Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Dayat
Kulihat Kiran langsung tertidur lelap, begitu aku mengajaknya beristirahat, karna memang tak ada acara yang menarik untuk ditonton, sebenarnya aku mengajaknya masuk kamar juga karna ingin berunding, sekiranya kemana tempat yang ingin dia kunjungi untuk waktu bulan madu nantinya.
Tapi sepertinya Kiran benar-benar cape, aku juga tidak tega untuk membangunkannya.
Kubiarkan saja Kiran beristirahat, besok baru kuajak untuk berunding.
Kebetulan wajah Kiran tengah menghadap kearahku, membuatku leluasa melihat paras wajahnya yang ayu, Kiran memiliki kulit kuning langsat khas orang jawa, bibir yang tipis, hidung sedikit bangir, bulu mata lentik dan alis tebal tapi tersusun rapi, membuatku selalu terpesona.
Begitu indah makhluk tuhan yang satu ini.
Entah kenapa wajahnya selalu berhasil memikatku, membuatku gemas bila melihatnya terlalu lama.
Kukecup keningnya dengan perlahan, agar dia tak sampai terbangun.
Kurebahkan diriku menghadap langit-langit kamar, kulipat kedua tangan dibawah kepala kujadikan sebagai bantalan.
Lamunanku mulai melayang pada awal pertemuan kami dulu.
Sebetulnya dulu secara tak sengaja aku dan Kiran bertemu dicafe tempatnya mengais rejeki.
Pertama kali melihatnya, entah mengapa perasaanku langsung berdetak tak karuan, aku langsung merasa cocok, sejak itu aku mulai intens menemui Kiran disana, yang kusukai Kiran juga bukanlah tipe wanita yang sukar didekati, meski yang kudengar dia sedikit selektif dalam berhubungan dengan seorang pria, entah kenapa denganku Kiran terlihat begitu terbuka.
Bahkan saking seringnya aku kesana, aku sampai didapuk sebagai pelanggan tetap oleh para pegawai restauran dan juga pemiliknya, kami akrab layaknya saudara sendiri.
Padahal dulu pertama kali aku bertemu Kiran, aku masih belum bisa move on dari mantan kekasihku bernama Nurma.
***
Sedikit kisah tentang hubunganku dengan Nurma :
Dulu tanpa berkata apapun Nurma pergi meninggalkanku begitu saja ke negara tetangga Malaysia dan menjadi tkw disana, saat itu aku sampai kelimpungan dibuatnya, padahal orang tuaku dulu sudah sangat menyukainya, dan berniat menjadikan Nurma sebagai calon menantunya.
Pertemuan terakhirku dengan Nurma, dia juga tak mengatakan apapun, semua berjalan normal seperti biasanya.
Hanya yang sedikit membuatku merasa aneh adalah ketika kami berada ditaman tempat kami pertama jadian dulu, Nurma tak mau ketika berulang kali kuajak pulang setelah seharian disana, dia selalu beralasan masih betah dan masih ingin bersamaku lebih lama, entah apa maksud perkataannya.
Bahkan ketika ada pemberitahuan dari petugas yang menjaga taman bahwa pengunjung diharuskan keluar dari taman karna taman akan segera ditutup pun, Nurma seolah cuek saja, malah menyuruhku bersembunyi dibalik pohon yang cukup besar, aku menuruti kemauannya saja, toh aku juga masih ingin berlama-lama berkencan dengan Nurma, apalagi Nurma sendiri yang memintanya.
Jarang Nurma seperti itu, biasanya dia selalu memintaku mengantarnya pulang tepat waktu karna takut dicari orang tuanya, kami terus bersembunyi dibalik pohon tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, setelah suasana terasa sunyi baru kami keluar dari tempat persembunyian ,rupanya memang hanya menyisakan kami berdua ditaman itu, sedang pengunjung lain sudah pada pulang.
Petugas yang berjaga juga sepertinya mengira semua orang sudah keluar dari taman, tanpa mengeceknya sekali lagi, petugas langsung mengunci pintu gerbang dengan gembok besar.
Keadaan begitu sepi, tapi kulihat Nurma tidak merasa takut sedikit pun, dia tiba-tiba memelukku begitu erat.
Aku kaget sekaligus senang, kubalas pelukan Nurma.
"Kamu kenapa Nur, apakah kamu merasa kedinginan sampai memeluk mas begini? Nur mau pake jaket mamas?"
Namun nurma hanya menggeleng.
" Nur baik-baik saja kok mas".
Aku hanya mengangguk-angguk.
Kulepas pelukan Nurma yang begitu erat memelukku, kuraih kedua tangannya, dan aku berjanji akan selalu ada untuk Nurma, kapanpun dia membutuhkanku.
Nurma kembali memelukku, kali ini semakin erat kurasakan seolah tak ingin berpisah dariku. Aneh sekali.
Setelah puas memelukku Nurma baru menyuruhku mengantarnya pulang.
Berhubung pintu gerbang sudah terkunci dari luar, terpaksa kami memanjat tembok taman untuk bisa keluar, untung saja tembok taman tidaklah begitu tinggi jadi kami bisa dengan leluasa keluar dengan mudah.
Ketika hampir tiba dirumah Nurma, dia kembali bertingkah aneh, Nurma berkata bahwa dia lapar dan ingin makan sesuatu yang berkuah, bakso misalnya.
Aku menolak keinginan Nurma, dan menasehatinya bahwa hari sudah larut malam, besok saja baru kuajak lagi dia berkencan, dan membeli apapun yang dia mau, apalagi sebelum ketaman tadi Nurma juga sudah kuajak makan malam terlebih dahulu.
Tapi entahlah sikapnya malam ini lain dari biasanya.
Saat kutolak ajakannya Nurma terlihat cemberut, mau tak mau kuiyakan kemauannya, dan tak lupa kuingatkan setelah ini, dia harus mau masuk kerumah dan beristirahat, aku sendiri juga tak enak kalau membuat orang tua Nurma khawatir menunggu putri sulungnya tak kunjung pulang, takut mereka berpikir macam-macam.
Nurma mengangguk perlahan.
Itulah terakhir kami bersama.
Kesibukan dimall membuatku tak bisa bertemu Nurma setelah hari itu.
Kami hanya sesekali berbalas pesan lewat aplikasi hijau.
Sampai satu minggu berlalu ketika aku tengah sibuk mengurus beberapa laporan.
Teman Nurma seorang wanita menghampiriku katanya tak tau kenapa Nurma susah untuk dihubungi.
Aku hanya berkata mungkin Nurma tengah sibuk tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga.
Aku hanya mencoba mengirim pesan singkat saja sekedar bertanya sedang apa, namun hanya centang satu tertanda nomor Nurma tengah tidak aktif, aku masih tak ambil pusing.
Sampai ku dapat kabar bahwa Nurma tak lagi berada diindonesia, membuatku tak percaya.
Perasaanku bergejolak dan hati kecilku berkata bagaimana mungkin?
Aku tau hal tersebut juga dari temanku Haikal, dia yang mengabariku kalau Nurma dipaksa orang tuanya untuk merantau kesana, orang tua Nurma berharap, Nurma bisa merubah keadaan keluarganya dikampung, agar ekonomi mereka bisa jadi lebih baik.
Saat itu aku hanya bisa tercengang dengan rasa tak percaya, sekali lagi egoku menolak, bagaimana mungkin hal sebesar itu Nurma tak bercerita apa-apa padaku, sekedar pamit mengucap kata perpisahan pun tak dia lontarkan saat pertemuan terakhir kami.
Nasi sudah menjadi bubur, segala tanya dalam otakku hanya bisa kusimpan saja.
Toh aku juga tak bisa berbuat apa-apa.
Nurma adalah teman masa kecilku, juga cinta pertamaku, kami sedari kecil sampai memasuki usia remaja selalu bersekolah disekolah yang sama, hanya setelah kami lulus smk, aku melanjutkan kuliah, sedang dia tidak.
Orang tuaku tak begitu mempermasalahkan hal tersebut, karna mereka memang menyukai Nurma sejak lama, apalagi kami memang tumbuh besar bersama, tentu baik keluargaku maupun keluarga Nurma sudah hafal betul tabiat kami berdua dan berharap kami bisa jadi sepasang suami istri kelak, apalagi memang keluarga kami masing-masing sudah lama sekali saling mengenal.
Dua tahun berlalu, aku masih terus menunggu kepulangan Nurma, aku juga tak hentinya mencari sosoknya yang begitu kurindu, aku terus mencari kabar dari teman-teman sekolahku mengenai apapun yang berkaitan dengan Nurma.
Sampai suatu hari kudengar Nurma akan menikah dengan orang lain.
Kenyataan pahit itu mesti kutelan mentah-mentah, nyatanya undangan pernikahannya sampai pula dirumah kedua orang tuaku.
Nurma sendiri yang mengantarkannya, ketika orang tuaku bertanya tentang bagaimana hubungannya denganku, Nurma menganggap hubungan kami telah usai sejak keberangkatannya ke Malaysia.
Juga karna baginya aku tak peduli lagi padanya, dan tak pernah sekalipun menghubunginya ketika dia berada disana.
Padahal tanpa Nurma tau, aku terus mencoba menghubungi dia dari nomor telepon terakhir yang kupunya, tapi tak pernah tersambung, Nurma juga tak pernah mengabariku kalau nomor yang dia pakai sudah ganti begitu tiba disana.
Itu yang membuatku susah berkomunikasi dengannya, apalagi tak seorangpun dari teman Nurma yang kukenal memiliki kontak teleponnya membuatku semakin sulit mengetahui keadaan dia disana.
Aku juga sudah pernah sekali minta pada orang tua Nurma, tapi tak diberi, mungkin mereka takut Nurma jadi tak betah dan akhirnya pulang kembali ke Indonesia.
Akhirnya mulai saat itu aku hanya pasrah saja, tapi juga tetap berusaha mencari nomor telepon Nurma yang bisa kuhubungi, tapi hasilnya selalu nihil.
Suatu kali, aku mencoba bertandang kerumah kedua orang tua Nurma, untuk menyambung silaturahmi, juga menanyakan kabar putrinya.
Tapi saat itu, orang tuanya juga tak tahu keadaan Nurma, menurut mereka sudah setengah tahun lebih Nurma tak pernah lagi menghubungi mereka.
Orang tuanya masih menyambutku dengan baik seperti sedia kala.
Saat itu untuk mengobati rasa penasaranku, kuminta orang tuanya untuk menelepon Nurma saat itu juga, barangkali Nurma tengah senggang dan mau mengangkat panggilan dari keluarganya, juga agar aku tau kalau keluarganya sedang tidak membohongiku.
Tapi rupanya orang tuanya berkata benar, sekian kali mereka mencoba menelepon Nurma dengan nomor yang mereka tau, memakai hapeku tapi tak pernah tersambung.
Selalu jawaban operator yang kami dapat.
Itulah kunjungan terakhirku kekediaman keluarga Nurma.
Aku mulai menyibukkan diri dalam pekerjaan, meski sesekali kubuka galeri hapeku dan melihat foto kenanganku dengan Nurma bila rindu ini mulai merasuk kehati.
Seperti gila rasanya saat itu, aku tak hentinya berharap waktu berputar kembali kemasalalu, masa dimana aku dan Nurma masih bersama.
Orang tuaku sangat mengetahui bagaimana aku kehilangan sosok Nurma, karna membawa banyak perubahan pada diriku, aku mulai menjadi pribadi pendiam dan tertutup pada orang tuaku, terutama Ibu.
Saat Nurma datang, Ibu menjelaskan bagaimana perjuanganku menunggunya selama ini, perubahan apa saja yang terjadi pada diriku, tapi sepertinya penjelasan Ibu hanya sia-sia saja.
Nurma tetap memilih menikah dengan calonnya saat ini, bagaimanapun undangan juga telah tersebar, Nurma tak mungkin mau bertindak bodoh dan membuat malu seluruh anggota keluarganya.
Nurma meminta maaf, bila selama ini telah menyusahkan keluarga kami.
Sebelum dia pamit pulang kembali kerumahnya, Nurma juga titip pesan pada Ibu, agar menyampaikannya padaku saat aku sudah pulang kerumah, dia memintaku untuk menjaga diriku baik-baik, dan berharap aku juga mendapat wanita yang baik untuk jadi pendamping hidupku kelak.
Nurma juga berkata bila berjodoh, kami kelak pasti akan bersatu jua sesuai dengan jalan yang ditentukan tuhan.
Ibu berkata bahwa Nurma yang sekarang semakin terlihat cantik dan dewasa.
Orang tuaku tentu amat terpukul dengan menikahnya Nurma bersama pria lain, terutama Ibu, merasa kehilangan menantu idamannya.
Sejak saat itu pula Ibu mulai berubah, Ibu mulai melihat bibit, bebet dan bobot dalam mencari pasangan yang cocok untukku, Ibu tak lagi mau kecolongan seperti saat berharap Nurma menjadi istriku.
Ibu merasa begitu dibodohi, dan mulai berpikir bahwa status pendidikan mempengaruhi kualitas hidup seseorang.
Ibu juga menganggap lulusan smk tak dapat disandingkan dengan sarjana, padahal sebenarnya kedua hal tersebut tak ada hubungannya.
Ibu hanya mencari obyek pelampiasan, karna seorang wanita dengan lulusan setara smk telah berani menyakiti hati putra tercintanya ini.
Padahal aku tau jauh dilubuk hati Ibu, Ibu masih sangat berharap Nurma bisa menjadi menantunya kelak.
Bahkan ketika kubawa Kiran pertama kali bertemu Ibu, awalnya Ibu menyambut dengan hangat, tapi ketika tau latar belakang pendidikan terakhir Kiran dan pekerjaan Abah yang hanya bertani, Ibu mulai memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Kiran.
Sepertinya saat itu pula Kiran tau bahwa Ibu tak menyukainya, tapi aku terus mencoba membuat dalih bahwa itu hanya perasaanya saja.
Tentu saja, intuisi wanita lebih tajam.
Tapi demi diriku, Kiran mau bertahan dalam ketidakpastian selama 5 tahun.
Yang pada akhirnya suatu hari hal tersebut jadi pemicu kemarahan Kiran, baru kali itu kulihat Kiran begitu marah, dia juga mungkin cape dan bosan dengan hubungan kami yang itu-itu saja, malam itu jadi pertengkaran paling hebat saat itu diantara kami.
Saat itu pula aku merasa takut kehilangan sosok Kiran dari hidupku, karna bagaimanapun Kiran yang membuatku bangkit setelah terpuruk begitu lama, Kiran juga yang mampu membuatku terasa hidup kembali.
Maka dari itu aku memintanya memberikanku kesempatan sekali lagi, aku juga berjanji untuk segera memperjelas hubungan kami.
Untung saja Kiran mau memberikan kesempatan terakhir buatku, mulai saat itu pula aku gunakan dengan sebaik mungkin, tentu yang utama aku harus berhasil meyakinkan Ibu bahwa Kiran adalah jodohku.
Awalnya sukar membuat Ibu menerima Kiran sebagai menantunya, tapi aku terus memaksa bahkan mengancam akan kawin lari saja bila Ibu masih saja kekeh dengan pendiriannya.
Mendengar ucapaku mau tak mau Ibu akhirnya mengalah.
Sebenarnya Kiran dari awal tak salah, akulah memang yang menjadi faktor utamanya. Tanpa Kiran tau, aku masih sering memikirkan Nurma cinta pertamaku bahkan sampai saat ini.
Perasaan inilah yang sering membuatku merasa bersalah pada Kiran, apalagi setelah resmi menikah, bayangan Nurma masih sering kali terlintas, meski selalu kutepis, tapi tetap saja tak mudah dihilangkan.
Dengan pernikahanku dengan Kiran pula, aku berharap bisa menghapus segala rasaku pada Nurma dan hanya tersisa Kiran saja yang terpatri dihatiku.
Dan hebatnya Kiran ku mau menerima segala kekuranganku, tak sekalipun dia menuntut aku meski begini atau begitu, dia juga tak pernah bertanya atau mengungkit mengenai masalaluku.
Aku sendiri tak pernah sedikitpun membahas sosok Nurma pada Kiran.
Puas mengenang masalalu, aku seperti ditarik kembali kekehidupan saat ini.
Kulihat Kiran istriku juga masih tertidur pulas disampingku.
Rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku, berulangkali pula aku menguap menahan kantuk, tak bertahan lama perlahan aku juga ikut tertidur pulas sembari memeluk pinggang Kiran yang ramping.
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg