Seorang suami yang mempunyai dua istri, namun keduanya baik-baik saja tidak ada masalah.
Istri pertama sakit-sakitan dan tidak di karuniai anak, sementara Istri kedua di karuniai seorang putra.
Akan tetapi Sang Suami tidak puas dengan dua Istri, Dia masih tergoda wanita lain.
Akhirnya Dia jatuh dalam pelukan wanita jahat dan serakah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Asmarani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 Hamil
Keesokan harinya Nando udah bersiap untuk ngantor, pagi sekali Nando udah turun dan siap di meja makan.
Aku curiga saat aku turun Mas Nando sedang menelpon seseorang dan buru-buru menutupnya setelah melihat kedatanganku.
" Telpon siapa Mas, apa udah ada orang yang di kantor jam segini?" tanyaku cuek mendekati meja makan.
" Ini...Edo minta ketemuan nanti siang," jawabnya gugup sembari memasukan ponselnya ke saku.
" Ngapain jam segini udah telepon ngajak ketemuan, kapan Edo pulang dari Australi Mas, setauku dia masih di sana seminggu yang lalu,"
" Baru pulang kemarin Ra...udah deh kamu jangan sinis gitu sama aku," ngapain sih kamu selalu mengintrogasi aku," ketus Nando.
Sejenak ruangan jadi hening, Ibu dan Aura hanya saling pandang,
" Bu...Mba...aku mau nyuapin Bara dulu di belakang," pamitku untuk menghindari ketegangan aku sama Mas Nando.
Nara mengambil nasi sama lauk dan bergegas ke belakang meninggalkan meja makan.
Kalau pagi Bara pasti ikut sibuk sama Mang Ujang ngurusi tanaman.
Nara tidak percaya bahwa Nando di telpon Edo, dia yakin dan samar mendengar suara perempuan dari suara ponsel Nando.
" Bu...Ra, aku berangkat ke kantor dulu," Nando berpamitan.
****
Nando berangkat pagi karena harus jemput Lina, dia sudah menunggu dari tadi.
Lina tampak bolak-balik melihat jam, dia sedikit lega karena dari jauh nampak mobil Nando melaju ke arahnya.
" Kok baru sampai sini Mas, bukannya dari tadi udah siap meluncur," Lina denga nada sewot.
" Biasa kalau lagi pada kumpul ya begini, sering telat ngantor,"
" Emm...Lin ke diller nya besok aja ya, dan hari ini kamu terakhir ngantor, nanti mobilnya buat aktifitas kamu sehari-hari saja," ucap Nando.
" Asyikk, akhirnya beli mobil juga...yess," batin Lina.
" Tapi Mas...nanti aku gimana, mau kerja di mana lagi?" tanya Lina.
" Apa uang belanjaanku yang tiap minggu aku trafer masih kurang, itu sudah lebih dari cukup untuk kamu dan juga ibumu.
Ada banyak pasang mata yang mengawasi kedatangan mereka berdua, salah satunya Rere temen Nara.
Rere mengawasinya sampai mereka berdua masuk, Rere mengikutinya dari kejauhan.
Nando langsung masuk ke ruangannya, tidak lama setelah itu datang Gunawan dengan membawa setumpuk berkas yang harus segera Nando tanda tangani.
Lina di luar ruangan fokus dengan kerjaannya, hari ini dia harus menyelesaikan pekerjaannya karena besok dia sudah mulai resign.
Gunawan tau kalau Lina mau resign besok, Nando yang memberitahu tadi waktu Gunawan ada dalam ruangannya, dia mampir ke meja Lina.
" Lin, apa bener besok kamu mau resign?" tanya Gunawan, kali ini dia serius ngga pakai bercanda.
" Apa kamu mau menikah sama Alex?
" Iihhh...apa-apaan sih kamu, aku udah ngga ada urusan sama Alex, ngapain kamu masih kaitkan aku sama Alex? tanya Lina geram.
" Sorry...sorry...lantas kenapa kamu resign, apa mau pindah dari sini.
Atau gajinya kurang gede kerja di sini,? Gunawan menghujani Lina dengan banyak pertanyaan.
" Ngga ada yang bener, semuanya salah...aku cuma pengin istirahat ngrawat ibu yang sakit-sakitan," jawab Lina serius.
Lina resign ternyata sudah sampai juga ke telinga Rere, dia mengumpulkan banyak informasi buat Nara, tapi dia ngga mau buru-buru. Dia sangat berhati-hati karena ini juga menyangkut kariernya.
" Lin...kamu masuk ke ruangan saya sekarang," suara Nando dari ujung telepon.
Lina segera masuk ke ruangan, di sana Nando sedang bersandar di kursi kebesarannya.
" Duduk Lin, kalau kerjaan kamu udah beres semua kamu bisa langsung pulang, berpamitan sama mereka dengan alasan yang masuk akal, jangan sampai mereka curiga.
" Iya Mas, nanti aku langsung pulang kalau kerjaan udah beres," Lina berjalan mendekati kursi Nando dan satu kecupan mendarat di kening Nando.
" Masih di kantor Lin, jangan bikin kerjaanku kacau," Nando menarik Lina kedalam pangkuannya dengan membalas kecupan di bibir Lina.
Untuk sesaat mereka saling berpagutan bibir dan saling menikmati, suasana hening hanya tangan sama bibir mereka yang bicara.
" Emm...udah Mas, nanti aja kalau Mas pulang mampir...jangan di terusin di sini.
Nando menghentikan aktifitasnya, membantu memasangkan kancing pakaian Lina yang sempet terbuka bagian atasnya.
" Ya udah, kamu pulang dulu...untuk sementara naik taksi aja dulu, nanti aku menyusul," Nando melepaskan pelukannya.
Hari itu Lina pulang lebih awal, mulai besok dia udah resign.
Nando takut keberadaan Lina ketauan sama istri-istrinya dan juga ibunya.
Lina naik taksi menuju rumahnya, tapi sebelum nyampai rumah dia mampir ke apotek dulu, sekitar setengah jam baru sampai rumah.
Lina mandi dan terlihat seger, dia sudah siap menunggu Nando pulang ke rumah kontrakannya.
Tidak lama setelah itu suara mobil terparkir di halaman rumahnya.
Nando langsung masuk ke rumah, karena pintu sudah terbuka, dia udah ngga sabar untuk segera memeluk dan melahap Lina yang tampak seksi, dia sengaja memakai pakaian seperti itu supaya tampil lebih menggoda di hadapan Nando.
" Ngga mandi dulu Mas biar seger," Lina sedikit melepaskan pelukan Nando yang terasa sesak.
Hingga malam Nando baru pulang ke rumah, Nando langsung naik ke kamarnya setelah mencium dan menggendong Bara sebentar.
Nando mandi langsung tidur, tak ada acara makan malam bersama, Nara semakin gusar, dia sudah tidak tahan dengan hari-harinya.
" Aku harus telepon Rere, ada kabar apa hari ini," gumamnya.
" Hallo, Re...kamu lagi ngapain, boleh ngganggu sebentar Re?" ada yang mau aku tanyakan.
" Hallo juga Ra, maaf aku belum sempet kasih kabar...tadi sibuk banyak kerjaan Ra," jawab Rere dari sebrang sana.
" Ra...mulai besok Lina udah resign, tapi aku juga ngga tau kenapa dia resign, dan tadi pagi aku liat mereka berangkat bersama, Lina ikut mobil Pak Nando,"
Dada Nara langsung bergemuruh, ingin rasanya dia langsung labrak mereka.
" Sabar Ra, jangan gegabah nunggu saat yang tepat," Nina menenangkan dirinya sendiri.
" Hallo Ra...masih denger suaraku?" Rere menyadarkan Nara yang terdiam.
" I-iya Re, makasih infonya ya," Nara menutup teleponnya.
Nara terdiam, tatapannya kosong..." Inikah balasan cinta suciku, Mas...kamu bilang tidak akan menyakitiku dan juga mba Aura, tapi ternyata...kamu jahat Mas..." Nara menangis di kamarnnya di samping Bara yang pulas tertidur.
Nara mengusap wajah dan rambut Bara dengan penuh kasih sayang.
" Bara adalah buah cinta kita Mas, kamu yang sekarang bukan Mas Nando yang dulu.
Nara mengingat masa indah saat bahagia dulu, hingga akhirnya terlelap dalam buaian malam.
Pagi sekali Lina udah kirim pesan ke Nando," Aura mengambil ponsel Nando, dia ngga berani buka ponsel Nando.
" Mas...ini ada pesan masuk, ngga tau dari siapa," panggil Aura.
" Iya bentar, aku belum selesai," jawab Nando dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi Nando pakai handuk, dan keluar dari kamar mandi.
Aura udah menyiapkan keperluan Nando seperti biasa, dari pakaian, dasi, sepatu dan yang lainnya.
Nando memakai pakaian yang udah di siapkan oleh Aura, sementara Aura turun ke bawah nyiapin sarapan pagi di bantu sama Bi Ijah.
Setelah selesai Nando membuka ponsel dan membaca pesan satu persatu, Nando mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari Lina.
Ada foto tespeck bergaris merah dua," Lina hamil..!!
Nando terduduk lemas di ranjang, dia bingung apa yang akan dia lakukan sebagai bentuk pertanggung jawabannya terhadap Lina.
Nando yang sudah terlihat rapi kini rambutnya kusut, berulang kali menarik nafas dan melepasnya pelan.
Di pesan tertulis, minta segera di nikahi takut perutnya semakin membesar.
" Apa yang harus aku lakukan?" Nando terus bertanya dalam hati.
Nando turun ke bawah tapi tidak ikut sarapan pagi bersama, Nando langsung berpamitan sama kita, aku berdiri berjalan kearah Nando, " Kenapa sih Mas, sekarang kamu kelihatan sibuk ngga ada waktu buat kita, Mas banyak sekali berubah ngga seperti dulu," aku jauh-jauh dari Bogor ke sini sebagai bentuk kewajiban istri melayani suami, tapi apa yang Mas lakukan?" Aku di biarin di rumah sementara Mas tiap hari pergi, dengan alasan sibuk. Ini kah Mas Nando yang sekarang," Nara nangis lari naik ke kamar.
Terdengar suara pintu di banting, " brakk...!!!
Nando terduduk di sofa mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar.
Seketika ruangan jadi hening, nampak ibu berjalan ke arah Nando, kamu kenapa Nak, ngga seperti biasanya kamu seperti ini. Kamu banyak berubah akhir-akhir ini, susul Nara ke atas Nak...
" Maaf Bu, sekarang Nando sibuk, nanti sepulang kerja aku temui Nara, assalamu'alaikum bu, " Nando salaman berpamitan.
Sang ibu masih berdiri mematung, membalas salamnya dengan lirih.
Ibu kambali duduk melanjutkan sarapan paginya yang terrunda, sementara Aura hanya terdim, matanya berkaca-kaca...batinnya ikut menangis dengan perubahan Nando akhir-akhir ini.
" Bu...bantu kami supaya Mas Nando kembali seperti dulu lagi, rumah ini yang dulu rame, Mas Nando yang dulu periang tapi romantis, sekarang sudah tidak ada lagi," Aura diam mengenang, memohon sama Ibu untuk jadi penengah.
Selesai sarapan Aura naik ke kamar Nara," dia mengetuk pintu pelan, " Nara...sarapan dulu, Bara belum sarapan lho...
" Nara...," Aura mengulanginya, namun tetap tidak ada jawaban.
" Aura...biarkan dia menenangkan pikirannya dulu, kamu suapin aja Bara, udah siang kasian dia," terdengar suara ibu dari bawah.
****
Sementara Lina sudah menunggu kedatangan Nando, dia udah siap berakting nangis minta pertanggung jawaban Nando.
Betapa licik, jahat dasar ibl*s Kau...!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan sewot liat Nando ya, kita tunggu kelajutannya...jangan lupa follow, like dan komentar ya biar semangat nulisnya.
andai dirimu nikahbdg nando dgn siri, harta ygvdiberikan nando ke kamu, jd harta gono gini istri yg sah sexara afama dan negara.
jd perkawinan dgn suri, tdk punya kekuatan hukum apapun.
Sudah tua kan ?
Waktu Nando selingkuh dgn Lina umurnya diatas 40 th. 23 tahun kemudian berarti sudah di atas 60th.
Hena teman sekolah Nando.
Masih melacur...