NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Welcome, Kiara.

Seorang gadis kecil bernama, Kiara Alessandra Seraphina, sedang bermain di taman yang tak jauh dari komplek rumahnya.

Gelak tawa bergema, mengiringi langkah kecilnya yang lincah. Pipinya yangtembem semakin memerah karena kepanasan.

"Papa, adek mau ke sana," serunya, sambil menunjuk sebuah sudut taman yang tampak kosong.

Girga, menggeleng lembut. "Di sana sepi, sayang. Di sini aja, ya."

Wajah kecil Kiara seketika cemberut. "Papa pelit! Kalau main sama abang, pasti dibolehin," gerutunya.

Dengan langkah kecil yang dibuat dramatis, ia berjalan menghampiri mamanya sambil menyilangkan tangan di dada. Delina pun tersenyum sabar lalu mengusap lembut rambut Kiara yang sedikit berantakan.

"Adek sebel sama, Papa!" keluhnya, kali ini dengan bibir mungil yang mengerucut.

Tidak jauh darinya, Girga pun segera mendekat, dengan cepat dia memeluk tubuh kecil putrinya dari belakang.

"Papa sayang adek, masa adek ngambek terus sama Papa?" godanya sambil mengangkat Kiara ke dalam pelukan. Namun, si kecil justru memberontak, meminta untuk diturunkan.

"Pa, adek mau ke rumah kakak hari ini. Boleh ya?" pertanyaan polos itu membuat langkah Delina dan Girga terhenti sejenak.

Alih - alih menjawab, mereka malah saling menatap satu sama lain. Saling berbagi luka yang tak lagi mampu diungkapkan dengan kata-kata.

"Turunin dulu adek-nya, Pa. Biarkan dia jalan sendiri. Dia kan sekarang berat," ucap Delina, mencoba mencairkan suasana sambil membenahi rambut Kiara.

Girga menyerahkan botol minum kepada putri kecilnya. "Minum dulu, sayang. Dokter bilang adek harus banyak minum biar nggak dirawat lagi,"

Kiara menggeleng keras. "Adek nggak haus, Papa,"

"Tapi kalau adek nggak minum, Papa sedih, lho." Ucapan sederhana, dan akhirnya membuat Kiara menyerah.

Gadis kecil itu segera minum perlahan, walau dengan ekspresi enggan.

"Ke rumah Kaka nya, nanti aja ya, sekalian sama abang," bujuk Delina lembut.

Namun, Kiara tetap pada pendiriannya. Tangisnya pecah, menghentak hati kedua orang tuanya.

"Dari kemarin nggak jadi! Pokoknya, adek mau ke rumah Kakak sekarang!"

Girga dan Delina tak lagi mampu membujuk. Mereka mengiyakan permintaan kecil itu, lalu bergegas menuju mobil yang terparkir di depan sana. Perjalanan berakhir di sebuah pemakaman yang tenang, dihiasi gundukan tanah dengan bunga matahari yang berjajar rapi di sekitarnya. Kiara segera meminta turun dan melangkah mendekati gundukan tanah di depannya.

Dengan suara lirih, ia berucap. "Kakak, ini adek ..."

"Kakak cantik tahu nggak?" tanya Kiara dengan suara yang menggemaskan, memecah keheningan.

"Setiap malam, abang suka nangis di kamarnya. Waktu Adek tanya, katanya abang rindu sama Kakak cantik."

Mendengar hal demikian, hati Delina serasa diremas. Sebuah luka yang selama ini tersimpan rapi kembali terbuka. Kiara melanjutkan dengan nada pelan,

"Mama, Papa, mereka juga rindu sama, Kakak. Adek pengen bermain sama Kakak."

Delina perlahan berjongkok, mendekat pada putri kecilnya yang berbicara dengan ketulusan seorang anak. Ia mengelus lembut kepala Kiara, seolah mencoba menyampaikan kehangatan yang tak lagi bisa mereka berikan pada Valeska.

"Kakak cantik pasti sudah bahagia di sana, sayang," bisik Delina, berusaha menahan suaranya agar tetap stabil.

"Apalagi kalau lihat adek yang secantik Kakak. Kehadiran adek itu obat rindu Mama ke Kakak. Jadi, adek harus sehat-sehat ya, cantiknya Mama."

Kiara menatap wajah sang mama, lalu dengan polos berkata, "Mama jangan nangis, nanti adek ikut menangis,"

Delina tersentak. Dua buru-buru mendongak, menatap langit yang mulai berwarna jingga, agar air mata yang sudah menggenang tidak sampai tumpah. Ada banyak sekali kenangan tentang Valeska yang tersimpan rapi di sudut hatinya. Meski waktu terus berjalan, memori tentang putri keduanya tetap utuh, seakan-akan baru kemarin mereka menikmati kebahagiaan bersama.

Di sisi lain, Delina dan Girga saling berpandangan dalam keheningan. Tatapan keduanya berbicara lebih dari kata-kata, menyuarakan rasa kehilangan yang selama tiga tahun lebih ini terus mengiringi langkah mereka.

Kehidupan tanpa kehadiran Valeska adalah kenyataan pahit yang harus mereka terima, meskipun hati mereka belum sepenuhnya berdamai. Hari mulai beranjak senja. Dengan berat hati, Girga mengajak istri dan anak bungsunya untuk segera pulang.

Setibanya di rumah, merekadisambut oleh Kaivandra, putra sulung Girga dan Delina. Pasalnya, Kaivandra baru pulang kerja bersama sang kekasih.

"Halo, cantiknya abang. Dari mana aja nih?" sapa Kaivandra, seketika tubuhnya membungkuk untuk memeluk adiknya yang langsung berlari menghampirinya.

"Adek habis main sama Papa Mama, terus ke makam kakak," jawab Kiara polos.

Sementara itu, Marvela yang merupakan kekasihnya Kaivandra hanya bisa tersenyum sopan pada Delina dan Girga.

"Halo, Tante, Om. Apa kabar?"

"Baik, Marvela." Jawabnya kompak.

"Kak Malvela, nginep di sini aja, ya. Temenin Adek main," pinta Kiara sambil menarik lengannya.

"Main terus, ya, yang ada di pikiran kamu," ledek Kaivandra."

"Tapi kan, adek nggak sibuk pacalan kayak abang," balas Kiara, membuat semua tertawa kecil karena gemas, terlebih anak itu belum bisa melapalkan huru R dengan benar.

Delina merasa gemas saat mendengar percakapan di ruang tamu.

"Ayo, mandi dulu. Habis ini kita siap-siap makan malam," ajaknya lembut.

Namun Kiara dengan cepat menggeleng, sambil mempererat pelukannya pada Kaivandra.

"Nggak mau, adek nggak mau mandi sekarang, Mama," jawabnya keras kepala, bibirnya cemberut lucu.

"Sana mandi, kamu bau matahari," ejek Kaivandra.

"Adek nggak mau, mandi. Abang ini nakal ya,"

"Adek tuuh yang nakal, marahin nih, Pa. Adek nggak mau mandi," seru Kaivandra, dengan nada mengejek.

"Bang, kamu nggak malu sama, calon istri kamu?" tanya Delina, menghadapi kedua anaknya.

Sementara Girga yang sedang beristirahat di ruangan sebelahnya, hanya bisa menghela napas panjang.

"Berantem sana berantem, Papa udah capek ngadepin kalian yang seperti ini. Abang kan udah gede, jangan jahilin adeknya terus." Ucapnya, dengan nada lelah.

Mendengar hal itu, Delina tersenyum tipis, sudah hapal betul tingkah putri bungsunya. Tanpa banyak kata, Delina segera mendekat, mengangkat tubuh kecil Kiara, dan membawanya menuju kamar di lantai dua.

Tentu saja, Kiara langsung menangis histeris, bahkan suaranya terdengar menggema di sepanjang tangga, membuat Delina harus menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Dari lantai bawah, suara Girga ikut menimpali.

"Adek kalau nggak mau mandi, nanti Papa nggak ajak ke kantor lagi, lho!"

"Huaa ... adek nggak mau mandi! Adek masih mau main!" teriak Kiara histeris, membuat suasana semakin gaduh.

Kaivandra yang duduk di ruang tamu hanya bisa menghela napas panjang. Ia menoleh pada kekasihnya, yang tersenyum menenangkan.

"Mau mandi aja dramanya kayak mau diapain. Maaf, ya, berisik. Namanya juga anak kecil seperti Kiara," ucapnya, menyerah pada situasi.

Marvela mengangguk kecil. "Nggak apa-apa, wajar kok. Justru lucu," sahutnya lembut.

Beberapa saat kemudian, tangis Kiara mulai mereda. Delina akhirnya bisa bernapas lega. Dengan sabar, ia membaluri perut kecil Kiara dengan minyak telon, sementara Kiara sibuk memainkan bedak tabur yang ada di dekatnya.

"Seger, kan?" tanya Delina, menyeka sisa air di dahi si kecil.

"Segel Mama ... tapi adek ngantuk, Mama," jawab Kiara dengan suara pelan.

Delina tersenyum, lalu membenarkan posisi tidur Kiara yang kini sudah tengkurap di atas kasur. Baru beberapa menit ia ditinggalkan, gadis kecil itu sudah terlelap, napasnya teratur dan tenang.

Delina kembali mendekat, duduk di tepi kasur sambil membelai lembut pipi tembem Kiara. Pipinya terasa hangat dan lembut, membawa kenangan manis yang selalu membuat hatinya terisi penuh cinta.

"Sehat terus, ya, cantiknya Mama," bisiknya pelan, mata Delina berkaca-kaca, tapi senyum tetap menghiasi wajahnya.

Rasanya, semua lelah hari ini langsung terbayar lunas hanya dengan melihat wajah polos Kiara, yang sudah tertidur pulas.

"Andai saja, Valeska ada di sini. Pasti rumah ini akan lebih rame dan hangat, tapi sayangnya, Tuhan memiliki rencana lain. Tuhan, membawa anak sebaik kamu secepat itu, Nak." Ucapnya dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!