NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009: Terlalu Enak

Minggu pertama Restoran Rasa Nusantara dibuka, Rian Prasetyo akhirnya merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Ketenangan.

Meja-meja kayu berkilap itu kosong. Lampu kuning hangat tetap menyala, aroma rendang memenuhi ruangan, musik lembut mengalun, dan tiga pelayan berdiri rapi dengan senyum profesional yang belum punya sasaran.

Di luar, orang-orang lewat, melirik papan menu, lalu wajah mereka berubah.

Rendang Wagyu - Rp 500.000.

Gurame Bakar Rempah - Rp 350.000.

Paket Nasi Liwet Premium - Rp 275.000.

Seorang bapak berkemeja batik berhenti sebentar, membaca harga, lalu menggandeng istrinya menjauh seolah papan menu itu bisa menggigit.

Rian duduk di sudut dekat kasir, menyesap air putih gratis milik tamu yang belum pernah datang, dan hampir tersenyum.

Ini dia.

Ini baru bisnis.

Sewa mahal, renovasi mahal, bahan baku mahal, gaji karyawan tinggi, harga menu membuat orang biasa langsung sadar diri.

Kalau proyek seperti ini masih untung, berarti semesta memang punya dendam pribadi kepadanya.

Bagas Wicaksono keluar dari dapur sambil membawa sepiring kecil rendang untuk dicicipi. Wajahnya serius seperti dokter bedah.

"Bos, menurut gue kita harus tambah waktu masak dua puluh menit. Serat dagingnya akan lebih lembut."

Rian menatap restoran kosong.

"Bagas."

"Ya, Bos?"

"Tidak ada yang makan."

Bagas mengangguk penuh hormat. "Justru itu. Begitu ada yang makan, dia harus langsung ingat restoran ini seumur hidup."

Rian ingin menjawab, tapi tenggorokannya terasa kering.

Kalimat itu terdengar seperti kutukan.

Putri Larasati berdiri di dekat pintu dengan buku reservasi kosong di tangan. Sesekali ia membungkuk kepada orang lewat yang bahkan tidak masuk.

"Selamat siang, Pak. Silakan lihat menu kami."

Orang itu melihat harga, tersenyum kaku, lalu mempercepat langkah.

Putri tetap membungkuk. "Terima kasih sudah membaca, Pak."

Rian mengangguk puas.

Pelayanan terlalu sopan kepada orang yang kabur.

Sempurna.

Pada akhir minggu pertama, laporan restoran menunjukkan angka yang indah.

Pengunjung sedikit.

Pendapatan kecil.

Biaya operasional besar.

Rian hampir ingin membingkai laporan itu dan menggantungnya di kamar kos.

"Kali ini stabil," gumamnya.

Darmawan yang datang membawa laporan Garuda Mart memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Pak Bos tetap tenang meski unit baru belum ramai. Sikap seperti ini benar-benar menunjukkan visi jangka panjang."

Rian menutup laporan.

Tidak.

Jangan mulai.

Minggu kedua dimulai dengan tiga orang pemuda masuk sambil membawa kamera kecil dan ponsel di atas tripod mini.

Rian awalnya tidak peduli.

Tiga pelanggan tidak akan menyelamatkan restoran dengan biaya segila ini.

Mereka memesan Rendang Wagyu, Gurame Bakar Rempah, dan Nasi Liwet Premium. Bagas sendiri yang keluar membawa hidangan itu, matanya bersinar seperti seniman memperkenalkan karya terakhir sebelum pensiun.

Potongan pertama masuk ke mulut salah satu pemuda.

Ia berhenti mengunyah.

Temannya menurunkan kamera. "Kenapa?"

Pemuda itu menatap piringnya, lalu berbisik, "Ini... tidak masuk akal."

Rian yang duduk tidak jauh langsung tegang.

Tidak masuk akal bisa berarti buruk.

Tolong berarti buruk.

Pemuda kedua mencicipi kuah rendang. Matanya melebar. Pemuda ketiga mencoba gurame, lalu spontan tertawa kecil seperti orang yang baru menemukan rahasia negara.

Malam itu, video mereka naik.

Judulnya sederhana.

Restoran Termahal di Kota Tanjung Emas, Tapi Rasanya Bikin Diam.

Keesokan paginya, telepon restoran berbunyi sebelum pintu dibuka.

Putri mengangkatnya dengan kedua tangan.

"Selamat pagi, Restoran Rasa Nusantara. Dengan Putri, ada yang bisa saya bantu?"

Ia mendengarkan, lalu wajahnya panik.

"Untuk empat orang? Hari ini? Maaf, Pak, meja kami..." Putri melihat ke arah ruang makan yang masih kosong. "...masih tersedia."

Rian menghela napas lega.

Masih aman.

Lima menit kemudian, telepon berbunyi lagi.

Lalu lagi.

Lalu lagi.

Menjelang jam makan malam, semua meja terisi.

Rian berdiri di dekat dapur, menatap orang-orang memotret piring sebelum makan. Beberapa tamu datang dengan mobil mewah. Ada ibu-ibu berperhiasan yang berkata kepada temannya, "Kalau belum makan di sini, belum bisa bilang paham kuliner lokal."

Rian merasa jiwanya dicubit.

Harga mahal yang seharusnya membuat orang pergi, ternyata berubah menjadi tanda status.

Lebih parah lagi, Putri yang ia kira akan menjadi sumber kekacauan justru menjadi bintang kecil restoran.

Ia terlalu gugup untuk berpura-pura elegan, jadi ia jujur.

Ketika seorang tamu bertanya apakah Rendang Wagyu benar-benar mahal karena bahannya sulit, Putri menjawab dengan wajah serius, "Iya, Bu. Tapi kalau Ibu makan pelan-pelan, rasanya seperti uangnya kembali dalam bentuk kebahagiaan."

Satu meja tertawa.

Video Putri mengatakan kalimat itu menyebar.

Komentarnya lebih buruk daripada laporan laba.

Pelayan polos di Rasa Nusantara lucu banget.

Aku mau ke sana cuma buat ketemu Mbak Putri.

Restorannya mahal, tapi servisnya bikin nyaman.

Pada minggu ketiga, buku reservasi yang dulu kosong mulai dipenuhi tulisan kecil. Putri harus belajar mengatakan kalimat yang membuat Rian ingin menutup telinga.

"Maaf, Pak. Untuk akhir pekan ini sudah penuh. Jadwal kosong paling cepat minggu depan."

Minggu depan.

Restoran yang ia bangun untuk mengubur uang sekarang membuat orang antre tujuh hari.

Bagas berjalan di dapur dengan energi gila. Ia mengubah saus, mengatur plating, memarahi pemasok karena daun kemangi kurang segar, lalu menangis sendiri ketika satu panci rendang mencapai tekstur yang menurutnya "menyentuh martabat bangsa."

Rian ingin memecatnya.

Tapi Bagas adalah teman.

Dan lebih menyakitkan lagi, Bagas memang bekerja seperti orang yang mempertaruhkan hidup.

Karyawan lain juga begitu.

Gaji tinggi, tempat tinggal ditanggung, makan layak, jam kerja manusiawi. Mereka tidak menganggap itu sebagai hadiah biasa. Mereka menganggapnya hutang moral.

Setiap tamu diperlakukan seperti keluarga jauh yang datang setelah tersesat bertahun-tahun.

Rian akhirnya melakukan satu-satunya hal yang menurutnya masih bisa menyelamatkan keadaan.

Ia membagikan bonus.

"Sebagian keuntungan bulan ini akan dibagikan sebagai dividen karyawan," kata Rian di ruang makan setelah restoran tutup. "Kalian sudah bekerja keras. Jangan anggap ini kemurahan hati. Ini hak kalian."

Ia memilih kata itu karena terdengar keren.

Juga karena uangnya keluar.

Para karyawan terdiam.

Bagas menatap Rian seperti melihat pahlawan nasional turun dari bingkai foto.

Putri membuka amplopnya dengan tangan gemetar. Angkanya setara hampir tiga bulan gaji.

Air matanya langsung jatuh.

"Pak..." suaranya patah. "Saya baru kerja sebulan."

"Berarti bulan pertama kamu bagus," jawab Rian datar.

Putri menangis lebih keras.

Karyawan lain ikut bersorak. Ada yang menunduk, ada yang menutup wajah, ada yang langsung menelepon keluarga.

Rian berdiri di depan mereka dan untuk beberapa detik, dadanya terasa aneh.

Mereka senang.

Benar-benar senang.

Dan ia tahu perasaan itu bukan palsu.

Ia memang ingin rugi. Tapi ia tidak pernah ingin melihat orang-orang yang bekerja untuknya menderita.

Kalau uang sistem bisa membuat hidup mereka lebih ringan, setidaknya ada bagian dari kekacauan ini yang tidak sia-sia.

Lalu Darmawan menyerahkan laporan keuangan.

"Pak Bos, ini laporan setelah dividen karyawan dicatat."

Rian menerimanya dengan hati-hati.

Ia membuka halaman pertama.

Pendapatan kotor bulan pertama: terlalu besar.

Biaya bahan baku: besar.

Gaji dan fasilitas: sangat besar.

Dividen karyawan: menyakitkan.

Laba bersih setelah semua itu: tetap positif.

Bukan positif kecil.

Positif dengan angka yang membuat mata Rian panas.

"Pak Bos?" tanya Darmawan pelan. "Apakah ada yang kurang sesuai?"

Rian tidak menjawab.

Ia berjalan ke sudut restoran, duduk di kursi paling belakang, dan menatap laporan itu lama sekali.

Garuda Mart untung.

Restoran Rasa Nusantara untung.

Makmur Mart belum menyerang, tapi bahkan sebelum perang dimulai, uangnya sudah berkembang biak seperti tidak punya rasa malu.

Air mata jatuh begitu saja.

Bagas mendekat dengan wajah terharu. "Bos, lu nangis? Karena lihat anak-anak bahagia?"

Rian mengusap wajahnya.

"Bukan."

Bagas bingung. "Terus karena apa?"

Rian menatap angka laba bersih itu, lalu berkata dengan suara serak, "Karena kita dapat uang lagi."

Bagas terdiam.

Darmawan yang berdiri di belakang langsung menunduk hormat, jelas salah paham sampai tingkat berbahaya.

"Pak Bos bahkan menangisi keberhasilan perusahaan karena merasa tanggung jawabnya semakin besar," bisiknya.

Rian menutup mata.

Sudah.

Tidak ada gunanya menjelaskan.

Malam itu, setelah semua orang pulang, Rian membuka panel biru Sistem Rugi.

Garis keuntungan Siklus 2 naik lebih curam daripada Siklus 1.

Lebih curam.

Lebih kejam.

Lebih menghina.

Rian menarik napas dalam-dalam.

"Masih ada lebih dari sebulan," bisiknya. "Aku masih bisa membuang uang ini. Pasti ada cara."

Panel biru itu diam.

Untuk pertama kalinya, Rian merasa bahkan dirinya sendiri tidak percaya pada kalimat itu.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!