NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata Sang Ayah

​Hujan di Puncak bukan lagi sekadar curah air, melainkan sebuah amukan langit yang seolah ingin menghapus jejak manusia dari muka bumi. Di tengah labirin perkebunan teh yang curam, Bu Armayani berlari dengan sisa tenaga yang tersisa. Napasnya pendek-pendek, suaranya hilang ditelan gemuruh guntur yang bersahut-sahutan. Setiap langkah di atas tanah yang berubah menjadi bubur lumpur adalah perjuangan hidup dan mati.

​Di belakangnya, Evan Wirya Negara terus memburu. Pria itu sudah tidak terlihat seperti seorang CEO; ia tampak seperti pemburu yang telah kehilangan akal sehatnya. Senter di tangannya menyapu ke kiri dan ke kanan, menembus kabut tebal dan rintik hujan yang tampak seperti jarum-jarum kristal.

"Menyerahlah, Armayani!" teriak Evan. Suaranya kalah oleh dentuman petir yang menyambar tepat di atas bukit, menciptakan cahaya putih sekilas yang menyinari wajah Evan yang penuh kebencian. "Kamu tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup! Semuanya sudah berakhir bagi keluargamu!"

​Bu Arma tidak menoleh. Ia menolak untuk menyerah. Baginya, menyerah berarti membiarkan Rafa kalah. Ia memaksakan kakinya yang sudah lecet untuk terus mendaki punggung bukit, mencari celah di antara pohon-pohon teh yang rapat. Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain.

Saat ia mencoba melompati parit kecil yang telah berubah menjadi aliran air deras, tanah di bawah kakinya longsor. Kraak! Tanah itu tidak mampu menopang beban tubuhnya. Bu Arma kehilangan keseimbangan. Dengan jeritan yang tertahan oleh suara hujan, tubuh rentanya tergelincir masuk ke dalam aliran sungai kecil yang kini meluap menjadi arus yang deras dan dingin.

​"Aaaaaah!"

Tubuhnya terbawa arus. Ia berusaha menggapai akar pohon di pinggiran, namun air yang keruh dan deras menghantamnya tanpa ampun. Di tepi tebing, Evan Wirya Negara berhenti. Ia menatap ke bawah, ke arah sungai yang bergolak. Bukannya menolong, Evan justru tertawa. Tawa itu menggema, berbaur dengan suara petir yang kembali menyambar dengan dahsyat, menciptakan pemandangan bak adegan film horor yang sangat mengerikan.

​"Mati sajalah!" teriak Evan puas. Ia merasa beban hidupnya telah hilang. Ia berdiri tegak di tengah hujan, menikmati kemenangan semunya sambil menatap aliran sungai yang membawa pergi sosok mantan mertuanya itu.

****

Sementara itu, di balik jeruji besi yang dingin dan berbau pesing, Rafa Sasmita duduk dengan tatapan kosong. Ruang tahanan sementara ini adalah dunia yang sempit, sesempit harapannya saat ini. Rambutnya yang berantakan dan pakaian tahanan yang kebesaran membuat tubuhnya tampak semakin rapuh. Namun, di balik kelelahan itu, matanya tetap tajam.

​Langkah kaki sepatu hak tinggi yang nyaring terdengar mendekat. Rafa tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Bau parfum mahal yang menyengat itu adalah ciri khas Zaskia Mulandari.

​Zaskia berhenti tepat di depan jeruji besi. Ia mengenakan mantel bulu yang mewah, kontras dengan kondisi kumuh di sekelilingnya. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap Rafa dengan tatapan merendahkan yang luar biasa.

"Lihat dirimu," suara Zaskia melengking meremehkan. "Dulu kamu adalah Nyonya Negara, dan sekarang kamu hanyalah seorang janda miskin yang mendekam di balik jeruji besi. Bagaimana rasanya? Apakah dingin di sana, Rafa?"

​Rafa tetap diam, namun tangannya mengepal di balik punggungnya.

​"Kamu tahu apa yang lucu?" Zaskia melanjutkan, tawanya yang khas kembali keluar, penuh kesombongan yang nyata. "Kamu tidak akan pernah menang melawanku. Kamu miskin, kamu mandul, kamu tidak punya keluarga, dan sekarang kamu tidak punya masa depan. Evan baru saja memberitahuku bahwa dia sudah mengurus 'masalah' yang membuat kita pusing selama ini."

****

Zaskia mendekat ke jeruji besi, berbisik dengan nada yang sangat sadis. "Ibumu. Evan baru saja memastikan bahwa dia tidak akan pernah mengganggu kita lagi. Mungkin sekarang dia sedang menikmati perjalanan di sungai yang dingin."

​Rafa tersentak, wajahnya pucat pasi. "Kamu bohong! Kamu dan Evan adalah iblis!"

​"Iblis atau bukan, yang penting kami menang," jawab Zaskia santai, ia merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang ia keluarkan dari tasnya.

"Sean sudah dibenci oleh orang tuanya sendiri karena mencintaimu, ayahmu sedang menunggu ajalnya di rumah sakit, dan ibumu... yah, anggap saja dia sudah tidak ada. Kamu sendirian, Rafa. Benar-benar sendirian."

Zaskia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan rasa bangga atas kekejamannya sendiri. "Jangan berharap ada keajaiban. Di dunia ini, yang menang adalah yang punya uang dan kekuasaan. Kamu hanyalah debu yang akan disapu bersih dari sejarah keluarga Wirya Negara."

​Zaskia berbalik, langkah kaki sepatunya yang mahal bergema di lorong penjara saat ia pergi meninggalkan Rafa. Sebelum hilang dari pandangan, ia menoleh sekali lagi dan melempar senyum kemenangan yang sangat menjijikkan.

****

Rafa memukul jeruji besi itu dengan tangan kosong hingga buku jarinya terluka. Ia tidak menangis. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. Ia tahu, Zaskia terlalu sombong. Kesombongan itu adalah lubang besar yang akan menelan mereka semua.

​"Tertawalah, Zaskia," bisik Rafa pelan di tengah keheningan sel. "Karena saat aku keluar dari sini, aku tidak akan lagi bermain sesuai aturan kalian. Aku akan memastikan kalian tidak punya tempat untuk bersembunyi dari dosa yang kalian perbuat."

​Di balik tembok penjara, Rafa mulai menyusun rencana. Ia tidak lagi peduli pada nasibnya sendiri. Fokusnya sekarang adalah satu: menagih janji atas darah dan air mata yang telah mereka tumpahkan. Pertempuran belum berakhir; ini justru baru memasuki tahap di mana nyawa bukan lagi hal yang paling berharga untuk dipertahankan.

****

Bau amis, lembap, dan aroma disinfektan murahan berputar di udara sempit ruang tahanan sementara itu. Di balik jeruji besi yang kokoh, Rafa Sasmita duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin. Pikirannya masih dihantui oleh kata-kata Zaskia tentang ibunya.

Jantungnya bergemuruh hebat, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di dalam dadanya. Ia merasa seolah-olah seluruh oksigen di dunia ini telah habis tersedot, menyisakan dirinya dalam kehampaan yang sempurna.

​Namun, di tengah keheningan malam yang merayap, sebuah suara langkah kaki yang diseret berat terdengar dari lorong luar. Langkah kaki itu tidak stabil, diiringi oleh ketukan tongkat kayu yang bergesekan dengan lantai keramik penjara. Rafa mendongak perlahan, matanya yang sembap menyipit, mencoba menembus remang-remang cahaya lampu neon di lorong.

****

Sesosok tubuh paruh baya dengan kepala yang masih dibalut perban putih bersih muncul di balik pintu besi. Wajahnya pucat pasi, nyaris tanpa warna, seperti kertas yang direndam air.

​"Bapak...?" bisik Rafa, suaranya tercekat di tenggorokan, begitu lemah hingga nyaris tak terdengar.

​Pak Pamuji berdiri di depan jeruji besi dengan napas yang memburu. Perjalanan dari rumah sakit langsung menuju kantor polisi dengan kondisi tubuh yang belum pulih sepenuhnya adalah siksaan fisik yang luar biasa. Namun, tekad seorang ayah jauh lebih kuat daripada rasa sakit di tubuhnya. Begitu ia melihat putrinya duduk meringkuk di balik jeruji besi, pertahanan diri pria tua itu runtuh seketika.

​"Rafa... anakku..." suara Pak Pamuji bergetar hebat. Ia menjatuhkan diri ke lantai, terduduk lemas tepat di depan jeruji besi, lalu menyamakan wajahnya dengan celah besi tersebut. Tangannya yang gemetar berusaha meraih tangan Rafa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!