Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pelukan di Tengah Malam
Helena terbangun dengan mata yang masih sembab. Cahaya matahari sore sudah mulai meredup, menyisakan rona jingga di balik tirai kamar. Dia duduk perlahan, merasakan tubuhnya yang masih lelah. Dia ingat, setelah makan siang tadi, dia diantar Mbok Jum ke kamar dan berbaring. Mungkin dia tertidur cukup lama.
Dia melihat jam di nakas. Pukul 17.30.
Arthur pasti masih ada di mansion ini. Aku harus bicara dengannya. Aku tidak bisa terus begini.
Helena turun dari tempat tidur, merapikan gaun putihnya yang sedikit kusut. Dia berjalan keluar kamar, menyusuri lorong, dan menuju ruang kerja Arthur. Namun, saat dia sampai di depan pintu, dia melihat pintunya tertutup rapat. Helena mengetuk pelan, tapi tidak ada jawaban.
Helena mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Arthur? Kamu di dalam?"
Tidak ada suara.
Helena membuka pintu perlahan. Ruang kerja itu kosong. Komputer sudah dimatikan, kursi eksekutifnya kosong, dan tidak ada secangkir kopi di atas meja. Arthur tidak ada di sini.
Helena menghela napas, lalu berjalan kembali ke lorong. Dia bertemu dengan Mbok Jum yang sedang membawa nampan berisi teh dan kue.
"Mbok Jum, Arthur pergi ke mana?" tanya Helena.
Mbok Jum tersenyum ramah. "Oh, Tuan Arthur baru saja keluar, Nona. Ada urusan bisnis yang mendadak. Beliau bilang akan pulang larut malam. Beliau pesan agar Nona tidak usah menunggu, dan Nona bisa beristirahat lebih awal."
Helena mengerutkan kening. "Larut malam? Tapi aku harus bicara dengannya. Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya."
Mbok Jum menatap Helena dengan tatapan penuh pengertian. "Nona, bagaimana kalau Nona menunggu di ruang tamu saja? Saya bisa temani Nona. Mungkin Nona bisa menonton televisi atau membaca buku. Saya yakin Tuan Arthur akan segera pulang."
Helena menghela napas panjang. Dia tahu Mbok Jum hanya berusaha membantu, tapi rasa cemasnya semakin besar. "Baiklah, Mbok Jum. Aku akan menunggu di ruang tamu."
Helena berjalan ke ruang tamu yang luas. Dia duduk di sofa panjang, mengambil remote TV, dan menyalakan televisi. Acara yang tayang adalah berita malam. Helena tidak benar-benar memperhatikan tayangan itu. Pikirannya terus melayang pada Arthur dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Mbok Jum datang membawa segelas teh hangat dan sepiring kue. "Nona, minum teh dulu. Ini teh chamomile, bisa membantu menenangkan pikiran."
"Terima kasih, Mbok Jum." Helena menerima teh itu, menyesapnya perlahan.
Mbok Jum duduk di kursi di sebelahnya. "Nona, boleh saya bertanya? Kenapa Nona terlihat begitu cemas? Nona seperti takut sesuatu."
Helena menatap Mbok Jum. Wanita tua itu terlihat sangat tulus dan ramah. "Mbok Jum, aku... aku tidak tahu harus berbuat apa. Arthur menahanku di sini. Aku tidak bisa pulang. Dan ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan padanya."
Mbok Jum tersenyum bijak. "Nona, Tuan Arthur itu pria yang baik. Dia tidak akan menyakiti Nona. Mungkin ada alasan mengapa dia melakukan ini semua."
Helena tidak menjawab. Dia hanya menyesap tehnya, berharap teh chamomile itu benar-benar bisa menenangkan pikirannya.
Waktu berlalu perlahan. Helena menonton TV, membaca majalah yang ada di meja, dan terkadang berbicara dengan Mbok Jum. Tapi semakin malam, matanya semakin berat. Dia sudah tidak tidur nyenyak semalaman, dan kelelahan mulai menyerangnya.
Pukul 22.30, Helena masih duduk di sofa. Matanya sudah hampir tertutup. Mbok Jum melihat Helena yang mulai mengantuk.
"Nona, mungkin lebih baik Nona beristirahat di kamar saja? Tuan Arthur mungkin pulang sangat larut," saran Mbok Jum.
Helena menggeleng, tapi suaranya sudah mulai melemah. "Tidak... aku harus menunggu..."
Pukul 23.00, Helena akhirnya menyerah pada kelelahan. Matanya menutup, dan tubuhnya jatuh ke sisi sofa. Kapalanya bersandar pada bantal, dan dalam hitungan detik, dia tertidur lelap. TV masih menyala, memancarkan cahaya redup di ruangan yang gelap.
Mbok Jum melihat Helena tertidur, lalu mengambil selimut tipis dan menutupkannya ke tubuh Helena. "Tidurlah, Nona. Semoga mimpi indah." Mbok Jum lalu berjalan pergi, meninggalkan Helena sendirian di ruang tamu.
---
Pukul 00.15, pintu utama mansion terbuka. Arthur melangkah masuk, wajahnya lelah. Dia baru saja selesai menghadiri acara bisnis yang berlangsung hingga larut malam. Jasnya dia lepaskan, dan dia berjalan ke ruang tamu, berniat menuju kamarnya untuk beristirahat.
Namun, saat dia melewati ruang tamu, dia melihat sosok yang sedang tertidur di sofa.
Arthur berhenti, matanya memandang Helena yang tertidur lelap. Rambutnya tergerai, wajahnya tenang meskipun ada sedikit kerutan di keningnya. TV masih menyala dengan volume rendah, memancarkan cahaya yang menerangi wajah Helena.
Kamu menungguku sampai larut? batin Arthur. Perasaannya campur aduk antara haru dan sedih.
Arthur berjalan mendekat, duduk di ujung sofa. Dia menatap Helena beberapa saat. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya saat melihat Helena tidur seperti ini. Ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa bersalah karena telah membuat Helena menunggu.
Arthur mengulurkan tangannya, mengusap rambut Helena dengan lembut. "Hel... maafkan aku. Aku membuatmu menunggu."
Helena tidak bergerak. Napasnya teratur, dia tertidur dengan pulas.
Arthur mengambil keputusan. Dia membungkuk, mengulurkan tangan, dan dengan hati-hati mengangkat tubuh Helena. Helena berbaring di pangkuan Arthur, tidak sadar bahwa dia sedang dipindahkan.
Arthur membawa Helena melewati tangga, menuju kamar tidur utama. Dia membuka pintu, masuk ke dalam, dan dengan lembut membaringkan Helena di atas kasur. Dia menarik selimut, menutupi tubuh Helena, dan mematikan lampu samping tempat tidur.
Arthur berdiri di samping kasur, menatap Helena. Dia ingin pergi ke kamarnya sendiri. Tapi ada sesuatu yang menariknya kembali.
Arthur menanggalkan sepatunya, lalu berbaring di sisi kasur yang masih kosong. Dengan hati-hati, dia memeluk Helena. Tangannya melingkar di pinggang Helena, dan dia mendekatkan wajahnya ke rambut Helena, mencium aroma samar parfum yang masih melekat di rambutnya.
"Kamu tidak akan pergi lagi, Hel," bisik Arthur di kegelapan. "Aku tidak akan membiarkanmu."
Malam itu, Arthur memeluk Helena, dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, dia bisa tidur dengan tenang.
---
Keesokan paginya, sinar matahari mulai merembes masuk melalui celah tirai. Helena perlahan membuka matanya, cahaya silau membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali. Dia masih dalam kondisi setengah tidur, dan dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
Tubuhnya terasa hangat. Ada tangan melingkar di pinggangnya. Dan ada napas seseorang di lehernya.
Helena membelalak. Dia menoleh ke arah samping, dan langsung melihat wajah Arthur yang masih tertidur lelap. Lengan Arthur melingkar di pinggangnya, dan wajah Arthur sangat dekat, hingga Helena bisa merasakan hembusan napasnya di kulitnya.
Helena langsung terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Tuhan... aku ada di kasur yang sama dengan Arthur? Dia... dia memelukku?
Helena mencoba bergerak perlahan, berniat melepaskan diri dari pelukan Arthur. Tapi saat dia bergerak, Arthur tampak mulai terjaga. Matanya terbuka perlahan, dan dia menatap Helena.
"Selamat pagi, Hel," bisik Arthur, suaranya serak karena baru bangun. "Kamu tidur nyenyak?"
Helena langsung merona. Wajahnya memanas. "Arthur! Kamu... kenapa kita... kenapa aku ada di sini?"
Arthur tersenyum tipis, masih dengan mata setengah terbuka. "Kamu tertidur di sofa tadi malam. Aku tidak tega meninggalkan kamu di sana. Jadi aku membawamu ke sini."
Helena menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Arthur, kamu harusnya... kita tidak boleh begini. Kita sudah bercerai."
Arthur tidak menjawab. Dia hanya memeluk Helena lebih erat sejenak, lalu perlahan melepaskannya. "Maaf, Hel. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya... merindukanmu."
Helena menurunkan tangannya, menatap Arthur. Ada sesuatu di tatapan Arthur yang membuat hatinya meleleh. Tapi dia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh terlena.
"Arthur, aku harus pulang," kata Helena tegas. "Aku tidak bisa terus begini. Aku punya tanggung jawab."
Arthur menghela napas panjang. "Aku tahu, Hel. Tapi janji, kita akan bicara lagi. Aku tidak akan menahanmu selamanya. Aku hanya ingin tahu kebenaran."
Helena mengangguk. "Baik. Kita akan bicara. Tapi aku harus pulang. Hari ini."
Arthur menatap Helena, dan setelah beberapa saat, dia mengangguk. "Baik. Aku akan mengantarmu pulang. Tapi Hel, janji jangan menghilang lagi. Aku akan mencari kamu."
Helena tidak menjawab. Dia hanya menatap Arthur, kemudian menunduk. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa rahasia besar tentang James semakin sulit untuk ditutupi. Dan dia tidak tahu apakah dia bisa menghindari Arthur selamanya.