Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Damar Turun Tangan
Damar Wibisana akhirnya menerima jawaban tentang perempuan bertopeng itu dari berita yang tidak pernah ia minta.
Empat hari setelah Arkana mengakui pernikahan sirinya di depan media, potongan video malam amal beredar di mana-mana. Damar mengenali suara Anindya, cara ia mengangkat dagu, dan anting yang terlihat di balik topeng KIMI.
Ia tidak mendatangi Klub Enggar.
Sebaliknya, ia menunggu jadwal pengambilan setelan yang memang sudah dipesannya di atelier Kemal.
Ketika Anindya datang siang itu untuk membahas pratinjau koleksi kecil, Damar sedang berdiri di depan cermin dengan jas setengah jadi dan jarum pentul di lengan.
“Ternyata Jakarta memang sempit,” katanya.
Anindya berhenti di dekat meja pola. “Atau Anda terlalu rajin memesan barang yang tidak dibutuhkan.”
“Saya butuh jas.”
Kemal mendengus dari belakangnya. “Dia memesan tiga hanya untuk mendapat satu alasan datang.”
“Rahasia pelanggan seharusnya dilindungi.”
“Kebohongan pelanggan tidak termasuk.”
Anindya hampir tersenyum.
Damar melepas jas percobaan setelah Kemal selesai menandai bahu. Di meja dekat pintu terletak buket bunga sedap malam dan sebuah buku tentang tekstil Nusantara.
“Bunganya untuk atelier,” katanya sebelum Anindya bertanya. “Bukunya untuk Anda, kalau Anda bersedia menerima.”
Anindya melihat buku itu. Edisinya sudah lama habis dan memuat catatan teknik pewarnaan yang sedang mereka teliti untuk koleksi Kemal.
“Apa imbalannya?”
“Makan malam.”
“Kalau saya menolak?”
“Bukunya tetap untuk Anda. Saya tidak membeli jawaban dengan hadiah.”
Anindya mendorong buku itu kembali beberapa sentimeter. “Kirim ke perpustakaan atelier atas nama Anda. Semua orang bisa membacanya.”
Damar tertawa pelan. “Penolakan yang sangat efisien.”
“Itu bukan jawaban tentang makan malam.”
“Berarti masih dipertimbangkan?”
“Berarti saya belum memberi jawaban. Jangan mengubahnya menjadi ya.”
“Jelas.”
Damar menunjuk topeng KIMI yang kini disimpan dalam kotak kaca di atas rak. “Saya juga berutang penjelasan. Saya datang ke sini setelah malam amal karena mengenali seri topengnya. Kemal tidak memberi nama Anda.”
Kemal mengangguk sambil tetap bekerja. “Saya hanya bilang pemakainya mendapat izin pemilik koleksi.”
“Saya baru memastikan setelah video acara keluarga beredar,” lanjut Damar. “Suara dan anting Anda sama. Saya tidak membayar staf hotel, tidak meminta data tamu, dan tidak memberi kesimpulan itu kepada wartawan.”
Anindya mempelajarinya beberapa detik. “Kenapa menjelaskan sekarang?”
“Karena setelah nama Anda dilempar ke publik tanpa izin, saya tidak ingin rasa ingin tahu saya terlihat seperti bagian dari orang-orang yang memburu Anda.”
“Anda tetap melacak sebuah topeng sampai atelier.”
“Benar. Itu tindakan yang terlalu jauh.” Damar tidak tersenyum kali ini. “Saya minta maaf.”
“Dan tiga jas?”
“Dua karena saya memang suka hasil Kemal. Satu karena saya berharap bertemu Anda lagi.”
Kemal mengangkat dua jari. “Yang ketiga belum saya setujui.”
Anindya menahan senyum. “Setidaknya sekarang catatannya jelas.”
Ia tidak memaafkan pelacakan itu hanya karena Damar jujur. Namun pengakuan tanpa pembelaan membuatnya bersedia melanjutkan percakapan, dengan batas yang sudah disebutkan terang-terangan.
Kemal membawa bunga ke meja depan. “Kalau urusan diplomatik selesai, saya perlu membahas anggaran.”
Selama hampir satu jam, mereka meninjau ruang pratinjau, kapasitas tamu, pembayaran penjahit, dan hak penggunaan foto desain. Damar tidak menyela. Ia duduk di sudut membaca katalog, sesekali menjawab ketika Kemal menanyakan koneksi penyedia pencahayaan.
Sikap itu membuat kehadirannya lebih sulit diabaikan daripada rayuan terbuka.
Saat rapat selesai, Anindya menerima pesan dari Arka.
Saya sudah di area Kebayoran Baru. Boleh menyerahkan salinan surat pembukaan ulang arsip lama setelah rapatmu? Lima menit di tempat umum.
Ia menjawab bahwa mereka bisa bertemu di parkiran atelier pukul tiga.
Damar berjalan bersamanya ke bawah karena kendaraan mereka berada di sisi yang sama. Begitu pintu terbuka, Arka sudah menunggu dekat mobilnya dengan map tipis di tangan.
Tatapannya langsung jatuh pada Damar.
“Pak Arkana,” sapa Damar ringan. “Pidato Anda mengubah suasana banyak meja makan minggu ini.”
“Saya tidak melakukannya untuk suasana.”
“Saya tahu.”
Anindya berdiri di antara mereka, bukan secara fisik, melainkan melalui satu tatapan yang memperingatkan keduanya agar tidak mengubah parkiran menjadi panggung.
Arka menyerahkan map. “Ini permintaan resmi untuk mengakses ulang arsip kecelakaan ayah saya. Tidak ada nama kamu di dokumen. Saya hanya memberi tahu karena tuduhan lama pernah saya lemparkan kepadamu.”
Anindya menerima map itu dengan tangan tenang. “Saya akan membaca.”
Damar memasukkan kedua tangan ke saku. “Kalau urusan kalian pribadi, saya bisa pergi.”
“Memang sebaiknya,” kata Arka.
“Arka.” Suara Anindya datar.
Ia langsung diam.
Damar menatap Anindya, bukan Arka. “Saya sudah mengajak Anda makan malam. Jawabannya belum diberikan. Saya tidak akan menanyakan lagi sebelum Anda menghubungi.”
“Terima kasih.”
Arka menahan rahangnya. “Kamu tahu dia baru saja diseret media karena hubungan pribadi.”
“Karena itu saya bicara langsung kepadanya, bukan kepada media.”
“Dan bukan kepadamu,” potong Anindya. “Kalian berdua tidak sedang menegosiasikan saya.”
Keheningan jatuh di antara tiga mobil.
Arka menjadi orang pertama yang mengangguk. “Benar. Maaf.”
Damar mengikuti. “Saya juga minta maaf.”
Anindya membuka pintu kendaraannya. “Saya akan menanggapi dokumen ini melalui jalur yang aman. Untuk urusan lain, tunggu sampai saya memilih menjawab.”
Ia masuk dan pergi tanpa memberi salah satu dari mereka kesempatan memperpanjang adegan.
Damar memperhatikan mobilnya keluar dari parkiran. “Anda sudah mengakui kesalahan di depan semua orang. Itu langkah besar.”
Arka menatap lurus ke jalan. “Saya tidak butuh penilaian Anda.”
“Mungkin tidak. Tapi Anda perlu mengingat satu hal.” Damar mengambil kunci mobilnya. “Pengakuan tidak membuatnya menjadi milik Anda. Sama seperti bunga tidak membuatnya menjadi milik saya.”
Kali ini Arka tidak membantah.