Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
*SEMBILAN*
HATI
YANG TERLUKA#
Jam 6 pagi ponsel Renata
berbunyi. Setelah dilihat, ternyata panggilan dari Bram. Dengan malas dia
mengangkat ponselnya.
“Halooo... pagi mas”
“Pagi Ren, sudah bangun?
Gimana kakinya? Mudah-mudahan sudah lebih baik ya. Bisa tidur gak semalam?” Bram
memberondong dengan pertanyaan.
“Satu-satu mas... Yang mana
dulu...?”
“Upsss... soryyyy. Gimana
kakinya?”
“Masih tetep bengkak.
Tapi kayaknya udah gak sesakit kmaren...”
“Yaaa... syukurlah kalo
begitu. Tapi jangan banyak gerak dulu ya. Kalo perlu apa-apa minta tolong mbok
Jum aja..”
“Iya mas...
“Ren aku pagi ini ada acara
tenis sama temen-temen club. Ntar malem aja ya aku datang..”
Tidak ada jawaban dari
Renata. Bisu sejenak
“Ren... masih di situ..?”
“Eee... iya mas...
sory... ada apa.?”
“Aku ntar malem dateng
ya. Boleh kan..?”
“Mas maaf... kalo boleh
aku pengen sendiri dulu malem ini. Gak papa kan? Aku kayaknya capek banget,
lagian kakiku rasanya masih nyut-nyutan. Soryyy... ya mas”
“Oke gak papa. Gimana kalo
besok malem. Boleh kan?” Bram masih berharap
”Terserah mas....” Akhirnya
Renata menyetujui. Dia tidak tega juga menolak Bram
“Makasih Ren. Kamu mau
pesen apa, biar aku bawain?”
“Gak usah bawa apa-apa
mas. Trims banyak.”
“Oke dech, aku mau siap-siap
dulu. Met istirahat ya. Daaa....”
Pembicaraan berhenti
Sekitar jam 10an Tia datang
ke rumah Renata. Baru masuk rumah saja, suaranya sudah heboh kemana-mana.
“Aduuuuhhh... kenapa loe
Ren...?”
“Tau dari mana kalo gua
invalid?”
“Yaaaa... siapa lagi kalo
bukan mas Bram. Semalem dia phone katanya loe keseleo sampai bengkak...”
“Yaaaa... lagi apes
Tia..” Kemudian Renata menceritakan kejadian di mall tadi malam.
“Mbak Tia minumnya..”
tiba-tiba mbok Jum sudah nongol di kamar sambil membawa minuman dan kue.
“Makasih mbok. Ngomong-ngomong
masak apa hari ini mbok...?”
“Mbak Tia mau dimasakin
apa...?”
“Heee.... tawarin yang
sakit dulu mbok. Saya mah ngikut aja...”
“Heee... loe kesini mau
nengok gue atau minta makan sih...?” tida-tiba Renata motong.
“Nengok sihh... tapi dapat
bonus maksi... ha...ha...”
Keduanya lanjut ngobrol
dengan asyik. Banyak hal yang diobrolkan, padahal sudah tiap hari ketemu di
kantor, tapi masih aja ada bahan yang diobrolin. Tiba-tiba dengan muka serius,
Tia bertanya pada Renata.
“Ren ngomong-ngomong,
gimana kamu sama mas Bram?”
“Gimana apanya...?”
“Aku serius Ren... udah
sejauh apa? Mas Bram bener-bener serius sama kamu, cuma mungkin masih menunggu
moment yang pas buat ngungkapin. Tapi aku sangat-sangat yakin, dia bener-bener
cinta ma kamu.”
“Terus terang Tia, mas
Bram memang baik. Dan aku merasa nyaman deket sama dia. Apalagi semalem dia
ngurus aku dengan telaten, tapi... hatiku belum bisa terbuka buat dia.”
“Kamu gak mau mencoba
Ren...?’
“Aku gak tau Tia. Aku
juga kesel dengan diriku sendiri. Tiap kali aku mikir mas Bram, tiba-tiba
bayangan Aditya selalu muncul... yang ada.... rasa sakit itu makin mengganggu.
Aku sebenernya kasian juga sama mas Bram... Dia terlalu baik untuk disakiti... aku....”
tiba-tiba air mata Renata meluncur dari ke dua matanya. Dia terhisak pelan. Tia
tak tega melihat sahabatnya begitu sedih.
Kedua tangannya terulur
memeluk Renata.
“Ren... kamu harus berjuang
untuk kebahagiaanmu. Paling tidak kamu sudah merasa nyaman dengan mas Bram, itu
awal yang baik. Cobalah pelan-pelan. Tidak perlu lagi kamu menangisi masa lalu.
Air matamu terlalu berharga hanya untuk
menangisi laki-laki brengsek itu.”
Renata diam sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Dia merasa bingung dengan hatinya. Kenapa jadi sesakit ini. Bram
begitu baik, tapi.... bayangan Aditya masih sering hadir, meskipun dia sudah
berusaha menghalau bayangan itu dengan sekuat tenaga.
“Aku takut tidak bisa memberikan
seperti apa yang dia berikan Tia. Aku gak mau mas Bram kecewa. Aku....”
Tia menggenggam kedua
tangan sahabatnya. Seolah-olah ingin memberikan kekuatan bagi Renata yang
terlihat sangat rapuh. Dia tidak menyangka sedemikian dalamnya luka yang dirasakan
Renata.
“Ren aku dukung apapun
keputusan kamu. Aku paham dengan luka hatimu, tapi mau sampai kapan...?”
Renata mendongakkan kepalanya,
memandang wajah sahabatnya. Masih dengan air mata yang menetes, Renata kembali
menggelengkan kepalanya.
“Ren... terus terang, apa
kamu masih mencintai Aditya? Kamu masih mengharapkan Aditya kembali...?” tanya
Tia dengan hati-hati. Takut sahabatnya tersinggung.
Renata tersenyum. Tapi
senyum itu sangat dipaksakan.
“Untuk apa...? Tidak Tia...
Kalaupun rasa itu masih tersisa..., biarlah tetap ada bersanding dengan rasa
sakit dan benci...”
Kemudian keduanya diam
dengan pikiran masing-masing. Tia tidak berani lagi terlalu mendesak Renata,
sedangkan Renata diam dengan rasa sakit dan sedih di hatinya.
“Oke dech Ren..... mungkin
waktu yang akan menentukan. Cobalah beri mas Bram kesempatan, meskipun itu
sedikit dan membuatmu sakit... percayalah padaku Ren...”
“Ah... sudahlah Tia... aku
letih memikirkan ini... Ngomong-ngomong udah siang nih... kita makan yuk..”
kata Renata mengalihkan obrolan.
“Kamu mau makan di sini
atau di bawah, aku ambilin..” Tia menawarkan
“Biar mbok Jum aja yang
ngambilin. Tolong panggilin mbok Jum aja. Kamu mau makan di bawah?
‘Gak ah... aku ikut makan
di sini aja. Gak seru makan sendirian, ntar ya aku panggilin mbok Jum.”
Tia turun dari tempat
tidur lalu melangkah keluar kamar. Tak lama Tia masuk ke kamar dengan membawa
piring yang sudah isi dengan nasi dan lauk pauknya, sedangkan mbok Jum juga
membawa nampan berisi makanan untuk Renata. Ke duanya makan sambil sekali-sekali
ngobrol ringan
*****
Malam minggu di rumah
Bram.
Karena Renata tidak
mengijinkan Bram untuk datang ke rumahnya, maka selesai mandi Bram iseng-iseng
duduk di kursi taman belakang pinggir kolam renang sambil memainkan gitar.
Wajahnya terlihat sendu. Setelah beberapa saat memainkan gitarnya, tiba-tiba
maminya datang mendekat dan duduk di sebelahnya. Bram menghentikan permainan
gitarnya.
“Bram.. mami lihat
akhir-akhir ini kamu suka aneh. Gak seperti biasanya. Ada apa..?”
“Aneh gimana mi...? Aku
biasa aja kok.” Jawab Bram sambil memandang wajah maminya.
“Kamu jangan bohong Bram.
Mami tau kamu sedang ada masalah, dan mami yakin itu bukan masalah pekerjaan.
Bener kan..?”
Bram terdiam. Dia mengela
napasnya pelan-pelan.
“Kamu jujur sama mami
Bram. Kenapa akhir-akhir ini kalo malem kamu main gitar, trus mami lihat kamu
juga sering ngelamun. Ini masalah cewek..?” maminya mendesask
“Yaaa.... seperti itulah mi...?”
Bram tidak bisa lagi mengelak dari maminya. Dia memang bener-bener dekat dengan
maminya. Apapun pasti diceritakan kepada maminya.
“Kamu sedang jatuh
cinta..? Dengan siapa...?”
“Sahabat Tia, pacar si
Arya mi. Namanya Renata...”
“Trus dianya gimana....?”
maminya makin penasaran. Karena sudah lebih dari tiga tahun Bram tidak pernah
berurusan dengan cewek. Bram kemudian menceritakan semuanya. Awal perkenalannya
dengan Renata, perasaannya yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sampai
dengan kejadian tadi malam dimana kaki Renata keseleo. Termasuk sikap Renata
yang masih tertutup karena patah hati.
“Kamu sudah bilang kalau
kamu jatuh cinta..?”
Bram hanya menggelengkan
kepalanya., maminya heran.
“Trus dari mana kamu tahu
kalau dia menolak...?”
“Bram memang belum mengungkapkan
mi, tapi paling tidak apa yang sudah Bram lakuin ke dia menunjukkan kalau Bram
bener-bener cinta sama dia...” kata Bram terdengar frustasi.
‘”Lho..... belum tentu
dia paham kalau kamu jatuh cinta sama dia Bram. Iya kalau bener, lha kalau
salah...? Kan itu mungkin yang ada di hati cewek itu... Kamu bener-bener serius
sama dia Bram..?”
“Iya mi... Bram juga heran,
baru kali ini bener merasa kayak begini...”
“Orangnya bagaimana,menurut
kamu...?” tanya maminya lagi.
“Anaknya baik mi. Itu
juga yang Arya bilang. Besok dech, kapan-kapan kalau Arya kesini mami bisa tanya
sama dia.”
“Bram sebenernya ada yang
mau mami omongin, dan ini sebenernya sudah lama jadi pikiran mami.”
“Masalah apa mi..?”
“Ini cerita lama, jaman
mami masih muda. Tapi sampai sekarang masih jadi pikiran mami, karena ini menyangkut
amanah almarhum pakde kamu yang meninggal sebelum menikah..” kata mami dengan
muka yang kelihatan sedih.
“Amanah apa mi..? tanya
Bram penasaran.
“Tentang perjodohan....“
“Terus maksud mami mau
jodohin Bram dengan anak temen mami itu...?” tanya Bram heran. Karena dia sudah
tahu cerita pakdenya yang sangat mencintai seorang gadis, tapi belum sampai
menikah, pakdenya meninggal karena sakit jantung bawaan. Dan gadis yang
dicintai pakdenya adalah sahabat maminya sejak kecil. Hanya sampai di situ
cerita yang Bram tahu dari maminya.
“Itu yang jadi pikiran
mami, karena sudah lebih dari 30 tahun mami gak ketemu temen mami itu. Entah
dimana dia sekarang. Seperti ngilang dari muka bumi”
“Diiihhh mami ada-ada
aja. Iya kalo orangnya masih ada, kalo udah meninggal...?”
Tiba-tiba terdengar teriakan
anak kecil berusia tiga tahunan yang memecah suasana.
“Ommm... eyang.... !!!”
Bram dan maminya menoleh ke arah suara tadi
‘’Eeee.... jagoan
kecil... sama siapa...?” Bram bangkit, menghampiri anak kecil itu dan
mengangkatnya tinggi-tinggi, yang membuat anak kecil itu teriak kegirangan.
Rupanya itu suara Noel, anak kakak perempuan Bram. Dibelakang Noel berjalan
menghampiri Erina, kakak Bram.
Erina mencium ke dua pipi
maminya
“Kok tumben mami mesra-mesraan
sama Bram di sini... ada yang serius nih kayaknya....”
“Tuh... adikmu, lagi
jatuh cinta...”
“Whatttt.... gak salah
nih kuping..?” kata Erina sambil tertawa
“Ommm... beli es krim
dong...” rengek Noel. Dia memang dekat dengan omnya yang suka memanjakan.
“Tanya mama boleh gak
makan es cream..?”
“Noel... tadi janji apa
sama mama sebelum kesini..?” tanya Erina lembut pada anaknya.
“Gak boleh makan es krim
dulu...”jawab Noel dengan muka sedih. Dia ingat janjinya pada mamanya, karena
sedikit batuk.
“Naaahhh.... kan... kok...?”
kata Erina lagi.
“Iya mama Noel ingat. Gak
minta es krim karena tadi batuk.”
“Eeee.... jagoan gak
boleh sedih. Besok kalo dah gak batuk, kita beli es krim ya...” kata Bram menghibur
Noel sambil menciumi pipinya yang gembul. Noel tertawa karena geli dicium
omnya.
“Kok eyang didiemin aja nih
sama Noel. Gak mau cium eyang...?”
Kemudian Noel minta turun
dari gendongan Bram, mendekati eyangnya dan mengulurkan tangannya menyalami,
lalu mencium kedua pipi eyangnya.
“Emang kenapa batuk Noel...?”
“Noel kebanyakan makan
permen yang....?”
“Besok-besok gak boleh
lagi ya... yuuukk... masuk. Eyang punya kue enak.” Kata mami sambil menggandeng
tangan Noel untuk masuk ke dalam rumah.
“Eh Bram bener kata mami
tadi, kamu lagi jatuh cinta..?’ tanya Erina pada adiknya.
“Yaaaa... begitulah... tapi...
gak tahu nih... pusing.” jawab Bram sambil garuk-garuk kepala.
“Siapa...?”
“Temen pacarnya si
Arya..”
“Terus....?”
“Yaaa.... gak
terus-terus..” jawab Bram dengan nada putus asa, sementara Erina bengong mendengar
jawaban Bram.
‘Ah... udah dech mbak,
aku juga lagi galau nihhhh....”
“Haa.... akhirnya.... kesandung
cinta juga sekarang, setelah bertapa lama..”
“Udah.... jangan
ngeledek....” jawab Bram sambil manyun
“Semangat..... Bram...!!!”
Memang hubungan antara
orang tua dan kakak adik di rumah itu sangat akrab. Hampir tidak ada rahasia diantara
mereka. Semua masalah dibicarakan bersama untuk dicari solusinya
“Mamaaaaa...... makan
kue...” tiba-tiba Noel muncul sambil menggenggam sepotong kue.
“Awasss... mulutnya
penuh, jangan teriak-teriak Noel...” Erina melangkah masuk ke dalam rumah dan diikuti
Bram.
“Halooo.... jagoan
kecil... cium tante donk...” Sasa muncul di tangga menuju ke arah sofa. Noel yang
melihat tantenya langsung mendekat dan mencium pipi tantenya dengan mulut
belepotan kue.
“Ihh.... jorok mulutnya.
Gak mau.... bersihin dulu terus cium tante lagi...”
“Gak mauuuu...” Noel berlari
ke arah mamanya
“Eiiittsss... sini cium
lagi....!”
“Gak mauuuuu...!!!”
Noel tetap menghindar. Sasa mendekati Noel dan
menggelitik pinggangnya, sampai Noel kegelian.
“Saaa.... awas keselek
Noel lagi makan kue...” suara maminya menghentikan ulah Sasa pada ponakannya.
“Ayooo... cium lagi.. tante
punya yang enak-enak lho. Kalo gak cium ntar tante abisin...”
Noel menoleh ke arah mamanya
dan tantenya bergantian.
“Ayoooo... mau cium
gak....?”
Noel mendekati tantenya
sambil tangannya mengusap membersihkan mulutnya. Kemudian... cup... cuppp..
Noel mencium pipi tantenya
“Daahhh...!!” Noel mundur.
Semua yang melihat tingkah Noel tertawa. Terutama Bram yang ngakak melihat muka
lucu ponakannya.
“Niiihhh...” kata Sasa
sambil mengulurkan coklat kesukaan Noel.
Noel menerima coklat lalu
menoleh ke arah mamanya dengan takut-takut.
“Simpan dulu coklatnya
No.. boleh makan besok ya kalo dah gak batuk. Ingat...?”
Noel mengangguk dengan
kecewa, lalu mengulurkan coklatnya ke mamanya.
“Waaahhhh.... sory, Noel
lagi batuk ya. Maafin tante ya... gak tau. Besok kalo dah gak batuk lagi, tante
janji deh kasih coklat yang banyak. Oke boy...?”
Noel mengangguk kegirangan
Malam minggu memang sudah
menjadi kebiasaan untuk ngumpul keluarga. Meskipun Erina sudah tinggal terpisah
dengan orang tuanya, tapi tiap malam minggu kalau tidak ada acara, pasti dengan
suami dan anaknya ngumpul di rumah orang tuanya.
Itulah kesempatan saling
berbagi cerita, bercanda, orang tua, anak, menantu dan cucu. Sungguh keluarga
yang bahagia.
******
Sementara di kamarnya,
Renata menikmati kesendiriannya sambil menonton TV di kamar. Tapi mata dan
pikirannya tidak benar-benar fokus pada TV di depannya. Renata masih merenungkan
kata-kata Tia tadi siang. Apakah aku harus mulai membuka diri untuk menerima
mas Bram? Sementara hatiku belum bisa melupakan Adhitya, meskipun dengan rasa
benci. Ah..... cinta pertama.... kenapa begitu menyakitkan? Kenapa semua
berakhir dengan cara seperti ini? Kata Renata dalam hati. Dia masih teringat
kata-kata Adhitya saat terakhir, sebelum keberangkatannya ke luar negeri untuk
melanjutkan studinya.
“Renata.... tunggu mas
ya... tiga tahun tidak lama. Ini semua untuk masa depan kita. Jaga hatimu untuk
seorang laki-laki yang sangat mencintaimu....”
Sungguh kata-kata yang
manis dan indah untuk didengarkan. Tapi kenyataannya....
Memasuki tahun ke dua,
komunikasi yang tadinya lancar, menjadi tersendat. Adhit mulai jarang mengirim
kabar. Renata masih bisa memaklumi, mungkin karena kesibukan dengan kuliahnya,
dan Renata tetap setia. Apalagi masa pacaran yang sudah cukup lama, membuat
Renata sangat memahami Adhitya. Hingga sampai pada saat yang membuat Renata
benar-benar hancur dan hilang harapan. Seorang teman yang kebetulan juga kuliah
di kota yang sama dengan Adhitya mengirimkan sebuah foto pernikahan. Ya.... pernikahan
antara Adhitya dengan pacar pertamanya ketika SMA, yang juga sedang kuliah di sana.
Dunia Renata benar-benar gelap. Dia tidak menyangka dengan berita yang dia
terima, bahkan Renata belum percaya sepenuhnya. Tapi begitu kakaknya mencoba
mencari informasi dari teman-temannya, barulah Renata percaya, berita itu benar
adanya. Renata tidak mengetahui awal ceritanya, karena memang dia tidak ingin tahu.
Jang jelas bagi Renata, Adhit sudah mengkhianati cintanya, mengkhianati
kesetiaannya. Dan itu sangat-sangat menyakitkan.
Air mata Renata mulai menetes.
Bayangan Adhitya kembali melintas, tapi kemudian berganti dengan bayangan Bram.
Mas Bram.... maafkan
aku....
next