Kalara Sinta baru saja putus dari kekasihnya. Kegalauan Kalara bertambah ketika tantenya justru mengajukan Kalara sebagai istri kedua Danuraja. Meskipun awalnya Kalara dan Danuraja menolak pernikahan, kedua orang tua Kalara dan keluarga besar justru mendukung pernikahan tersebut.
Perdebatan, sikap cuek dan perselingkuhan mewarnai pernikahan Kalara dan Danuraja. Witing tresno jalaran soko kuliner. Makanan dan berbagi cerita pelan pelan menyatukan hati Kalara dan Danuraja. Cinta yang bersemi mendapat cobaan berat lantaran anak anak Danuraja bersatu "menyatakan perang" terhadap Kalara.
Akankah Kalara dan Danuraja bisa menyatukan cinta dan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama nya_fia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 - SERANGAN RIKA
Langkah kaki Lidya terdengar nyaring. Wanita itu berjalan cepat menapaki koridor sekolah yang nampak lengang. Lidya berhenti di ruang guru. Dia mengetuk pintu. Membuka pintu kemudian masuk ke dalam ruangan berukuran 7 x 4 meter.
"Permisi, saya mencari ibu Erniwati."
"Maaf, ibu siapa dan ada keperluan apa?"
"Saya keluarga ibu Erniwati. Ada keperluan keluarga. Karenanya saya harus bertemu ibu Erniwati."
"Sebentar saya telepon ibu Erniwati."
Lidya mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan. Sampai akhirnya ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Lid." Sontak Lidya menengokkan kepala ke arah suara yang memanggilnya. Erniwati keluar menyapa. "Tumben bu dokter main ke sekolah. Ada apa dengan Pinkan? Kulihat dia baik baik saja."
"Ini bukan tentang Pinkan kak. Ini tentang Danu."
"Kita bicara di ruanganku."
**********
Mata Erniwati terus memindai isi sebuah akun mèdia sosial. Dalam akun tersebut, terdapat foto seorang pria. Sang pria sedang berada di sebuah balkon kamar hotel. Hanya nampak kepala dan punggung sang pria. Di bawah foto tersebut tertulis Soon you will be my mine (kau akan menjadi milikku).
"Danu sudah tahu tentang foto ini Lid?"
"Aku gak tau kak. Menurut kakak aku harus gimana? Ingin sekali aku melabrak wanita itu."
"Jangan Lid. Malahan itu yang dia mau. Kamu marah, bertengkar dengan Danu lalu pisah."
"Lalu aku harus gimana kak? Aku sudah gak tahan dengan kelakuan Danu dan Rika?"
Tangan Erniwati bergerak memegang tangan Lidya. "Sabar. Aku tahu kata kata sabar itu menyebalkan untuk kau dengar saat ini. Tapi jika kamu bergerak dengan marah, justru menimbulkan kekacauan lainnya."
"Kak, izinkan Kalara menikah dengan Danu. Kalara pasti bisa membungkam Rika."
Pegangan tangan Erniwati terlepas. "Kalara putriku. Kenapa dia harus terlibat masalah kalian?!"
"Kak, Rika sudah terang terangan menyebut Danu miliknya. Orang orang yang kenal Danu pasti bisa melihat siapa pria di foto itu walaupun hanya tampak punggung."
"Lalu menurutmu Kalara bisa menyelesaikan masalah kalian? Sadar Lid, ini pernikahanmu dan Danu. Kenapa terus memaksakan kemauanmu."
Erniwati berdiri. "Maaf aku gak bisa bantu jika solusinya adalah menikahkan Kalara dengan Danuraja."
Wajah Lidya menunduk lesu. Ia sangat berharap Erniwati mengikuti kemauannya. Lidya sangat yakin Kalara bisa membuat Rika menjauh selamanya.
"Baiklah kalau begitu kak."
Di sebuah parkiran mall, Danuraja menggeram kemudi mobilnya dengan kesal. Ia terlihat tidak sabar menunggu kedatangan Rika. Selang 30 menit, Rika terlihat keluar dari lift. Dengan langkah santai Rika menuju mobil Danuraja. Ia mengetuk kaca mobil. Danuraja membuka kunci pintu. Rika pun masuk ke dalam mobil Danuraja.
Tatapan galak menyambut kedatangan Rika. "Apa yang kamu lakukan hah?! Apa tidak cukup aku memperingatimu dengan cara baik baik?!"
"Mas, aku kan hanya memajang fotomu yang tampak belakang. Tidak ada nama ataupun identitas apapun yang menunjukkan kalau pria di foto itu kamu."
"Kamu seperti yakin sekali tidak ada yang bisa mengenaliku!" Danuraja berseru sinis. "Bahkan putraku yang duduk di kelas 3 SMA pasti bisa mengenali siluet punggungku itu. Kamu pasti sengaja memasang foto dan caption itu untuk memprovokasi psikis anak anakku. Jangan pernah mengusik anak anakku, Rika. Tidak ada yang boleh mengganggu mereka." Telunjuk Danuraja mengarah pada wajah Rika.
"Kalau begitu tetap pertahankan hubungan kita mas. Jika kamu tidak bisa menikahiku itu tidak masalah. Yang penting kita tetap bersama. Kita bisa bertemu seperti ini. Ataauu kamu belikan aku sebuah rumah di pinggir kota mas. Juga sebuah ruko, jadi aku bisa memulai usaha dan tidak perlu lagi bekerja disini. Dengan begitu kita bisa leluasa bertemu."
Wajah Danuraja dipenuhi amarah. "Gila kamu Rika! Benar benar sakit kamu!"
"Ya! Aku memang sakit mas! Dan itu karena kamu! Setelah semua pengorbananku kamu mau membuangku begitu saja. Tidak akan pernah terjadi!" Rika berseru kencang seraya membuka pintu mobil. "Turuti aku mas atau kedua anakmu akan menerima rekaman kita saat check in bareng di hotel!"
Bruak
Klek
Rika menutup pintu mobil kasar. Bersamaan dengan itu, Danuraja membuka pintu mobil dengan amarah yang membuncah. Ia bahkan sempat mengumpat kasar pada Rika.
Tap
Tap
Tap
Secepat kilat Danuraja menghampiri Rika.
Grep!
Danuraja mencengkeram lengan Rika erat. Rika sebenarnya cukup terkejut dengan tindakan kasar Danuraja terhadapnya. Tapi dengan cepat rasa terkejut itu ia tutupi dengan ekspresi sengak.
"Jangan memancingku Ri. Ketika kamu mengusik anak anakku, saat itu juga aku akan menghancurkan .."
"Jadi turuti kemauanku mas. Sangat mudah bukan?" Ucapan Rika dengan cepat memotong kata kata Danuraja.
Bugh
Sebuah pukulan mendarat di punggung Danuraja. Membuat si empunya punggung terhuyung menubruk Rika. "Mas kamu gak apa apa?" Rika segera menangkup wajah Danuraja.
"Hiks..papa?"
Danuraja segera menepis tangan Rika. Ia segera berbalik arah. Danuraja mendapati kedua anaknya sedang menangkap basah dirinya dan Rika.
"Papa ngapain disini? Siapa tante itu?" Pinkan bertanya dengan deraian air mata.
"Udah jelas papa selingkuh Pi. Dasar laki laki brengsek! Ternyata benar apa yang dibilang teman temanku kalau mereka pernah melihat papaku dengan wanita lain. Jadi begini kelakuanmu hah?!"
Wajah Danuraja merah padam. Marah, kesal, malu dan sedih bercampur aduk. Ia hanya sanggup melihat kedua anaknya dengan sendu. Pinkan bahkan menolak dipeluk olehnya.
Bugh
Bugh
"Gak usah pegang pegang adikku! Menjijikkan!" Danish terus memuntahkan amarahnya dengan memukuli Danuraja, papanya.
"Danish..Danish sudah! Jangan pukuli terus papamu nak." Erniwati yang tau tau sudah ada di tempat kejadian melerai perkelahian yang tidak imbang itu. Erniwati memeluk Danish. Sementara Danuraja tidur terlentang di pelataran parkir. Wajahnya penuh lebam di kedua pipi, mata dan bibir. Bahkan bibir dan hidung Danuraja mengeluarkan darah.
Rika yang sedari tadi diam menikmati pertunjukan mulai mendekat ke arah Danuraja. "Berhenti kamu perempuan!" Seru Erniwati emosi. "Kalara cepat kesini!" Erniwati berteriak memanggil putrinya. Niat hati ingin bermanja manja di salon kecantikan bersama putrinya malah berakhir melihat sepupunya dijotos sang putra kandung.
Kalara keluar secepat kilat usai memarkir mobilnya. Ia dan mamanya sudah melihat ada laki laki yang tengah berkelahi di lahan parkir. Mamanya, Erniwati turun lebih dulu setelah melihat sosok Pinkan.
"Kal! Suruh pergi wanita itu!" Erniwati kembali memberi perintah.
"Pergi mba!"
Rika tak bergeming. Ia terus mendekati Danuraja. "Mas, kamu babak belur gini. Ayo kita ke rumah sakit." Rika berusaha memapah Danuraja. Dengan sisa sisa kekuatan Danuraja menepis tangan Rika.
"Aarrggghhh.." Danish berteriak marah melihat papanya didekati perempuan selingkuhannya.
"Mba Rika sepertinya memang sengaja cari masalah ya?!" Kalara mendekati Danuraja. Membantu sepupu ibunya itu untuk duduk.
"Lepas!" Rika menepis tangan Kalara.
Set
Aauww
Rika berteriak sakit saat Kalara malah menangkap tangannya. Kalara kemudian memutar tangan Rika ke belakang tubuh Rika. "Dasar cewek bar bar!" Umpat Rika.
"Untuk ngadepin cewek kegatelan kayak kamu memang harus bar bar." Kalara melepas kuncian tangannya."Pergi dari sini." Usir Kalara.
"Kamu yang harus pergi dari sini. Dasar pengganggu."
"Oke kalau kamu gak mau pergi. Aku akan minta tante Lidya membuat laporan perzinahan. Sangat mudah mengumpulkan semua bukti perzinahan kalian. Kamu dan om Danu akan mendekam di penjara. Kalian bisa meneruskan hari hari mesum kalian di penjara."
Rika terkesiap. Lidahnya tiba tiba tidak lagi garang melontarkan perlawanan pada Kalara.
"PERGI." Kalara menyentak tegas.
Rika beringsut pergi. Ia bahkan berlari menuju pintu keluar.
*********
Suasana mobil begitu dingin dan mencekam. Kalara fokus menyetir. Danuraja yang duduk di sebelah Kalara terdengar meringis perih.Di kursi belakang, Danish duduk dengan wajah garang menatap ke luar mobil. Sedangkan Erniwati sibuk menenangkan Pinkan yang masih menangis.
Mobil berhenti di pekarangan rumah Danuraja. Danish keluar mobil tanpa mengatakan apapun. Erniwati membuka pintu mobil lalu memapah Pinkan ke dalam rumah. Kalara ikut menyusul ibunya. Tertinggal Danuraja yang keluar mobil dengan gerakan perlahan. Danuraja jadi lansia encok dadakan di hari itu.
"Ya Allah tuan Danuuu. Kenapa tuan? Tuan habis berkelahi?" Kedatangan Danuraja disambut bik minah.
"Gak pa pa bik. Tolong bibi bawain tas hitam yang saya taruh di lemari buku. Letaknya di rak paling bawah bik."
Bik Minah mengangguk cepat. "Iya tuan."
10 menit kemudian, bik Minah muncul di hadapan Danuraja membawa tas hitam yang berisi obat dan perlengkapan medis. "Ini tuan." bik Minah masih memperhatikan lebam di wajah Danuraja. "Tuan gak ke rumah sakit aja? Lukanya banyak gitu tuan."
"Gak usah bik. Sebentar lagi Lidya pulang. Biar Danu diobati Lidya saja."
Glek
Danuraja menelan salivanya berat mendengar perkataan Erniwati.
Mantap..
apa pun terima kasih kak thor dalam penulisan nya..
terbaik dan semangat terus 👍👍😘😘