NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Darah

“Aku kembali untuk memastikan kau tidak membunuh ayahmu untuk kedua kalinya.”

Kalimat itu menggantung di ruang penyembuhan seperti asap yang tidak mau hilang.

Aelora menatap Milo. Mata kucing bayangan itu masih merah gelap, persis seperti mata Kael ketika menggunakan Umbra dalam jumlah besar. Namun warnanya hanya bertahan beberapa detik. Merah itu bergetar, memudar, lalu kembali menjadi ungu.

Tubuh Milo terkulai di telapak tangan Kael.

“Milo?”

Tidak ada jawaban.

Aelora hendak mendekat, tetapi Kael menahan bahunya.

“Biarkan Eirna memeriksanya.”

“Kau memegangnya terlalu keras.”

“Aku tidak—”

“Jarimu hampir menutupi seluruh tubuhnya.”

Kael menunduk.

Milo memang terlihat semakin kecil di antara kedua tangannya. Ujung ekornya tinggal asap tipis, sedangkan satu telinganya nyaris tidak memiliki bentuk.

Kael melonggarkan genggaman.

Pintu terbuka dan Eirna masuk bersama dua asistennya. Tabib itu berhenti setelah melihat keadaan ruangan: cermin hancur, rune pengunci terbakar, serpihan kaca tersebar di lantai, dan seekor kucing bayangan hampir lenyap di tangan raja.

“Apa yang terjadi kali ini?”

“Cermin mencoba menculik Aelora,” jawab Milo lemah.

Eirna memandangnya. “Kau masih bisa bicara?”

“Aku juga terkejut.”

Kael menyerahkan Milo kepadanya. “Periksa inti bayangannya.”

“Dan Aelora?”

“Aku baik-baik saja,” jawab Aelora.

Eirna melihat bekas taring pada pergelangan tangannya.

“Definisi baik-baik saja di istana ini memburuk setiap jam.”

Ia meletakkan Milo di atas meja dan menggambar lingkaran rune di sekeliling tubuhnya. Cahaya ungu muncul dari garis tersebut. Ketika menyentuh ekor Milo yang transparan, cahaya itu bergetar seolah tidak tahu bagian tubuh mana yang harus disembuhkan.

Aelora berdiri di sisi meja.

“Dia akan mati?”

“Tidak,” jawab Milo.

Eirna menatapnya. “Saya yang memeriksa.”

“Aku mengenal tubuhku.”

“Kau baru mengetahui kemungkinan dirimu berasal dari masa depan.”

Milo memejamkan mata. “Baiklah. Periksa.”

Eirna menggerakkan kristal kecil di atas tubuhnya. Bayangan di dalam kristal berputar tidak teratur, kadang membentuk tubuh kucing, kadang kepala serigala, lalu siluet seseorang yang memakai mahkota.

Kael berdiri sangat diam.

Aelora menoleh kepadanya.

“Kau mengenali lambang di dahinya.”

“Itu lambang inti jiwa Vesperion.”

“Berarti Milo bagian darimu?”

“Belum tentu.”

“Mata kalian sama.”

“Mata merah tidak langka di Nocthara.”

“Suara kalian juga sama.”

“Itu lebih sulit dijelaskan.”

Aelora menyilangkan tangan. “Dia mengatakan aku membunuhmu untuk kedua kalinya.”

Kael tidak menjawab.

Milo membuka satu mata. “Aku seharusnya tidak mengatakan bagian itu.”

“Kau mengatakannya memakai suara Ayah.”

“Aku sedang kesakitan.”

“Itu bukan alasan.”

“Rasa sakit sering membuat makhluk mengatakan hal yang buruk.”

“Hal yang benar?”

Milo kembali menutup mata.

Aelora memandang Kael. “Apakah kau membawa jiwamu dari masa depan dan menjadikannya kucing?”

“Aku tidak ingat melakukan itu.”

“Bisa saja kau belum melakukannya.”

“Itu bukan kalimat yang menenangkan.”

Rune pemeriksaan mendadak berkedip. Garis ungu di sekeliling Milo berubah hitam.

Eirna mencondongkan tubuh.

“Inti bayangannya terpecah.”

“Karena cermin?” tanya Aelora.

“Bukan luka baru.” Eirna menggerakkan dua jari di atas tubuh Milo. “Dia memang terbentuk dari beberapa pecahan yang dipaksa menyatu.”

Kael mendekat. “Pecahan apa?”

“Ada kontrak yang menutup asalnya. Saya tidak bisa membaca lebih jauh tanpa merusaknya.”

Milo tersenyum tipis. “Setidaknya masih ada rahasia yang bekerja.”

Aelora memelototinya. “Kau akan menjelaskan semuanya.”

“Setelah aku tidak merasa seperti diinjak wyvern.”

“Berapa lama?”

“Bisa satu jam. Bisa seratus tahun.”

“Dua hari,” sela Eirna. “Dengan syarat tidak ada cermin terkutuk, portal, ledakan, atau orang yang menggigit pasien.”

Milo mengangkat kepala sedikit. “Aku yang menggigit.”

“Diam dan sembuh.”

Pintu ruangan terbuka sebelum siapa pun menjawab.

Lady Varessa masuk bersama Lord Vael dan tiga anggota Dewan Bulan. Prajurit klan berdiri di belakang mereka dengan senjata lengkap.

Kael berbalik.

“Aku tidak mengizinkan kalian masuk.”

Lady Varessa memandang pintu yang sudah kehilangan separuh segelnya.

“Ruangan ini tidak lagi memiliki perlindungan yang layak.”

“Itu bukan undangan.”

“Kami tidak datang sebagai tamu.”

Bayangan Kael menyebar tipis di lantai. “Lalu sebagai apa?”

“Sebagai wakil tujuh klan utama.”

Varessa mengangkat gulungan hitam. Tujuh cap lilin melekat pada tali pengikatnya.

“Dewan mengajukan pemeriksaan darah terhadap anak yang disebut Putri Solumbra.”

Bayangan Kael langsung mengeras.

“Ditolak.”

“Anda belum membaca permintaannya.”

“Aku tidak perlu.”

“Dua jalur menuju Elyrion muncul sejak anak itu datang. Mahkota kerajaan terbelah. Gerbang Tiga Dunia bereaksi terhadap darahnya. Seorang komandan yang jantungnya berhenti kembali hidup setelah disentuhnya.”

“Semua itu tidak memberi kalian hak mengambil darahnya.”

Varessa menatap Aelora dari balik bahu Kael.

“Kami harus memastikan dia bukan wadah yang dikirim Surga.”

Aelora memegang lengan bajunya. “Wadah?”

Lord Vael menjawab dengan suara lebih tenang. “Tubuh yang ditanami pecahan kehendak malaikat. Pemilik tubuh mungkin tidak menyadarinya sampai perintah tertentu membangunkannya.”

Aelora teringat makhluk dalam cermin yang memakai wajahnya.

Belum.

Kata itu terasa lebih dingin sekarang.

“Aku bukan mata-mata.”

Seorang anggota dewan bertanduk pendek mendengus. “Wadah tidak selalu tahu dirinya wadah.”

Kael menoleh kepadanya.

“Ucapkan satu kalimat lagi dan kau akan menghabiskan rapat berikutnya sebagai hiasan dinding.”

Lelaki itu segera diam.

Lady Varessa tetap tenang. “Ujian darah dapat menjawab keraguan tanpa menyakitinya.”

“Semua ujian darah menyakitkan,” kata Aelora.

“Hanya satu tetes.”

“Satu tetes cukup untuk mantra pelacak,” jawab Kael.

“Kita memakai mangkuk batu tanpa rune.”

“Batu tetap dapat menyimpan jejak.”

“Yang Mulia boleh memilih batu, alat, dan orang yang mengambil darah.”

Kael tidak menjawab.

Aelora memperhatikan punggungnya. Ia tahu Kael ingin mengusir mereka. Mungkin bisa. Ia adalah raja. Bayangannya dapat menelan seluruh ruangan sebelum salah satu anggota dewan mengangkat senjata.

Namun ketakutan tidak akan ikut keluar bersama mereka.

Para pelayan sudah menjauh saat melihatnya. Prajurit berbisik bahwa ia membangkitkan orang mati. Jika Kael hanya menutup pintu, mereka akan membuat cerita sendiri.

“Apa yang diperiksa?” tanya Aelora.

Kael menoleh. “Kau tidak perlu ikut membahasnya.”

“Aku yang darahnya mau diambil.”

Lady Varessa menjawab, “Warna inti, reaksi terhadap Umbra, dan tanda kepatuhan terhadap perintah Elyrion.”

“Bagaimana?”

“Satu tetes darah diletakkan di atas batu kosong. Bayangan Nocthara akan mendekat. Setelah itu cahaya Elyrion digunakan dari jarak aman. Kalau darahmu menolak Umbra dan membentuk segel pemanggil, artinya ada kehendak Surga di dalam tubuhmu.”

“Kalau tidak?”

“Dewan akan menyatakan secara resmi bahwa kau bukan mata-mata.”

Kael menatap Aelora.

“Kau tidak perlu membuktikan apa pun.”

“Kalau tidak dilakukan, mereka akan terus takut.”

“Itu masalah mereka.”

“Aku tinggal bersama mereka.”

“Ini rumahmu.”

“Kalau begitu aku ingin orang-orang di rumahku tidak berpikir aku akan membuka portal saat mereka tidur.”

Kael menegang.

Aelora tahu kalimat itu menyentuh bagian yang ingin mereka lupakan. Dalam masa depan lama, ia memang membuka gerbang. Ia melakukannya dengan pedang yang berlumur darah Kael.

Namun masa depan itu belum terjadi.

“Aku mau melakukan ujiannya.”

“Tidak.”

“Ayah.”

“Panggilan itu tidak mengubah jawaban.”

“Aku tidak mau bersembunyi di belakangmu setiap kali seseorang bertanya apa aku monster.”

“Kau tujuh tahun. Bersembunyi di belakangku adalah pilihan yang masuk akal.”

“Tapi tidak selamanya.”

“Untuk hari ini, cukup.”

Varessa membuka gulungan hitamnya. “Penolakan dapat dianggap sebagai pengakuan bahwa istana menyembunyikan—”

“Keluar,” kata Kael.

Bayangan di lantai naik beberapa jengkal.

Aelora menarik tangannya.

“Biar aku memilih.”

Bayangan itu berhenti.

Kael menatap jemari kecil yang memegangnya, lalu wajah Aelora.

“Kau tidak tahu apa yang mungkin terjadi.”

“Tidak ada yang tahu.”

“Itulah alasan aku menolak.”

“Aku takut,” kata Aelora. “Tapi aku lebih takut mereka membenciku karena sesuatu yang belum kulakukan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Lady Varessa menurunkan gulungan sedikit. Lord Vael menatap putranya yang tidak ada di sana, mungkin teringat Ryn yang pernah membawa kutukan tanpa menyadarinya.

Kael menghela napas panjang.

“Ujian dilakukan di hadapanku.”

“Disetujui,” kata Varessa.

“Tidak ada anggota dewan menyentuh darahnya.”

“Disetujui.”

“Tidak ada sampel dibawa keluar.”

“Disetujui.”

“Batu dihancurkan setelah selesai.”

Varessa mengangguk.

“Jika aku menemukan satu rune tersembunyi,” lanjut Kael, “semua kitab darah tujuh klan akan kubakar.”

“Itu warisan kerajaan.”

“Kalau begitu pastikan alatnya bersih.”

Ujian dilakukan di Aula Bulan kecil, ruang tua di bawah singgasana utama.

Dindingnya dipenuhi ukiran raja-raja terdahulu. Beberapa wajah telah aus dimakan usia, sementara nama mereka masih terbaca pada lempeng batu. Di tengah ruangan berdiri satu meja yang dipotong langsung dari lantai.

Tidak banyak orang diizinkan masuk.

Kael, Aelora, Eirna, Lady Varessa, Lord Vael, dua anggota dewan, dan tiga penjaga.

Milo tetap berada di ruang penyembuhan. Sebelum Aelora pergi, kucing itu sempat membuka satu mata.

“Jangan biarkan darahmu menyentuh logam.”

“Kenapa?”

“Firasat.”

“Firasatmu tidak membantu.”

“Firasat membuatku hidup sampai sekarang.”

Kini Aelora berdiri di depan mangkuk batu putih tanpa ukiran. Kael sudah memeriksanya berkali-kali. Mangkuk pertama bahkan dihancurkan karena ia mencium sisa mantra pelindung.

Dewan akhirnya mengambil batu baru dari salah satu bagian dinding.

Eirna memegang duri hitam dari tanaman malam.

“Jarinya saja,” kata Kael.

“Saya tahu.”

“Jangan terlalu dalam.”

“Saya tabib.”

“Kalau tangannya terluka—”

“Anda boleh melakukannya sendiri.”

Kael memandang duri.

Kemudian memandang jari Aelora.

Aelora langsung menarik tangannya ke dada.

“Eirna saja.”

Tabib itu hampir tersenyum.

“Sedikit sakit.”

“Orang dewasa selalu bilang begitu.”

“Yang ini benar.”

Eirna membersihkan ujung jari Aelora menggunakan kain dingin. Duri menusuk kulitnya.

Aelora meringis.

Satu tetes darah muncul.

Namun tidak langsung jatuh.

Tetesan itu menggantung di ujung jarinya seperti mutiara, memantulkan cahaya rune dalam warna merah, emas, dan sedikit ungu.

Semua orang menahan napas.

“Letakkan di mangkuk,” kata Varessa.

Aelora mengarahkan jarinya.

Darah itu jatuh.

Begitu menyentuh permukaan batu, semua suara di aula menghilang.

Tidak ada bunyi napas.

Tidak ada gesekan kain.

Bahkan detak jantung Aelora terasa terlalu jauh.

Bayangan para penjaga bergerak mendekati meja.

Bayangan Kael tiba lebih dulu. Bentuk hitam itu merambat ke sisi mangkuk, berhenti sejenak, lalu mengelilingi darah Aelora tanpa menyentuhnya.

“Tidak menolak Umbra,” kata Lord Vael.

“Belum selesai,” jawab Varessa.

Salah satu anggota dewan mengeluarkan benda dari dalam kain hitam.

Sepotong kristal putih.

Kael langsung menoleh.

“Itu tidak disebutkan.”

“Kita harus menguji kepatuhan terhadap cahaya Elyrion.”

“Jangan dekatkan kepada Aelora.”

“Tidak akan menyentuh tubuhnya.”

Kristal diletakkan tiga langkah dari meja. Begitu kain penutup dibuka, cahaya putih keluar dan menjalar di lantai.

Darah Aelora bergetar.

Bayangan Kael mengencang di sekitar mangkuk.

Cahaya Elyrion menyentuh tepi meja.

Semua orang menunggu segel pemanggil muncul.

Tidak terjadi apa-apa.

Sebaliknya, darah mulai berubah warna.

Bagian luarnya tetap merah seperti darah manusia. Bagian tengahnya menggelap menjadi hitam, pekat seperti Umbra.

Lord Morcant mundur.

“Dua darah.”

Lady Varessa menggenggam tongkat. “Belum selesai.”

Merah dan hitam berputar bersama.

Cahaya kristal Elyrion mendekat.

Ledakan kecil terdengar.

Kael menarik Aelora ke dalam pelukannya. Bayangan membentuk dinding di depan mereka, tetapi cahaya menembus tanpa membakar.

Cahaya itu hangat.

Seperti sinar pertama yang menyentuh tanah setelah malam yang terlalu panjang.

Aelora membuka mata.

Darah dalam mangkuk tidak lagi merah.

Tidak hitam.

Tidak pula putih keemasan seperti darah malaikat yang pernah dilihatnya.

Warnanya terus berubah—emas lembut, merah muda, lalu ungu seperti langit sebelum fajar. Setiap warna menyentuh warna lain tanpa saling menelan.

Butiran cahaya naik dari permukaan mangkuk.

Satu demi satu bayangan di dalam aula menunduk.

Kristal Elyrion retak.

Bukan karena darah Aelora menolaknya.

Kristal itu seolah kehilangan hak untuk memberi perintah.

Lady Varessa jatuh berlutut.

Lord Vael menyusul. Dua anggota dewan lain menundukkan kepala dengan wajah pucat.

Kael tetap berdiri.

Tangannya masih berada di bahu Aelora.

“Apa artinya?” tanya Aelora.

Tidak ada yang segera menjawab.

Lady Varessa mengangkat wajah. Ketakutan di matanya jauh lebih besar daripada saat mengira Aelora adalah mata-mata.

“Ujian tidak menemukan kehendak Surga dalam tubuhmu.”

Aelora mengembuskan napas. “Berarti aku bukan wadah.”

“Bukan.”

Namun Varessa belum selesai.

“Darah ini tidak tunduk kepada Elyrion.”

Ia menatap bayangan yang berlutut di sekeliling meja.

“Tidak pula kepada Nocthara.”

Cahaya dari mangkuk naik dan membentuk tulisan di udara.

Kael mencoba membacanya, tetapi bentuk hurufnya lebih tua daripada bahasa Nocthara. Bahkan Lady Varessa hanya mampu menatap tanpa memahami.

Aelora mengerti.

Bukan karena pernah mempelajari tulisannya.

Kata-kata itu masuk langsung ke pikirannya menggunakan suaranya sendiri.

Kunci telah terbangun.

Mangkuk batu retak menjadi dua.

Darah Aelora terangkat ke udara dan berubah menjadi sebutir cahaya berbentuk mata.

Pupilnya hitam.

Bagian luarnya bercahaya seperti fajar.

Mata itu terbuka dan menatap Aelora sesaat.

Kemudian perlahan berputar ke arah timur.

Ke arah tempat Gerbang Tiga Dunia seharusnya tetap tertutup.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!