NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Matahari pagi di awal minggu yang baru terbit dengan sinar yang begitu terik, seolah berusaha menghapus sisa-sisa kelabu dari badai yang mencengkeram kota beberapa hari lalu. Kompleks Universitas Ganesha tampak sepadat biasanya. Mahasiswa berlarian mengejar kelas pagi, deru motor bersahut-sahutan di area parkir, dan tawa renyah terdengar di sepanjang selasar Fakultas Hukum.

Dari luar, semuanya tampak normal. Namun, di bawah permukaan, atmosfer universitas telah bergeser secara permanen. Berita tentang hilangnya pengaruh Gavin Mahendra di jajaran senat mahasiswa dan rumor mengenai pembekuan beberapa aset korporasi keluarganya oleh otoritas hukum telah menyebar bagai api di tengah padang rumput kering. Semua orang tahu ada tangan tak terlihat yang sedang bekerja, dan tangan itu mengarah pada satu nama: Bratadikara.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik melambat dan berhenti tepat di depan lobi utama Fakultas Hukum. Kemunculan mobil itu seketika memotong pembicaraan para mahasiswa yang sedang berkumpul di tangga lobi. Keheningan yang magis dan sarat ketegangan mendadak turun menembus kerumunan.

Pintu kemudi terbuka. Bram melangkah keluar terlebih dahulu, berdiri dengan sikap tegap di samping pintu penumpang belakang, matanya yang tajam memindai area sekitar dengan kewaspadaan yang tidak pernah kendur. Sesaat kemudian, pintu belakang terbuka.

Gisela Aura melangkah keluar. Pagi ini, ia tidak lagi tampak seperti mahasiswi kutu buku yang rapuh. Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru dongker yang pas di badannya, dipadukan dengan celana kain hitam dan sepatu hak rendah yang memberikan kesan tegas. Rambutnya yang hitam legam diikat rapi ke belakang, mengekspos garis wajahnya yang bersih dan sepasang mata cokelat yang kini memancarkan ketenangan baru.

Dari sisi lain pintu belakang, Devanandra Bratadikara turun. Ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, dilapisi dengan jaket pengebom (bomber jacket) berwarna hijau zaitun yang memberikan kesan kasual namun tetap berwibawa. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.

Devan berjalan memutari mobil, mendekati Aura. Tanpa keraguan sedikit pun, di hadapan ratusan pasang mata yang sedang memperhatikan mereka, Devan mengulurkan tangan kanannya. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh langsung bertautan dengan jemari Aura, menggenggamnya dengan erat dan posesif.

Aura sempat tersentak kecil oleh kontak fisik yang tiba-tiba itu, namun ia tidak menarik tangannya. Ia mendongak, menatap Devan yang sedang menurunkan sedikit kacamata hitamnya untuk memberikan sebuah kedipan tipis yang menenangkan.

"Jalan di samping gue, Ra. Angkat dagu lo," bisik Devan rendah, suaranya hanya ditujukan untuk rungu gadis itu. "Hari ini, lo adalah pusat dunia di kampus ini. Jangan biarkan mereka berpikir kalau mereka punya hak untuk menilai lo."

Aura mengembuskan napas perlahan, mengangguk kecil. Bersama Devan, ia melangkah menaiki tangga lobi Fakultas Hukum. Kerumunan mahasiswa di depan mereka otomatis terbelah dua, memberikan jalur luas bagi pasangan yang kini dianggap sebagai otoritas tertinggi di universitas tersebut. Tidak ada lagi bisik-bisik merendahkan; yang tersisa hanyalah tatapan penuh rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan.

Di ujung koridor dekat ruang sidang semu, Bianca Valerie dan beberapa temannya berdiri mematung. Wajah Bianca yang biasanya dipenuhi riasan tebal kini tampak agak pucat. Ia mengingat dengan jelas ancaman dingin Devan beberapa hari lalu di depan mading.

Saat Devan dan Aura berjalan melewati mereka, Aura sempat melirik ke arah Bianca. Tidak ada tatapan dendam atau kemenangan di mata Aura; hanya ada sebuah pandangan datar yang mencerminkan bahwa Bianca tidak lagi berada dalam level yang sama untuk menjadi ancamannya. Devan sendiri bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah geng tersebut, menganggap keberadaan mereka tidak lebih dari sekadar angin lalu.

Begitu mereka menjauh, salah satu teman Bianca berbisik dengan suara bergetar, "Bi... lo liat kan? Aura gak cuma jalan bareng Devan, tapi Devan bener-bener megang tangannya kayak... kayak dia gak mau kehilangan cewek itu. Gosip kalau mereka cuma settingan itu fix bohong."

Bianca mengepalkan tangannya kuat-kuat, namun ia tidak berani membalas. "Diem lo. Mulai sekarang, jangan pernah sebut nama cewek itu lagi di depan gue kalau lo masih mau aman di kampus ini."

Sementara itu, Devan mengantar Aura hingga tepat di depan pintu kelas Hukum Internasional. Langkah mereka terhenti di ambang pintu, memicu keheningan mendadak dari dalam kelas yang sudah dipenuhi mahasiswa.

Devan berbalik menghadap Aura, melepaskan genggaman tangannya secara perlahan hanya untuk memindahkan tangannya ke atas kepala Aura, mengelus rambut gadis itu dengan kelembutan yang membuat beberapa mahasiswi di dalam kelas menahan napas iri.

"Gue ada kelas di gedung seberang," kata Devan, pandangan matanya melembut secara drastis saat menatap Aura. "Kenzo dan Bram akan berjaga di sekitar koridor ini. Kalau ada apa-apa, atau kalau lo merasa gak nyaman dengan tatapan orang-orang, langsung hubungi gue."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Devan. Ini cuma kelas biasa," ujar Aura dengan senyuman tipis, mencoba mencairkan sikap protektif Devan yang terkadang agak berlebihan.

"Gak ada yang biasa kalau itu menyangkut lo, Aura," balas Devan tegas namun dengan nada yang hangat. Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di dekat telinga Aura, "Gue jemput pas jam makan siang. Jangan coba-coba kabur ke perpustakaan sendirian."

Aura merasakan pipinya sedikit memanas. Ia mengangguk. "Iya, Janji."

Setelah memastikan Aura masuk ke dalam kelas dan duduk di barisan depan dengan aman, Devan kembali memasang kacamata hitamnya. Aura kehangatan yang baru saja ia perlihatkan seketika menguap, digantikan oleh ekspresi dingin yang mematikan saat ia berbalik dan berjalan meninggalkan koridor bersama Bram yang setia mengikutinya dari belakang.

Jam kuliah pertama berlalu dengan cepat bagi Aura. Fokusnya pada materi kuliah materi hukum internasional membantunya mengalihkan pikiran dari trauma malam penculikan. Begitu dosen keluar dari ruangan, beberapa teman sekelas yang biasanya menjaga jarak mulai mendekati meja Aura dengan sikap yang sangat ramah, mencoba membuka obrolan ringan. Namun, Aura menanggapi mereka dengan profesionalisme yang sopan namun tetap menjaga batasan yang tegas. Ia tahu betul bahwa keramahan ini bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk bayangan hitam Bratadikara yang kini berdiri di belakangnya.

Sesuai janjinya, tepat pukul dua belas siang, pintu kelas Aura terbuka bahkan sebelum para mahasiswa sempat membereskan buku mereka. Devan berdiri di sana, menyandarkan bahu tegapnya pada bingkai pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat suasana kelas kembali senyap.

Aura tersenyum kecil, memasukkan laptopnya ke dalam tas, lalu berjalan menghampiri Devan.

"Tepat waktu," komentar Aura saat mereka mulai berjalan berdampingan menuju kafetaria terbuka di tengah kampus.

"Gue gak suka bikin wanita gue menunggu," jawab Devan santai, menyelipkan tangannya di pinggang Aura secara alami, membimbing gadis itu melewati kerumunan selasar yang ramai.

Kafetaria terbuka Universitas Ganesha siang itu sangat padat, namun sebuah meja panjang di sudut terbaik yang menghadap ke arah taman banyan tampak kosong melompong. Tidak ada satu pun mahasiswa yang berani mendekati area tersebut, karena di sana sudah ada Kenzo yang duduk santai sambil mengunyah permen karet di depan tiga laptopnya yang menyala.

"Hei, Sang Penyelamat Dunia," sapa Kenzo dengan nada jenaka saat melihat Devan dan Aura mendekat. "Gue udah pesenin makanan buat kalian. Nasi goreng spesial tanpa bawang merah buat Aura, dan espresso ganda tanpa gula buat si Bos yang kurang tidur."

Aura terkejut mendengarnya. Ia menoleh ke arah Devan. "Kamu tahu aku gak suka bawang merah?"

Devan menarikkan kursi untuk Aura sebelum ia sendiri duduk di samping gadis itu. "Gue membaca seluruh berkas lo, Ra. Termasuk preferensi makanan lo saat mengajukan beasiswa tiga tahun lalu. Gak ada detail yang terlewat oleh klan Bratadikara."

"Itu terdengar seperti penguntit," cibir Aura, namun ada rona merah yang tidak bisa disembunyikan di kedua pipinya.

"Itu disebut proteksi taktis, Good Girl," sahut Devan miring.

Di tengah suasana makan siang yang relatif tenang itu, Kenzo tiba-tiba memutar salah satu layar laptopnya ke arah Devan dan Aura. Ekspresi jenakanya seketika berubah menjadi serius, mencerminkan mode kerja profesionalnya sebagai kepala intelijen muda klan.

"Dev, ada pembaruan dari rumah sakit privat pinggiran kota," kata Kenzo, merendahkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh meja lain. "Nyonya Rahma, ibu Aura, sudah mendarat dengan aman di kompleks resor privat keluarga lo di pulau seberang. Tim medis kita menyatakan kondisinya sangat stabil dan dia menikmati fasilitas di sana. Gavin atau sisa-sisa Mahendra gak akan punya akses geografis ke sana."

Aura menghentikan sendoknya. Ia menatap layar laptop Kenzo yang menampilkan foto ibunya yang sedang duduk di kursi roda di sebuah beranda mewah yang menghadap langsung ke laut lepas, tampak tersenyum sehat. Rasa haru dan lega yang teramat sangat membuncah di dalam dada Aura.

Ia menoleh ke arah Devan, matanya berkaca-kaca. "Devan... terima kasih. Kamu benar-benar menepati janjimu untuk menjaga ibuku."

Devan menatap Aura dalam-dalam. Di balik penampilannya yang keras sebagai pemimpin masa depan klan mafia, ada sebuah binar ketulusan yang hanya diperuntukkan bagi gadis di sampingnya ini. Ia mengulurkan tangannya, mengusap sudut mata Aura yang sedikit basah dengan ibu jarinya.

"Gue udah bilang, Ra. Ibu lo adalah area netral, dan keselamatan dia adalah prioritas gue semenjak lo setuju buat berdiri di samping gue," kata Devan, suaranya terdengar begitu berat dan penuh komitmen. "Sekarang, fokus lo cuma dua hal: selesaikan draf skripsi lo dengan nilai sempurna, dan tetap berada di jangkauan tangan gue."

Aura mengangguk pelan, merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Konfrontasi berdarah di Distrik Selatan beberapa hari lalu mungkin telah menghancurkan rasa amannya yang lama, namun di sini, di tengah hiruk-pikuk kampus Ganesha dan di bawah perlindungan mutlak seorang Devanandra Bratadikara, Aura tahu bahwa ia telah menemukan jenis keamanan baru yang jauh lebih kokoh. Sebuah keamanan yang tidak hanya ditulis di atas lembaran hukum kertas, melainkan diukir dengan janji darah dan kesetiaan seorang Bratadikara.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!