Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Daging Sebagai Tungku, Tulang Sebagai Pedang
Waktu tidak pernah berbelas kasih, terutama bagi mereka yang berada di kasta terendah. Di dunia kultivasi, enam bulan hanyalah waktu bagi seorang master untuk memejamkan mata dalam meditasi singkat. Namun bagi Awan, enam bulan adalah siksaan tanpa henti yang mengubah raga dan jiwanya.
Gubuk reot di sudut Dapur Selatan masih sama, tetapi pemuda yang menempatinya telah berubah.
Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Awan sudah berdiri di depan gunungan Kayu Besi Hitam. Kapak berkaratnya telah lama hancur. Sebagai gantinya, Mandor Zhu—yang kini menaruh rasa hormat terselubung padanya—memberikan sebuah kapak baja berat seberat dua puluh kilogram, alat yang biasanya hanya digunakan oleh kultivator berbadan raksasa.
TRAKK!
TRAKK!
Suara hantaman baja membelah kayu bergema dengan ritme yang mematikan. Awan membelah kayu hanya dengan satu tangan secara bergantian. Otot-otot di lengan dan punggungnya kini tidak lagi tampak kurus kering. Mereka telah memadat, liat, dan berlapis seperti kabel baja yang ditarik hingga batas maksimalnya. Kulitnya yang dulu rentan terluka, kini berwarna tembaga gelap dan sekeras batu karang.
"Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan... Sepuluh ribu," gumam Awan.
Tugas hariannya yang dulu memakan waktu dari fajar hingga senja, kini selesai sebelum matahari mencapai puncaknya.
Selama enam bulan ini, siklus hidupnya sangat sederhana: Membelah sepuluh ribu kayu, memakan Nasi Roh porsi besar dari Mandor Zhu, dan menghabiskan sisa harinya di belakang gubuk untuk melatih Seni Pedang Dasar Angin Jatuh hingga tengah malam.
Bagi kultivator normal, memakan Nasi Roh berarti menyerap Qi Spiritual ke dalam Dantian melalui meridian. Namun meridian Awan tersumbat total. Qi itu tidak punya tempat untuk bernaung. Alih-alih membiarkan energi itu menguap keluar dari tubuhnya, Awan memaksanya masuk ke dalam daging, otot, dan tulangnya melalui latihan fisik ekstrem.
Tanpa ia sadari, Awan telah membalikkan logika kultivasi. Ia menjadikan dagingnya sebagai tungku, dan tulangnya sebagai pedang. Ia memaksakan tubuh fananya menembus tahap pertama kultivasi dengan cara yang paling brutal: Alam Pembentuk Tubuh.
Siang itu, setelah menyelesaikan tugasnya, Awan duduk bersila di tangga Dapur Selatan. Di tangannya terdapat mangkuk kayu besar berisi Nasi Roh dan daging tumis kesukaannya. Baru saja ia menyuapkan nasi ke mulutnya, sebuah suara arogan memecah keheningan dapur.
"Zhu Tua! Di mana jatah bulanan kami?!"
Sekelompok pemuda berpakaian jubah luar sekte berwarna biru berjalan memasuki pelataran dapur. Pemimpinnya adalah seorang pemuda bermata sipit dengan bibir tipis bernama Ma Bo. Ia adalah Murid Luar di Alam Pengumpul Qi Tingkat Dua.
Mandor Zhu yang sedang bersantai buru-buru berdiri, senyum canggung menghiasi wajah gemuknya. "Tuan Muda Ma, mohon maaf... Panen Nasi Roh bulan ini sedikit menurun karena musim kemarau. Jatah Dapur Selatan juga dipotong oleh Tetua Sekte Dalam. Kami tidak punya lebih untuk setoran tambahan Anda."
Di Sekte Daun Angin, pemerasan antar murid adalah rahasia umum. Para Murid Luar kerap memalak Murid Pelayan untuk mendapatkan pil atau makanan berenergi ekstra demi mempercepat kultivasi mereka.
Wajah Ma Bo menggelap. "Beraninya kau beralasan! Jika aku tidak mencapai Tingkat Tiga bulan depan, aku akan gagal dalam Kompetisi Murid Luar! Kau mau bertanggung jawab?!"
Ma Bo mengangkat tangannya. Angin berpusar di telapak tangannya, membentuk bilah udara tipis hasil dari kendali Qi dasar. Ia bersiap menampar wajah Mandor Zhu.
Namun, sebelum tangan itu turun, mata Ma Bo menangkap sosok Awan yang duduk di tangga, diam-diam menyuapkan Nasi Roh dengan daging tumis ke mulutnya. Mangkuk Awan jauh lebih besar dari porsi pelayan biasa, memancarkan aroma energi spiritual yang kental.
Kemarahan Ma Bo seketika meledak. "Kau bilang tidak ada jatah ekstra, tapi kau memberi makan seorang budak fana dengan Nasi Roh kelas satu sebanyak itu?! Apa kau sudah bosan hidup?!"
Tanpa memedulikan Mandor Zhu lagi, Ma Bo melangkah lebar menghampiri Awan. "Heh, gembel! Serahkan mangkuk itu padaku, dan bersujudlah tiga kali. Aku mungkin akan mengampuni nyawamu yang tidak berharga ini."
Awan tidak menatap Ma Bo. Ia mengunyah nasinya perlahan, menelan, lalu menyendok suapan berikutnya. Ia sama sekali tidak memancarkan hawa keberadaan seorang kultivator, membuatnya tampak seperti balok kayu mati.
Merasa diabaikan oleh seorang budak kasta terendah, wajah Ma Bo memerah karena terhina. "Kau mencari mati!"
Ma Bo mengerahkan Qi ke tangan kanannya. Udara berdesir tajam saat ia melayangkan pukulan keras ke arah rahang Awan. Pukulan seorang Pengumpul Qi Tingkat Dua memiliki tenaga setara dengan banteng liar. Jika mengenai manusia biasa, leher mereka pasti akan patah.
Mandor Zhu memejamkan mata, tak sanggup melihat.
PAAKK!
Suara benturan keras bergema, namun itu bukanlah suara tulang leher yang patah.
Mandor Zhu membuka matanya dan terbelalak. Ma Bo juga terpaku, wajah arogannya berubah menjadi syok yang luar biasa.
Tangan kanan Ma Bo yang dilapisi Qi murni, ditangkap begitu saja di udara oleh tangan kiri Awan. Kulit Awan yang berwarna tembaga bahkan tidak tergores sedikit pun oleh bilah angin milik Ma Bo. Jari-jari kasar Awan mencengkeram pergelangan tangan Ma Bo seperti catok besi.
Awan perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang dingin dan dalam menatap Ma Bo.
"Dagingku belum habis," ucap Awan datar. "Mengganggu orang makan... itu tidak sopan."
"L-lepaskan! Bagaimana mungkin manusia fana—" Ma Bo meronta, mencoba menarik tangannya, tetapi pergelangan tangannya seakan terjepit di dalam gunung batu. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa saat jari-jari Awan sedikit mengerat. Tulang pergelangannya berderak pelan, nyaris remuk.
"Kau menggunakan terlalu banyak tenaga pada bahumu. Kuda-kudamu goyah. Pukulanmu lambat," Awan mengkritik dengan nada tanpa emosi, seolah sedang mengevaluasi batang kayu di tempat pemotongan.
Sebelum Ma Bo sempat bereaksi, Awan melepaskan cengkeramannya dan membalikkan telapak tangannya. Tidak ada Qi yang memancar dari Awan. Ia murni menggunakan putaran pinggul, merambatkan tenaga dari kakinya menembus punggung, dan melepaskan sebuah tamparan sederhana dengan punggung tangannya.
Gerakan itu adalah variasi dari teknik Menangkis dalam Seni Pedang Dasar Angin Jatuh.
DUAAGH!
Tamparan fisik murni itu menghantam dada Ma Bo. Sang Murid Luar terpental sejauh sepuluh meter seolah ditabrak kereta kuda. Ia berguling-guling di tanah liat, memuntahkan seteguk darah, dan langsung jatuh pingsan dengan tulang rusuk yang melesak ke dalam.
Teman-teman Ma Bo yang sedari tadi menonton dengan senyum mengejek kini pucat pasi. Mereka mundur beberapa langkah, menatap Awan dengan horor seolah melihat siluman buas berwujud manusia. Tanpa membuang waktu, mereka menggotong tubuh Ma Bo dan lari terbirit-birit meninggalkan Dapur Selatan.
Keheningan mutlak menyelimuti pelataran.
Mandor Zhu menatap Awan yang kembali melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa. Jantung pria gemuk itu berdegup kencang. Ia tahu, Awan tidak menembus batas kultivasi spiritual. Pemuda itu benar-benar masih seorang manusia fana.
Namun, tubuh fana itu... telah ditempa menjadi senjata pembunuh yang mengerikan.
Awan meletakkan mangkuknya yang sudah kosong. Ia menatap ke arah Puncak Daun Angin, tempat di mana aula utama sekte berada. Bulan depan adalah Kompetisi Murid Luar, sebuah ajang di mana murid luar bersaing memperebutkan posisi murid dalam, dan murid pelayan diberi satu kesempatan langka untuk menantang murid luar demi merebut status mereka.
Tangannya mengepal, merasakan ledakan tenaga murni mengalir di balik ototnya.
"Sudah waktunya mengambil kembali pedang," gumam Awan dihembus angin gunung yang dingin.