NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Setelah Satria menutup pintu, Damar tinggal sendirian di kantor.

Telinganya panas.

Tidak banyak.

Cukup untuk mengganggunya.

Ia mengusap pangkal hidung dengan jari dan menatap ponsel di meja seolah benda itu yang bersalah.

Kapan tepatnya ia terpikir membuka video seperti itu di kantor?

Lebih buruk.

Kapan tepatnya ia terpikir membukanya dengan volume menyala?

Wajah Satria masih ada di kepalanya.

Orang malang itu pasti memahami segala macam hal.

Damar menutup mata.

Tidak membantu.

Ingatan itu tetap ada.

Sore hari, saat jam pulang, aku mengambil tas.

Aku belum maju sejauh yang kuinginkan dengan Grup Altavista, tapi setidaknya sudah punya daftar perubahan yang jelas. Itu menenangkanku.

Sedikit.

Saat mengangkat tas, sesuatu putih jatuh ke lantai dan berguling sampai ke sepatuku.

Aku membungkuk.

Salep.

Yang Damar berikan pagi tadi.

Aku cepat mengambilnya, seolah seseorang bisa melihat dan menebak untuk apa itu.

Malu sekali.

Sejak bangun, bagian bawah tubuhku masih sakit.

Tidak mengerikan, tapi cukup membuatku berjalan hati-hati dan membenci tangga. Pagi tadi, saat Damar lengah, aku masuk kamar mandi dan memakainya sedikit.

Salepnya dingin.

Terlalu dingin.

Aku menggigit lidah agar tidak bersuara.

Tapi membantu.

Cukup membantu.

Aku membersihkannya dengan tisu dan menyimpan lagi.

Lalu aku terdiam.

Tadi malam.

Setiap kali.

Tidak sekali pun kami memakai pelindung.

Rasanya perutku tenggelam.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak.

Aku baru menikah. Aku bahkan belum tahu harus bagaimana dengan suami seperti Damar Mahendra yang tinggal di rumah yang sama, menatapku dengan mata itu dan menyentuhku seolah bisa membuatku bodoh dalam dua detik.

Aku tidak boleh hamil.

Tidak sekarang.

Tidak begini.

Aku mengambil tas dan keluar hampir berlari.

Pagi tadi aku turun ke garasi Damar dan menemukan koleksi mobil yang absurd. Jenis mobil yang orang lihat di internet, bukan di parkiran normal.

Ferrari.

Bugatti.

Rolls-Royce.

Maybach.

Terlalu banyak.

Aku memilih Porsche karena, di dalam kegilaan itu, ia terlihat paling tidak mencolok.

Iya.

Definisi diskretku rusak sejak menikah dengan keluarga Mahendra.

Aku turun ke parkiran perusahaan, masuk mobil, dan mencari apotek terdekat.

Aku menyetir dengan tangan mencengkeram setir.

Seolah terlambat lima menit bisa mengubah hidupku.

Apotek itu berada di jalan besar yang macet, cabang besar, terang, penuh orang membeli hal-hal normal.

Aku masuk dengan perasaan bersalah padahal tidak melakukan kesalahan.

Gadis di konter sedang melihat ponsel.

"Permisi."

Ia mengangkat wajah.

"Iya, Kak."

Aku mendekat.

Menurunkan suara.

"Ada kontrasepsi?"

"Ada. Cari yang mana?"

Pikiranku kosong.

"Ada beberapa?"

Gadis itu tidak menertawakanku. Itu sudah keuntungan.

Ia menjelaskan dengan sabar: pil harian, metode darurat, pilihan jangka panjang. Aku mengangguk seolah memahami semuanya, tapi kepalaku hanya mengulang satu hal.

Tujuh puluh dua jam.

Aku harus menanyakan itu.

"Kalau terjadi tadi malam," kataku makin pelan, "dan pagi ini aku belum minum apa-apa... masih berguna?"

Gadis itu paham.

Langsung.

"Iya. Kakak butuh kontrasepsi darurat. Selama masih dalam tujuh puluh dua jam, masih bisa membantu."

Aku menghela napas.

"Beri aku beberapa."

Gadis itu berkedip.

"Beberapa?"

"Iya."

"Begini, biasanya sekali minum. Tidak boleh lebih dari satu untuk satu kejadian. Bisa menyebabkan mual, pusing, nyeri, perubahan siklus. Pada beberapa orang efeknya kuat."

"Tidak apa-apa. Beri tiga kotak."

Aku tidak mau kembali berdiri di sana, bertanya dengan suara pelan seperti sedang mengakui kejahatan.

Aku membayar.

Kubuka satu kotak di depan konter, mengambil pilnya, dan menelannya tanpa air.

Gadis itu menatap khawatir.

"Baca petunjuknya kalau sempat. Kalau merasa tidak enak, periksa ke dokter."

"Iya. Terima kasih."

Kusimpan dua kotak lain di tas.

Aku keluar dari apotek dengan lebih tenang.

Bodohnya aku.

Dalam perjalanan pulang, leherku mulai gatal.

Aku menggaruk sekali.

Lalu lagi.

Kupikir itu stres.

Saat tiba di rumah, hal pertama yang kulihat adalah Damar di ruang tamu.

Ia sudah di sana.

Duduk di sofa, satu kaki menyilang, majalah keuangan di tangan.

Ia memakai kemeja gelap, lengan tersusun sempurna, kerah terbuka sedikit saja cukup untuk membuat mataku melakukan kesalahan.

Wajahnya serius.

Rahangnya bersih.

Ketenangan pria dewasa yang tidak perlu menaikkan suara untuk menguasai ruangan.

Aku berdiri satu detik terlalu lama.

Karena kepalaku yang berkhianat tidak melihat Damar yang membaca majalah.

Kepalaku melihat Damar tadi malam.

Yang menahan pergelangan tanganku di bantal.

Yang menurunkan suara di telingaku saat aku tidak tahu apakah harus memintanya berhenti atau jangan berhenti.

Yang bergerak dengan kesabaran kejam pada awalnya lalu kehilangan kendali saat aku mengerang namanya.

Wajahku panas.

Dan di antara kakiku ada tarikan kecil yang memalukan, tepat di tempat yang masih sensitif.

Sempurna.

Aku khawatir tidak hamil, sementara tubuhku mengingatnya seolah tidak belajar apa pun.

Aku ingin naik tangga tanpa suara.

Damar mengangkat wajah.

Matanya jatuh padaku.

Hitam.

Tenang.

Terlalu memperhatikan.

"Kamu pulang cepat," katanya.

Aku menggaruk leher.

"Kamu juga. Bukannya ada pekerjaan?"

"Selesai lebih awal."

"Oh. Kalau begitu aku tidak mengganggu. Aku naik dulu."

Aku melangkah.

"Kirana."

Aku berhenti.

Seharusnya aku tidak suka saat ia menyebut namaku seperti itu.

Tapi aku suka.

"Iya?"

Damar menutup majalah dan menaruhnya ke samping.

"Kemari. Aku ingin bicara denganmu."

Insting pertamaku adalah mengarang ada telepon, email, keadaan darurat, apa pun.

Aku tidak melakukannya.

Aku berjalan ke sofa dan duduk.

Jauh.

Tidak sangat jauh.

Tapi cukup untuk ia sadari.

Ia menyadarinya.

Tatapannya turun ke ruang di antara kami.

Lalu kembali ke wajahku.

"Ada apa?" tanyaku.

Damar tidak langsung menjawab.

Itu membuatku makin buruk.

Ia bisa membuat keheningan lebih berat daripada pertanyaan.

Aku menggaruk leher lagi.

"Damar, kalau kamu mau memarahiku karena sesuatu, katakan cepat."

"Aku tidak akan memarahimu."

"Lalu..."

Jarinyanya mengetuk sekali di lengan sofa.

Satu kali.

Terkendali.

"Tadi malam," katanya.

Jantungku melompat.

"Kenapa?"

Ia menatap langsung.

"Bagaimana aku membuatmu merasa?"

Mulutku kering.

Begitu saja, tanpa bius.

Tanpa putaran.

Tanpa membiarkanku lari.

"Maaf?"

"Tadi malam," ulangnya. "Di ranjang."

Wajahku panas.

Juga dada.

Dan bagian lain yang tidak mau kuakui saat ia duduk kurang dari satu meter.

"Itu... baik."

Damar sedikit menyipit.

"Baik."

Cara ia mengulang kata itu membuatku ingin menggigit lidah.

"Iya."

"Hanya baik?"

"Kamu mau aku bilang apa?"

"Kebenaran."

Aku bergerak tidak nyaman di sofa.

Ide buruk.

Gesekan pakaian terlalu cepat mengingatkanku pada salep, ranjang, dan tangannya yang membuka pahaku dengan ketegasan yang masih membuatku malu mengingatnya.

"Itu pertama kaliku," gumamku. "Aku tidak punya formulir survei kepuasan."

Damar tidak tersenyum.

Tapi sesuatu di matanya berubah.

"Kalau sakit, katakan di mana."

Aku membeku.

"Damar."

"Kirana."

Suaranya turun.

Tidak terdengar manis.

Terdengar serius.

Terlalu dekat dengan suara tadi malam saat ia menyuruhku bernapas.

Aku menelan ludah.

"Aku tidak tahu."

"Kamu tahu."

Aku menekan tangan di atas paha.

"Aku tidak ingat seluruh prosesnya."

Bohong.

Aku ingat terlalu banyak.

Berat tubuhnya.

Mulutnya.

Kukuku di punggungnya.

Betapa menakutkan rasanya merasakan sakit dan keinginan pada saat yang sama.

Tapi aku tidak akan mengatakan itu di ruang tamu, dengan cahaya sore dan dia menatap seolah bisa menarik kebenaran dariku dengan sabar.

Damar diam.

Rahangnya menegang.

"Aku mengerti."

Ia tidak mengerti apa-apa.

Terlihat jelas.

"Kalau ada yang tidak nyaman," katanya, "kamu bisa bilang. Aku perbaiki."

Aku hampir tersedak air liur sendiri.

"Kamu perbaiki?"

"Iya."

"Begitu saja?"

"Begitu saja."

Telingaku panas.

Pria itu bicara soal seks seperti sedang memeriksa kontrak.

Dan tetap saja tubuhku bereaksi.

Dasar tubuh sialan.

Aku menggaruk lengan.

Lalu leher.

"Salepnya membantu," kataku, karena itu satu-satunya hal konkret yang bisa kukatakan tanpa mati malu.

Tatapan Damar turun sekejap.

Tidak sampai ke tempat yang kutakutkan.

Tapi hampir.

"Berarti masih mengganggu."

"Lebih sedikit."

"Di mana aku paling menyakitimu?"

"Aku tidak akan menjawab itu."

"Kirana."

"Tidak."

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu mengangguk, seolah memutuskan untuk menunggu.

Itu lebih buruk.

"Kalau begitu malam ini..."

Tubuhku menegang.

Semuanya.

Leher.

Tangan.

Perut.

Dan bagian bodoh yang sensitif, yang memahami kalimat itu lebih cepat daripada kepalaku.

"Malam ini apa?" tanyaku, meski suaraku keluar lebih rendah.

Damar sedikit mencondong ke arahku.

Ia berhenti.

Tatapannya berubah.

"Apa yang terjadi pada lehermu?"

"Eh?"

Aku menggaruk.

"Tidak ada. Gatal."

"Jangan digaruk."

"Tapi gatal sekali."

Aku melihat lenganku.

Kulitku merah.

Bukan sedikit.

Benar-benar merah.

"Aduh."

Aku menaikkan lengan baju dan melihat lebih banyak bercak.

"Apa ini?"

Damar sudah berdiri.

Ia mendekat dan memegang pergelangan tanganku.

Tidak keras.

Tapi cukup untuk mencegahku terus menggaruk.

"Kamu makan apa?"

"Tidak ada yang aneh."

"Kamu minum sesuatu?"

Pertanyaan itu menembusku.

Pil itu.

Apotek.

Tiga kotak di tasku.

"Aku..."

Wajahku gatal.

Tenggorokanku juga.

"Damar, aku merasa aneh."

Ia menatap leherku.

Lalu wajahku.

"Ini reaksi alergi."

"Tidak mungkin."

"Bisa."

"Seluruh tubuhku gatal."

Suaraku keluar panik.

Seluruh tubuhku panas dan gatal sekaligus. Aku menggaruk lengan dengan tangan lain, tapi Damar memegangnya juga.

"Jangan. Kamu akan melukai diri."

"Aku tidak bisa."

"Kamu bisa. Lihat aku."

Aku mencoba menatapnya.

Sulit.

Kulitku terbakar.

Napasku mulai tersangkut.

Damar tidak bertanya lagi.

Ia mengangkatku ke pelukannya.

"Kita ke rumah sakit."

"Aku bisa berjalan."

"Tidak."

Ia mengatakannya kering.

Tanpa diskusi.

Ia menggendongku ke mobil, membuka pintu penumpang, dan mendudukkanku hati-hati. Lalu memasangkan sabuk pengaman.

Aku masih mencoba menggaruk.

"Kirana, cukup."

"Gatal."

"Aku tahu. Tahan."

Ia mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

Mesin menyala.

Rumah tertinggal dalam hitungan detik.

Aku kekurangan udara.

Awalnya sedikit.

Lalu lebih.

Aku mencoba menarik napas dalam dan tidak bisa.

"Damar..."

Ia melirikku.

Wajahnya berubah.

"Kita hampir sampai."

"Aku tidak bisa..."

Suaraku terputus.

Kepalaku berat.

Kelopak mataku juga.

Damar menekan pedal gas lebih dalam.

"Kirana, jangan tutup mata."

Aku ingin menurut.

Sungguh.

Tapi ruang tamu, apotek, suaranya, dan lampu jalan mulai bercampur.

Hal terakhir yang kurasakan adalah tangannya menggenggam tanganku erat.

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!