KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Setelah mengganti pakaiannya Julio bergegas kembali ke ruang tamu, ia panik saat mengetahui ana sudah tidak berada di kediamannya.
"Dimana ana?" tanya Julio dengan panik.
"Mba ana baru saja pergi, sepertinya ia sedang buru-buru." ucap Retno.
"Dasar bod*h, mengapa kamu tidak menahannya untuk pergi. Aku tidak akan memafkan kamu jika terjadi sesuatu dengan ana." ucap Julio dengan nada tinggai, pria itu pun berlari keluar mencari keberadaan ana.
'Siapa sebenarnya wanita itu? mengapa suamiku sebegitu mengkhawatirkannya hingga mencaciku seperti itu?' gumam Retno, hatinya terasa sakit ketika kata bo*oh terlontar dari mulut suaminya.
Tak lama kemudian julio kembali lagi ke rumahnya, ia mengambil mobilnya dan kembali pergi mencari Ana. Dari balik jendela rumahnya, Retno hanya bisa tersenyum getir menyaksikan suaminya begitu mengkhawatirka wanita lain.
"Umi, adek bangun" perlahan Rangga mendekat ke arah ibundanya, meski tak tahu apa yang terjadi pada ibundanya namun bocah itu merasakan jika ibundanya sedang bersedih, ia menggengam tangan ibundanya mengajaknya ke kamar adiknya.
Julio memutuskan untuk mencari Ana di terminal, pria itu mengelilingi terminal dan menanyakan ke beberapa sopir di sana, adakah dia antara mereka yang melihat Ana, sayangnya dari semua yang ia tanyai tak ada satu pun yang pernah melihat Ana.
Kemudian ia pergi menuju stasiun kereta api, ia berharap dapat menemukan sosok ana, nyatanya tetap nihil. Di stasiun kereta api, julio tetap tidak menemukan ana.
"Aku akan menyusulmu ke Jakarta, sayang" gumam Julio.
Dengan wajah yang lesu, menjelang malam hari Julio kembali ke kediamannya, begitu selesai ia memarkirkan kendaraannya di garasi mobil, ia berjalan menuju teras rumahnya. Dari kejauhan pria itu melihat istrinya nampak sedang menunggunya kepulangannya.
Retno langsung membrodongi julio dengan banyak pertanyaan seputar ana, alih-alih menjawab pertanyaan retno, julio justru membentak dan memarahi retno.
"Aku hanya ingin tahu apa kamu mengenalnya bi?" tanya retno sambil menangis tersedu-sedu.
Tanpa memperdulikan tangisan istrinya, Julio meraih tangan retno kemudian menyeretnya dengan kasar.
"Bie, kamu mau membawaku kemana?" tanyanya sambil meringis kesakitan akibar cengkraman tangan Julio.
"Diam kamu" bentaknya
Saat melewati ruang keluarga secara tak sengaja rangga melihat perlakuan kasar Abinya terhadap Uminya, ingin sekali rasanya Rangga menolong Uminya namun Uminya memberi kode melarang Rangga untuk menolongnya karena ia tak ingin putra sulungnya terkena imbasnya.
Dengan berat hati Rangga pun menurut, ia berlari ke kamar adiknya untuk menjaga adiknya.
Julio menyeret Retno masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuh istrinya di lantai kamarnya.
"Buka bajumu" dengan gelap mata pria itu merobek pakaian yang di kenakan istrinya
"Jangan, Aku masih nifas." Retno mencoba mempertahankan pakaiannya, namun tenanganya masih kalah jauh dengan suaminya. Pria itu tetap menelanja*gi istrinya, kemudian meremas payud*ra Retno dengan kasar.
"Awwwww... " Retno teriak kesakitan, terlebih saat itu payud*ra Retno terasa nyeri karena masih menyusui.
Puas memainkan dada istrinya dengan kasar, Julio meminta Retno untuk membuka mulutnya "Cepat buka mulutmu!" bentak Julio.
Dengan pasrah karena seluruh energinya telah habis, retno menuruti perintah suaminya, dengan kasar julio memasukan bagian sensifnya ke dalam mulut istrinya.
"Hoeekk... uhuk... uhuk" Retno merasakan sakit di tenggorokannya dan mual yang tak tertahankan olehnya, namun julio tidak sama sekali tak memperdulikannnya.
"Bi... hoeekk." Retno hampir kehabisan nafas karena julio sama sekali tak memberikannya jeda.
Hingga ia merasa puas barulah julio melepaskan retno, ia kembali memakai celananya dan pergi meninggalkan istrinya.
Sambil menangis retno mengambil pakaiannya dalam lemari, badannya terasa sakit dan lemas usai memuaskan hasrat suaminya, ia tak menyangka jika suaminya sampai hati berbiat kasar padanya.
Sementara itu saat melihat Abinya keluar dari kamar, Rangga memberanikan diri untuk masuk ke kamar orang tuanya, selain untuk memeastikan kondisi ibundanya, ia juga ingin mengatakan jika adiknya terbangun dan menangis.
Perlahan rangga mendekat ke arah ibundanya, dengan jari-jemari mungilnya, ia mengusap air mata Ibundanya.
"Mi, adek di kamar nangis." ucap rangga.
"Nanti umi ke kamar adek, kamu jaga adek dulu ya." Retno mengelus rambut rangga dengan lembut, Rangga menganggukan kepalanya kemudian berlari ke kamar adiknya.
Selang berapa lama kemudian, Retno menghampiri kamar putra bungsunya.
"Maaf umi, adek masih menangis." Rangga merasa bersalah karena tidak bisa membuat adiknya berhenti menangis.
"Tidak apa-apa, terima kasih ya mas." Retno mengganti popok rama yang sudah penuh, setelah itu ia mengelus punggung putra sulungnya, ia berharap jika dewasa nanti rangga akan memperlakukan istrinya dengan sangat baik.
"Rangga, kamu belajar yang rajin ya nak, biar bisa menjadi orang yang sukses."
"Ia umi." Rangga menganggukan kepalanya.
Keesokan harinya julio kembali bekerja, memimpin perusahaan milik alm. ayahanda retno. Julio mulai memeriksa kondisi keuangan perusahaan tersebut.
'Lumayan juga' gumamnya dalam hati, ia memutuskan untuk pulang lebih awal, ia ingin mengajak retno makan siang bersamanya.
Setibanya di rumah julio bersikap manis kepada retno dengan memberikan buket bunga mawar kepada istrinya dan ia juga mengajak retno jalan-jalan ke mall.
Retno merasa heran mengapa suaminya tiba-tiba bersikap manis terhadapnya setelah kemarin berbuat sangat kasar terhadapnya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar tak bisa menahan hasratku karena selama beberapa bulan ini jauh darimu, aku sudah sangat rindu dengan tubuhmu" ucap Julio "Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi, karena kita akan punya banyak waktu untuk bersama" Julio tertunduk menyesali akan perbuatannya kemarin terhadap istrinya.
"Ya sudah, aku siapin anak-anak dulu ya mas." Ucap retno.
"Jangan, anak-anak biar di rumah saja sama bik minah. Aku ingin jalan-jalan berdua denganmu, aku rindu sekali denganmu." Julio memeluk retno dengan hangat.
Hati retno pun luluh, mendapat perlakuan manis dari suaminya, ia mengganti pakaiannya dan bersiap pergi dengan suaminya.
Siang itu julio mengajak retno makan siang di sebuah restoran jepang yang berada di mall, julio memesankan makanan untuk dirinya dan juga retno.
Sambil menikmati makanan, julio menggenggam tangan retno dan mengelusnya.
"Sayang, akhir-akhir ini di perusahan banyak sekali pengeluaran. Aku merasa agak sedikit repot jika harus menunggu otorisasi dari dirimu, lagi pula kamu kan sibuk mengurus anak-anak, aku tidak tega melihatmu bolak balik kantor hanya untuk menandatangani cek dan bilyet giro."
"Tapi bi..."
"Apa kamu tidak percaya denganku? jika kamu tidak percaya denganku, untuk apa aku memegang perusahaan keluargamu. Lebih baik aku kembali ke Jakarta." Ucap Julio.
"Jangan, anak-anak membutuhkanmu bi. Baiklah besok kita ke bank untuk mengurusnya." Retno pun menuruti permintaan suaminya.
Saat retno dan julio tengah berbincang, tiba-tiba lyra datang menghampiri retno dan suaminya.
"Retno, apa kabar?" Sapa lyra kepada retno, lyra mencium kedua pipi retno.
"Alhamdulillah, kamu sendiri bagaimana?" Tanya retno kembali.
"Alhamdulillah baik juga. eh ia ret, kenalin kakakku namanya mba ana" lyra berbalik ke arah ana "ayo mba ana sini kenalin sahabatku"
"Mba yang tempo hari ke rumah saya itu kan? yang rumah neneknya sudah kami beli" Meski hatinya penuh tanda tanya tetang siapa ana yang sebenarnya, ia mencoba untuk tetap ramah kepada ana, karena ia menghargai lyra sahabatnya.
"Iii..ia" tubuh ana seperti membeku karena masih syok dengan apa yang terjadi, bertemu dengan julio seperti mimpi buruk bagi ana.
"Kita makan semeja saja ya, aku kangen banget sama kamu lyr" Ajak retno, ia sengaja mengajak lyra dan ana untuk makan bersama karena ia ingin mengetahui lebih jauh tentang Ana.
Sambil mengobrol dengan lyra, retno memperhatikan suaminya yang sesekali mencuri pandang ke arah ana, hal itu membuat retno semakin curiga.
"Kalian mau pesan apa?" tanya retno.
"Sushi dan orange jus" jawab lyra.
"Samain aja sama lyra" jawab ana.
Retno mengangguk dan berjalan untuk memesan menu di depan.
Tak lama kemudian ia melihat lyra pergi ke toilet meninggalkan ana dan suaminya berduaan. Sambil menunggu pesanannya siap, ia terus memperhatikan suaminya dan ana.
Retno sangat terkejut ketika melihat ana mengeluarkan kartu ATM dan sebuah cincin dari dalam tasnya, kemudian Ana menyerahkan kedua barang tersebut kepada suaminya.
'Ada hubungan apa suamiku dengan wanita itu' Gumamnya, retno semakin tak sabar menunggu pesanannya siap, rasanya ia ingin sekali melabrak ana dan suaminya.
Tak lama kemudian Retno melihat ana beranjak dari tempat duduknya namun suaminya menahannya, suaminya memegang erat pergelangan tangan ana.
Ana pun menghempaskan tangan julio dan pergi meninggalkan restoran.
Retno tak ingin gegabah mengambil kesimpulan, ia akan pura-pura tidak tahu sebelum ia mendapatkan semua bukti-bukti mengenai hubungan Ana dengan suaminya.
Ia sangat takut jika suaminya kembali marah kepadanya jika ia kembali bertanya kepada suaminya.
"Loh, lyra dan ana kemana bi?" Tanya retno dengan polos.
"Mereka sudah pulang, lagi ada keperluan mendadak katanya." Ucap julio dengan santai.
Retno dan julio kembali meneruskan makan siangnya, hingga semua makanan yang ia pesan habis, tidak lupa retno pun membeli makanan untuk putra sulungnya rangga.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini