NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nafsienaff

Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.

Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.

Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.

Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.

Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati lapang Darma Amartya

Malam merayap sunyi di pinggiran kota, membawa hawa dingin yang perlahan menembus celah-celah jendela kaca rumah tahanan mewah tempat Darma Amartya diisolasi. Di dalam sebuah ruangan yang luas namun terasa begitu lengang, Darma duduk diam di atas kursi rodanya. Posisinya menghadap langsung ke arah luar jendela besar, menatap hamparan langit malam yang pekat, dihiasi oleh pendaran ribuan bintang yang berkilau dingin.

Pria tua itu melamun panjang. Ingatannya berputar balik, melompati sekat waktu belasan tahun lalu, menuju malam jahanam yang telah menjungkirbalikkan seluruh garis takdir hidupnya. Darma mengembuskan napas yang teramat berat, guratan-guratan keriput di wajah tuanya tampak kian tegas di bawah temaram lampu ruangan. Ia sama sekali tidak pernah menyangka, sebuah kesalahpahaman dan perselisihan bisnis lama antara dirinya dan Tuan Mahendra di masa lalu, akan bermutasi menjadi bom waktu yang menghancurkan masa depan putri tunggalnya, Senja Amartya.

Dendam kesumat yang dirawat oleh Bara Mahendra selama lima belas tahun terbukti telah berhasil mengobrak-abrik seluruh fondasi kehidupan mereka. Kerajaan bisnis Amartya Group yang ia bangun dengan peluh kini runtuh berpindah tangan, rumah lamanya disita, dan yang paling menyayat hati, Senja kini harus hidup sebagai sandera di bawah atap yang sama dengan pria yang membencinya.

Namun, di balik seluruh kehancuran dan rasa sakit yang ia tanggung di sisa usianya, tidak ada sedikitpun pun rasa benci atau dendam yang membakar hati Darma kepada Bara. Pria tua itu justru mengulas seulas senyuman pasrah yang teramat teduh, menatap bintang-bintang di langit dengan kelapangan hati yang luar biasa.

Darma bisa sedikit memakluminya. Sebagai seorang pria yang juga pernah muda dan mengerti bagaimana rasanya kehilangan, Darma menempatkan dirinya di posisi Bara. Anak belasan tahun yang dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji, lalu hidup terlunta-lunta dilingkupi bayang-bayang trauma... wajar jika jiwanya membeku dan menjelma menjadi monster pemburu balas dendam.

"Jika aku yang berada di posisimu malam itu, Bara..." bisik Darma lirih pada kesunyian malam, suaranya parau dan bergetar halus. "Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu. Bahkan... mungkin aku akan bertindak jauh lebih kejam dan membakar siapa saja demi membalas darah orang tuaku."

Darma menyadari, Bara hanyalah seorang korban dari skenario licik pihak ketiga yang hingga kini belum terungkap. Kekejaman Bara pada Senja belakangan ini bukanlah murni karena pria itu jahat, melainkan karena Bara sedang ketakutan setengah mati menghadapi getaran nuraninya sendiri yang mulai melunak.

Cklek.

Suara engsel pintu yang terbuka perlahan memutus lamunan panjang Darma. Sesosok pria tegap berbalut setelan formal melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang teratur tanpa suara. Pria itu adalah Rian. Asisten pribadi Bara Mahendra itu datang ke rumah tahanan pinggiran kota atas perintah rahasia dari bos besarnya, khusus untuk mengecek secara berkala bagaimana kondisi kesehatan dan logistik Darma pasca keluar dari rumah sakit beberapa minggu lalu.

Rian berdiri beberapa langkah di belakang kursi roda Darma. Ia tidak langsung bersuara. Keheningan di dalam ruangan itu terasa begitu khidmat, hampir sakral, hingga Rian merasa bersalah jika harus merusaknya dengan kasak-kusuk formalitas pekerjaan.

Dari posisinya, Rian bisa melihat pantulan wajah tua Darma di kaca jendela. Wajah yang lelah, namun sama sekali tidak memancarkan aura seorang pesakitan yang kalah. Ada kedamaian yang aneh di sana.

Rian berdeham pelan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk penghormatan yang tulus—bukan sekadar basa-basi protokol.

"Selamat malam, Pak Darma," sapa Rian dengan nada suara yang rendah dan sopan.

"Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Anda."

Darma tidak terkejut. Pria tua itu perlahan memutar kursi rodanya, menghadap Rian dengan senyuman tipis yang hangat.

"Ah, Nak Rian. Tidak perlu meminta maaf. Malam terlalu panjang untuk dihabiskan dengan tidur oleh orang tua sepertiku. Bagaimana kabar Bara?"

Pertanyaan pertama Darma justru bukan tentang dirinya sendiri, melainkan tentang pria yang telah mengurungnya di tempat ini. Rian sempat terpaku sesaat. Dedikasi Darma sebagai seorang ayah yang bijak sekaligus pengamat yang tajam membuat Rian selalu merasa kikuk.

"Pak Bara... baik, Pak," jawab Rian agak ragu, sebelum melanjutkan agenda utamanya.

"Saya datang kemari untuk memastikan semua kebutuhan medis dan logistik Anda terpenuhi dengan baik. Apakah ada keluhan mengenai pelayanan perawat atau fasilitas di sini?"

Darma terkekeh pelan, sebuah suara parau yang terdengar tulus.

"Bara memperlakukanku seperti tahanan VIP, Rian. Tempat ini terlalu mewah untuk sebuah hukuman. Katakan padanya, obat-obatanku lengkap, dan makanan di sini bahkan terlalu enak untuk lambung tuaku."

Darma terdiam sejenak, tatapannya menembus langsung ke dalam manik mata Rian.

"Tapi, tolong jujurlah padaku. Bagaimana keadaan Senja? Apakah Bara... masih menyiksanya?"

Rian menelan ludah. Ia berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, ia adalah tangan kanan Bara yang harus menjaga rahasia. Di sisi lain, ia tidak bisa membohongi nuraninya sendiri saat melihat kepedulian seorang ayah di hadapannya.

"Nona Senja... kuat, Pak," ujar Rian, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.

"Pak Bara memang masih keras kepala, tetapi... belakangan ini saya melihat ada perubahan. Tuan Bara tidak lagi sekejam dulu. Seperti yang Anda duga, beliau sedang berperang dengan hatinya sendiri."

Darma mengangguk-angguk pelan. Air mukanya melembut, menyiratkan rasa lega yang teramat besar.

"Terima kasih, Rian. Terima kasih karena sudah menjaga mereka berdua di rumah itu."

Rian tertegun. Kalimat terakhir Darma terasa begitu berat sekaligus hangat, menghujam langsung ke lubuk hatinya. Tugasnya di sini seharusnya hanya menjadi mata-mata pasif untuk Bara. Namun, kelapangan hati pria tua di hadapannya ini perlahan-lahan mulai mengikis batasan profesional yang selama ini ia jaga ketat.

"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pak," sahut Rian, suaranya agak tercekat.Rian melangkah mendekat, lalu merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah tabung obat kecil yang baru dosis khusus yang dipesan langsung dari dokter spesialis langganan keluarga Mahendra, tanpa melalui catatan resmi rumah tahanan.

"Ini vitamin tambahan untuk jantung Anda. Pak Bara tidak memesannya secara langsung, tapi..." Rian menggantung kalimatnya, meletakkan botol itu di atas meja kecil di samping Darma.

"...beliau memeriksa laporan kesehatan Anda setiap malam sebelum tidur. Beliau tidak pernah melewatkan satu halaman pun."

Darma menatap botol obat itu, lalu kembali menatap Rian. Senyumnya kini melebar, memancarkan binar haru yang tak mampu disembunyikan oleh keriput di sudut matanya.

"Anak itu... dia mewarisi sifat keras kepala ayahnya, tapi hati lembut ibunya," bisik Darma, menerawang.

"Sampaikan padanya, Rian. Aku tidak akan mati sebelum melihatnya berdamai dengan masa lalu."

Rian hanya bisa mengangguk hormat. Merasa tugas rahasianya malam itu sudah cukup, ia berpamitan dengan sopan dan melangkah mundur ke luar ruangan, meninggalkan Darma yang kembali berteman dengan kesunyian malam dan pendaran bintang di balik jendela.

Bersambung

1
sri susanti
semoga olivia dpt balasan yg setimpal,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!