NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Benturan Pertama di Dataran Darah

Dataran Utara, yang biasanya sunyi dan hanya diisi lolongan angin beku, kini bergetar di bawah langkah kaki ribuan prajurit.

Di ufuk utara, lautan warna emas bergerak maju bagai gelombang pasang. Sepuluh ribu prajurit elit Pasukan Pemusnah Utama berbaris rapi.

Zirah emas mereka memantulkan cahaya dari langit yang masih merah darah. Mereka tidak berjalan kaki—barisan depan menunggangi Serigala Besi, monster buas bertaring yang bisa mengoyak baja.

Di tengah lautan emas itu, menjulang kereta perang raksasa dari batu granit utuh. Kereta itu tak beroda; ia melayang beberapa inci di atas tanah, ditarik enam ekor badak purba bercula tiga.

Di atasnya berdiri sosok raksasa setinggi tiga meter. Kulitnya abu-abu gelap, matanya memancarkan cahaya kecokelatan. Jenderal Bintang Tie, pemegang murni Otoritas Tanah.

"Sungguh penghinaan." Suara Tie bergema berat, menggetarkan kerikil di tanah. "Tuanku Di Tian membangunkanku dari tidur panjang seratus tahun... hanya untuk menyembelih seekor ternak pemberontak?"

Ia menatap ke selatan. Kurang dari satu mil darinya, berdiri barisan pasukan berseragam hitam. Hanya lima ribu orang. Tak ada tunggangan buas, tak ada kereta perang—hanya sekumpulan manusia fana menggenggam senjata baja.

"Gilas mereka." Tie memerintah malas sambil bersandar di singgasananya. "Sisakan kepala pemimpin mereka untuk kujadikan hiasan roda keretaku."

Trompet perang raksasa ditiup. Gelombang pertama—dua ribu Serigala Besi klan dewa melesat maju. Tanah bergemuruh. Niat membunuh mereka menyatu, menciptakan tekanan udara yang bisa membuat manusia biasa mati lemas.

Di seberang medan perang, Ye Cangtian berdiri tegak di garis depan. Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanan ke udara.

Di belakangnya, Long Zhan menyeringai lebar hingga taringnya terlihat. Sang Pendekar Tombak meninju pelat dadanya sendiri, menghasilkan dentangan logam yang memekakkan telinga.

"Divisi Kedua!" raung Long Zhan.

Seribu lima ratus pria dan wanita berbadan besar dari Divisi Fisik dan Penghancuran melangkah maju, menancapkan perisai menara raksasa ke tanah, menahan posisi.

Tepat saat perajurit klan dewa berjarak lima puluh meter, Long Zhan memberi aba-aba. "Tarik Napas!"

Seribu lima ratus manusia bernapas serentak. Qi di udara terisap masuk ke paru-paru mereka, disalurkan bukan ke pedang, melainkan langsung ke serat otot.

Otot mereka membengkak, urat menonjol seperti akar pohon, zirah baja mereka berderit menahan tekanan dari dalam.

Bllaaammmm!

Prajurit Serigala Besi klan dewa menabrak dinding perisai manusia itu dengan kecepatan penuh.

Para prajurit dewa mengira barisan manusia itu akan terpental seperti boneka. Yang terjadi justru sebaliknya. Dinding perisai tak bergeser seinci pun. Momentum prajurit dewa terhenti. Tulang-tulang Serigala Besi patah menabrak perisai, para penunggang dewa terlempar ke udara.

"Sekarang!" raung Long Zhan.

Divisi Kedua menjatuhkan perisai, mengayunkan kapak dan tombak raksasa mereka bersamaan. Ini bukan teknik energi spiritual. Murni kekuatan fisik brutal yang dilipatgandakan dengan kultivasi Qi. Dalam satu sapuan tombak, Long Zhan membelah tiga prajurit lapis emas beserta tunggangannya jadi dua bagian.

Garis depan prajurit klan dewa runtuh dalam hitungan detik. Kepanikan menjalar di mata prajurit emas yang selama berabad-abad mengira manusia lebih lemah dari serangga.

Melihat musuh kehilangan momentum, tangan kanan Cangtian yang tadi terangkat kini menebas ke bawah.

"Divisi Pertama. Habisi yang tersisa."

Dari belakang barisan raksasa Divisi Kedua, dua ribu ahli pedang Divisi Teknik melompat ke udara seperti sekawanan gagak hitam, melompati kepala rekan-rekan mereka, mendarat langsung di tengah kekacauan barisan musuh.

Para ahli pedang ini tidak membuang tenaga menebas zirah emas tebal. Di bawah ajaran Cangtian di Akademi Fajar, mereka memakai Niat Pedang tingkat dasar—Qi mereka dipusatkan ke ujung bilah pedang hingga setipis jarum.

Mereka bergerak menari di antara musuh, menusukkan pedang secara presisi ke celah-celah kecil zirah klan dewa.

Jeritan kesakitan memenuhi Dataran Utara. Darah keemasan menyemprot dan menodai tanah yang tandus.

Hanya dalam sepuluh menit, dua ribu pasukan prajurit klan dewa dibantai habis oleh lima ribu manusia—korban di pihak manusia kurang dari seratus orang.

Di atas kereta perangnya, rahang Jenderal Bintang Tie mengeras. Matanya yang cokelat pudar kini menyala terang, memancarkan murka yang membakar.

Ia melihat prajurit elitnya dicincang.

"Beraninya... beraninya serangga menggigit dewa!" Raungan Tie menghasilkan gelombang kejut yang membuat gendang telinga prajurit manusia di dekatnya pecah berdarah.

Tie bangkit dari singgasananya. Tanpa mencabut senjata apa pun, ia melangkah turun dari kereta perangnya, mendarat di tanah dengan berat.

"Kalian bangga dengan otot dan teknik kecil kalian?" desis Tie. Otoritas Tanah di sekeliling tubuhnya meledak liar. "Biar kutunjukkan apa arti 'Kekuatan Mutlak'!"

Ia mengangkat kaki kanan, lalu menghentakkannya ke tanah dengan seluruh kekuatannya.

Boom!

Dataran Utara terbelah. Gempa bumi yang sangat kuat menjalar secepat peluru dari bawah kaki Tie, membelah medan perang lurus menuju pusat formasi Pasukan Pembelah Langit.

Tanah bergemuruh, lalu meledak ke atas.

Ratusan pilar batu obsidian, masing-masing setebal paha orang dewasa, ujungnya setajam tombak baja, meletus dari bawah tanah, dan menusuk formasi Divisi Kedua dari bawah ke atas.

Zirah sekuat apa pun, otot sekeras apa pun, tak ada gunanya melawan serangan langsung dari bawah tanah. Dalam hitungan detik, lebih dari tiga ratus prajurit berat manusia tertusuk dan tergantung di atas pilar-pilar batu itu, darah mereka mengalir deras membasahi tanah kering.

"Tidaaak!" Long Zhan meraung histeris melihat anak buahnya dibantai massal. Ia melompat, mencoba menghancurkan pilar-pilar itu dengan tombaknya, tapi batu itu diperkeras Otoritas Dewa hingga tombaknya hanya meninggalkan goresan.

Tie tertawa sinis melihat kepanikan kembali merayapi pasukan manusia. Ia mengangkat kakinya lagi, bersiap menghentakkan serangan kedua yang akan meratakan seluruh Divisi Pertama.

Tapi sebelum kaki batu raksasa itu menyentuh tanah...

Shing!

Sebuah tebasan energi berbentuk bulan sabit raksasa berwarna hijau-emas melesat membelah udara, menghantam tanah tepat di bawah kaki Tie dengan daya ledak mengerikan.

Bllaaarrr!

Batu dan debu terlempar ke udara. Hantaman Qi yang sangat padat itu memaksa raksasa seperti Tie melompat mundur puluhan meter.

Debu perlahan menipis.

Di antara Tie dan sisa Pasukan Pembelah Langit, turun sosok Ye Cangtian dari langit—melayang turun.

Di tangan kanannya, Pedang Pemutus Surga yang hitam legam kini diselimuti Qi emas yang tebal.

Cangtian melirik ke belakang bahunya, menatap tiga ratus prajuritnya yang tewas tergantung di pilar batu. Rahangnya mengeras, matanya berubah sedingin es.

Ia mengalihkan pandangan kembali ke Jenderal Bintang Tie.

"Kau punya Otoritas Tanah?" Suara Cangtian tidak keras, tapi tekanan yang memancar dari Pusaran Emas di Dantiannya membuat gravitasi di sekitarnya melengkung.

Ia menodongkan ujung pedang legamnya tepat ke wajah sang Jenderal Bintang.

"Bagus. Karena kau baru saja menggali kuburanmu sendiri disini."

Duel pertama antara Master Bela Diri manusia fana melawan entitas kuno klan dewa akan segera dimulai.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!