Gerry Putera Tanuwijaya seorang pengusaha sukses dan kaya harus menelan pil pahit saat perusahaannya dinyatakan bangkrut akibat ulah Om dan Tantenya yang ingin menguasai kekayaan Gerry. Bahkan Gerry mengalami kecelakaan wajahnya hancur dan harus menjalani operasi plastik.
Rubi Caesa Gilbert wanita cantik nan sexi, dia merupakan seorang pengusaha muda yang sukses. Kehidupannya tidak tenang saat Kakak dan Mama tirinya berusaha untuk membunuh Rubi.
Pertemuan yang tidak disengaja antara Rubi dan Gerry, membuat mereka terikat satu sama lain. Rubi membutuhkan bodyguard untuk melindungi dirinya sementara Gerry membutuhkan uang untuk menjalani hidupnya.
Akankah tumbuh cinta diantara mereka? sedangkan Rubi saat ini menutup rapat hatinya untuk seorang pria dan tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
💰
💰
💰
💰
💰
Cukup lama Rubby dan Gerry berpelukkan, membuat Pak Rinto tersenyum dan memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Rubby sudah sedikit tenang dan dia pun melonggarkan pelukkannya.
"Maaf, gu--gue---pergi dulu," ucap Rubby gugup.
Rubby berlari ke kamarnya, sesampainya di kamar lagi-lagi Rubby memegang dadanya, jantungnya kembali berdetak tak karuan.
"Ada apa dengan jantung gue, kenapa lagi-lagi begini," gumam Rubby.
Sedangkan Gerry tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan kembali menghampiri Kiting dan Shifu Shen-shen.
Tidak lama kemudian, mereka pun selesai latihan dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan badannya. Hari ini adalah hari sabtu jadi Rubby tidak berangkat ke Kantor karena libur.
Rubby masuk ke dalam kamar Papanya...
"Pa, apa Papa baik-baik saja?" tanya Rubby.
Papa Robby menganggukkan kepalanya, matanya tampak berkaca-kaca melihat puteri satu-satunya harus menanggung beban di pundaknya yang begitu berat.
"Pa---pa."
"Kenapa Pa? apa Papa ingin mengatakan sesuatu?"
Papa menganggukkan kepalanya lagi, karena Papanya sulit untuk berbicara akhirnya Rubby mengambil sebuah kertas dan bolpoint untuk Papanya menulis.
"Papa bisa menulisnya disini."
Dengan tangan yang bergetar dan sangat lama, Papanya Rubby menuliskan sesuatu di kertas itu, walaupun sangat lama tapi Rubby dengan setia menunggu Papanya sampai selesai.
Hingga setelah lumayan lama menunggu, akhirnya Papa Rubby selesai menulis walaupun tulisannya acak-acakkan tapi Rubby masih bisa membacanya.
"Mama kamu di bunuh."
Itulah tulisan yang berhasil Rubby baca, tubuh Rubby kembali bergetar, Rubby menatap Papanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Si--siapa yang sudah membunuh Mama? bukannya Mama meninggal saat melahirkan Rubby, Pa?" tanya Rubby tidak percaya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata Pak Rinto masuk.
"Pak Rinto, tolong jelaskan semuanya kepada saya, sebenarnya Mama meninggal kenapa?" tanya Rubby.
Pak Rinto menoleh ke arah Papa Robby dan Papa Robby pun menganggukkan kepalanya tanda menyetujui untuk Pak Rinto menjelaskannya.
"Nyonya meninggal karena beliau dibunuh, Nona. Ada yang sengaja mencampur makanan Nyonya dengan sianida tapi setelah di selidiki sampai saat ini kami belum bisa menemukan pelakunya," jelas Pak Rinto.
Rubby mundur satu langkah dan menutup mulutnya dengan deraian airmata.
"Siapa yang tega membunuh Mama? apa semua ini ada hubungannya dengan Yulia dan Juan?" tanya Rubby dengan bibir bergetar.
"Saya belum tahu Nona, orang suruhan kita saja belum bisa menemukan siapa pembunuhnya, sepertinya orang itu sangat rapi dalam bertindak, tidak ada sidik jari sama sekali."
"Sial."
Rubby mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya, kali ini dia harus menemui seseorang, dengan langkah cepat Rubby menuruni anak tangga bahkan Gerry, Kiting, dan Tuan Shen-shen yang sedang sarapan sangat terkejut dengan raut wajah Rubby yang terlihat sangat penuh dengan emosi.
Pak Rinto berlari dari atas membuat semuanya menoleh.
"Tolong, kejar Nona Rubby," teriak Pak Rinto.
"Ah sial."
Gerry dan Kiting mengejar Rubby tapi sayang Rubby sudah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Rubby tunggu," teriak Gerry.
"Gerry pakai mobil satunya lagi," seru Pak Rinto dengan melemparkan kunci mobil dan Gerry dengan sigap menangkapnya.
"Masuk Ting, biar gue yang bawa mobilnya."
"Ok."
Gerry dan Kiting pun segera masuk ke dalam mobil dan mereka pun langsung menyusul Rubby. Beruntung mereka bisa mengejar mobil Rubby.
"Ya ampun, dia mau kemana? kenapa dia tidak mengajak kita?" seru Gerry.
"Pepet mobilnya Ger."
"Susah Ting, dia mengendarai mobilnya seperti orang gila."
Setelah sekian lama saling kejar-kejaran, Rubby berhenti di sebuah tempat permainan golf membuat Gerry dan Kiting mengerutkan keningnya dan saling pandang satu sama lain.
"Ngapain Bos cantik kesini? ini kan tempat golf, apa dia mau bermain golf?" tanya Kiting.
"Ini tempat permainan golf para kelas kakap Ting, kita tidak bisa sembarangan masuk karena yang boleh masuk hanya member tetap saja," sahut Gerry.
"Kok lo tahu?"
"Hah...ah itu anu, tempat golf ini terkenal Ting jadi gue tahu," sahut Gerry gugup.
"Oh begitu."
"Bagaimana ini gue khawatir banget, siapa sebenarnya yang mau dia temui disini?" gumam Gerry.
Sedangkan Rubby dengan cepat memperlihatkan kartu membernya sehingga dengan mudah dia bisa masuk. Sesampainya di dalam, Rubby celingukkan mencari seseorang sampai pada akhirnya Rubby menemukan orang itu sedang berbincang dengan rekan pengusahanya.
Rubby dengan cepat menghampirinya dan berdiri tepat di depan Juan. Ya, ternyata orang yang di temui Rubby adalah Juan.
"Wow..baby, suatu kejutan kamu datang kesini," seru Juan beranjak dari duduknya hendak memeluk Rubby tapi Rubby mundur untuk menghindarinya.
"Bisa kita bicara sebentar," seru Rubby dingin.
"Bisa dong cantik dengan senang hati, maaf semuanya saya tinggal dulu."
Juan pun pergi bersama Rubby dan keluar dari arena golf itu. Gerry sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Ger, itu bukannya pria yang di restoran tempo hari," seru Kiting.
"Iya dia Juan, Kakak tirinya Rubby tapi dia sangat terobsesi dengan Rubby."
"Kok lo tahu?"
"Penjelasan Shifu Shen-shen semalam menguatkan kecurigaan gue, kalau memang benar Rubby adalah puterinya Robby Gilbert."
"Come on baby, kita bicara di restoran saja jangan disini."
"Enggak, gue cuma mau nanya sama lo, apa lo sama Yulia ada hubungannya dengan kematian Mama gue?" tanya Rubby.
"Oh jadi kamu sudah tahu kalau Mama kamu meninggal karena dibunuh?" seru Juan dengan senyuman santainya.
"Pasti lo dan Mama lo kan yang sudah membunuh Mama gue," bentak Rubby.
"Wow calm down baby, kalau kami yang membunuh Mama kamu, kami sudah membusuk di penjara puluhan tahun silam tapi buktinya mana, kami masih berkeliaran dengan bebas," sahut Juan dengan santainya.
"Itu karena lo dan Mama lo bisa membeli hukum, apa yang ga bisa kalian lakukan pasti kalian sudah membungkam kepolisian kan?" bentak Rubby kembali.
Juan mencengkram lengan Rubby dengan sangat kerasnya membuat Rubby meringis kesakitan.
"Jaga mulut kamu Rubby, jangan sembarangan menuduh orang sebelum ada buktinya, coba bawa buktinya dulu ke hadapanku baru kamu nuduh kami."
"Gue bakalan cari buktinya, dan gue yakin pelakunya adalah kalian," seru Rubby dengan mata yang memerah menahan tangisannya.
Rubby menghempaskan tangan Juan dan hendak melangkahkan kakinya menuju mobil dia tapi Juan menarik tangannya.
"Mau kemana baby, siapa suruh kamu masuk ke dalam lubang buaya, kamu sudah mengantarkan diri kamu sendiri kepadaku jadi sekarang kamu harus ikut denganku."
Juan menarik tangan Rubby dan memaksa Rubby untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Lepasin gue," teriak Rubby.
"Wah..wah..wah..Bos cantik mau dibawa kemana tuh," seru Kiting.
"Ga bisa dibiarin."
Gerry segera turun dari mobilnya dan Kiting pun ikut turun juga.
"Woi lepaskan Bos kami," teriak Gerry.
Juan dan Rubby menoleh bersamaan.
"Gerry..Kiting..." gumam Rubby.
"Urus dua tikus kecil itu," seru Juan kepada anak buahnya.
"Baik Tuan."
Lima orang berpakaian serba hitam langsung menghadang Gerry dan Kiting, sementara Juan langsung membawa Rubby pergi meninggalkan mereka.
"Ah sial," gerutu Gerry.
Akhirnya terjadi perkelahian antara mereka semua, pikiran Gerry sangat tidak tenang takut terjadi kenapa-napa kepada Rubby. Gerry dan Kiting sama sekali tidak bisa mengimbangi anak buah Juan, mereka sama sekali tidak merasa kesakitan saat Gerry dan Kiting menghantamnya berulang-ulang.
"Ting, kita tidak mungkin menang melawan mereka tenaga mereka sangat kuat, dalam hitungan ketiga lo bawa mobil Rubby dan gue bawa mobil yang satunya lagi," seru Gerry.
"Ok..."
"Satu..dua...tiga...masuk Ting," teriak Gerry.
Gerry dan Kiting langsung masuk ke dalam mobil dan menancabkan gas mobilnya, sehingga membuat anak buah Juan merasa terkejut dan tidak bisa mengejar mereka.
Gerry dan Kiting terus saja mencari keberadaan mobil Juan tapi nihil, mereka sudah ketinggalan jauh dan tidak ada jejaknya sama sekali.
Sementara itu Juan membawa Rubby ke sebuah hotel, sesampainya di hotel Juan langsung menarik Rubby dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar.
Juan langsung membuka pintu kamar hotelnya dan memaksa Rubby untuk masuk.
"Lepasin gue Juan, lo jangan macam-macam," bentak Rubby.
Juan tidak mendengarkan teriakan Rubby, Juan menghempaskan tubuh Rubby ke atas tempat tidur, Rubby mulai mundur dan waspada.
"Mau ngapain lo?" bentak Rubby.
"Rubby..Rubby..kamu semakin cantik kalau sedang marah seperti itu, kamu tahu kan kalau dari dulu aku sangat menginginkanmu, semakin kamu bertindak kasar, semakin aku menyukaimu dan menginginkanmu," sahut Juan dengan senyumannya.
"Lo jangan macam-macam, dasar orang gila lo masih belum sadar kalau gue itu adik lo."
"Hahaha...adik? aku tidak punya adik, lagipula kita tidak ada hubungan darah sama sekali jadi sah-sah saja kalau aku menginginkanmu."
Rubby segera bangkit dari tempat tidurnya dan hendak melarikan diri tapi dengan sigap Juan menangkapnya dan menghempaskan kembali tubuh Rubby ke atas tempat tidur.
"Semakin kamu berontak, semakin kamu membuatku bergairah baby."
Juan langsung mendekap tubuh Rubby.
"Lepasin gue brengsek."
"Kenapa kamu begitu kasar Rubby, semua wanita tidak ada yang menolak Juan Rahman tapi kenapa kamu menolakku bahkan aku sentuh pun kamu tidak mau, seharusnya kamu bangga karena hanya kepada dirimu, aku sampai gila mengejar-ngejar seorang wanita."
Juan mulai menciumi leher Rubby, Rubby terus berontak sekuat tenaga tanpa terasa airmata Rubby menetes.
"Lepasin gue, gue mohon," ucap Rubby dengan deraian airmata.
"No, jangan menangis baby aku tidak akan menyakitimu, tubuhmu harum sekali membuat aku semakin berhasrat kepadamu."
"Tolong lepasin gue, Gerry tolongin gue," teriak Rubby.
Gerry menghentikan mobilnya di pinghir jlaan, begitu pun Kiting yang menghentikan mobil Rubby setelah melihat mobil yang di kendarai Gerry berhenti.
"Kita harus cari Rubby kemana?" tanya Gerry.
"Gue juga ga tahu Ger."
"Gue yakin saat ini Rubby berada dalam bahaya, ah sial..sial..sial," seru Gerry dengan menendang ban mobilnya.
Tapi disaat kecemasan melanda mereka, tiba-tiba Kiting ingat sesuatu.
"Tunggu Ger, bukannya ponsel kita di pasangi pelacak ya sama Bos cantik? berarti kita juga bisa tahu dong dimana Bos cantik berada," seru Kiting.
"Astaga kenapa gue sampai lupa."
Gerry dan Kiting melihat ponselnya masing-masing, dan seketika mereka saling pandang.
"Hotel Delima," sahut keduanya.
"Brengsek, dia mau ngapain Rubby."
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil masing-masing menuju Hotel Delima, Perasaan Gerry semakin tidak enak.
"Tunggu Rubby, gue bakalan segera nolongin lo," gumam Gerry.
Tidak lama kemudian, Gerry dan Kiting pun sampai di Hotel Delima. Gerry segera masuk dan menanyakan tentang keberadaan Juan.
"Maaf Mas, kami tidak bisa memberitahukan tentang keberadaan tamu tanpa izin, itu melanggar peraturan," seru resepsionis.
"Kamu mau tanggung jawab kalau Bos aku kenapa-napa?" bentak Gerry.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria.
"Ini Pak, Mas ini memaksa meminta nomor hotel tamu kita, saya sudah jelaskan kalau kita tidak bisa memberitahukannya karena itu sudah peraturan hotel apalagi tamu itu tamu VIP."
"Maaf Mas, memang itu sudah menjadi peraturan hotel kami tidak boleh melanggarnya," seru pria itu yang merupakan manager hotel.
"Apa anda akan tanggung jawab kalau Bos kami sampai kenapa-napa? saat ini Bos kami dalam bahaya, kalau sampai terjadi kenapa-napa dengan Bos kami, kalian orang pertama yang akan menanggung akibatnya," ancam Gerry.
Pria dan wanita itu tampak terkejut...
"Tapi Mas kami takut atasan kami marah."
"Saya yang akan tanggung jawab kepada atasan kalian kalau sampai terjadi sesuatu kepada kalian, ini menyangkut nyawa orang."
"Baiklah Mas, mari ikut saya."
Gerry dan Kiting pun mengikuti pria itu dari belakang.
Sedangkan di kamar hotel, Rubby sudah sangat kehabisan tenaga melawan Juan, airmatanya sudah mengalir begitu deras bahkan saat ini pakaian Rubby bagian atas sudah sobek akibat kebrutalan Juan.
"Lepasin gue," lirih Rubby.
Gerry, Kiting, dan pria yang merupakan manager hotel itu sampai di depan kamar yang di sewa oleh Juan.
"Ini Mas kamarnya."
"Tolong buka."
Pria itu langsung membuka pintu kamar Juan, Gerry sudah tidak sabar dan langsung masuk, terdengar suara lirih dan tangisan wanita dari dalam kamar.
"Rubby."
Gerry langsung mendobrak pintu itu, dan betapa terkejutnya Gerry saat melihat keadaan Rubby yang sudah sangat menyedihkan dan masih berontak walaupun tenaganya sudah habis.
"B******* lo Juan," teriak Gerry.
Buggghhh...buggghh...buggghhh...
Gerry langsung memukul Juan dengan membabi buta sehingga Juan tersungkur di lantai.
"Sudah Ger, biar dia gue yang urus lo urus saja Bos cantik," seru Kiting.
Dilihatnya Rubby meringkuk di tepian tempat tidur dengan menyilangkan kedua tangannya di dada karena bagian atas tubuh Rubby sudah sangat terexfose. Gerry melepaskan jaketnya dan menutupi bagian tubuh Rubby.
"Lo tidak apa-apa kan?" tanya Gerry.
Rubby menggelengkan kepalanya dan langsung memeluk Gerry dengan sangat erat.
"Gue takut Ger."
"Lo tenang saja, sekarang gue sudah ada disini maaf gue telat datang."
Kiting memukul Juan sampai Juan babak belur dan langsung menyerahkan Juan kepada sequrity yang sudah datang karena di panggil oleh pria yang merupakan manager hotel itu.
"Kita pulang sekarang."
Rubby menganggukkan kepalanya, Gerry langsung mengangkat tubuh Rubby, dia tidak tega melihat keadaan Rubby bahkan saat ini tubuh Rubby bergetar hebat. Rubby mengalungkan tangannya ke leher Gerry, Rubby menatap Gerry dengan deraian airmatanya, Gerry pun membalas tatapan Rubby, sesaat mereka saling tatap satu sama lain hingga akhirnya Gerry cepat-cepat memalingkan wajahnya dia takut kalau lama-lama memandang Rubby, dia akan jatuh cinta kepada Bosnya itu.
💰
💰
💰
💰
💰
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Mantap