NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Langit ibukota diselimuti awan kelabu sejak pagi. Dari balik jendela ruang kerjanya, Indri memandang halaman kantor yang mulai diguyur hujan.

Tetes-tetes air menghantam kaca, menciptakan garis-garis samar yang membuat pemandangan di luar terlihat kabur.

Sama seperti hidupnya. Ancaman demi ancaman dari Evan membuatnya tidak pernah benar-benar merasa bebas.

Bahkan ketika berada di tengah keluarganya sendiri, ia selalu merasa ada sepasang mata yang mengawasi setiap langkahnya.

Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di meja makan.

Haris tampak jauh lebih segar dibanding beberapa minggu terakhir.

"Ada yang ingin Papa bicarakan."

Cinta dan Vano saling berpandangan.

"Ada apa, Pa?" tanya Cinta.

Haris tersenyum. "Papa ingin kita semua liburan."

"Liburan? Yeay!" Laura kecil langsung bersorak.

"Aku mau berenang!" Brian pun tak kalah bersemangat.

Semua tertawa melihat tingkah anak-anak.

"Papa sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama kalian. Akhir pekan ini kita berangkat ke vila keluarga di Puncak. Semuanya harus ikut."

Vano tersenyum. "Itu ide bagus, Pa."

Indri yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut tersenyum. "Aku akan mengosongkan jadwalku."

Haris menatap putri bungsunya penuh kasih. "Tidak ada urusan kantor selama dua hari. Papa mau, selama liburan gak ada yang memikirkan tentang pekerjaan."

Untuk sesaat, beban di dada Indri terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin... Mungkin ia masih memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang normal.

***

Sabtu pagi, seluruh keluarga bersiap berangkat menuju vila keluarga.

Laura kecil berlarian sambil memeluk boneka kesayangannya. Dibelakangnya, Brian pun berlari menyusul nya.

"Tante Indri! Jangan lupa bawa papan gambar Laura!"

Indri tersenyum kecil. "Iya, Tante sudah masukkan ke mobil."

Vano mengangkat koper terakhir ke bagasi. "Kalau semua sudah siap, kita berangkat."

Haris tampak begitu bahagia. Sudah lama ia tidak melihat keluarganya berkumpul tanpa dibayangi urusan pekerjaan.

"Pokoknya selama dua hari ini tidak ada yang membuka laptop."

Semua tertawa.

"Termasuk Papa," goda Cinta.

Haris ikut tertawa. "Tentu, Papa juga libur."

Melihat senyum papanya, hati Indri terasa hangat. Ia berharap akhir pekan ini dapat menghapus sejenak semua kegelisahannya.

Namun, harapan itu pupus ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi Indri tahu siapa pengirimnya.

"Datang ke Apartemen dalam tiga puluh menit. Sendirian. Kalau tidak, liburan keluargamu tidak akan berjalan tenang."

Wajah Indri langsung pucat. Ia menggenggam ponsel erat.

"Kenapa, Tante?" tanya Laura kecil.

Indri segera menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak apa-apa."

Ia menoleh kepada Haris. "Pa... maaf. Aku baru ingat ada dokumen penting yang harus ditandatangani."

Haris mengernyit. "Sekarang?"

"Iya. Paling lama satu jam," ujar Indri.

"Kalau begitu Papa tunggu."

Indri menggeleng. "Papa dan yang lainnya berangkat saja duluan. Nanti aku menyusul kalau urusanku sudah selesai."

Haris sempat ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Oke, tapi angan lama-lama."

"Iya, Pa."

Mobil keluarga perlahan meninggalkan halaman rumah. Indri berdiri memandanginya hingga menghilang dari pandangan. Barulah ia mengembuskan napas panjang.

Tiga puluh menit kemudian. Indri tiba di apartemen Evan. Ia melihat Evan duduk di sudut ruangan, secangkir kopi masih mengepulkan uap tipis.

"Sekarang, apa lagi maumu?"

"Duduk!" titah Evan tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

"Aku tidak punya banyak waktu," tegas Indri.

Evan tetap tenang. "Kalau begitu aku langsung saja." Ia berdiri dari tempat duduknya. Kemudian menunjuk sebuah celemek dan seikat kunci di atas meja.

"Aku ingin kau membersihkan Apartemen ini."

Indri menatap benda-benda itu dengan tidak percaya. "Aku harus membersihkan Apartemen ini?"

Evan mengangguk singkat. "Termasuk memasak dan juga mencuci. Dan pastikan Apartemen ini benar-benar bersih."

Indri mengepalkan tangan.

"Kau ingin mempermalukanku?"

"Bukan." Suara Evan tetap tenang. "Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan kebebasan. Kau boleh pergi menyusul keluargamu setelah aku mengizinkan."

Ruangan menjadi sunyi. Indri menatap pria di hadapannya dengan campuran marah dan putus asa. Namun, ia tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah Evan. Untuk yang pertama kali dalam hidupnya, ia harus mengerjakan yang tidak pernah dikerjakannya sejak kecil.

Menjelang sore, Evan akhirnya menatap jam dinding. Apartemen yang sejak pagi dipenuhi suara alat pembersih kini kembali rapi. Indri berdiri dengan napas memburu. Keringat membasahi pelipisnya, sementara kedua tangannya mulai pegal setelah seharian membereskan setiap sudut ruangan, memasak dan juga mencuci.

Evan memeriksa hasil pekerjaan itu tanpa banyak bicara. Setelah beberapa saat, ia berkata singkat, "Kau boleh pergi."

Indri tidak menjawab. Ia segera mengambil tasnya. Tepat sebelum membuka pintu, Evan kembali bersuara.

"Ingat. Kau harus datang setiap kali aku memanggil."

Indri berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh, "Aku tidak akan selamanya mengikuti permainanmu."

Evan tidak membalas. Ia hanya memperhatikan Indri meninggalkan apartemen.

Setelah pintu tertutup, Rio masuk ke ruang tamu. "Pak, sebenarnya Bapak bisa menyuruh staf kebersihan. Makanan kan biasanya juga pesan."

Evan tetap memandang pintu yang baru saja tertutup. "Aku tahu."

"Lalu kenapa harus Bu Indri?"

Evan terdiam cukup lama. "Karena aku ingin dia mengingat bahwa setiap pilihan memiliki akibat."

Rio menghela napas. Ia merasa jawaban itu lebih terdengar seperti usaha Evan meyakinkan dirinya sendiri daripada alasan yang sesungguhnya.

Sementara itu, Indri bergegas menuju mobilnya. Ia melihat jam di dashboard. Jika tidak terjebak macet, ia masih bisa menyusul keluarganya di vila sebelum malam tiba.

Sepanjang perjalanan, ia berusaha mengusir semua kejadian hari itu dari pikirannya.

Saat memasuki kawasan vila, langit mulai berubah jingga. Dari kejauhan, terdengar tawa Laura kecil yang sedang bermain di halaman bersama Brian.

Melihat keluarganya tertawa membuat dada Indri sedikit menghangat. Ia bertekad satu hal, apa pun yang harus ia hadapi, ia tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu menghancurkan kebahagiaan keluarganya lagi.

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!