Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Promise
Nara masih terdiam di samping Daffin yang tengah fokus mengemudi dan sepertinya ia juga tak berniat untuk membuka obrolan.
"Fin!"
Setelah beberapa lama hening akhirnya Nara mulai berbicara.
"Daffin!"
.....
"Daffin Prasetya!!!"
"Berisik Nara Cahaya Prasetya. Gue nggak tuli."
"Nama gue Nara Cahaya doang, gak pake Prasetya. " Nara mengerucutkan bibirnya.
"Elo istri gue, berarti di belakang nama elo akan ada nama gue."
"Ck." Nara berdecak "Fin!" lagi Nara memanggil nama pemuda di sampingnya itu.
"Hm."
"Kenapa elo mukul Baim?"
"Ya karena gue gak suka milik gue di sentuh orang."
"Ya tapi kan gak perlu pake kekerasan juga."
"Kenapa? Elo kasihan ngelihat dia babak belur? Elo suka sama cowok munafik itu hah.?" seketika Daffin menghentikan mobilnya,"jawab Nara!"
"Bu-bukan gitu. Gue nggak suka sama Baim, cuma gu_"
"Bagus kalo elo gak suka sama dia," Daffin menatap tajam Nara yang tengah ketakutan, karena baru pertama kalinya ia melihat wajah Daffin semenyeramkan itu.
"Nara, mulai sekarang elo cewek gue. Elo milik gue dan gak ada satu orang pun yang boleh mendekati apalagi sampai berani nyentuh elo. Ngerti!" Nara bergeming ia menundukkan kepalanya, "ngerti gak?" tanya Daffin dengan suara semakin tinggi, ia memukul setir di depannya dan itu membuat Nara terkejut dan langsung menangis seketika.
"Kenapa elo nangis? Elo gak mau jadi cewek gue, hah?" tanya Daffin lagi, masih dengan suara tinggi. Nara menggeleng pelan jujur saat ini ia benar-benar takut pada Daffin.
Daffin menghembusakan nafasnya kasar. "Elo istri gue, udah seharusnya elo nurut sama gue dan gue harap nggak ada lagi cowok seperti si Baim ke depannya agar kejadian tadi gak kembali terulang." Daffin mulai memelankan suaranya.
"Maaf." satu kata dari mulut Nara membuat sudut bibir Daffin tertarik.
"Udah gak usah nangis lagi." Daffin menarik Nara kedalam pelukannya "Sory gue kasar sama elo, gue tadi kebawa emosi."
Tangis Nara semakin keras di pelukan Daffin, tangannya sudah melingkar pada tubuh suaminya itu.
"Heh, kok elo makin kencang sih nangisnya?" Nara tak menyahut ia masih terisak di pelukan Daffin "Ra, jawab dong jangan buat gue bingung!"
"Elo jahat sama gue, hiks."
"Sory, gue kelepasan. Gue janji lain kali gue bakal berusaha suapaya nggak akan kasar lagi sama elo." Daffin mencium puncak kepala Nara, membuat Nara mendongak dan seketika tatapan mereka bertemu.
"Kenapa?"
"Tadi elo ngapain?" polos Nara bertanya.
Daffin gelagapan, ia memalingkan wajahnya yang terasa panas dan melepaskan Nara dari pelukannya.
"Fin!"
"Daffin!"
"Kenapa Nara?"
"Tadi elo ngapain?" sekali lagi Nara mengulang pertanyaannya.
"Gak papa."
"Terus kenapa wajah elo merah?" Nara mencondongkan wajahnya lebih dekat pada wajah Daffin.
"Berisik Nara." ia mendorong wajah Nara pelan dengan telunjuknya.
Nara mengerucutkan bibirnya karena tidak puas mendengar jawaban dari Daffin.
"Fin."
"Iya Nara cahaya, yang bawel." Nara terkekeh mendengar jawaban Daffin
"Janji ya gak kasar kasar lagi sama gue?"
"Iya."
"Janji?" Nara mengacungkan jari kelingkingnya.
Daffin tersenyum ia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kecil Nara "Janji."
Nara tersenyum manis, Daffin juga ikut tersenyum ia kembali melajukan mobilnya. Suasana kembali hening.
"Kapan elo pergi kemah?"
"Lusa, " menatap Daffin "kenapa?"
"Gue ikut."
"Tumben, biasanya elo paling males dengan kegiatan sekolah?"
"Gue jagain elo." Nara memutar bola matanya malas "Kenapa gak boleh?"
"Boleh kok, asal jangan bikin rusuh aja."
"Gak bakal, kecuali ada yang ganggu elo, maka dengan senang hati bakal gue hajar."
"Serah elo deh." Nara milih memejamkan matanya dari pada harus mendengar ocehan Daffin yang unfaedah.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.