18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Mama ... ini ...." ucap Fani, namun ucapan gadis itu terpotong oleh kata-kata mamanya.
"Calon menantu mama?" selidik nyonya Linda dengan mata yang berbinar-binar. Terlihat sebuah kebahagiaan yang teramat besar dari manik permpuan yang berusia menuju senja tersebut. Ada sebuah harapan yang ingin ia dapatkan. Sebuah harapan yang selalu ia nanti-nantikan.
Somalia tak bisa mengartikan ucapan dari wanita yang berbaring di ranjang rumah sakit itu. Ia bahkan belum sempat memperkenalkan diri namun sudah disambut dengan pukulan telak yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Iya ...." Gandhi menambah nyeri di kepala Somalia. Bukan hanya membenarkan pertanyaan mama Fani, namun pria itu juga menarik tubuhnya lebih dekat dan merangkul pinggangnya.
Somalia menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan sejuta makna yang menuntut sebuah penjelasan dari lelaki yang pernah membuat hatinya sakit hati. Bagaimana bisa lelaki itu membual bahwa ia adalah calon istrinya.
Kurasa lelaki ini sudah tak waras gumam Somi dengan kesalnya.
"Bukan-bukan tolong jangan salah paham nyonya, saya hanya teman dari Fani!" Somi mengelak dari pernyataan sepihak Gandhi. Hal tersebut mampu membuatnya berada dalam masalah bila mama Fani mempercayainya. Somi pun juga baru tahu sebuah kenyataan bahwa kedua orang yang saat ini sedang berdiri di dalam ruangan tersebut adalah putra-putri dari pasien. Pantas saja Fani begitu getol waktu pertemuannya dengan Gandhi pertama kali.
"Wah berarti keinginan mama untuk segera menimang cucu akan tertunda, apa kau ingin mamamu ini mati sebelum menimang cucu?" selidik nyonya Linda pada anak lelakinya. Wanita yang berstatus mama dari Fani dan Gandhi tersebut sangat kecewa dan berusaha mengubur rencana bahagianya.
"Siapa bilang gagal Ma? Sayang ... kamu memiliki selera humor yang cukup tinggi!" belum cukup puas ia meyakinkan sang mama dengan ucapannya, kini pria malang itu menarik wajah Somali kemudian mengecup lembut keningnya.
Gandhi membuat seluruh makhluk di ruang rawat inap mamanya menoleh ke arahnya. Hal tersebut menjadi hal yang langka dan belum pernah terjadi di mata mama dan adiknya. Hal yang sangat jarang dan hampir tak pernah mereka lihat yakni sang pengacara arogan memperlakukan wanitanya dengan cukup manis. Dan hal tersebut juga mampu mematahkan dugaan sementara bahwa Gandhi adalah pria up normal, yakni pria yang memiliki kelainan dalam asmara.
"Menurut lah dan aku akan membayar mu berapapun yang kamu mau!" bisik Gandhi tepat di telinga Somalia. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat mama dan adik perempuannya makin terkejut dengan kegilaan Gandhi. Bahkan Fani bisa bersumpah baru kali ini abangnya melakukan hal baik selama hidupnya.
Somi melukis senyum yang memiliki arti lebih ke arah pria yang baru saja mengecup keningnya. Bahkan saat ini juga ia berniat memotong lidah pria itu karena sudah mengucapkan kebohongan di hadapannya.
*
Dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan oleh apapun, Somi dan Fani kini berjalan dengan beriringan meninggalkan rumah sakit tersebut, keduanya merasa lega setelah mengetahui bahwa keadaan nyonya Linda semakin membaik paska pengakuan sang putranya yang kini memiliki kekasih. Hal tersebut menjadi obat mujarab bagi wanita yang sangat mendambakan kehadiran seorang cucu pertama tersebut.
"Ku kira dia tak waras!" ujar Somi dengan melipat kedua tangannya ke dadanya. Ia masih tak terima dengan perlakuan seenaknya Gandhi.
Tepat di samping mobil Somi, seorang lelaki baru saja memarkir mobilnya dan tengah tersenyum penuh kehangatan pada Fani dan wanita di sampingnya. Fani membalas senyuman dari lelaki tersebut.
"Fani, bagaimana keadaan bibi Linda?" sapa lelaki tersebut. Lelaki itu kini berjalan ke arah keduanya. Pria yang Somi kira berusia seumuran dengannya tersebut kini ber-toss ria dengan Fani. Somi rasa keduanya memiliki kedekatan yang lebih intim daripada Gandhi.
"Kenalkan dia Adit, sepupuku dari mamaku!" ucap Fani memperkenalkan pria muda itu pada Somalia.
"Dan ini, bosku Somalia!" bisik Fani pada Adit.
Adit mengulurkan tangannya pada Somali, ia terlihat sangat tertarik pada Somi. Keduanya saling melemparkan senyum tanda perkenalan yang sedang mereka lakukan. Tak tanggung-tanggung, Adit bahkan tak sungkan mencium tangan Somi tanda penghormatan pada wanita.
"Dia terbiasa hidup di luar negri," sindir Fani ketika ia melihat gelagat Adit yang mulai melancarkan aksinya pada Somi.
"Never main, nice to see you Adit!" Somi pun gak sungkan pada Adit. Adit terkesan hangat dan mudah bergaul dari pada Gandhi.
"Somalia, nama yang indah seindah orangnya!" Adit mulai melancarkan rayuan-rayuan mautnya untuk Somi.
Namun pengalaman Somi dengan lelaki yang manis di awal membuatnya lebih membentengi hatinya untuk kali ini. Ia tak akan lengan sedetikpun, meski ia tahu Adit memiliki pesona yang tak kalah menawan dari Gandhi. Tak bisa dipungkiri di mata Somi, Gandhi adalah lelaki yang menawan namun, sikap arogansi yang lelaki itu miliki membuat Somi harus mengubur keinginannya menjadikan Gandhi umpan untuk balas dendamnya.
"Bolehkah aku meminta kontak mu nona manis?"
"Untuk apa?" sahut Somi dengan nada ketus. Ia sengaja tak ingin mempublikasikan hal pribadinya pada orang yang belum ia tahu asal-usulnya.
"Bila sewaktu-waktu aku sekarat aku ingin kamu menjadi obat mujarab ku!" sahut Adit dengan nada gamang. Baginya mendapatkan Somi adalah tujuannya kali ini. Ia tak akan melepaskan wanita itu. Mesti kenyataan ia telah memiliki beberapa kekasih di setiap kota serta negara. Adit memang terkenal sebagai pria Cassanova yang menjadi incaran para wanita muda. Memiliki wajah rupawan serta harta yang menyilaukan membuat Adit mudah untuk menjerat beberapa wanita cantik.
Somalia menepuk jidat bekas kecupan Gandhi tadi, menurutnya Adit bukan orang yang perlu ia takutkan. Meski terlihat player Adit masih memiliki sisi manusiawi dari pada Gandhi, mengapa ia tak mencoba cara lain untuk balas dendam.
Wanita cantik itu lalu menampakkan barcode di salah satu aplikasi perpesanan yang ia miliki agar Adit mudah menambahkan kontrak miliknya ke daftar pertemanan Adit.
"Terimakasih nona, aku tunggu pertemuan-pertemuan manis kita selanjutnya!" kata Adit sebelum lelaki itu pergi meninggalkan keduanya, ia sangat bahagia karena berhasil mendapatkan calon kekasihnya. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada Somi. Adit sangat tertarik pada wanita berambut panjang tersebut.
"Aku butuh informasi lengkap yang Adit miliki Fan," kata Somi kepada Fani. Ia sudah memutuskan ingin menggaet Adit untuk menemaninya dalam proses balas dendamnya.
Kata-kata Somi barusan membuat Fani mengerem mendadak. Ia masih tak percaya atasannya berbalik arah mendekati Adit. Bukankah Gandhi lebih baik daripada Adit? Bukan karena Gandhi adalah kakaknya, namun Fani merasa Gandhi lah lelaki yang cocok dengan permintaan Somi. Dan Gandhi pun tak keberatan, buktinya kakak lelakinya tadi sempat mencium bosnya.
"Tidak bisa, Mbak nggak cocok sama Adit tahu!" Fani begitu tak setuju dengan keputusan Somi.
"Lalu? Kakak lelakimu? Aku tak tertarik Fan! kaya nggak ada lelaki lain saja,"
"Kalian cocok kok,"
Merasa Fani sudah membohongi dirinya, lalu ia menjewer telinga kiri Fani. "Auuuch ...." gadis itu meronta karena Somi menjewer dirinya.
"Bisa-bisanya kamu membohongi aku, aku menyuruhmu mencari teman kencanku di biro jodoh, kenapa kamu menjebak aku dengan saudara mu yang tak waras itu?"
Karena rasa bersalahnya, Fani hanya menundukkan wajahnya. Ia takut Somi akan memarahi dirinya. Keinginan tak muluk-muluk, ia ingin menjodohkan kedua orang menyedihkan tersebut.
"Kalian tak cocok, menurutku Mbak Somi lebih cocok sama Gandhi!"
**
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi