Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suasana kantin siang ini luar biasa ramai. Aroma mie ayam, ayam geprek dan kopi bercampur aduk di udara, beradu dengan suara gelak tawa dan obrolan ratusan mahasiswa. Di salah satu sudut meja dekat jendela, seorang gadis berambut pendek dengan jaket almamater longgar melambaikan tangannya dengan heboh.
"Nadia! Di sini!" seru Resya, mahasiswi Magister Fakultas Ilmu Politik yang merupakan sahabat karib Nadia sejak masa orientasi.
Nadia yang baru saja membawa nampan berisi jus jeruk dan siomay langsung mempercepat langkahnya, ia duduk di hadapan Resya dengan gerakan yang heboh, meletakkan nampannya, lalu segera menggerakkan jemarinya dengan cepat, mengekspresikan rasa laparnya yang luar biasa setelah tiga jam diperas oleh otak Profesor Rahardjo.
"Resya! Aku hampir mati kelaparan! Otakku rasanya meleleh," isyarat tangan Nadia bergerak lincah, wajahnya mengerucut lucu dengan mata yang didramatisir seolah-olah ia benar-benar akan pingsan.
Resya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya itu. Sebagai anak Ilmu Politik yang terbiasa bicara lugas dan keras, Resya justru menemukan kenyamanan luar biasa saat berkomunikasi dengan Nadia, ia bahkan sengaja belajar bahasa isyarat dasar demi bisa mengobrol dan bertukar pikiran dengan gadis tunawicara itu.
"Makanya, punya otak jangan terlalu encer. Tadi grup angkatan sebelah heboh tahu, katanya anak emas Desain bikin Profesor Rahardjo tersenyum. Itu keajaiban dunia kedelapan, Nad!" goda Resya sambil menusuk kentang gorengnya.
Nadia hanya menjulurkan lidahnya dengan jenaka, lalu mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya pada Resya.
[Bukan anak emas, aku cuma kebetulan kemarin membaca buku referensi yang pas! Lagi pula, dosen galak begitu sebenarnya cuma butuh jawaban yang konkret, bukan muter-muter]
Resya membaca pesan itu lalu menyenggol lengan Nadia gemas, "Sombongnya mulai keluar! Tapi asli, Nad, aku bangga banget sama kamu. Beasiswa S2, nilai selalu sempurna, dosen-dosen sayang. Kurang apa lagi coba hidupmu?" ucapnya.
Nadia menguraikan senyum manisnya. Jemarinya bergerak perlahan, "Aku bersyukur, Sya. Sangat bersyukur, semua ini karena Bapak sama Ibu dan juga lingkunganku yang sudah memberikan semangat,"
Sore harinya, semburat warna jingga menghiasi langit kota Bandung saat Nadia melangkah masuk ke gang sempit menuju rumahnya, langkah kakinya terasa begitu ringan meski rasa lelah menggelayuti tubuhnya setelah seharian memeras otak di kampus.
Begitu membuka pintu kayu yang sedikit berderit, aroma hangat tumis kangkung dan ikan asin langsung menyambut indra penciumannya. Di ruang tamu yang menyatu dengan dapur sederhana itu, Ayah Herman sedang duduk melipat kaki sambil memperbaiki tali sepatu kerjanya, sementara Ibu Sintia sibuk mengelap meja makan.
Melihat kehadiran putri semata wayangnya, wajah kedua orang tua itu seketika berbinar. Ayah Herman langsung berdiri, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Nadia menaruh tas ranselnya di atas kursi plastik lalu menghambur ke pelukan Ayahnya, ia memeluk erat pria paruh baya yang kulitnya terbakar matahari itu, menyerap semua kehangatan dan rasa aman yang selalu ditawarkan di rumah kecilnya.
"Bagaimana kuliah hari ini, anak Ayah yang paling cantik?" gerak tangan Ayah Herman dengan bahasa isyarat yang agak kaku namun penuh kasih sayang, pria itu selalu berusaha keras menggunakan bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi lancar dengan putrinya.
Nadia melepaskan pelukannya, lalu jemarinya mulai berbicara dengan sangat heboh dan penuh ekspresi. Wajahnya diperagakan dengan jenaka, kadang cemberut menirukan Profesor Rahardjo yang galak lalu berubah bangga sambil menepuk dada, menceritakan bagaimana ia berhasil menjawab pertanyaan rumit di kelas tadi.
Ibu Sintia yang menyaksikan dari meja makan tertawa kecil, menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri. "Sudah, sudah. Kasihan otakmu itu diisi pelajaran terus. Ayo bersihkan badan dulu, setelah itu kita makan malam bersama," isyarat Ibu Sintia hangat.
Nadia mengangguk mantap, memberikan gestur hormat ala prajurit sebelum berlari kecil menuju kamar mandinya.
Makan malam pun berlangsung dengan riuh meskipun tanpa ada suara kata yang terucap dari bibir Nadia. Ruang makan yang sempit itu dipenuhi oleh bahasa tubuh yang hangat, gelak tawa tanpa suara dari Nadia, serta cerita-cerita sederhana dari sang ayah tentang pekerjaannya hari ini. Bagi Nadia, tidak ada kemewahan apa pun di dunia ini yang bisa menandingi kehangatan keluarganya.
Usai makan dan membantu ibunya mencuci piring, Nadia duduk di meja belajarnya yang berada di sudut kamar. Di bawah remang lampu belajar, ia mulai membuka laptop tuanya untuk merancang portofolio baru. Ayah Herman mengetuk pintu kamarnya yang terbuka, membawakan segelas teh hangat manis.
Ayah Herman duduk di tepi ranjang kecil Nadia, menatap putrinya dengan tatapan bangga sekaligus haru.
"Nadia... Maafkan Ayah dan Ibu ya, belum bisa memberikan hidup yang bergelimang harta untukmu. Tapi Ayah sangat bangga punya anak seluar biasa kamu," gerak tangan sang ayah perlahan
Nadia segera menghentikan ketikannya di laptop. Ia berbalik membelakangi meja, meraih jemari ayahnya yang kasar dan penuh kapalan akibat kerja keras. Nadia menggelengkan kepala dengan tegas, mata bulatnya menatap lurus ke dalam iris mata sang ayah.
Jemarinya bergerak luwes dan penuh penekanan, "Ayah jangan bicara begitu, Nadia tidak butuh harta berlimpah. Nadia cuma butuh Ayah dan Ibu sehat selalu, kehadiran Ayah dan Ibu adalah rezeki terbesar buat Nadia,"
Nadia lalu mengukir senyuman lesung pipitnya yang khas, menyenggol bahu ayahnya dengan gaya jahil. "Lagi pula, nanti kalau Nadia lulus. Nadia nakal jadi desainer hebat, Nadia yang akan belikan rumah baru yang ada tamannya untuk Ayah dan Ibu!"
Ayah Herman terkekeh pelan, mengusap lembut puncak kepala Nadia yang tertutup rambut hitam bergelombang. "Amin, Ayah pegang janji kamu ya,"
"Oh ya, tiga hari lagi Ayah sama Ibu bakal ke Purwakarta karena seribu harinya Nenek kamu, kamu mau ikut?" tanya Ayah Herman, dengan isyarat sederhananya
Nadia tersenyum lebar, jemarinya bergerak lincah menanggapi pertanyaan sang ayah. "Nadia tidak ikut ya, Yah. Ada tugas proyek besar dari dosen yang deadline-nya makin dekat, terus Nadia juga mau menyelesaikan draf sketsa untuk lomba desain nasional minggu depan. Nanti kalau Nadia ikut, pengerjaannya bisa berantakan."
Ayah Herman mengangguk memahami. Ia mengusap puncak kepala putrinya dengan kehangatan yang melimpah. "Ya sudah, tidak apa-apa. Fokus saja sama kuliah dan mimpimu. Tapi ingat, jangan sampai lupa makan dan begadang terlalu larut. Biar Ayah dan Ibu saja yang berangkat ke Purwakarta naik travel nanti,"
Ibu Sintia yang menyusul masuk ke kamar menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, tersenyum menatap interaksi suami dan anak gadisnya.
"Nanti Ibu buatkan stok lauk pauk kering banyak-banyak sebelum berangkat, jadi Nadia tidak repot masak selama tiga hari di rumah sendirian," seru Ibu Sintia.
Nadia langsung melompat dari kursi belajarnya, merangkul kedua orang tuanya sekaligus dalam satu dekapan hangat, ajahnya yang penuh keceriaan mengisyaratkan betapa beruntungnya ia memiliki mereka.
Bagi Nadia, keterbatasan fisik dan impitan ekonomi keluarga bukanlah dinding penghalang, melainkan tangga yang harus ia panjat untuk membuktikan bahwa dirinya mampu terbang tinggi.
.
.
.
Bersambung.....