Usianya baru 18 tahun, saat Ethan Algheano Sanjaya terpaksa merenggut mahkota paling berharga milik Ruby Mikhayla Attala yang merupakan kekasih Ethan sejak SMP.
Papi Juna marah besar pada Ethan, karena selain merusak masa depan Ruby, Ethan juga terlibat perkelahian dengan Rumi Rajendra Attala hingga membuat saudara kembar Ruby itu menjadi koma.
"Ethan hanya akan menjadi anak tak berguna yang akan selalu merepotkanmu, Alvin!"
"Anakmu tak akan jadi apa-apa tanpa campur tanganmu dan keluarga besarmu!"
Sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Papi Juna, membuat Ethan bertekad untuk mewujudkan mimpinya sebagai dokter tanpa bantuan atau campur tangan sang Dad maupun keluarga besarnya.
Apakah Ethan akhirnya bisa membuktikan kalau ia mampu mencapai kesuksesan tanpa campur tangan dari keluarga besarnya?
Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada Rumi di hari saat perkelahiannya bersama Ethan?
Benarkah Ethan yang sudah membuat Rumi menjadi koma?
Apakah pada akhirnya, Ethan dan Ruby akan kembali bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANTUAN
Ethan dan gadis asing pemilik dompet tadi masuk ke dalam sebuah kafe untuk mengelabuhi pencopet. Nafas keduanya masih terengah-engah saat duduk di salah satu kursi yang ada di sudut kafe.
"Dompet anda, Nona!" Ucap Ethan seraya menyodorkan dompet warna pink milik gadis itu yang tadi berhasil Ethan rebut dari tangan pencopet.
"Terima kasih," ucap sang gadis yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Kau bukannya mahasiswa kedokteran juga?" Tebak gadis itu tiba-tiba yang langsung membuat Ethan menatapnya dengan seksama. Ethan sedikit membenarkan kacamatanya agar bisa melihat lebih jelas pada gadis yang tadi sempat teledor tersebut.
Astaga!
Ternyata gadis ini yang sering dibicarakan oleh Marcell itu. Tapi Ethan lupa siapa namanya.
"Iya, aku mahasiswa kedokteran, temannya Marcell," Ethan memperkenalkan dirinya sendiri tanpa menyebutkan nama.
"Marcell siapa?" Gadis itu mengernyit bingung.
"Temanku yang-" Ethan tak jadi melanjutkan kalimatnya karena melihat pencopet tadi yang ternyata masih mencarinya.
Ethan buru-buru mengajak gadis yang Ethan belum tahu namanya itu menunduk di bawah meja.
"Ada apa?" Tanya si gadis bingung.
"Pencopet tadi masih mencari kita," jawab Ethan sedikit berbisik.
"Oh, ya. Aku Brigita. Terima kasih karena sudah menyelamatkan dompetku," ucap gadis yang ternyata bernama Brigita tersebut.
Ya, akhirnya Ethan ingat nama gadis yang sedikit membuat lidah terbelit itu. Marcell kerap menceritakannya pada Ethan.
"Aku Ethan!" Jawab Ethan seraya membalas uluran tangan Brigita dan keduanya sudah berjanat tangan sekarang sebagai tanda perkenalan.
Setelah menunggu beberapa menit, pencopet akhirnya pergi dan Ethan serta Brigita bisa kembali duduk di kursi kafe.
"Kau mau minum apa, Ethan?" Tawar Brigita pada Ethan. Gadis itu sudah memanggil waitress untuk membuat pesanan.
"Tidak usah! Uangku tak akan cukup untuk membayar minuman di kafe ini," jawab Ethan sedikit terkekeh.
Padahal dulu di kafe milik Oma dan Opa, Ethan bisa minum apa saja sampai kembung. Namun sekarang Ethan tak pernah lagi pergi ke kafe untuk sekedar membeli minuman atau kopi. Ethan harus sangat berhemat dan cukup minum air putih yang tersedia gratis di kost-kostannya.
"Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih, Ethan!" Ucap Brigita bersungguh-sungguh.
Ethan masih merasa ragu, saat kemudian perut Ethan yang tak tahu diri malah berbunyi nyaring. Ya, mungkin si perut hendak protes atau sedang bersorak senang karena akhirnya ada yang akan mentraktirnya.
Ck! Membuat malu saja.
"Kau belum makan?" Tebak Brigita selanjutnya yang hanya membuat Ethan meringis.
Brigita akhirnya memesan minuman dan makanan untuk Ethan dan dirinya sendiri. Sekuat apapun Ethan menolak, gadis ini ternyata lebih keras kepala dari Ethan.
Baiklah!
Terserah saja!
****
"Kata Marcell, kau sedang mencari pekerjaan?" Tanya Brigita suatu hari pada Ethan.
Ya, sejak kejadian Ethan menyelamatkan dompet Brigita sore itu, hubungi Ethan dan Brigita memang jadi dekat. Dan jangan lupakan Marcell yang seolah mendapat angin segar karena teman Ethan itu yang jadi bisa lebih mudah mendekati Brigita.
"Ya, pekerjaan sampingan lebih tepatnya karena pekerjaanku saat ini sudah tak bisa lagi diandalkan," jawab Ethan dengan wajah tertunduk.
Gaji Ethan yang Ethan tunggu-tunggu sekian lama belum juga dibayarkan. Dan beberapa minggu ini Ethan terpaksa menjadi kurir lepas di sela-sela kuliahnya bermodalkan motor pinjaman dari Marcell.
Beruntung setiap pagi ada seseorang yang meninggalkan sarapan untuk Ethan di depan kost. Ethan juga tidak tahu malaikat mana yang mengirimkan Ethan sarapan, namun setidaknya, Ethan tak perlu lagi kelaparan beberapa hari ini.
"Papa kebetulan sedang mencari seorang asisten di kliniknya," ucap Brigita tiba-tiba yang langsung membuat Ethan menoleh ke arah gadis tersebut.
"Dan aku sudah mengatakan pada Papa kalau aku punya teman yang cerdas yang mungkin bisa papa andalkan," lanjut Brigita lagi.
"Tapi aku hanya bisa bekerja paruh waktu, Bri," Ethan benar-benar merasa tak enak hati.
"Klinik hanya buka sore sampai malam. Karena saat pagi papa dinas di rumah sakit," jelas Brigita pada Ethan.
Gadis itu menuliskan sebuah alamat di kertas, lalu memberikannya pada Ethan.
"Ini alamat klinik Papa dan ada messnya juga. Kau bisa tinggal di sana saja, Ethan agar tak perlu lagi membayar uang kost." Tutur Brigita panjang lebat yang benar-benar membuat Ethan kehilangan kata-kata.
"Kenapa kau baik sekali kepadaku, Bri?" Tanya Ethan yang masih merasa sungkan dan tak enak hati.
"Anggap saja aku sedang membalas kebaikanmu tempo hari yang sudah menyelamatkan dompetku dari copet," jawab Brigita seraya tersenyum hangat pada Ethan.
"Terima kasih, Brigita!"
Mobil yang dikemudikan Dad Alvin sudah tiba di rumah sakit. Ethan langsung turun dan berlari menuju ke UGD. Marcell langsung menyambut Ethan dengan wajah yang lesu. Ada raut kesedihan juga di wajah sahabat Ethan tersebut.
"Bagaimana kondisi Bri dan Dokter Adhy, Cell?" Tanya Ethan tak sabar.
"Brigita terluka di bagian kepala, tapi kondisinya sudah stabil sekarang. Dokter Adhy..." Marcell terlihat berat melanjutkan kalimatnya bersamaan dengan sebuah brankar yang didorong keluar dari ruang UGD dengan pasien yang sudah ditutup kain putih.
"Dokter Adhy tidak selamat, Ethan!" Ucap Marcell akhirnya dengan suara lirih dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ethan bergegas menyusul brankar tadi dan membuka sesaat kain penutupnya sekedar untuk menatap terakhir kali wajah Dokter Adhy yang beberapa tahun belakangan memberikannya pekerjaan serta banyak ilmu bermanfaat hingga Ethan bisa menjadi seperti sekarang ini.
Ya, dokter baik hati itu akhirnya sudah pergi untuk selamanya meninggalkan Brigita yang kini sebatang kara.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kan bisa keliatan siapa yg ngasih obat kl ada cctv