NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Paten yang Hilang

#

Beberapa hari setelah pertemuan sama Om Made, Rendra duduk berjam jam di ruang kerjanya, ngoprek terus map coklat itu, bareng Bara yang bantuin nyocokin data data lama dengan sistem digital yang lebih canggih, coba nemuin benang merah dari semua transaksi transaksi mencurigakan yang tercatat di situ.

"Bang," Bara manggil, suatu malem, matanya udah merah saking capeknya nyisir ratusan halaman dokumen, "saya nemuin sesuatu yang, menurut saya, ini penting banget."

Rendra deket, ngeliat layar laptop Bara, "apa?"

"Ini catetan pembelian aset tak berwujud, tahun 2000, kode transaksinya nyambung sama nomor paten yang dulu kita temuin, paten atas nama Ariel Wijaya."

Rendra ngerasa jantungnya langsung berdebar kenceng, "coba buka detailnya."

Bara buka file itu, dan di layar muncul salinan dokumen pembelian hak paten, lengkap sama nominal harganya, dan begitu Rendra baca angka itu, dia ngerasa kayak ada yang nampar dia keras banget.

"Ini... ini cuma dihargain segini?" Rendra bisikin, matanya nggak percaya, "paten teknologi pengolahan limbah yang, kalo dipake sekarang, bisa jadi salah satu fondasi teknologi utama Hartono Group, cuma dibeli dengan harga segini? Ini nggak masuk akal, Bara, ini bahkan nggak sampe sepersekian persen dari nilai yang seharusnya."

"Iya, Bang, dan yang lebih aneh lagi," Bara nunjuk ke tanggal di dokumen itu, "tanggal pembelian ini, cuma tiga minggu sebelum tanggal kematian Ariel Wijaya yang tercatat di berita berita lama."

Rendra duduk terjatuh di kursinya, kepalanya penuh sama gambaran yang mulai jelas banget, ayahnya, seorang insinyur muda yang penuh idealisme, bikin penemuan yang bisa jadi berkah buat banyak orang, dan cuma tiga minggu sebelum dia meninggal, ada yang "membeli" paten itu dengan harga yang saking murahnya, itu bukan pembelian, itu perampasan yang dibungkus rapi pake kertas legal.

"Kenapa dia mau jual patennya semurah itu," Rendra bisikin, lebih ke diri sendiri, "kecuali dia dipaksa. Kecuali dia nggak punya pilihan lain."

Dia inget lagi, laporan investigasi yang mereka temuin di kantor pelabuhan, catetan soal Ariel yang "terlihat gelisah beberapa hari sebelum kejadian, mengaku merasa diikuti." Sekarang, semuanya mulai nyambung, ayahnya diintimidasi, dipaksa buat lepas hak atas penemuannya sendiri dengan harga yang nggak masuk akal, dan begitu dia mati, kemungkinan besar dibunuh dan dibikin kayak kecelakaan, patennya udah aman di tangan orang lain, nggak ada lagi yang bisa protes atau nuntut balik.

"Ini paten yang sama, Bang, yang jadi salah satu fondasi teknologi produksi Hartono Group sekarang," Bara ngelanjutin, "kalo kita bandingin sama laporan tahunan mereka, teknologi ini yang bikin biaya produksi mereka jauh lebih rendah dari kompetitor, salah satu alesan utama kenapa Hartono Group bisa berkembang secepat itu di awal tahun dua ribuan."

Rendra ngeliatin layar itu lama banget, dan pikirannya mulai muter, ngaitin semua kejadian, ledakan pabrik yang dituduhin ke dia tujuh tahun lalu, ternyata terjadi tepat di fasilitas produksi yang, dari awal, dibangun di atas fondasi teknologi yang dirampas dari ayah kandungnya sendiri. Ini bukan lagi cuma soal fitnah dan pengkhianatan yang dia alamin, ini soal sejarah panjang kejahatan yang udah dijalanin keluarga ini, atau siapapun yang ada di balik keluarga ini, selama puluhan tahun.

"Kematian ayah saya dan ledakan pabrik itu," Rendra bisikin, suaranya bergetar, "ini bukan dua kejadian yang beda, Bara. Ini... ini kayak satu benang yang sama, cuma diulang lagi setelah puluhan tahun."

Bara ngangguk, ikutan tegang, "saya juga mikir gitu, Bang. Tapi ada satu hal lagi yang bikin saya penasaran."

"Apa?"

Bara nunjuk ke bagian bawah dokumen pembelian paten itu, ke kolom tanda tangan, "dokumen ini, yang nandatangan sebagai perwakilan pembeli, itu bukan Wisnu Hartono."

Rendra ngeliatin bagian yang ditunjuk itu, dan matanya melotot ngeliat nama yang tertulis rapi di situ, ditandatangan dengan tinta yang udah agak pudar tapi masih bisa dibaca jelas.

Prasetyo Handoko.

Rendra ngerasa dadanya kayak berenti berdetak sepersekian detik. Nama itu. Prasetyo Handoko. Inisial P.H. yang dulu nyempil di catetan kaki transaksi yang nggak ada yang peduliin waktu rapat direksi tujuh tahun lalu, inisial yang sama yang muncul lagi di dokumen penghentian investigasi kematian Ariel Wijaya.

"Prasetyo Handoko," Rendra ngulang nama itu, pelan, suaranya penuh sesuatu yang campur antara kaget dan marah yang meledak ledak, "ini dia, Bara. Ini nama yang selama ini nyempil nyempil di setiap dokumen yang kita temuin. Bukan Wisnu."

"Berarti," Bara bilang, pelan, "Wisnu ini, dari awal, mungkin cuma bagian dari permainan yang lebih gede. Orang yang beneran dalangnya, dari zaman ayah Abang masih idup sampe sekarang, itu orang bernama Prasetyo Handoko ini."

Rendra berdiri, jalan ke jendela, ngeliatin lampu lampu kota Jakarta yang berkelip di kejauhan, dan dia mikir keras, siapa sebenernya Prasetyo Handoko ini, kenapa dia begitu berkepentingan buat ngerampas paten ayahnya, kenapa dia terlibat juga dalem penghentian investigasi kematian Ariel, dan yang paling penting, apa hubungannya sama ledakan pabrik yang ngancurin hidup Rendra sendiri tujuh tahun lalu.

"Cari semua yang bisa kamu temuin soal Prasetyo Handoko," Rendra bilang, suaranya sekarang dingin banget, penuh tekad, "siapa dia, di mana dia sekarang, apa hubungannya sama Hartono Group, apa hubungannya sama ayah saya. Saya mau tau semuanya, Bara, secepat mungkin."

"Siap, Bang," Bara jawab, langsung mulai ngetik lagi di laptopnya, jarinya gerak cepet banget, dan Rendra berdiri di situ, di depan jendela, ngeliatin kota yang dulu ngancurin hidupnya, dan dia ngerasa, buat pertama kalinya, dia nggak lagi cuma ngejar bayang bayang samar, dia udah nemuin nama, nama yang, entah kenapa, dia yakin banget, adalah kunci dari segalanya, kunci yang bakal ngebongkar seluruh kebusukan yang udah disembunyiin rapi rapi selama puluhan tahun.

Malem itu, Rendra nggak tidur sama sekali. Dia duduk di ruang kerjanya, ngeliatin lagi foto Ariel Wijaya yang udah lama jadi abu tapi masih tersimpen jelas di ingatannya, dan dia bisikin, pelan, ke ruangan yang sepi itu, "saya nemuin dia, Ayah. Saya nemuin orang yang ngerampas hidup Ayah, dan sekarang, saya juga tau, dia orang yang sama yang ngerampas hidup saya."

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lanjut kak... tetap semangat berkarya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iihhh aku gak mau nebak2 ah.. salah mulu giliran nebak nya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wuiihh gak nyangka komisaris dong😱😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mungkinkah dia juga sama seperti kamu sekarang.... 🤔🤔🤔wah plot twist banget kak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah itak udang nya masih ada toh... kirain si Wisnu ini otak udang nya... 🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
sok lah Rendra hancurkan semua yang telah merampas juga menghancurkan hidup kamu juga ayahmu 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh ada udang dibalik bakwan tuh... enak... 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: wali tuh.. 🤭🤭
total 2 replies
Wawan
Salam kenal buat Damar 👍
alunanfiksimalam
sepertinya dia di jebak
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kalau om Made tahu dia adalah anaknya Ariel,waah bakalan gimana dia senengnya ya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ternyata masih banyak juga orang2 yang bener....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mata hati seorang ayah 😥😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
dan doa2 tersebut menjadi kenyataan..
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
berasa anak sendiri😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa mungkin Rendra sengaja mau nunjukin sedikit petunjuk buat om Made 🤔🤔👍🏼👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaaah om Made hebat. bisa nebak cuman dengan gaya bicara aja... se dekat itu kalian dulu sama Damar... semoga semua bisa cepat terungkap.. eh... jangan duku ketang . kalau terungkap ya ceritanya tamat dong🤭🤭🤭lanjut kak... tetap semangat💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
hati nurani mulai tergerak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
takdir memang gak pernah ada yang tahu kan....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
insting pemburu berita🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
cakep..... lanjutkan 👍🏼👍🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!