan muka serius,

Tia bertanya pada Renata.

“Ren ngomong-ngomong,

gimana kamu sama mas Bram?”

“Gimana apanya...?”

“Aku serius Ren... udah

sejauh apa? Mas Bram bener-bener serius sama kamu, cuma mungkin masih menunggu

moment yang pas buat ngungkapin. Tapi aku sangat-sangat yakin, dia bener-bener

cinta ma kamu.”

“Terus terang Tia, mas

Bram memang baik. Dan aku merasa nyaman deket sama dia. Apalagi semalem dia

ngurus aku dengan telaten, tapi... hatiku belum bisa terbuka buat dia.”

“Kamu gak mau mencoba

Ren...?’

“Aku gak tau Tia. Aku

juga kesel dengan diriku sendiri. Tiap kali aku mikir mas Bram, tiba-tiba

bayangan Aditya selalu muncul... yang ada.... rasa sakit itu makin mengganggu.

Aku sebenernya kasian juga sama mas Bram... Dia terlalu baik untuk disakiti... aku....”

tiba-tiba air mata Renata meluncur dari ke dua matanya. Dia terhisak pelan. Tia

tak tega melihat sahabatnya begitu sedih.

Kedua tangannya terulur

memeluk Renata.

“Ren... kamu harus berjuang

untuk kebahagiaanmu. Paling tidak kamu sudah merasa nyaman dengan mas Bram, itu

awal yang baik. Cobalah pelan-pelan. Tidak perlu lagi kamu menangisi masa lalu.

Air matamu terlalu  berharga hanya untuk

menangisi laki-laki brengsek itu.”

Renata diam sambil menggeleng-gelengkan

kepalanya. Dia merasa bingung dengan hatinya. Kenapa jadi sesakit ini. Bram

begitu baik, tapi.... bayangan Aditya masih sering hadir, meskipun dia sudah

berusaha menghalau bayangan itu dengan sekuat tenaga.

“Aku takut tidak bisa memberikan

seperti apa yang dia berikan Tia. Aku gak mau mas Bram kecewa. Aku....”

Tia menggenggam kedua

tangan sahabatnya. Seolah-olah ingin memberikan kekuatan bagi Renata yang

terlihat sangat rapuh. Dia tidak menyangka sedemikian dalamnya luka yang dirasakan

Renata.

“Ren aku dukung apapun

keputusan kamu. Aku paham dengan luka hatimu, tapi mau sampai kapan...?”

Renata mendongakkan kepalanya,

memandang wajah sahabatnya. Masih dengan air mata yang menetes, Renata kembali

menggelengkan kepalanya.

“Ren... terus terang, apa

kamu masih mencintai Aditya? Kamu masih mengharapkan Aditya kembali...?” tanya

Tia dengan hati-hati. Takut sahabatnya tersinggung.

Renata tersenyum. Tapi

senyum itu sangat dipaksakan.

“Untuk apa...? Tidak Tia...

Kalaupun rasa itu masih tersisa..., biarlah tetap ada bersanding dengan rasa

sakit dan benci...”

Kemudian keduanya diam

dengan pikiran masing-masing. Tia tidak berani lagi terlalu mendesak Renata,

sedangkan Renata diam dengan rasa sakit dan sedih di hatinya.

“Oke dech Ren..... mungkin

waktu yang akan menentukan. Cobalah beri mas Bram kesempatan, meskipun itu

sedikit dan membuatmu sakit... percayalah padaku Ren...”

“Ah... sudahlah Tia... aku

letih memikirkan ini... Ngomong-ngomong udah siang nih... kita makan yuk..”

kata Renata mengalihkan obrolan.

“Kamu mau makan di sini

atau di bawah, aku ambilin..” Tia menawarkan

“Biar mbok Jum aja yang

ngambilin. Tolong panggilin mbok Jum aja. Kamu mau makan di bawah?

‘Gak ah... aku ikut makan

di sini aja. Gak seru makan sendirian, ntar ya aku panggilin mbok Jum.”

Tia turun dari tempat

tidur lalu melangkah keluar kamar. Tak lama Tia masuk ke kamar dengan membawa

piring yang sudah isi dengan nasi dan lauk pauknya, sedangkan mbok Jum juga

membawa nampan berisi makanan untuk Renata. Ke duanya makan sambil sekali-sekali

ngobrol ringan

*****

Malam minggu di rumah

Bram.

Karena Renata tidak

mengijinkan Bram untuk datang ke rumahnya, maka selesai mandi Bram iseng-iseng

duduk di kursi taman belakang pinggir kolam renang sambil memainkan gitar.

Wajahnya terlihat sendu. Setelah beberapa saat memainkan gitarnya, tiba-tiba

maminya datang mendekat dan duduk di sebelahnya. Bram menghentikan permainan

gitarnya.

“Bram.. mami lihat

akhir-akhir ini kamu suka aneh. Gak seperti biasanya. Ada apa..?”

“Aneh gimana mi...? Aku

biasa aja kok.” Jawab Bram sambil memandang wajah maminya.

“Kamu jangan bohong Bram.

Mami tau kamu sedang ada masalah, dan mami yakin itu bukan masalah pekerjaan.

Bener kan..?”

Bram terdiam. Dia mengela

napasnya pelan-pelan.

“Kamu jujur sama mami

Bram. Kenapa akhir-akhir ini kalo malem kamu main gitar, trus mami lihat kamu

juga sering ngelamun. Ini masalah cewek..?” maminya mendesask

“Yaaa.... seperti itulah mi...?”

Bram tidak bisa lagi mengelak dari maminya. Dia memang bener-bener dekat dengan

maminya. Apapun pasti diceritakan kepada maminya.

“Kamu sedang jatuh

cinta..? Dengan siapa...?”

“Sahabat Tia, pacar si

Arya mi. Namanya Renata...”

“Trus dianya gimana....?”

maminya makin penasaran. Karena sudah lebih dari tiga tahun Bram tidak pernah

berurusan dengan cewek. Bram kemudian menceritakan semuanya. Awal perkenalannya

dengan Renata, perasaannya yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sampai

dengan kejadian tadi malam dimana kaki Renata keseleo. Termasuk sikap Renata

yang masih tertutup karena patah hati.

“Kamu sudah bilang kalau

kamu jatuh cinta..?”

Bram hanya menggelengkan

kepalanya., maminya heran.

“Trus dari mana kamu tahu

kalau dia menolak...?”

“Bram memang belum mengungkapkan

mi, tapi paling tidak apa yang sudah Bram lakuin ke dia menunjukkan kalau Bram

bener-bener cinta sama dia...” kata Bram terdengar frustasi.

‘”Lho..... belum tentu

dia paham kalau kamu jatuh cinta sama dia Bram. Iya kalau bener, lha kalau

salah...? Kan itu mungkin yang ada di hati cewek itu... Kamu bener-bener serius

sama dia Bram..?”

“Iya mi... Bram juga heran,

baru kali ini bener merasa kayak begini...”

“Orangnya bagaimana,menurut

kamu...?” tanya maminya lagi.

“Anaknya baik mi. Itu

juga yang Arya bilang. Besok dech, kapan-kapan kalau Arya kesini mami bisa tanya

sama dia.”

“Bram sebenernya ada yang

mau mami omongin, dan ini sebenernya sudah lama jadi pikiran mami.”

“Masalah apa mi..?”

“Ini cerita lama, jaman

mami masih muda. Tapi sampai sekarang masih jadi pikiran mami, karena ini menyangkut

amanah almarhum pakde kamu yang meninggal sebelum menikah..” kata mami dengan

muka yang kelihatan sedih.

“Amanah apa mi..? tanya

Bram penasaran.

“Tentang perjodohan....“

“Terus maksud mami mau

jodohin Bram dengan anak temen mami itu...?” tanya Bram heran. Karena dia sudah

tahu cerita pakdenya yang sangat mencintai seorang gadis, tapi belum sampai

menikah, pakdenya meninggal karena sakit jantung bawaan. Dan gadis yang

dicintai pakdenya adalah sahabat maminya sejak kecil. Hanya sampai di situ

cerita yang Bram tahu dari maminya.

“Itu yang jadi pikiran

mami, karena sudah lebih dari 30 tahun mami gak ketemu temen mami itu. Entah

dimana dia sekarang. Seperti ngilang dari muka bumi”

“Diiihhh mami ada-ada

aja. Iya kalo orangnya masih ada, kalo udah meninggal...?”

Tiba-tiba terdengar teriakan

anak kecil berusia tiga tahunan yang memecah suasana.

“Ommm... eyang.... !!!”

Bram dan maminya menoleh ke arah suara tadi

‘’Eeee.... jagoan

kecil... sama siapa...?” Bram bangkit, menghampiri anak kecil itu dan

mengangkatnya tinggi-tinggi, yang membuat anak kecil itu teriak kegirangan.

Rupanya itu suara Noel, anak kakak perempuan Bram. Dibelakang Noel berjalan

menghampiri Erina, kakak Bram.

Erina mencium ke dua pipi

maminya

“Kok tumben mami mesra-mesraan

sama Bram di sini... ada yang serius nih kayaknya....”

“Tuh... adikmu, lagi

jatuh cinta...”

“Whatttt.... gak salah

nih kuping..?” kata Erina sambil tertawa

“Ommm... beli es krim

dong...” rengek Noel. Dia memang dekat dengan omnya yang suka memanjakan.

“Tanya mama boleh gak

makan es cream..?”

“Noel... tadi janji apa

sama mama sebelum kesini..?” tanya Erina lembut pada anaknya.

“Gak boleh makan es krim

dulu...”jawab Noel dengan muka sedih. Dia ingat janjinya pada mamanya, karena

sedikit batuk.

“Naaahhh.... kan... kok...?”

kata Erina lagi.

“Iya mama Noel ingat. Gak

minta es krim karena tadi batuk.”

“Eeee.... jagoan gak

boleh sedih. Besok kalo dah gak batuk, kita beli es krim ya...” kata Bram menghibur

Noel sambil menciumi pipinya yang gembul. Noel tertawa karena geli dicium

omnya.

“Kok eyang didiemin aja nih

sama Noel. Gak mau cium eyang...?”

Kemudian Noel minta turun

dari gendongan Bram, mendekati eyangnya dan mengulurkan tangannya menyalami,

lalu mencium kedua pipi eyangnya.

“Emang kenapa batuk Noel...?”

“Noel kebanyakan makan

permen yang....?”

“Besok-besok gak boleh

lagi ya... yuuukk... masuk. Eyang punya kue enak.” Kata mami sambil menggandeng

tangan Noel untuk masuk ke dalam rumah.

“Eh Bram bener kata mami

tadi, kamu lagi jatuh cinta..?’ tanya Erina pada adiknya.

“Yaaaa... begitulah... tapi...

gak tahu nih... pusing.” jawab Bram sambil garuk-garuk kepala.

“Siapa...?”

“Temen pacarnya si

Arya..”

“Terus....?”

“Yaaa.... gak

terus-terus..” jawab Bram dengan nada putus asa, sementara Erina bengong mendengar

jawaban Bram.

‘Ah... udah dech mbak,

aku juga lagi galau nihhhh....”

“Haa.... akhirnya.... kesandung

cinta juga sekarang, setelah bertapa lama..”

“Udah.... jangan

ngeledek....” jawab Bram sambil manyun

“Semangat..... Bram...!!!”

Memang hubungan antara

orang tua dan kakak adik di rumah itu sangat akrab. Hampir tidak ada rahasia diantara

mereka. Semua masalah dibicarakan bersama untuk dicari solusinya

“Mamaaaaa...... makan

kue...” tiba-tiba Noel muncul sambil menggenggam sepotong kue.

“Awasss... mulutnya

penuh, jangan teriak-teriak Noel...” Erina melangkah masuk ke dalam rumah dan diikuti

Bram.

“Halooo.... jagoan

kecil... cium tante donk...” Sasa muncul di tangga menuju ke arah sofa. Noel yang

melihat tantenya langsung mendekat dan mencium pipi tantenya dengan mulut

belepotan kue.

“Ihh.... jorok mulutnya.

Gak mau.... bersihin dulu terus cium tante lagi...”

“Gak mauuuu...” Noel berlari

ke arah mamanya

“Eiiittsss... sini cium

lagi....!”

“Gak mauuuuu...!!!”

 Noel tetap menghindar. Sasa mendekati Noel dan

menggelitik pinggangnya, sampai Noel kegelian.

“Saaa.... awas keselek

Noel lagi makan kue...” suara maminya menghentikan ulah Sasa pada ponakannya.

“Ayooo... cium lagi.. tante

punya yang enak-enak lho. Kalo gak cium ntar tante abisin...”

Noel menoleh ke arah mamanya

dan tantenya bergantian.

“Ayoooo... mau cium

gak....?”

Noel mendekati tantenya

sambil tangannya mengusap membersihkan mulutnya. Kemudian... cup... cuppp..

Noel mencium pipi tantenya

“Daahhh...!!” Noel mundur.

Semua yang melihat tingkah Noel tertawa. Terutama Bram yang ngakak melihat muka

lucu ponakannya.

“Niiihhh...” kata Sasa

sambil mengulurkan coklat kesukaan Noel.

Noel menerima coklat lalu

menoleh ke arah mamanya dengan takut-takut.

“Simpan dulu coklatnya

No.. boleh makan besok ya kalo dah gak batuk. Ingat...?”

Noel mengangguk dengan

kecewa, lalu mengulurkan coklatnya ke mamanya.

“Waaahhhh.... sory, Noel

lagi batuk ya. Maafin tante ya... gak tau. Besok kalo dah gak batuk lagi, tante

janji deh kasih coklat yang banyak. Oke boy...?”

Noel mengangguk kegirangan

Malam minggu memang sudah

menjadi kebiasaan untuk ngumpul keluarga. Meskipun Erina sudah tinggal terpisah

dengan orang tuanya, tapi tiap malam minggu kalau tidak ada acara, pasti dengan

suami dan anaknya ngumpul di rumah orang tuanya.

Itulah kesempatan saling

berbagi cerita, bercanda, orang tua, anak, menantu dan cucu. Sungguh keluarga

yang bahagia.

******

Sementara di kamarnya,

Renata menikmati kesendiriannya sambil menonton TV di kamar. Tapi mata dan

pikirannya tidak benar-benar fokus pada TV di depannya. Renata masih merenungkan

kata-kata Tia tadi siang. Apakah aku harus mulai membuka diri untuk menerima

mas Bram? Sementara hatiku belum bisa melupakan Adhitya, meskipun dengan rasa

benci. Ah..... cinta pertama.... kenapa begitu menyakitkan? Kenapa semua

berakhir dengan cara seperti ini? Kata Renata dalam hati. Dia masih teringat

kata-kata Adhitya saat terakhir, sebelum keberangkatannya ke luar negeri untuk

melanjutkan studinya.

“Renata.... tunggu mas

ya... tiga tahun tidak lama. Ini semua untuk masa depan kita. Jaga hatimu untuk

seorang laki-laki yang sangat mencintaimu....”

Sungguh kata-kata yang

manis dan indah untuk didengarkan. Tapi kenyataannya....

Memasuki tahun ke dua,

komunikasi yang tadinya lancar, menjadi tersendat. Adhit mulai jarang mengirim

kabar. Renata masih bisa memaklumi, mungkin karena kesibukan dengan kuliahnya,

dan Renata tetap setia. Apalagi masa pacaran yang sudah cukup lama, membuat

Renata sangat memahami Adhitya. Hingga sampai pada saat yang membuat Renata

benar-benar hancur dan hilang harapan. Seorang teman yang kebetulan juga kuliah

di kota yang sama dengan Adhitya mengirimkan sebuah foto pernikahan. Ya.... pernikahan

antara Adhitya dengan pacar pertamanya ketika SMA, yang juga sedang kuliah di sana.

Dunia Renata benar-benar gelap. Dia tidak menyangka dengan berita yang dia

terima, bahkan Renata belum percaya sepenuhnya. Tapi begitu kakaknya mencoba

mencari informasi dari teman-temannya, barulah Renata percaya, berita itu benar

adanya. Renata tidak mengetahui awal ceritanya, karena memang dia tidak ingin tahu.

Jang jelas bagi Renata, Adhit sudah mengkhianati cintanya, mengkhianati

kesetiaannya. Dan itu sangat-sangat menyakitkan.

Air mata Renata mulai menetes.

Bayangan Adhitya kembali melintas, tapi kemudian berganti dengan bayangan Bram.

Mas Bram.... maafkan

aku....

1
Amarantha Chitoz
makasihhhh
Amarantha Chitoz
lanjutin....
Amarantha Chitoz
sasa bisa aza....
Amarantha Chitoz
selamat
Amarantha Chitoz
smoga lancar
Amarantha Chitoz
lanjuttt
Amarantha Chitoz
hati2
next
Amarantha Chitoz
siippp next
Amarantha Chitoz
positif
Amarantha Chitoz
hamil....????
Amarantha Chitoz
jangan2 hamil ya, mudah2an
Amarantha Chitoz
sedih kannnn
Amarantha Chitoz
next yaaaaaa
Amarantha Chitoz
up.....
Amarantha Chitoz
ribet
Amarantha Chitoz
sembuh ya...
Amarantha Chitoz
stop lebay
Amarantha Chitoz
siiiipppp.. lanjut
Amarantha Chitoz
next lah
Amarantha Chitoz
ayo mulai pelan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!