NovelToon NovelToon
Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:339.7k
Nilai: 4.5
Nama Author: Amanda Ferina

Aileen Candramaya Putri Cempaka atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Cempaka. Anak dari salah satu ajudan jenderal besar di Bandung. Malang nasib di umurnya yang baru 10 tahun ia harus kehilangan orangtunya akibat pemberontakan di Papua. Cempaka yang masih kecil dititipkan pada atasannya. Muhammad Ghiza Naskala Barawijaya adalah anak dari Jendral Muhammad Toha Barawijaya. Ia adalah sosok yang selalu ada di pertumbuhan Cempaka. Ketika Cempaka baru kelas 5 SD dan dititipkan pada orangtunya ia pun menjadi sosok ajudan untuk Cempaka. Hidup Cempaka selalu terbiasa dengan Naskala meskipun Naskala selalu mengejeknya. Ketika ia beranjak dewasa Cempaka tak mengerti kenapa Naskala sangat dingin dan tak ingin berbicara padanya. Bahkan selalu menundukkan pandangan kepadanya. Pada suatu hari ada tragedi besar yang mengharuskan Naskala dan Cempaka menikah meskipun dilaksanakan dengan terpaksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

Sore-sore sudah dihebohkan dengan suara Cempaka di rumah keluarga Barawijaya. Cempaka sibuk mencari buku pelajarannya yang hilang karena wanita itu yang lalai dan telah melupakan menaruhnya di mana.

Cempaka berhasil membuat banyak orang panik hingga Adhila dan para pembantunya turut pusing dan mencari-cari.

"Cempaka! Kamu menaruhnya di mana Nak? Kenapa sampai lupa?" tanya Adhila yang tak habis pikir dengan Cempaka yang memang hampir setiap hari ada kejadian seperti ini.

Mata Cempaka memerah dan hendak menangis. Mana sebentar lagi dia akan pergi kerja kelompok dan bukunya serta beberapa alat untuk kerja kelompok ia lupa menaruhnya di mana.

"Gak tau Tante kan Cempaka lupa."

Adhila menggelengkan kepala. Ia pun mencari ke sana ke mari dan dan memperhatikan semua benda apakah itu adalah apa yang tengah dicari oleh Cempaka. Tak berapa lama Adhila melihat sesuatu yang ia yakini barang-barang Cempaka yang tengah dicari. Wanita itu menghela napas dan mengambil buku dan beberapa bahan kerja kelompok tersebut.

"Ini?" tanya Adhila yang terdengar sedikit kesal sebab Cempaka menaruhnya di dekat meja Tv padahal sangat dekat.

Cempaka tertawa pelan dan langsung mengambilnya. Adhila pun menarik napas panjang dan berkacak pinggang.

"Cempaka! Lain kali jangan ceroboh kaya gini."

"Iya Tante maaf," ucap Cempaka dengan wajah menggemaskannya hingga membuat Adhila tak tega untuk memarahi Cempaka.

"Iya-iya kali ini Tante maafin kamu. Lain kali tidak."

"Tante, kayaknya Tante udah keseringan ngomong kaya gitu ke Cempaka tapi Cempaka terus ulangi dan Tante bilang kaya gitu lagi."

"Sadar kamu Cempaka? Makanya jangan lagi kamu ulangi. Kurang-kurangin teledornya. Kalau Kak Naskala tau kamu bakal dimarah sama dia."

Cempaka pun ingat dengan pria yang sangat membuatnya kesal itu. Untung Naskala beberapa hari ini tidak ada di rumah.

"Biarin ah."

"Kamu pergi kerja kelompok dengan siapa sayang?" tanya Adhila sembari mengiringi Cempaka ke depan rumah.

"Tadi Cempaka udah telpon Reyhan buat jemput."

"Cowok?" kaget Adhila karena pasalnya Cempaka jarang memiliki teman pria.

"Hooh."

"Hati-hati, jangan lupa doa dan juga sholat juga."

Adhila pun mengantar sampai ke depan rumah dan melihat Reyhan teman dari Cempaka yang sudah menjemput wanita itu.

Adhila pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Cempaka.

"Tante! Cempaka pasti hati-hati. Assalamualaikum, muach!" Cemapka mencium pipi Adhila.

"Iya-iya. Wa'alaikumussalam. Ingat pesan Bunda tadi!"

"PASTI TANTE!"

Cempaka pun menuju ke jalan dan menghampiri Reyhan. Pria itu melemparkan senyum manis miliknya.

Ia pun menyerahkan helm ke arah Cempaka. Cempaka meraihnya, namun ia mengernyitkan kening saat melihat mobil Naskala yang memasuki halaman. Ia pikir Naskala tidak akan pulang.

Naskala langsung keluar dari mobil. Cempaka berusaha mengabaikan keberadaan Naskala dan hendak naik ke atas motor.

Tapi suara dingin Naskala membuat Cempaka terkejut dan mengurungkan niatnya.

Ia melirik Naskala dengan wajah mengerut.

"Ada apa Om?"

"Kamu pergi ke mana?"

"Kerja kelompok."

"Dia siapa?"

"Temen Cempaka yang bakal nganterin Cemapka."

"Gak boleh. Pergi sama saya."

Cempaka hendak protes dan Nasklaa kembali mengeluarkan mobilnya. Ia pun berhenti di samping Cempaka dan membuka pintunya.

"Cepat masuk. Saya yang antar."

"Tapi kan Om baru datang. Lagipula Om pasti capek. Cempaka bisa sama Reyhan. Lagipula Reyhan udah jemput Cempaka sampai sini."

Naskala melirik Reyhan dari atas hingga bawah seolah tengah menyelidiki pria itu.

"Hay Om?"

"Hm. Ketemu yang lebih tua itu salam, bukan sapa." Ucapan dingin yang sangat kental dengan aura permusuhan. "Kamu pergi saja dulu. Adik saya, bisa saya yang antar."

"Eh Om? Gak papa sama saya aja, lagipula Om pasti capek baru datang."

"Pergi dulu atau saya usir dengan cara yang tidak baik-baik? Satu lagi jangan ikut-ikutan dia nyebut saya Om. Saya hanya tua beberapa tahun dari kamu."

Cempaka terkejut mendengar ucapan Naskala. Ia pun memandang kesal pria itu dan menoleh ke arah sang tante yang memperlihatkan mereka dari teras rumah.

"Apaan sih Om. Kasihan Reyhan."

"Diam jangan membantah saya."

"Om gak seru ah."

"Cempaka berani bantah saya?" tanya Naskala sangat serius dengan ekspresi andalannya, sinis.

Jika sudah seperti itu Cempaka tak bisa lagi untuk menolak pria itu. Ia pun terpaksa menyuruh Reyhan pergi lebih dulu.

"Reyhan maafkan aku. Kamu bisa pergi lebih dulu. Kamu tau sendiri kan gimana Om Naskala?"

"Yaudah aku pergi dulu."

Cempaka pun masuk ke dalam mobil dengan wajah sebal.

"Padahal Cempaka bisa pergi sama Reyhan. Apalagi kita sekelompok dan searah. Kenapa harus repot-repot nganterin Cemapka."

"Hm," jawab dingin Naskala dan menghidupkan mobil.

Pria itu seolah tak menganggap Cempaka. Cemapka tahu jika Naskala tengah mengambek. Jangan salah, meksipun Naskala adalah seorang pria tapi ia tetap saja bisa merajuk.

___________

Cempaka menarik napas panjang dan turun dari mobil Naskala. Naskala pun ikut turun dan menatap wanita itu yang tengah kesal.

Cempaka kesal karena ia dan Naskala tengah menjadi pusat perhatian teman-temannya.

Pasti setelah ini ia akan diejek oleh teman-temannya.

"Ini uang buat kamu. Kalau mau pulang telpon saya. Jangan pulang sendiri ataupun diantarkan sama temen kamu tadi. Kamu pulang malam, kan? Bahaya kalau wanita pulang malam apalagi sama teman pria. Dan jangan lupa sholat."

"Iya Om. Tapi Om uangnya kebanyakan. Ish ini Cempaka gak suka uang banyak."

"Ambil saja, saya baru saja gajian dan sebagian buat kamu. Anggap saya lagi bertanggungjawab dan menafkahi kamu sebagai bentuk terima kasih saya ke ayah mu."

Cempaka meringis menatap uang tersebut. "Makasih Om."

Naskala pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil usai memberi salam. Cemapka menjawab salam Naskala dengan malas.

Ia pun menoleh ke arah teman-temannya dan menuju ke arah mereka. Ia pun mengerutkan keningnya karena semua orang tengah menatapnya.

"Ada apa dengan kalian."

"Ciehh!! Diantar sama Om-om tampan trus dikasih uang segepok lagi," ledek teman-temannya membuat Cemapka merengutkan wajahnya.

"Apaan sih kalian."

"Btw Reyhan udah cerita lho tentang kalian."

Cemapka duduk di antara teman-temannya. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan semua ejekan teman-temannya.

"Kalian bisa diam gak? Kita jadi gak nih buat kerja kelompok."

Tidak ada jawaban dari teman-temannya. Malahan yang ia dapatkan adalah tatapan intens dari mereka.

"Wajah kamu merah."

Cemapka terkejut dan menyentuh wjahanya, "hah? Serius."

"Tuhkan makin merah."

"Kalian ini beneran merah gak sih?" tanya Cempaka.

"Beneran. Btw berapa tadi dikasih sama Om? Cieh Cempaka udah punya Om-om nih."

"Sinta!!" Cempaka menabok punggung Sinta dengan keras.

"Tuhkan makin merah."

"Aku pulang aja gitu."

Semuanya langsung panik dan menahan Cempaka.

"Eh jangan! Kita harus selesaikan tugas. Tau sendiri kan Ibu Rani itu killer nya gimana?" tanya Patrica dengan senyum memohon.

"Makanya diam dan jangan ledekin aku trus. Aku gak suka."

"Siap salah tuan putri."

Mereka pun mengerjakan tugas kelompok itu dengan penuh canda dan tawa. Seperti yang kalian tau jika kerja kelompok pasti lebih banyak bercandanya ketimbang serius. Meksipun semua teman-teman Cemapka adalah etnis Tionghoa tapi tampak mereka sangat ramah dan juga bersahabat.

Cemapka menjadi mentor utama. Selain dia adalah ketua kelompok ia juga yang paling diandalkan karena tugas kali ini berhubungan dengan gambar dan Cemapka memang memiliki keahlian di bidang itu.

"Cempaka! Dari tadi kerja mulu! Makan dulu."

Cempaka menatap temannya dan melihat hari juga semakin larut.

"Iya bentar. Abis sholat."

"Oh iya kamu bawa telekung sendiri, kan? Nah sholatnya di ruangan sana yah. Tenang kok terjaga dari anjing aku."

"Sip Miss."

__________

Tbc

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

1
Ruk Mini
oooo .. Bahagia kumpul kembali..tpi musuh y pd d hukum ape tewas thorrr msh lanjut kh..?? d tgg thorrr klo msh lanjut. tq 🙏👍👍👍
Ruk Mini
semangat bbank.. Brantas
Ruk Mini
atutttt...mkn serem thorrr
Ruk Mini
dag dig dug
Ruk Mini
jie ..belah duren bank
Ruk Mini
ngarep..sadt bank..
Ruk Mini
target berikutnya istri mu bank..ati2
Ruk Mini
rumit y..klo org yg pegang kendali mlh melenceng..ya Allah.. Lindungi Negeri kami🤲🤲🤲
Ruk Mini
cie...cie..
Ruk Mini
mulai ..
Ruk Mini
maksa ..nenk..nenk .
Ruk Mini
dilema y nenk
Ruk Mini
dasar.. bocil
Ruk Mini
kau sgt hebat Rey...salut👍👍👍
Ruk Mini
hpp nenk sama2 firs kiss dh halal pula
Ruk Mini
ayu terang keun
Ruk Mini
resiko bsm bocil bank
Ruk Mini
ayoo..bank gas keun
Ruk Mini
mulai tersingkap...trs semangat bank selidiki y
Ruk Mini
nenk..kesel ..ape cemburu..🙄🙄🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!