NovelToon NovelToon
The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Mata-mata/Agen / Chicklit
Popularitas:503.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zeffa Arabella

Evelin Valentine adalah seorang gadis berumur 20 tahun yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Dia menjadi buronan internasional dengan banyaknya korban pembunuhannya.

Hingga suatu hari, setelah kematiannya dia merasuki tubuh seorang antagonis dalam novel yang dia baca. Dia adalah gadis yang ditakdirkan mati dengan tragis di akhir novel

***

"Siapa bilang kau bisa pergi begitu saja?"

Tangan Elliot melingkari wajah Evelin. Pipinya terbungkus tangan besar itu, terasa sangat panas.

"Sekarang kamu tidak bisa pergi bahkan jika kamu mau."

Wajah Elliot mendekat, dahinya dan Evelin saling bersentuhan.

"Kamu adalah milikku. Kamu tidak bisa pergi tanpa izinku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zeffa Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandi Rahasia

“Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit.” – Confucius.

"Saya mau pesan Nutello Chocolate dan potato wedges."

Pelayan tersebut mencatat dalam buku pesanannya.

"Ada lagi?"

"Tolong berikan ini kepada bos kamu!" Evelin memberikan secarik kertas kepada pelayan di depannya.

Pelayan melihat secarik kertas kosong tersebut dengan bingung. Yah, kosong karena tidak ada apa pun di kertas tersebut.

"Kertas ini?" Pelayan bertanya sekali lagi dengan senyum canggung, mungkin saja Evelin salah memberikannya.

"Ya."

Namun, berbeda dengan pikirannya, Evelin mengangguk dengan yakin.

"Baiklah.. saya akan memberikan ini kepada bos dan menyiapkan pesanan Anda."

Pelayan perempuan yang terlihat muda tersebut perlahan berjalan menjauh dari tempat Evelin berada.

Evelin bisa melihat pelayan tersebut berbicara dengan rekannya yang lain, dia bisa melihat kalau mereka sedang berdebat.

Lalu salah satu dari mereka pergi dengan tergesa-gesa dengan secarik kertas yang di berikan Evelin tadi di tangannya, mungkin ke ruangan bos mereka.

'Semoga tidak akan lama.'

Evelin melihat ke luar kaca, ada beberapa orang yang berlalu lalang di luar. Beberapa gedung tinggi terlihat dalam pandangannya.

'Sungguh pemandangan yang damai.'

***

Tok Tok Tok

Seorang pelayan laki-laki mengetuk pintu ruangan yang merupakan ruangan bos mereka.

"Masuk" Sebuah suara terdengar dari dalam ruangan.

Pelayan laki-laki yang mengetuk pintu, memegang kenop pintu dan membukanya secara perlahan, tidak ingin menimbulkan suara keras.

Dia berjalan dengan pelan dan mantap, lalu berhenti dan berdiri tidak jauh dari meja.

"Ada apa?" Suara berat dari seorang pria yang duduk meja terdengar.

Pria itu terlihat tampan dengan jas yang di kenakan nya, rambutnya di sisir rapi, matanya fokus ke arah kertas di depannya dan tangannya sesekali bergerak mencatat sesuatu.

"Ada seorang pelanggan yang memberikan secarik kertas dan meminta untuk memberikannya kepada Anda, Bos."

"Kertas?" Alis Deon berkerut, dia mengangkat pandangannya.

"Ya, tuan." Pelayan tersebut mengangguk cepat.

Deon mengulurkan tangannya, pelayan yang mengerti maksud Deon, melangkah maju dan memberikan secarik kertas tersebut pada Deon.

Deon membolak-balik kertas untuk melihatnya dan memang benar kalau kertas tersebut hanya kertas kosong.

Setelah beberapa menit mengamati kertas, Deon berhenti melihatnya dan mengangkat pandangannya ke arah pelayan yang masih berdiri diam di tempatnya.

Pelayan yang merasakan tatapan bosnya menunduk gugup, dia merasa jika dia akan di marahi karena mengganggu bosnya hanya karena sebuah kertas kosong.

Namun, berbeda dari pikirannya, Bosnya berbicara dengan tenang.

"Cepat ambil lilin!"

"Ya!?" Pelayan tersebut berseru dengan bingung.

"Ambil lilin sekarang!" Deon menekan setiap kata dengan wajah tersenyum.

"Baik! Segera!" pelayan yang menyadari kekesalan di wajah Deon segera menjawab dan pergi.

"Apa yang di tulis hingga harus di hilangkan?" Deon bergumam heran.

Selang beberapa menit, pelayan kembali dengan sebuah lilin di tangannya.

"Sekarang kamu bisa kembali bekerja." Deon melambaikan tangan dengan malas.

Tidak membuat bosnya kesal sepeti tadi, pelayan itu dengan cepat menjawab dan pergi.

Deon menyalakan lilin, lalu mendekatkan kertas ke lilin dan seperti sebuah keajaiban. Deretan huruf perlahan terlihat di atas kertas.

Dia menjauhkan kertas dan melihat huruf yang tertulis di atasnya.

"L NQRZ BRXU VHFUHW 'D'." Deon membaca huruf yang tertulis satu persatu.

"Ah.. sebuah sandi rahasia." Deon merenggut kesal, dia tidak suka teka-teki.

Dia mengambil teleponnya, menelefon anak buahnya dan mengirim sandi tersebut ke mereka.

Setelah beberapa menit menunggu, Deon menerima pesan dari anak buahnya.

Karena kata sandinya sederhana mereka bisa memecahkannya dengan cepat. Mereka mengatakan jika itu menggunakan sandi Caesar dan menjelaskan tentang hal lain.

Mau bagaimanapun mereka menjelaskan, yang terdengar bagi Deon adalah seperti ini.

"¥£^€°÷|`^°^#$@×€^¢^@#$"

Jadi, dia mengabaikan penjelasan mereka dan melihat pesannya.

"I know your secret." Itu adalah arti dari pesan rahasia tersebut

"Wow, sungguh sederhana." Deon berdecak kagum melihat empat kata yang tertulis.

"Kalo cuma sesederhana ini, kenap harus di bikin susah sih. Haha.. gue bener-bener nggak ngerti."

Deon suka sesuatu yang simple, karena itu dia tidak terlalu suka memutar otaknya.

Dia kembali melihat pesan di ponselnya. Menyadari sesuatu, dia segera berjalan keluar ruangan dan mengambil pelayan.

"Yoga..!" Dia mengeraskan suaranya agar orang di panggil bisa mendengarnya.

Tak lama, seorang pelayan yang tadi mengantarkan kertas tersebut terlihat.

"Iya, ada apa Bos?"

"Bawa orang yang memberikan kertas ini kepadaku!" Deon menggoyangkan kertas ditangannya uang terdapat sebuah tulisan.

Namun, karena Yoga menundukkan kepalanya dia tidak melihat hal tersebut.

"Baik, Bos..!"

***

Evelin sesekali meneguk minuman di atas meja, matanya tetap fokus melihat keluar. Karena cuaca cerah, sinar matahari menyinari tempat Evelin duduk.

Beberapa pelanggan diam-diam melihat ke arah pemandangan indah tersebut.

Sudah sekitar 30 menit dia duduk di sini.

'Aku tidak menyangka akan selama ini. Apakah butuh waktu lama untuk memecahkan sandinya?'

"Ini membosankan." Gumamnya dengan helaan nafas ringan.

"Permisi Nona." Seorang pelayan mendatanginya.

Evelin mengangkat pandangannya dan melihat kalau itu adalah pelayan yang tadi melayaninya

"Bisa ikut saya sebentar? Bos saya ingin bertemu dengan Anda." Ucapnya dengan nada ramah.

Evelin tidak menjawab namun dia bangkit dari tempat duduknya dan mengangguk kepada pelayan di depannya.

"Saya akan mengantar Anda."

Evelin mengikuti Pelayan tersebut dalam diam.

Sesampainya di depan pintu pelayan mengetuk pintu dan sebuah suara terdengar dari dalam.

Pelayan membuka pintu lalu Evelin masuk dan pintu kembali di tutup oleh pelayan. Sekarang, hanya ada dua orang di dalam ruangan tersebut.

"Silakan duduk, agar kita bisa bicara dengan nyaman." Ucapnya dengan senyum ramah.

Evelin tak menolak, karena dia juga tidak suka berdiri. Jadi, dia duduk dengan nyaman di sofa di dalam ruangan tersebut.

Deon juga berdiri dan duduk di sofa seberang Evelin.

"Kalau begitu langsung saja, apa maksud Anda di surat tersebut?." Senyum masih terpatri di wajah tampannya.

"Yah, seperti yang tertulis." Evelin berbicara dengan acuh.

Deon menggunakan bahasa formal agar lebih sopan, namun Evelin masih menggunakan bahasa informal.

"Baiklah, yang ingin saya tanyakan adalah rahasia apa yang Anda ketahui?" Merasa kalau kata-katanya salah dia kembali mengulang pertanyaannya.

"Semuanya."

"Ya..!?"

"Aku tahu rahasia tentang tempat ini, pekerjaanmu yang sesungguhnya dan semua yang kau lakukan di balik 'Cafe' yang normal ini, Mr.Adelard."

Deon menegang setelah mendengar semua yang di ucapkan Evelin apalagi ucapan terakhirnya.

"Jika Anda tahu semuanya seharusnya Anda diam. Anda tahu seberapa berbahaya kami ini." Deon bergerak dengan cepat menodongkan pistol ke arah Evelin.

"Wow.. Tenang. Aku kesini bukan untuk mencari masalah." Evelin. mengangkat kedua tangannya ke atas.

Namun, dia tidak terlihat takut dan ekspresinya masih tenang bahkan Dia masih tersenyum.

"Lalu untuk apa kau di sini?" Dia berbicara dengan waspada, dia bahkan tidak menurunkan pistol namun semakin mengencangkan genggamannya.

"Aku ingin melamar pekerjaan."

A/N: kata sandi yang di atas bukan bohongan atau ngaco ya. Seperti yang dijelaskan di atas, aku membuatnya pake sandi Caesar. Buat penjelasan lebih jelasnya kalian bisa browsing di internet. See you~

1
Murni Dewita
👣
Joanita Permata Sari
sangat keren ceritanyaa thoorrr...semangattt,ku tunggu
princess Halu
Kecewa
princess Halu
Buruk
Amelia
salam kenal ❤️❤️❤️
Galuh Faisal
aku komeen thoorr..hehehe
Galuh Faisal
ini yg aku suka dr author..stiap bab ada "kata2 mutiaranya"..hehe..maaf klo jd silent reader yach thor, jarang ngelike jg..tp tenaang dah ku ksh kembang ma kopinya..tinggal kemenyan nya yg blm ada thor, mngkin bs mnta k NT..wkwkwkwkwkwk
Ibuk'e Denia
aq mampir thor
Dede Mila
lanjut....
Nathalie soraya
lanjut thor
azka aldric Pratama
msh blm paham maksud dr cerita ini ,....
azka aldric Pratama
klo flashback knp GK di tulis 🤔🤔🤔🤔
azka aldric Pratama
sukurlah klo ibu tiri baik .... biasanya drama ibu tiri jahat
azka aldric Pratama
hadir 😉😉
Nazwa Fika
seruu...lnjut
Nazwa Fika
mampir...
Fransiska Husun
up up lagiiiii donk
Sugito Mrican
emang gajinya berapa thor
Sugito Mrican
ayo bos dilanjut
Sugito Mrican
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!