NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bab 19: Lembaran Baru di Bawah Atap Sederhana

Desiran angin malam berhembus pelan menyapu jalanan aspal kota yang mulai lengang. Di sebuah sudut kawasan perumahan padat penduduk yang terletak agak jauh dari pusat kota, sebuah rumah petak kecil dengan dinding bercat putih kusam tampak berdiri tenang di bawah temaram lampu jalan. Suasana di dalam rumah itu terasa begitu hangat, kontras dengan kemewahan dingin yang biasa melingkupi kehidupan Rangga Dewantara Aldebaran semasa ia masih tinggal di bawah atap istana megah milik keluarganya.

Rangga duduk di atas kursi kayu tua di ruang tamu sempit tersebut. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos, sementara jaket kulit kesayangannya tersampir rapi di sandaran kursi. Lengan kanan atasnya yang sempat terluka tusuk kini sudah jauh membaik, meskipun gerakan kecil masih menyisakan sedikit rasa ngilu di balik perban putih bersih yang diganti secara rutin.

Keputusan besar yang diambilnya kemarin malam bukanlah perkara mudah. Menanggalkan seluruh status sosial, membuang fasilitas kartu kredit tanpa batas, serta meninggalkan nama besar keluarga Aldebaran membuat Rangga resmi berdiri sepenuhnya di atas kakinya sendiri. Tidak ada lagi fasilitas mewah, tidak ada lagi pengawalan supir pribadi, dan tidak ada lagi bayang-bayang kekuasaan sang ayah yang mendikte setiap langkah hidupnya.

Tok... tok... tok...

Ketukan pelan di pintu depan memecah keheningan malam. Rangga bangkit dari duduknya, melangkah pelan menuju pintu utama, lalu membukanya.

Di ambang pintu, berdiri sosok gadis dengan membawa sebuah rantang plastik berisi makanan hangat di tangan kanannya. Senyuman tipis yang manis langsung tersungging di bibir Keisha Zahra Aurellia begitu melihat sosok Rangga menyambutnya di balik pintu rumah sewaan tersebut.

"Kak Rangga... belum tidur?" sapa Keisha lembut, melangkah masuk ke dalam rumah begitu Rangga membukakan jalan untuknya.

Rangga menutup kembali pintu kayu tersebut, lalu mengambil rantang dari tangan Keisha dan meletakannya di atas meja kayu kecil di ruang tamu. "Belum, aku baru saja beres-beres kardus pindahan terakhir," jawab Rangga dengan suara baritonnya yang tenang. Ia menatap lekat-lekat wajah Keisha, menikmati setiap detik kehadiran gadis itu yang selalu berhasil melenyapkan segala penat di kepalanya. "Kenapa malam-malam ke sini sendirian? Ibu tidak melarangmu keluar selarut ini?"

Keisha mendudukkan dirinya di kursi kayu, merapikan letak tas kecilnya. "Ibu tahu kok aku ke sini nganterin makanan buat Kakak. Ibu malah sengaja masak sop ayam hangat khusus buat Kakak malam ini, karena tahu Kakak pasti belum sempat belanja bahan makanan di rumah sewaan baru."

Mendengar perhatian tulus dari ibu Keisha, sudut bibir Rangga terangkat membentuk senyuman hangat yang sangat jarang diperlihatkannya kepada orang lain. Sejak ia memutuskan keluar dari rumah keluarganya tiga hari lalu, keluarga Keisha justru menjadi tempat pelabuhan pertama yang menyambutnya dengan tangan terbuka tanpa memandang latar belakang kelamnya sebagai seorang ketua geng motor berandalan.

"Sampaikan terima kasihku pada Ibu ya," ucap Rangga tulus, lalu duduk di kursi seberang Keisha. "Dan kamu... kenapa nekat jalan ke sini sendirian? Kan sudah kubilang, kalau mau kesini kabari aku dulu biar kujemput pakai motor."

"Ah, rumah sewaan Kakak kan cuma berjarak tiga blok dari gang rumahku. Dekat banget, kok," sanggah Keisha membela diri dengan nada manja yang menggemaskan. Ia lalu membuka rantang plastik tersebut, mengepulkan aroma kaldu ayam hangat yang langsung memenuhi ruangan kecil itu. "Mending sekarang Kakak makan dulu selagi hangat. Jangan cuma sibuk mikirin kerja paruh waktu atau urusan sekolah terus."

Sejak resmi keluar dari rumah keluarganya dan memilih jalur mandiri, Rangga memang tidak tinggal diam. Untuk menyambung hidup dan membayar biaya sewa rumah petak sederhana itu, ia mulai mencari pekerjaan paruh waktu di salah satu bengkel modifikasi motor besar di kawasan komersial kota, di samping tetap bertekad menyelesaikan sisa masa SMA-nya secara mandiri tanpa bergantung pada yayasan keluarga.

Rangga mengambil mangkuk dan sendok yang disiapkan Keisha, lalu mulai menikmati sop buatan ibu gadis itu. "Hmm... masakan Ibu memang tidak pernah gagal," puji Rangga di sela-sela suapannya.

Keisha memerhatikan gerak-gerik Rangga dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. Ia tahu persis pengorbanan luar biasa yang telah diambil oleh pemuda di hadapannya ini. Melepaskan seluruh kenyamanan hidup demi mempertahankan keberadaan mereka di kota yang sama adalah sebuah bukti cinta yang melampaui batas logika anak remaja seusia mereka.

"Kak..." panggil Keisha pelan, memecah jeda di antara mereka berdua. "Soal surat keputusan sekolah kemarin... bagaimana kelanjutannya? Pihak yayasan sepertinya masih mempermasalahkan status skorsing Kakak, meskipun ayah Kakak sudah mencabut laporan hukum di kepolisian."

Rangga meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Keisha dengan sorot mata yang tenang namun penuh keyakinan. "Biarkan saja pihak yayasan mau memutuskan apa. Kemarin, Kepala Sekolah Haryono sempat memanggilku secara pribadi sebelum jam kepulangan. Mereka menawarkan dua pilihan: jalani sanksi skorsing panjang sampai akhir semester, atau... ikuti ujian kesetaraan mandiri sambil tetap fokus bekerja."

"Lalu... apa yang Kakak pilih?" tanya Keisha cemas.

"Aku pilih opsi kedua," jawab Rangga mantap. "Aku sudah lelah hidup di bawah aturan-aturan palsu sekolah elit itu. Dengan fokus bekerja di bengkel dan belajar mandiri bersama bimbingan akademik darimu..." Rangga tersenyum jail, "...aku yakin nilai ujianku bakal lulus dengan predikat memuaskan, bahkan tanpa harus menginjakkan kaki lagi di kelas Pak Gunawan yang gal itu."

Keisha mendengus geli, meskipun ada kelegaan besar yang merambati dadanya. "Dasar! Dikasih kesempatan belajar serius malah bercanda." Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Keisha merasa sangat bangga melihat perubahan besar yang terjadi pada diri Rangga. Pemuda berandalan yang dulunya dikenal dingin, temperamental, dan ditakuti satu kota kini bertransformasi menjadi sosok pria mandiri yang bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyapu jalanan kota. Suasana di SMA Nusantara berjalan seperti biasa, namun ada suatu atmosfer yang terasa berbeda di koridor utama sejak ketidakhadiran sang ketua Black Raven secara permanen mulai menjadi bahan pembicaraan hangat. Meskipun Rangga memilih mundur dari sekolah demi mempertahankan prinsip hidupnya, kelompok Black Raven di bawah komando Satria dan Bara tetap berdiri solid, menjaga perdamaian wilayah dari ancaman sisa-sisa kelompok Viper yang kini sudah kehilangan taring setelah pentolan mereka, Reno, diskors dan menghilang dari peredaran sekolah.

Keisha berjalan memasuki gerbang sekolah bersama Sintia seperti hari-hari biasanya. Tidak ada lagi rasa takut atau kecemasan berlebihan yang menghantui langkah kakinya setiap kali melewati koridor. Perlindungan dari teman-teman Black Raven dan keyakinan baru di dalam hatinya membuat Keisha tumbuh menjadi gadis yang jauh lebih tegar.

"Keish, jadi bener ya rumor yang dibilang anak-anak kelas sebelah kalau Kak Rangga sekarang bener-bener pindah mandiri dan kerja di bengkel?" tanya Sintia antusias sambil merapikan tali ranselnya setibanya mereka di depan pintu kelas.

Keisha mengangguk kecil dengan senyuman tipis di bibirnya. "Iya, Sin. Kak Rangga sekarang tinggal di rumah sewaan dekat perumahan belakang."

"Wah... keren banget sumpah!" seru Sintia kagum. "Jiwa pemberontaknya benar-benar totalitas demi cinta. Jarang banget ada cowok zaman sekarang yang rela ngelepasin harta warisan keluarga demi mandiri dan ngejar masa depan sendiri."

Keisha hanya tersenyum malu-malu mendengar pujian sahabatnya itu. Ia mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya, bersiap mengikuti pelajaran pertama hari itu.

Jam berputar cepat hingga akhirnya mentari sore kembali condong ke barat, memancarkan bias cahaya jingga kemerahan di atas langit kota.

Usai jam pelajaran sekolah berakhir dan kegiatan bimbingan belajar mandirinya selesai, Keisha memutuskan berjalan kaki seorang diri menuju arah bengkel tempat Rangga bekerja paruh waktu, berniat mengantarkan termos kecil berisi kopi hitam hangat dan kue buatan ibunya.

Letak bengkel modifikasi motor besar itu berada di tepi jalan raya komersial yang cukup ramai. Suara deru mesin motor berkapasitas besar berpadu dengan suara gesekan alat-alat logam bergema di dalam area bengkel yang luas dan terbuka.

Begitu Keisha tiba di depan area bengkel, ia melihat sosok Rangga sedang berdiri di dekat sebuah motor sport besar berwarna hitam legam. Pemuda itu mengenakan kaos oblong hitam yang lengannya tersingkap, memperlihatkan otot lengan bidang yang dipenuhi peluh tipis dan bekas luka perban yang kini mulai mengering. Dengan tangan kanannya yang sudah kembali kuat, Rangga tampak serius memegang kunci pas, memperbaiki komponen mesin motor dengan keahlian luar biasa.

Keisha berdiri tertegun sejenak di dekat pilar besi pintu masuk, terpesona oleh sisi lain dari sang penguasa jalanan yang kini tampak begitu jantan, fokus, dan bekerja keras dengan keringatnya sendiri.

Seolah merasakan kehadiran seseorang yang memerhatikannya, Rangga menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia mendongakkan kepala, menyapukan pandangan ke arah depan, dan begitu melihat sosok gadis berdiri tersenyum manis di ambang pintu bengkel, sorot mata kelam pemuda itu langsung melunak secara drastis.

Rangga meletakkan kunci pas di tangannya ke atas meja perkakas, menyeka keringat di keningnya menggunakan lengan kaos, lalu melangkah lebar menghampiri Keisha dengan senyuman tulus yang amat memikat.

"Kenapa ke sini sore-sore begini? Tempat ini kan kotor dan banyak debu mesin, nanti pakaianmu kotor," ucap Rangga lembut begitu berdiri tepat di hadapan Keisha.

Keisha mengangkat termos kecil di tangannya sambil tersenyum jenaka. "Aku cuma mau nganterin kopi hitam sama kue buatan Ibu buat pekerja teladan di bengkel ini. Takutnya bos mudanya kelaparan dan lupa waktu."

Rangga terkekeh pelan. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata montir lain di dalam bengkel yang memerhatikan mereka, Rangga meraih termos kecil itu dari tangan Keisha, lalu dengan lembut merangkul bahu ramping gadis itu, membawanya melangkah keluar menuju teras depan bengkel yang lebih sejuk dan tenang.

Mereka duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang di bawah naungan pohon rindang di tepi jalan. Di hadapan mereka, lalu-lalang kendaraan kota berlalu dengan bising, namun dunia di sekitar mereka mendadak terasa begitu sunyi dan damai.

Rangga menyeruput kopi hitam hangat buatan ibu Keisha, lalu menoleh menatap gadis di sampingnya. "Keisha..." panggilnya dengan suara bariton yang lembut.

"Ya, Kak?" jawab Keisha menoleh.

Rangga meraih tangan kanan Keisha, menggenggam jemari mungil gadis itu dengan erat di dalam telapak tangannya yang hangat dan kasar bekas pekerja keras.

"Terima kasih," bisik Rangga tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Karena sudah bertahan, sudah percaya, dan sudah mau berjalan bersama di sampingku... dari dunia malam yang gelap menuju terang yang sekarang kita miliki."

Keisha membalas genggaman tangan itu dengan senyuman terindah yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Air mata haru sempat menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan—melainkan air mata kebahagiaan atas lembaran baru yang resmi mereka buka bersama.

Di bawah langit senja kota yang membentang luas, bayangan gelap masa lalu resmi ditinggalkan di belakang. Dua jiwa dari dunia yang berbeda kini menyatu dalam satu ikatan abadi, siap merajut masa depan cerah dengan tangan mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!