Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Menyusun Kekuatan, Merajut Hati
"Benar, Kak Anin."
Jawaban Bima terdengar dari pengeras suara ponsel Vanya. Anindya langsung meneleponnya setelah mendapat nomor dari Vanya, dan Bima memilih menjawab sebelum kepanikan menyebar lebih jauh.
"Kamu bilang benar seperti sedang membahas jadwal kerja," kata Anindya. "Mereka bilang pertarungannya bisa berakhir dengan kematian."
Bima berdiri di luar gedung Larissa. Lampu kantor masih menyala di atas kepalanya, tetapi ia tidak naik kembali.
"Itu risiko, bukan tujuan. Aku menerima karena Darman tidak akan berhenti memakai orang lain selama masalah ini dibiarkan terbuka."
"Dan kamu yakin bisa menang?"
"Yakin."
Anindya terdiam. Napasnya terdengar pelan di sambungan.
"Aku tidak tahu apakah kamu sangat berani atau sangat bodoh."
"Kak Anin boleh memutuskan setelah aku pulang dengan lengkap."
"Jangan bercanda soal tidak pulang."
Nada suaranya membuat Bima berhenti tersenyum.
"Aku akan pulang," katanya. "Itu janji."
Keesokan siang, Bima datang ke Sekar Arum dengan ojek daring. Ia menolak memakai BMW sampai urusan duel selesai, sementara jarak dari kos terlalu jauh untuk ditempuh berjalan kaki tanpa membuang waktu.
Sekar Arum menempati bangunan dua lantai dengan ruang pajang batik di depan dan ruang teh tenang di belakang. Pola kain tergantung di dinding kayu, bukan sebagai hiasan mahal, melainkan katalog karya para perajin yang bekerja dengan jaringan Laras.
Laras menunggunya di meja sudut. Wisnu berdiri dekat pintu belakang, sedangkan Bayu mengawasi ruang depan. Keduanya terlihat santai, tetapi jalur masuk dan keluar tetap berada dalam pandangan mereka.
"BMW sudah kembali tanpa lecet," kata Laras sebagai salam pembuka.
"Saya sudah memeriksanya. Jaguar Teh Laras?"
"Masih di bengkel. Pengacara saya sudah mengirim somasi kepada Yono Botak. Ia minta waktu untuk membayar."
Laras mendorong satu map tipis ke arahnya. Di dalamnya tidak ada rahasia negara atau laporan ajaib, hanya catatan dari kenalan usaha, perguruan silat, dan orang-orang yang pernah melihat Guntur bertanding.
"Guntur adalah murid senior Giri Wesi," katanya. "Kebal Karang miliknya sudah matang. Darman hanya belajar bagian luarnya. Jangan mengukur sang kakak dari kemampuan adiknya."
"Saya sudah merasakan bedanya."
"Di atas Guntur masih ada para sesepuh. Di puncaknya ada Guru Besar Eyang Sindhu." Laras menuangkan teh ke dua cangkir. "Orang-orang menyebut beliau telah mencapai Waskita Sejati. Saya belum pernah melihatnya bertarung, jadi saya tidak akan menjual rumor sebagai fakta. Tetapi nama itu cukup membuat perguruan besar memilih diam."
Bima membaca susunan nama dan wilayah pengaruh. Guntur bukan puncak gunung. Ia hanya batu pertama yang terlihat dari jalan.
"Surat Tanding bisa menghentikan Darman," lanjut Laras, "tetapi kalimat yang buruk hanya menghentikan satu orang. Pastikan klausul kemenangan menyebut Padepokan Giri Wesi tidak boleh mengusikmu lagi karena perkara Darman, baik langsung maupun melalui perantara. Harus permanen, disaksikan para sesepuh."
"Guntur baru menyebut perkara ini."
"Maka di naskah final, tutup celahnya." Laras menatapnya lekat. "Dan jangan pertaruhkan saham yang bukan milikmu."
"Saya tidak melakukannya."
"Bagus. Kalau mereka menuntut nilai perusahaan sebagai syarat, gunakan jaminan kompensasi yang bisa dibuktikan, bukan kepemilikan palsu."
Bima menangkap makna di balik kalimat itu. "Teh Laras menawarkan diri sebagai penjamin?"
"Saya menawarkan solusi. Nilainya kita bicarakan setelah melihat rancangan. Jangan salah menganggapnya hadiah."
"Saya tidak berani. Hadiah dari Teh Laras biasanya disertai tagihan lima ratus juta."
Sudut bibir Laras bergerak tipis.
Laras kemudian menunjukkan pesan dari Gita. Hasil pemeriksaan Denny tidak menemukan retak tulang leher atau kerusakan saluran napas. Ia mengalami memar jaringan lunak dan harus diawasi selama dua puluh empat jam. Pak Hadi hanya mengalami tarikan otot bahu; dua satpam lainnya sudah kembali bertugas ringan.
"Guntur mengendalikan tenaganya," kata Laras.
"Itu justru membuatnya lebih berbahaya," jawab Bima. "Dia tahu batas antara peringatan dan pembunuhan."
"Dan kemarin dia memilih berdiri tepat di batas itu."
Pertemuan itu selesai tanpa pidato panjang. Bima membawa tiga hal: ukuran kekuatan lawan, nama kekuatan yang lebih tinggi, dan satu cara mencegah kemenangan di arena berubah menjadi pengejaran baru.
Sore hari, ia turun dari ojek di sebuah showroom mobil bekas pinggiran Surabaya. Di antara kendaraan yang catnya masih mengilap, sebuah Toyota Corona tua berdiri dengan warna abu-abu kusam dan bemper yang pernah diperbaiki.
Harganya Rp8 juta.
Penjual berusaha menjelaskan bahwa pendingin udara kadang harus dipukul agar menyala. Bima justru membuka kap mesin, memeriksa kebocoran, nomor rangka, nomor mesin, kondisi rem, ban, lampu, dan suara transmisi saat uji jalan.
"BPKB dan STNK asli?" tanyanya.
"Ada. Pajaknya terlambat satu tahun."
"Kita cocokkan identitas pemilik, buat kuitansi bermeterai, dan mulai proses balik nama di Samsat. Tunggakan dipotong dari harga."
Setelah tawar-menawar singkat, penjual setuju menanggung tunggakan dan biaya pemeriksaan awal. Bima mentransfer Rp8 juta dari rekening bonus. Ia menerima kuitansi, salinan identitas penjual, BPKB, STNK, dan surat kuasa terbatas untuk proses balik nama. Perpindahan kepemilikan belum selesai hari itu, tetapi jalurnya jelas dan semua dokumen cocok.
Mesinnya bergetar saat dinyalakan.
Namun mobil itu bergerak dengan tenaganya sendiri.
Malamnya, Toyota tua tersebut berhenti di depan rumah Anindya. Bima turun membawa ayam, sayur, bawang, dan satu kantong bumbu.
Anindya membuka pintu, memandang mobil, lalu dirinya. "Bonus seratus juta dipakai membeli benda itu?"
"Hanya delapan juta. Sisanya aman."
"Aku tidak yakin mobilnya aman."
"Aku sudah cek rem. Untuk AC, kita berdoa."
Anindya akhirnya tertawa. Ketegangan sejak telepon semalam sedikit mengendur.
Mereka memasak di dapur kecil. Anindya mengiris bawang, sementara Bima menumis bumbu. Bau serai dan kecap memenuhi ruangan. Ketika Bima menambahkan sedikit gula aren, tangan Anindya berhenti.
"Mama dulu memasak seperti itu," katanya. "Papa selalu protes terlalu manis, tapi tetap menghabiskan dua piring."
Ia tersenyum pada kenangan itu. Air matanya jatuh sebelum ia sempat mengusapnya.
Bima mematikan api. Ia tidak menyuruh Anindya berhenti menangis dan tidak menawarkan kalimat bahwa semua akan baik-baik saja.
Anindya melangkah mendekat lalu memeluknya. Kedua lengannya mengikat pinggang Bima erat, seolah sentuhan itu satu-satunya cara memastikan orang di depannya masih hidup.
Bima membalas pelukan tersebut dengan satu tangan di punggungnya.
"Pulang," bisik Anindya. "Apa pun yang terjadi, pulang."
"Aku sudah berjanji."
Di jalan seberang, sebuah mobil melambat. Gita baru selesai menemui pemasok di kawasan itu. Dari balik kaca, ia melihat Toyota tua di depan rumah, siluet Bima di dapur terbuka, dan Anindya yang masih memeluknya.
Gita tidak berhenti.
Namun wajahnya kehilangan sisa senyum sepanjang perjalanan pulang.
Ponsel Bima bergetar di meja dapur.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.
Besok pagi jam sepuluh, Klub Anggar Rajawali. Jangan sampai kau kabur. - Darman.