Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat dan Doa yang Menguatkan
Ustazah Zahra menatap lekat sepasang mata Fatimah yang masih digenangi sisa air mata.
Genggaman tangannya pada jemari Fatimah mengerat, memberikan kehangatan yang seolah menyalurkan sebagian beban berat dari pundak gadis itu.
Suasana ruang tamu yang bersahaja itu mendadak hening, hanya menyisakan desir angin pagi yang menyusup lewat ventilasi jendela.
"Fatimah, anakku,"
Ustazah Zahra membuka suara, nadanya begitu lembut dan tertata.
"Ujian yang kamu hadapi saat ini memang tidak mudah. Di satu sisi, ada impian masa muda yang sangat ingin kamu kejar."
"Di sisi lain, ada bakti kepada orang tua yang menjadi taruhannya. Wajar jika hatimu merasa sakit dan menganggap ini tidak adil."
Fatimah menunduk, mendengarkan setiap patah kata gurunya dengan saksama.
Air matanya kembali menetes, membasahi punggung tangan Ustazah Zahra.
"Namun, ketahuilah, Nak."
Lanjut Ustazah Zahra sembari mengusap air mata di pipi Fatimah dengan jemarinya.
"Dunia ini adalah panggung ujian. Terkadang, Allah membungkus ketetapan terbaik-Nya dengan sesuatu yang paling kita benci di awal."
"Kamu telah belajar banyak tentang rida Allah yang terletak pada rida kedua orang tua. Tapi, Ustazah juga paham, pernikahan bukanlah perkara main-main yang bisa dipaksakan tanpa kesiapan hati."
Fatimah mendongak, menatap gurunya dengan pandangan rapuh.
"Lalu, apa yang harus Fatimah lakukan, Ustazah?"
"Fatimah takut jika Fatimah terus diam, Fatimah akan menyimpan dendam pada Ayah dan Ibu."
"Tapi jika Fatimah bersuara, Fatimah takut dianggap membangkang."
Ustazah Zahra tersenyum tipis, sebuah senyuman keibuan yang selalu berhasil menenangkan badai di hati para santrinya.
"Fatimah, Ustazah tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian dalam kebuntuan."
"Insya Allah, Ustazah akan membantumu."
Ustazah akan ikut pulang bersamamu siang ini, berbicara dari hati ke hati dengan orang tuamu."
"Ustazah akan mencoba memberi nasihat dan pandangan kepada mereka, agar mereka juga mendengar apa yang menjadi ganjalan di hatimu."
Mendengar ucapan itu, secercah harapan muncul di benak Fatimah. Ia menatap Ustazah Zahra dengan binar mata yang sempat redup.
"Benarkah, Ustazah?"
Ustazah Zahra mengangguk pelan, namun sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang mendalam.
"Benar, Nak. Namun, kamu juga harus melapangkan dadamu untuk segala kemungkinan."
" Ustazah hanya manusia biasa yang bisa menjadi perantara untuk berbicara dan memberi nasihat kepada orang tuamu."
"Selebihnya, keputusan akhir tetap ada pada mereka, dan takdir mutlak ada di tangan Allah."
Ustazah Zahra menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke dalam netra Fatimah.
"Jika setelah pembicaraan nanti orang tuamu tetap pada keputusan mereka, dan ternyata ada alasan kuat yang belum kamu ketahui, maka di situlah letak ujian keikhlasanmu."
"Selebihnya, Ustazah hanya bisa berdoa, mengetuk pintu langit agar Allah senantiasa memberikan kebaikan, kekuatan, dan jalan yang lapang untuk dirimu, Nak."
Fatimah tertegun. Kata-kata Ustazah Zahra seolah menembus langsung ke lubuk hatinya, mengikis sedikit demi sedikit rasa sesak dan amarah yang sempat bergejolak.
Ia sadar, tidak ada tempat bersandar yang lebih kokoh selain Allah.
"InsyaAllah, Ustazah. Fatimah ikhlas menerima apa pun nanti hasilnya."
"Terima kasih banyak karena Ustazah mau membantu Fatimah," bisik Fatimah tulus.
Ustazah Zahra kemudian mengajak Fatimah untuk menengadahkan tangan. Di ruang tamu yang sakral itu, sang ustazah memimpin doa dengan khusyuk.
Memohon ketetapan terbaik, kelapangan hati, dan perlindungan bagi Fatimah dalam menghadapi badai takdir yang sedang berjalan menuju hidupnya.
Doa yang mengalir itu membuat tangis Fatimah kembali pecah, namun kali ini, tangisnya terasa lebih ringan dan pasrah.