Kisah perjalanan hidup Ratna, seorang istri yang dikhianati oleh adik kandung dan suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRATA_YUDHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Aku benar-benar bingung dengan gelagat Wulan yang terlihat salah tingakah. Aku menitipkan Ikhsan yang tertidur digendonganku pada Wulan. Lalu masuk ke dalam ruangan dimana Puja dirawat. Saat memasuki ruangan itu, pertama kali yang kulihat adalah mas Ilyas tengah menggendong bayi mungil dipangkuannya. Aku sedikit terkejut dan merasakan sakit yang entah dari mana datangnya.
"Mas Ilyas" ucapku dingin.
Mas Ilyas dan Puja terkejut dengan kedatanganku. Mereka kompak membulatkan matanya lalu saling berpandangan. Aku tak mengerti apa yang difikirkan mereka saat itu. Mas Ilyas meletakkan bayi mungil itu ke dalam box bayi.
"Ratna, kamu..." ucapan mas Ilyas mengambang di udara saat melihat tatapan kemarahan dimataku.
"Kamu tahu Puja hamil bahkan sampai lahiran, kenapa enggak kasih tahu aku soal ini? kenapa selalu ngelak kalau ditanya?" tanyaku.
"Puja yang minta kak, Puja yang minta mas Ilyas jangan sampai kasih tahu kakak." Puja menimpali.
"Diam kamu! kakak lagi bicara sama mas Ilyas!" ucapku sedikit keras.
"Kamu apa-apaan sih, dateng-dateng langsung marah-marah! pulang sana!" usir mas Ilyas.
"Mas Ilyas yang apa-apaan! kenapa aku gak dikasih tahu, apa jangan-jangan ini anak haram kalian? iya?!" tuduhku tanpa basa-basi.
Plaakkk!!
Mas Ilyas menamparku.
"Jangan ngomong macem-macem kamu ya! bayi ini bukan anak haram! sekarang pulang, jangan buat keributan disini!" bentaknya.
"Enggak! aku gak mau pulang sebelum dapat penjelasan dari kalian!" kini mataku beralih menatap Puja. Dia malah membuang pandangannya kearah lain. Aku mendekati Puja.
"Anak siapa ini Puja?" tanyaku.
"Itu... anak Puja sama temen kerja Puja kak" jawabnya sambil menunduk, dia tak berani menatapku.
"Jangan bohong Puja, kakak tahu kamu lagi bohong! kamu enggak capek bohongin kakak terus?" tanyaku dengan suara keras. Tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku.
"Jawab yang jujur, kali ini aja terbuka sama kakak!" aku mengguncang-guncang bahu Puja.
"Kamu apa-apaan Ratna! udah sinting kamu ya? Puja baru aja lahiran, jangan ditanya aneh-aneh!" hardiknya lalu mendekat hendak melepas cengkraman tanganku dipundak Puja.
Namun dengan sekuat tenaga ku tepis kasar tangan mas Ilyas.
"Diam kamu mas!" aku mendorong tubuh mas Ilyas sampai dia terjungkal. Dia bangun dan hendak menamparku sebelum akhirnya seorang perawat masuk kedalam ruangan itu.
"Permisi pak, bu, saya mau mandiin adik bayinya dulu." ucap perawat itu.
"Oh iya pak, bapak sekarang diminta untuk mengurus administrasinya, karena istri bapak sudah dibolehkan pulang." ucapnya lagi.
"Apa?!" mataku melotot tajam. Bagaimana bisa perawat itu bilang Puja adalah istri mas Ilyas. Hatiku semakin panas, sementara suster itu sudah membawa bayi itu keluar dari ruangan ini aku langsung menanyai mas Ilyas kembali.
"Bener kan dugaan aku, anak itu anak kamu mas?!" tanyaku.
Mas Ilyas menatapku tajam.
"Kalau iya emangnya kenapa?!" dia balik bertanya. Aku tak dapat menahan amarahku lagi.
"Setan kamu mas! bajing*an! sial*n!" umpatku sambil membabibuta memukuli tubuhnya. Namun nyatanya tenaganya jauh lebih besar dari pada aku. Dia berhasil menahan lenganku lalu beralih menjambak kasar rambutku setelah itu menyeret kasar tubuhku dan mengeluarkanku dari ruangan itu.
"Pulang sana! dasar perempuan gak tau diri!" hardiknya sambil menutup pintu ruangan itu.
"Maaaasss, buka pintunya! aku belum selesai!!! bukaaa!!!!!" aku berteriak histeris tanpa menyadari sudah banyak orang yang menatap kearahku. Tidak lama setelah itu datang seorang perawat menghampiriku.
"Bu, tolong jangan buat keributan disini!" perawat itu memberi peringatan.
"Kak, udah ayo kak.. pulang dulu, kasian ini Ikhsan sampai kebangun gini" ucap Wulan.
Aku menatap nanar pada Ikhsan yang terlihat sudah bangun, aku tak kuasa menahan air mataku lalu memeluk Ikhsan dengan erat.
"Aku anter pulang ya kak, kita bicara dirumah." saran Wulan.
Aku mengangguk lalu berjalan gontai menuju parkiran. Setelah itu Wulan memboncengku sampai kerumah.
Sesampainya dirumah, aku membuka kunci rumah dengan tangan gemetar bahkan Wulan sampai membantuku untuk membuka kunci rumah.
"Kakak duduk, aku ambil minum sebentar" ucap Wulan, dia beranjak kedapur. Tidak lama setelah itu dia kembali dengan membawa segelas air putih ditangannya.
"Diminum dulu kak" ucap Wulan. Aku menegak habis minuman itu.
"Gimana, udah baikan?" tanya Wulan.
"Kakak sakit hati Wulan, kenapa mereka tega sama kakak?" jawabku.
"Aku juga enggak nyangka, kalau mas Ilyas itu suami kakak. Aku aja baru tahu sehari setelah ketemu dengan kakak tempo hari. maaf nih kak, tapi aku tahunya sejak dulu mas Ilyas itu pacarnya Puja. Mereka udah lama menjalin hubungan dari Puja masih manggung. Mas Ilyas yang anter jemput Puja" jelas Wulan. Ucapannya semakin menambah rasa sakit dihatiku.
"Maaf kak, aku baru tahu kemaren soal mas Ilyas suaminya kakak. Sebelumnya memang enggak tahu, jadi pas pulang dari rumah kakak, aku tanya ke bang Jon, aku ceritain soal Puja yang gak pulang-pulang. Terus aku kaget pas bang Jon bilang kalau mas Ilyas kakak iparnya Puja. Soalnya mereka intim banget selama ini. Nah tadi, aku mau jenguk adik sepupu aku yang baru lahiran, malah gak sengaja lihat Puja sama mas Ilyas. Kakak yang sabar ya" ucapnya sambil menatap iba.
Aku semakin meraung-raung menangis meratapi nasibku. Aku tak perduli jika tetanggaku sampai mendengar. Aku merasa dibohongi, di khianati selama ini. Begitu kejamnya Puja dan mas Ilyas menyakiti perasaanku. Rasanya tubuhku bergetar hebat, aku tak kuat menahan rasa sakit yang begitu menyayat, sakit sekali dikhianati adik kandung sendiri. Saat itu aku rasanya ingin mati saja, menyusul emak dan bapak ke surga.
"Kak, udah kak.. kasian Ikhsan, kakak harus kuat demi Ikhsan. Mereka gak pantes ditangisi." Wulan menguatkanku.
"Tapi kakak gak kuat Lan nerima kenyataan pahit ini, mereka tega sama kakak. mereka jahat!" ucapku sambil menangis tersedu-sedu. Wulan memelukku sambil terus menenangkanku. Saat itu rasanya duniaku sudah hancur, tapi aku bersyukur Allah mengirim orang baik seperti Wulan, jika tidak ada Wulan, mungkin aku sudah bunuh diri saat itu.
sok berhati malaikat.