NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4 — Rongsokan Jadi Uang

Empat hari kemudian, roda kanan sepeda tua itu berputar tanpa suara.

Tri berjongkok di sudut kerja yang baru dibuatnya di lantai dua bangunan. Kabel menggantung dari dinding. Potongan motor, cincin bantalan, dan serpihan panel tersusun di atas kain menurut ukuran.

Di tengah semua barang rongsok itu, sepeda roda tiga milik ayah angkatnya sudah tak tampak seperti benda yang sama.

Rangka bengkoknya diluruskan dengan pemanas rakitan. Bak belakang dilapisi potongan logam tipis agar lubangnya tertutup. Rantai putus dibuang, pedal dipindah menjadi pengisi daya darurat, dan dua motor bekas kipas industri dipasang dekat poros belakang.

Tidak cantik.

Namun setiap bagian punya fungsi.

Tri menyambungkan kabel terakhir, lalu memutar tuas kecil di bawah setang.

Kedua roda belakang bergerak bersamaan.

Tidak ada jeritan poros. Tidak ada getaran liar. Hanya dengung rendah, seperti serangga yang terkurung dalam kaleng.

Tri menahan bak dengan satu tangan dan menambah daya.

Roda kiri melewati tumpukan baut. Roda kanan tetap di lantai rata. Mekanisme pembagi putaran buatannya mengurangi tenaga di satu sisi dan menambahnya di sisi lain. Rangka tetap lurus tanpa pengendara harus melawan setang.

“Lumayan.”

Ia mengambil satu baut, menjatuhkannya ke kotak bertanda GAGAL, lalu menatap sisa komponen.

Empat hari lalu, tubuh ini perlu tongkat untuk berpindah dua meter. Sebelas kotak Cairan Gizi mengubah keadaan itu. Tri minum sedikit demi sedikit, tidur saat demam kembali, lalu bekerja hanya ketika tangannya tidak gemetar.

Hasilnya, pipinya masih cekung dan tulang rusuknya masih terlihat, tetapi ia sudah mampu mengangkat alat kecil tanpa pandangan menghitam.

Persediaan makanan memberinya waktu.

Sepeda ini harus memberinya uang.

Tri mendorongnya menuruni jalan miring yang ia buat dari dua pelat pintu. Begitu mencapai tanah, ia naik ke sadel, memutar tuas, dan kendaraan itu melaju.

Angin pagi menyapu rambutnya.

Lima kilometer per jam.

Delapan.

Dua belas.

Pada tikungan pertama, Tri memiringkan tubuh. Mekanisme pembagi putaran merespons terlambat sepersekian detik, tetapi roda tidak tergelincir. Pada turunan, motor berubah menjadi penahan dan mengisi sel daya kecil di bawah bak.

Untuk orang kota, kendaraan ini mungkin hanya mainan jelek.

Untuk pemulung yang setiap hari mendorong seratus kilo logam, kendaraan ini bisa menggantikan sepasang kaki yang sudah rusak.

Tri menepuk setang.

“Sekarang tinggal cari orang yang enggak buta.”

Kota Planet 3212 berdiri di balik pagar penyaring debu setinggi dua puluh meter. Di luar pagar, bukit sampah menutup cakrawala. Di dalamnya, menara padat, jalur kendaraan melayang, dan papan iklan virtual bertumpuk sampai langit tampak lebih sempit.

Tri masuk melalui gerbang pekerja daur ulang.

Pemindai menyemprot roda dengan cairan pembersih. Petugas di bilik melihat seorang anak kurus mengendarai sepeda roda tiga penuh bekas las, lalu mengernyit.

“Kendaraan rakitan dilarang masuk jalur cepat.”

“Saya pakai jalur barang, Pak.”

“Kalau meledak?”

Tri menunjuk sel daya di bawah bak. “Suhunya dua derajat di bawah motor gerbang Bapak.”

Petugas melirik panel pemantau di mejanya. Angka suhu motor gerbang berkedip merah.

Tri melaju sebelum lelaki itu menemukan jawaban.

Di jalur barang, kendaraan angkut besar berulang kali membunyikan klakson. Orang-orang menatapnya dari balik kaca. Beberapa tertawa melihat pakaian longgar, sandal beda warna, dan sepeda yang bentuknya seperti disusun dari sisa tiga kendaraan berbeda.

Tri tidak peduli.

Ia mengamati kota.

Toko peralatan teknik berada dekat zona pasar. Akademi persiapan memasang spanduk pendaftaran di seberang jalan. Di atas menara pusat, iklan Mecha tempur menampilkan raksasa logam yang membelah Bestia Bintang dengan satu tebasan.

Tri memperlambat kendaraan.

Sendi bahu Mecha itu memakai struktur bola ganda. Gerakannya halus, tetapi cangkang luar terlalu tebal di sisi belakang. Pemborosan bahan dua belas persen. Pusat beratnya juga terlalu tinggi untuk tebasan serendah itu.

Iklan, putusnya. Bukan rancangan sungguhan.

“Hei!”

Suara anak laki-laki memotong perhitungannya.

Tri menoleh.

Sebuah kendaraan hitam mengilap berhenti sejajar dengannya. Pintu samping terbuka, memperlihatkan anak seusianya dengan jaket bersih, sepatu tanpa debu, dan Kom tipis melingkar di pergelangan tangan.

Di belakangnya duduk seorang pengawal.

Anak itu menunjuk sepeda Tri. “Itu buatan siapa?”

“Kenapa?”

“Gue tanya duluan.”

“Kalau cuma mau mengejek, gratis. Kalau mau tahu pembuatnya, bayar.”

Pengawal di belakang anak itu menegakkan tubuh. Anak berjaket bersih justru menyeringai.

“Nama gue Hendra.” Ia turun dari kendaraan. “Dan gue enggak bayar buat jawaban yang bisa gue lihat sendiri.”

Hendra langsung berjongkok di dekat roda belakang.

Tatapannya tidak berhenti pada bekas las atau cat mengelupas. Ia melihat cincin poros tambahan, jalur kabel yang disembunyikan di dalam rangka, dan dua motor berbeda yang dipaksa membagi beban tanpa pengendali mahal.

Jarinya hampir menyentuh roda.

Tri menepuk punggung tangannya.

“Jangan sentuh saat daya hidup.”

Hendra menarik tangan, lalu menatapnya lebih tajam. “Lo yang buat?”

“Kalau gue bilang bukan?”

“Berarti lo nyuri dari orang yang sangat pintar.”

“Kalau gue bilang iya?”

“Berarti lo bohong soal umur.”

Tri menyukai anak ini sedikit lebih banyak daripada orang kota lain.

Hendra berdiri dan memutari sepeda. “Dua motor beda seri seharusnya saling tarik. Lo bikin pembagi putaran mekanis?”

“Campuran mekanis dan sakelar beban.”

“Tanpa cip kendali?”

“Cip mahal.”

“Tapi hasilnya lebih stabil daripada gerobak listrik gudang keluarga gue.”

Tri menangkap kata keluarga.

Pakaian bersih, pengawal, kendaraan mahal, dan cara Hendra menyebut gudang seolah itu kamar belakang rumah.

Pembeli ditemukan.

“Mau coba?” tanya Tri.

Hendra naik tanpa menunggu izin. Ia memutar tuas terlalu jauh. Sepeda melonjak, tetapi sistem pembagi beban menahan kedua roda tetap lurus. Hendra berteriak senang, berbelok di ujung jalur, lalu kembali dengan mata bersinar.

“Gue beli.”

“Lima ribu lima ratus kredit.”

Hendra hampir tersedak. “Rongsokan begini?”

“Motor gudang keluarga lo lebih mahal dan kurang stabil.”

“Dua ribu.”

“Kalau begitu beli motor gudang.”

Tri meraih setang.

Hendra menahan bak. “Tiga ribu.”

“Lima ribu lima ratus.”

“Lo enggak bisa menawar, ya?”

“Bisa. Harga awal gue empat ribu. Naik karena lo kaya.”

Pengawal Hendra menutup mulut, menyembunyikan tawa.

Wajah Hendra memerah. “Empat ribu lima ratus.”

Tri menunjuk mekanisme di bawah sadel. “Pengereman mengisi daya. Bisa bawa seratus dua puluh kilo. Kalau satu motor mati, motor lain tetap bisa jalan. Lima ribu lima ratus, termasuk gue ajari cara servis.”

“Lima ribu.”

Tri menatap kendaraan hitam di belakang Hendra, lalu papan logo kecil pada pintunya: Gunawan Daur Ulang.

Keluarga yang menguasai sebagian besar pengolahan sampah Planet 3212.

“Lima ribu lima ratus,” ulang Tri. “Atau gue jual ke pesaing keluarga lo dan bilang anak Gunawan gagal melihat barang bagus.”

Hendra memelototinya selama tiga detik.

Lalu ia tertawa.

“Oke. Lima ribu lima ratus.”

Pengawal menyerahkan kartu saldo kosong. Hendra menempelkan Kom, memasukkan jumlah, lalu menyodorkannya kepada Tri.

Angka hijau menyala di permukaan kartu.

5.500 KREDIT.

Tri menatap angka itu.

Empat hari lalu, ia hampir dimakan tikus.

Sekarang satu barang yang dibuat dari rongsokan memberinya uang lebih banyak daripada yang pernah disentuh tubuh ini sepanjang hidupnya.

Bukan hadiah. Bukan belas kasihan.

Bayaran.

Rasanya jauh lebih baik daripada rasa stroberi buatan.

Tri memasukkan kartu ke saku terdalam. “Servis pertama gratis. Kalau lo bongkar sendiri dan rusak, dua kali harga.”

“Gue belum pernah lihat penjual semiskin lo sepelit ini.”

“Sekarang sudah.”

Hendra mengulurkan tangan. “Tri, kan? Orang tanpa marga di daerah sampah cuma ada beberapa. Gue bakal cari lo kalau mau pesan lagi.”

Tri menjabatnya. “Bawa uang.”

Mereka berpisah di depan pasar.

Tanpa sepeda, Tri berjalan kaki menuju toko peralatan. Langkahnya ringan meski sandal kirinya terus melorot. Di kepalanya, 5.500 kredit sudah terbagi: alat kerja, biaya sekolah, Kom termurah, dan cadangan yang tidak boleh disentuh.

Ia baru menyeberangi alun-alun ketika semua papan iklan mati serentak.

Layar virtual raksasa di tengah kota berubah menjadi siaran berita.

“Korporasi Vitalis mengumumkan penarikan darurat Cairan Gizi batch f-1376 setelah ditemukan ketidaksesuaian unsur pada produk yang telah beredar.”

Tri berhenti.

Rekaman malam pembuangan memenuhi layar.

Lima truk tanpa lambang. Tumpukan kotak. Para pemulung yang saling pukul.

Gambar diambil dari atas oleh pesawat kecil yang ia lihat malam itu.

Orang-orang di alun-alun mulai berbisik jijik.

“Mereka benar-benar minum barang buangan?”

“Lihat anak itu.”

Rekaman diperbesar.

Di sudut layar, seorang anak sangat kurus berdiri di antara debu dengan baju koyak. Wajahnya pucat, matanya cekung, dan satu tabung merah muda menempel di mulutnya. Ia tampak seperti mayat kecil yang baru merangkak keluar dari timbunan.

Seisi alun-alun melihatnya.

Tri juga.

Anak seperti zombi di layar raksasa itu adalah dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!