adult romance ❤
Kecantikan Alya Sanjaya yang membuat kaum adam rela bertekuk lutut,bahkan kecantikannya membuat Daffa Rahardian, suami Alyza Putri Pratama, kembar tidak identik dari Alya, mengejarnya untuk mendapatkannya dan menjadikannya istri dan ibu dari anaknya.
"Aku berharap akulah yang dipilih papa Reza dan mama Emy untuk diasuh mereka, tapi mereka malah memilih Alyza dan membuangku..."*Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Keyakinan
Dan benar saja, setelah kalimat persuasive Daffa yang terakhir, Alya nampak lebih dapat
menerima alasan Daffa menembak Alya tanpa romantisme apa apa yang mestinya
diidamkan gadis gadis seusianya. Setelah
menghela nafas berulang ulang, akhirnya Alya pun mengakhiri kesunyian dengan
jawaban yang membuat Daffa serasa mati berdiri.
“Kak, demi baby El, Alya mau, tapi kasi Alya waktu… “jawab Alya sambil menghela nafasnya dengan berat.
“Al… apa kamu gak suka sama kakak?” Kepedean amat nih si Daffa, dipikir kalau dirinya ‘babang tampan’ trus semua cewek bakal mau kalau diajak menikah
dalam waktu sebulan lebih, tiba tiba dan tanpa ada pedekate atau romantisme
sama sekali?
“Kak… bukannya begitu, Alya juga tidak mau kalau baby El diasuh oleh mama lain..”kata Alya sambil memikirkan kalimat apa yang tidak akan menyakitkan perasaan Daffa, karena sejujurnya Alya memang belum jatuh cinta dengan Daffa, karena Alya masih bingung dengan definisi cinta, ia menyukai Daffa, ada rasa yang berbeda saat bersama Daffa, tapi Alya masih belum tahu apakah itu sebuah cinta?
“Jadi kalau kakak punya istri baru gak pa pa, asal baby El jangan punya mommy baru?” sergah Daffa dengan wajah merengut, sewot karena jawaban Alya berarti, gadis itu lebih mementingkan Elena ketimbang Daffa. ( Yaiyalahhh..kan Elena lebih cute dari babang Daffa. He he he)
Daffa semakin merajuk karena Alya hanya terdiam. Membuktikan bahwa analisanya benar. Daffa semakin terobsesi untuk mendapatkan Alya. Tapi Daffa juga menyadari, Alya tidak bisa ditekan, dia harus mendapatkan dan meluluhkan hati gadis itu dengan perhatian dan kelembutan.
‘Gak apa apa deh, kali ini aku mengalah pada pesona baby Elena yang lebih bersinar di matamu, Al… tapi aku akan buat kamu juga
mencintaiku.’
“Al… mungkin ini terdengar aneh… aku tidak pernah merasakan perasaan ini kepada wanita manapun termasuk Alyza. Aku belum pernah jatuh cinta, jadi aku juga tidak tahu apakah ini cinta. Bukannya aku tidak ingin
memberikan kamu waktu, tetapi orangtua ku memaksaku dan ingin menjodohkan aku
dengan gadis lain, dan satu hal lagi, mulai minggu depan, baby El akan tinggal
disini, dirumah ini…” jelas Daffa dengan sabar, tapi penuh dengan intrik yang
meyakinkan bak seorang sales obat yang lagi meyakinkan konsumennya untuk
membeli obat obatan yang dijualnya.
Daffa tahu bahwa dia tidak mungkin bisa memaksa Alya, karena
Alya termasuk kategori keras kepala, hanya baby Elena yang menjadi sisi lemah
seorang Alya. Jadi Daffa mesti memakai taktik dalam menaklukkan Alya.
‘Seandainya, mereka tidak memaksa ku menikah lagi dan mencari mama baru buat
baby El, aku gak akan terburu buru dan memaksa Alya seperti ini, aku akan
menaklukkan Alya dengan cara yang lembut bukan dengan pemaksaan macam seperti
ini.’ Batin Daffa sambil menghela nafasnya dengan kasar dan mengacak lembut
rambutnya.
“ Lalu apa yang harus aku lakukan, kak? Aku sangat menyayangi baby El… kayaknya aku belum bisa berpisah darinya. Aku juga tidak
tahu kenapa? Rasanya dia sudah mencuri hatiku sejak pertama aku melihatnya di
Rumah Sakit. Aku seperti melihat gambaran nasibku dihidupnya. Ditinggalkan oleh
orang yang mestinya menjadi sandaran di hidupnya kelak.” Seru Alya sedikit panik,
ketika dia mengolah informasi yang baru saja ia dengar, bahwa baby El akan
dibawa pindah ke rumah orang tua Daffa.
“Justru karena itulah aku memberanikan diri untuk melamarmu walau mungkin belum ada cinta dihatimu untuk ku, Al… Tapi aku yakin kamu akan mencintaiku. Aku juga tidak mau kalau sampai baby El terluka karena terpisah dengan kamu, karena aku juga tahu bahwa baby El sangat bergantung dengan kamu saat ini. Tapi kamu kan juga tahu kalau orang tua ku juga ingin kalau mereka yang merawat cucu mereka, apalagi aku ini anak tunggal. Dan kamu gak mungkin tinggal disini tanpa ikatan apapun kan?” Jelas Daffa dengan sabar sambil memegang bahu Alya yang sedikit gemetar.
“Maksudmu apa kak? Apakah kamu tidak punya rencana ‘lain’ agar aku bisa tetap bersama baby El?” Tanya Alya dengan pandangan memohon, supaya Alya bisa tetap bersama baby El.
“Nope..” jawab Daffa sambil menggelengkan kepalanya, Alya langsung menurunkan bahunya dan terduduk di tempat tidur besar dekat box baby El sambil memandang sedih pada baby El yang masih tertidur.
Binggo!! Pikir Daffa dengan happy, karena taktiknya berhasil. Ia memancing Alya dengan menggunakan umpan ‘baby El’. Daffa tahu
persis Alya tidak akan mau terpisah dengan baby El, setidaknya untuk waktu
dekat ini. Memang benar orang tua nya menginginkan Daffa bisa menikah lagi, dan
baby El diasuh oleh orang tua Daffa karena mereka belum memiliki cucu yang bisa
mengisi kebahagiaan hari tua mereka, target Daffa adalah menaklulkan Alana, Daffa tahu, bahwa Alya masih ‘terikat’ dengan anaknya sekarang, jadi Daffa tidak ingin menyia yiakan waktunya. Dia tahu cepat atau lambat, Alya akan membalas cintanya, karena selama inipun Alya tidak pernah menolak kehadirannya.
Tapi Daffa harus meyakinkan perasaan Alya kepadanya juga.
“Alyaa… kamu tahu bahwa aku dan baby El adalah sepaket. Aku tidak mau kalau kamu terjebak didalam dunia kami, dan mengorbankan duniamu.
Kakak harus bertanya padamu sekali lagi sebelum kakak melamarmu. Apakah ada di dalam dirimu yang terdalam
mencintai atau menyukai kakak, walau itu masih sedikit?” Tanya Daffa dengan
harap harap cemas, karena jujur untuk mendengar jawaban Alya seperti menantikan
lulusnya sidang skripsi, atau seperti menantikan vonis antara hidup dan mati.
Deg deg an nya benar benar luar biasa.
“Kak, kakak orang yang baik, dan perhatian. Sayang sama keluarga, sayang sama baby El,
pekerja keras juga… Kak, aku masih belum mengenal kamu lebih dalam. Terlalu
cepat kalau Alya bilang cinta, tapi Alya nyaman dan senang berada di dekat
kakak. Makanya Alya minta waktu..” jawab Alya dengan lembut dan lirih.
“Al… jangan korbankan dirimu demi baby El, …”potong Daffa dengan cepat.
“Tidak, Alya gak merasa begitu..”sanggah Alya sambil menggeleng gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan pernyataan Daffa.
“Jadi apa keputusanmu? Baby El dan kakak tidak bisa menunggu..” paksa Daffa tapi dengan nada lembut.
“Baiklah, aku mau menikah dengan kakak!” jawab Alya dengan pasti setelah berpikir sebentar.
“Kamu tidak akan menyesal? Kamu gadis cantik dan pintar, pasti masih banyak yang bisa kamu lakukan…termasuk mungkin kalau kamu ingin berkarier.” Daffa hanya ingin memastikan, sekalipun hatinya sudah sangat
melayang layang saking bahagianya.
“Tidak… Alya tidak akan menyesal. Mungkin Alya cuman ingin bisa sambil bekerja, walaupun baby El akan tetap menjadi prioritas utama Alya.”jawab Alya kali ini dengan yakin.
“Terima kasih , mommynya El… Aku yakinkan kamu kalau aku akan selalu buat kamu dan baby El bahagia. Dan kakak tidak akan memaksa, kalau kamu mau bekerja, kamu bisa bekerja sebagai sekretaris di tempat kakak.” Kata Daffa dengan penuh ucapan syukur karena setelah bergulat lama dengan berbagai macam taktik,
Daffa berhasil membujuk Alya untuk menerima lamaran ‘paksa’nya, tanpa merasa
terpaksa. Alya juga tidak menjawab pernyataan Daffa tentang bekerja, Alya
berpikir masih banyak yang dia harus urus dahulu termasuk reaksi orang tuanya
dan orang tua Daffa saat tahu bahwa mereka akan menikah tiba tiba.
Daffa duduk di samping Alya dan memeluk bahu Alya, menarik
kepala Alya ke dadanya dan mengecup kening Alya dengan penuh perasaan cinta.
.
.
.
TBC
please readers..
semangatin thor yang lagi down... mungkin karena pms ya kok rasanya mood lagi up and down
beri like, komen dan poin ya... gak maksa sih... seikhlasnya ajaaaaa^^
mudah banget muve on...bedalah sama perempuan suka mikir 2x
mksih byk
maap
:)