"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Pagi pertama setelah keberangkatan orang tua mereka, Amerta terbangun oleh keheningan yang terasa sangat asing di telinganya. Biasanya, di rumah kontrakan kecil mereka dulu, pagi hari akan disambut oleh suara bising penggorengan dari dapur, ketukan pintu dari ibunya yang menyuruhnya bergegas mandi, atau suara radio usang tetangga sebelah rumah. Namun di rumah mewah ini, segalanya digantikan oleh kesunyian yang megah sekaligus mencekam. Kamar barunya yang luas seolah menelan seluruh suara, menyisakan ruang kosong yang membuat Amerta merasa terasing.
Amerta menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu hias minimalis. Ia menyibak selimut tebalnya, lalu melangkah turun ke lantai bawah dengan canggung. Setiap derap langkah kakinya di atas anak tangga marmer seolah menggema di seluruh sudut rumah. Di ruang makan yang luas, sepi kembali menyambutnya. Namun, di atas meja makan kayu jati yang panjang, sebuah tudung saji perak sudah teronggok rapi di sana.
"Non Amerta, silakan sarapan. Mengapa berdiri saja di sana?" sebuah suara ramah memecah keheningan.
Amerta menoleh dan mendapati Bi Sumi, kepala pelayan di rumah itu, sedang berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan jus jeruk. Wanita paruh baya itu tersenyum tulus, membuat rasa canggung di dada Amerta sedikit berkurang.
"Eh, iya, Bi. Terima kasih," jawab Amerta dengan senyum kaku. Matanya melirik ke arah kursi kosong di seberang meja, tempat Mahesa duduk semalam. "Apakah... Kak Mahesa belum turun?"
Bi Sumi meletakkan gelas susu di depan Amerta sembari menata piring. "Ah, Den Mahesa sudah berangkat ke kantor sejak pukul enam pagi tadi, Non. Memang sudah menjadi kebiasaannya setiap hari."
Amerta mengangguk pelan sembari mendudukkan diri. "Pagi sekali ya, Bi? Padahal ini kan masih jam tujuh."
"Iya, Non. Sejak masih kuliah hingga sekarang memegang kendali penuh di perusahaan Ayah Dirga, Den Mahesa memang sangat disiplin. Laki-laki gila kerja, kalau orang zaman sekarang bilang. Hampir seluruh waktunya habis di dalam ruang kerja atau di kantor pusat," jelas Bi Sumi panjang lebar sembari merapikan area dapur bersih.
Amerta terdiam, mulai menyuap nasi goreng seafood mewah yang disiapkan Bi Sumi. Setidaknya, sebersit rasa lega muncul di hatinya. Laki-laki bermata biru sebiru laut itu ternyata tidak sedang sengaja menghindarinya karena kejadian di kamar seminggu yang lalu, melainkan memang memiliki kesibukan yang luar biasa padat. Namun, ramalan Mahesa semalam terbukti sepenuhnya. Kursi di seberang Amerta tetap kosong selama tiga hari berturut-turut. Laki-laki itu benar-benar menjelma menjadi sosok tak kasatmata yang hanya meninggalkan jejak berupa aroma parfum maskulin yang samar di area tangga saat dini hari, atau segelas air putih yang tersisa di meja dapur pagi-pagi sekali.
Untuk mengisi waktu luangnya yang membosankan sebelum semester baru di universitas dimulai, Amerta memutuskan untuk mencoba beradaptasi dan lebih mengenal rumah barunya—tentu saja dengan sekaut tenaga menghindari lorong sebelah kamarnya yang menjadi area terlarang milik Mahesa. Ia mulai menghabiskan siang hari dengan membantu Bi Sumi merawat tanaman di rumah kaca mini yang terletak di halaman belakang. Di sanalah Amerta menemukan sedikit kedamaian di tengah kemewahan yang terasa hambar ini.
"Den Mahesa itu sebenarnya anak yang baik dan penyayang, Non," celetuk Bi Sumi pada hari keempat, saat mereka berdua sedang memangkas daun-daun kering pada tanaman mawar putih kesayangan mendiang nyonya rumah terdahulu.
Amerta yang sedang memegang gunting tanaman langsung menghentikan gerakannya. Rasa ingin tahu yang sempat ia kubur dalam-dalam setelah dibentak tempo hari, mendadak kembali bergejolak di dalam dadanya. "Benarkah, Bi? Tapi... kenapa sikapnya ketus sekali ya? Bahkan sejak hari pertama aku dan Mama datang ke sini."
Bi Sumi menghela napas panjang, tatapannya menerawang menatap barisan bunga mawar. "Hanya saja... sejak kepergian almarhumah ibunya beberapa tahun lalu karena sakit, dan ditambah setelah adanya suatu kejadian besar beberapa waktu lalu... Den Mahesa berubah total. Laki-laki yang dulunya hangat itu berubah menjadi sangat dingin dan tertutup. Dia sengaja mengunci dirinya sendiri dari dunia luar, Non. Termasuk dari ayahnya sendiri."
Amerta mengabaikan gunting di tangannya, fokus mendengarkan. Potongan teka-teki itu mulai berputar di kepalanya. "Kejadian besar apa yang Bibi maksud? Apakah ada hubungannya dengan wanita yang..." Amerta menggantung kalimatnya, hampir saja keceplosan menyebutkan tentang foto wanita cantik yang ia lihat di atas nakas kamar Mahesa.
Bi Sumi mendadak bungkam, menyadari dirinya telah berbicara terlalu jauh melampaui batasannya sebagai seorang pelayan. Wanita paruh baya itu tersenyum canggung, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, maafkan Bibi, Non Amerta. Bukan hak Bibi untuk menceritakan urusan pribadi keluarga. Maaf ya, Non."
Meski didera rasa kecewa dan penasaran yang teramat sangat, Amerta tahu diri untuk tidak memaksa Bi Sumi berbicara lebih jauh. Namun, informasi singkat itu cukup untuk mengubah pandangan Amerta. Laki-laki angkuh yang tempo hari membentaknya habis-habisan itu, ternyata bukanlah monster tanpa perasaan. Mahesa hanyalah seorang manusia biasa yang sedang membawa luka masa lalu yang amat mendalam dan belum sembuh hingga detik ini.
Malam kelima tiba, membawa badai besar yang mengguyur kota Jakarta sejak sore hari. Angin kencang berembus kasar, membuat gorden-gorden tebal di ruang tengah melambai-lambai menakutkan, diselingi kilatan petir yang berkelebatan di balik jendela kaca besar. Tepat pukul sembilan malam, seluruh aliran listrik di kawasan perumahan elit itu padam total. Rumah megah itu seketika berubah menjadi labirin gelap yang sangat menyeramkan bagi Amerta.
Amerta yang dasarnya adalah seorang penakut akut langsung meraba-raba meja nakas di kamarnya, mencari ponsel dengan tangan gemetar. Beruntung, ia berhasil menyalakan lampu senter ponselnya yang sayangnya memiliki sisa baterai yang menipis akibat lupa diisi daya. Sinyal selulernya pun timbul tenggelam akibat cuaca buruk di luar. Karena merasa tenggorokannya kering dan suasana kamar terlalu mencekam, ia memberanikan diri berjalan turun ke lantai bawah menggunakan bantuan cahaya senter yang temaram, bermaksud mencari lilin dan segelas air di dapur.
KLIK...
Suara kunci pintu depan yang diputar membuat langkah Amerta mendadak terhenti tepat di anak tangga terbawah. Jantungnya berdegup gila-gilaan, hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Apakah ada penyusup di tengah badai seperti ini? Melalui pantulan cahaya senter yang sengaja ia arahkan ke lantai marmer lorong depan, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang basah melangkah masuk dengan tegap.
Itu Mahesa. Kakak tirinya pulang di tengah amukan badai.
Mahesa tampak terkejut sesaat saat melihat sorot lampu senter ponsel Amerta mengarah tepat ke arah kakinya. Namun dengan sangat cepat, ekspresi terkejut di wajah tampannya kembali berubah menjadi datar, dingin, dan tak terbaca. Jas hitam mahalnya tampak disampirkan begitu saja di lengan kiri, sementara kemeja putih rapinya terlihat sedikit basah di bagian bahu karena terkena rintik hujan. Rambut indahnya yang biasa disisir klimis kini tampak agak berantakan karena terpaan angin malam, memberikan kesan kasual yang belum pernah Amerta lihat sebelumnya.
"M-mati lampu sejak setengah jam yang lalu, Kak," ucap Amerta memberanikan diri memecah kesunyian yang mencekik di antara mereka. Ia berusaha bersikap biasa dan ramah, mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang adik yang baik. "Aku baru mau ke dapur untuk mengambil lilin atau senter cadangan."
Mahesa tidak langsung menjawab ucapan Amerta. Ia melangkah maju mendekati area tangga, membuat jarak di antara mereka mengikis. Aroma parfum maskulinnya yang khas—campuran kayu cendana dan mint—bercampur dengan aroma segar air hujan langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Amerta. Di dalam kegelapan ruang tengah, mata biru Mahesa yang seindah mahakarya Tuhan tampak memantulkan sedikit cahaya kuning dari ponsel Amerta, menciptakan binar mistis yang memikat namun berbahaya.
"Tidak usah ke dapur. Genset otomatisnya rusak?" tanya Mahesa akhirnya. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan serak—nada suara khas dari seseorang yang baru saja menghabiskan sisa energinya setelah seharian penuh memeras otak di dunia korporat yang kejam.
Amerta menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab, merasa terintimidasi oleh kedekatan jarak mereka. "Sepertinya begitu, Kak. Tadi sebelum tidur, Bi Sumi sempat bilang kalau ada komponen mesin genset yang aus dan baru bisa diganti oleh teknisi besok pagi."
Mahesa menghela napas panjang, sebuah helaan napas keletihan yang teramat sangat. Ia merogoh saku celana bahan hitamnya, mengeluarkan sebuah korek api gas berlogo perak mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, laki-laki tegap itu berjalan melewati tubuh Amerta begitu saja, menuju meja konsol panjang yang terletak di sudut ruang tengah.
Dengan gerakan tangan yang cekatan dan tenang, Mahesa mulai menyalakan satu per satu lilin aromaterapi berwadah gelas kaca yang memang sengaja dipajang di sana sebagai hiasan ruangan.
Dalam sekejap, ruang tengah yang tadinya gelap gulita dan menyeramkan perlahan-lahan diterangi oleh cahaya kuning keemasan yang hangat dan lembut. Aroma vanila dan lavender yang menenangkan dari lilin-lilin tersebut mulai menguar ke udara, mengusir atmosfer dingin dan mencekam yang sempat dibawa oleh badai di luar sana.
Amerta berdiri diam seribu bahasa di dekat sofa, kedua tangannya meremas ujung kaus tidurnya. Matanya tidak bisa lepas dari punggung tegap kakak tirinya yang sedang sibuk menyalakan lilin terakhir. Malam ini, keajaiban tampaknya sedang terjadi. Mahesa tidak membentaknya sama sekali. Tidak ada kata-kata kasar, pun tidak ada tatapan mata mengintimidasi yang menghakiminya seperti malam kejadian di kamar terlarang itu. Yang ada di hadapan Amerta saat ini hanyalah seorang laki-laki dewasa yang tampak sangat lelah oleh rutinitas hidupnya sendiri.
Setelah selesai dengan lilin terakhir, Mahesa membalikkan tubuhnya yang tinggi kokoh. Ia menatap Amerta yang masih berdiri mematung di tempatnya dengan pandangan lurus.
"Masuk ke kamarmu sekarang dan kunci pintunya rapat-rapat. Di luar sedang badai besar, tidak usah berkeliaran di lantai bawah," ujar Mahesa dengan nada suara datar tanpa ekspresi.
Namun, kali ini intonasi suaranya tidak sedingin biasanya. Kalimat itu memang mutlak sebuah perintah khas Mahesa yang tidak suka dibantah, namun entah mengapa, di telinga Amerta, kata-kata itu terdengar seperti sebuah bentuk kepedulian kecil tersembunyi yang tulus.
Sebelum Amerta sempat membuka mulut untuk membalas ucapan itu, Mahesa sudah melangkah lebih dulu menaiki anak tangga marmer menuju lantai atas, membiarkan aroma maskulinnya tertinggal dan perlahan menyatu dengan wangi vanila dari lilin yang menyala. Amerta berdiri terpaku selama beberapa saat, menatap nyala lilin yang menari-nari dengan perasaan di dadanya yang mendadak terasa sedikit lebih hangat. Dinding es yang dibangun oleh Mahesa memang masih berdiri kokoh menjulang tinggi, namun malam ini, Amerta tersadar akan satu hal: kakak tirinya tidak sepenuhnya kejam ataupun tidak peduli pada keberadaannya di rumah ini.
MAHESA PUTRA DIRGANTARA
AMERTA BUNGA ADIGUNA