NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Makan Malam yang Terlewat

Pagi hari setelah penyelidikan rahasia malam itu dimulai dengan suasana yang sangat berbeda di kediaman utama keluarga Oliver.

Sinar matahari hari Sabtu menerobos tirai tipis, menghangatkan kamar tidur utama.

Viona terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Meskipun rasa mual tipis masih sempat menyergapnya saat pertama kali membuka mata, pelukan hangat Oliver yang tidak beranjak dari sisinya sejak fajar membuat semua rasa tidak nyaman itu sirna seketika.

Sesuai rencana yang telah disusun Oliver dengan dr. Elena dan tim spesialis kandungan rumah sakit pusat milik Oliver Group, pagi itu dihabiskan dengan rangkaian pemeriksaan medis yang sangat privat dan komprehensif.

Oliver mendampingi Viona di setiap detiknya, menggenggam erat jemari istrinya saat sampel darah diambil, dan menenangkannya dengan bisikan lembut saat pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan.

Meskipun hasil resmi tes darah baru akan keluar secara lengkap pada sore hari, dr. Elena memberikan senyuman penuh arti sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, sebuah isyarat yang membuat dada Viona berdebar-debar oleh harapan yang membuncah sekaligus rasa gugup yang tak terbendung.

Sore harinya, jarum jam telah menunjukkan pukul lima belas menit lewat enam sore.

Langit di luar jendela mulai berangsur menggelap, digantikan oleh warna biru tua yang dingin.

Di dapur mansion yang luas dan modern, Viona sedang sibuk menyiapkan makan malam.

Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi mereka.

Untuk merayakan kebebasan mental yang baru ia dapatkan dan sebagai bentuk rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengabdian Oliver, Viona memutuskan untuk memasak makanan kesukaan suaminya secara langsung tanpa bantuan kepala pelayan.

Wajah Viona tampak merona segar.

 Ia mengenakan celemek linen berwarna krem di atas terusan rajutnya yang kasual.

Di atas konter marmer dapur, beberapa hidangan telah tersaji rapi dan mengepulkan aroma yang sangat menggugah selera:

sup iga sapi dengan rempah pilihan, tumis sayuran segar kegemaran Yoyo, dan steak daging wagyu dengan saus lada hitam racikan khusus yang resepnya ia pelajari semalam.

Yoyo duduk manis di meja makan kecil di

sudut dapur, ditemani oleh Goldie yang setia duduk di bawah kakinya.

 Gadis kecil itu sedang asyik menggambar tiga sosok manusia yang saling bergandengan tangan di atas selembar kertas putih—sosok ayah, ibu, dan anak perempuan kecil.

"Bibi Viona, apakah Ayah akan pulang cepat hari ini?"

 tanya Yoyo, mendongak dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.

"Ayah berjanji akan membantuku menyelesaikan istana lego malam ini."

Viona tersenyum manis, berjalan mendekati Yoyo lalu mengusap pipi gembil putrinya dengan lembut.

 "Tentu saja, Sayang. Ayah sudah berjanji pada kita. Tadi siang Ayah menelepon dan bilang rapat terakhirnya akan selesai pukul lima sore. Sekarang sudah jam enam, jadi Ayah pasti sedang dalam perjalanan pulang."

Namun, waktu terus bergulir tanpa ampun.

Pukul tujuh malam.

Suasana di dalam mansion mulai mendingin. Lilin aromaterapi beraroma lavender yang dinyalakan Viona di tengah meja makan mulai meleleh setengahnya.

 Hidangan sup iga yang tadinya mengepulkan uap hangat kini telah mendingin, meninggalkan lapisan lemak tipis di permukaannya.

 Steak wagyu yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna pun mulai kehilangan kelembutan teksturnya.

Yoyo beberapa kali menguap lebar, kepalanya mulai terasa berat dan bersandar di atas meja makan. Krayon di tangannya telah tergeletak begitu saja.

Viona melirik ke arah ponselnya yang diletakkan di samping vas bunga.

Tidak ada satu pun panggilan masuk atau pesan dari Oliver. Ini adalah hal yang sangat tidak biasa.

 Oliver adalah pria yang teramat disiplin, terutama mengenai waktu yang telah ia janjikan untuk keluarganya.

Sejak pernikahan kontrak mereka berubah menjadi ikatan cinta yang nyata, Oliver tidak pernah sekali pun terlambat pulang tanpa memberi kabar, apalagi melewatkan makan malam bersama.

"Bibi... Yoyo lapar..."

 bisik Yoyo dengan suara serak khas anak kecil yang mengantuk.

Hati Viona berdesir perih melihat kondisi putrinya.

 Ia memaksakan sebuah senyuman hangat untuk menutupi kecemasan yang mulai merayap di dadanya.

"Kalau begitu, Yoyo makan supnya dulu ya? Setelah itu Yoyo bisa tidur. Nanti kalau Ayah pulang, Bibi yang akan menemani Ayah makan."

Viona menyuapi Yoyo dengan sabar. Setelah memastikan perut putrinya terisi, ia menggendong Yoyo ke kamarnya di lantai dua, menyelimutinya dengan lembut, dan mengecup keningnya hingga anak itu terlelap sepenuhnya.

Pukul sembilan malam.

Viona duduk sendirian di meja makan yang luas dan sunyi.

Seluruh hidangan mewah yang ia masak dengan penuh cinta sejak sore tadi kini telah mendingin sepenuhnya di bawah tudung saji.

Keheningan malam di mansion mewah itu terasa begitu pekat, sesekali hanya dipecahkan oleh suara detak jarum jam dinding yang terasa bagaikan hitungan mundur kecemasan.

Pikiran-pikiran negatif yang selama ini coba ia kubur mulai perlahan bangkit kembali.

"Apakah terjadi sesuatu di kantor? Apakah Oliver mengalami kecelakaan di jalan? Ataukah... Oliver mulai bosan dengan

rutinitas domestik ini?'

Viona mencoba menepis pikiran buruk itu. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor pribadi Oliver untuk yang kelima kalinya malam ini.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

Suara operator wanita yang dingin itu kembali menjawab panggilan Viona, membuat dadanya terasa semakin sesak.

 Air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk mata jernihnya.

Ia meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa sangat dingin.

Di saat ia baru saja merasakan kebahagiaan dan keamanan yang mutlak, perasaan takut kehilangan ini justru terasa berkali-kali lipat lebih menyiksa.

Tepat ketika Viona hampir kehilangan harapannya dan berniat menghubungi Sekretaris Ryan, sebuah suara raungan mesin mobil Rolls-Royce yang sangat familiar terdengar membelah keheningan malam di halaman depan mansion.

Viona seketika bangkit dari kursinya.

 Tanpa memedulikan penampilannya yang sedikit berantakan, ia berlari kecil menuju pintu depan.

Pintu kayu jati besar itu terbuka, menampilkan sosok Oliver.

Namun, pemandangan di depannya membuat langkah kaki Viona seketika terhenti.

Oliver berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sangat tidak biasa.

 Kemeja putihnya yang biasa rapi kini tampak kusut dengan kancing bagian atas yang terbuka lebar.

 Jas hitamnya tersampir tidak beraturan di lengannya. Yang paling mengejutkan adalah

ekspresi wajah tegap sang CEO.

Wajah Oliver tampak sangat lelah, tegang, dan dipenuhi oleh aura kemarahan yang luar biasa pekat, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan pertempuran hidup dan mati di luar sana.

Napasnya terdengar agak memburu, dan sepasang mata elangnya yang biasa tajam kini tampak redup dan dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat dalam saat bertatapan dengan Viona.

Di belakangnya, Sekretaris Ryan berdiri dengan kepala menunduk dalam, membawa sebuah map dokumen tebal berwarna hitam dengan ekspresi yang tak kalah tegang.

"Oliver..."

bisik Viona, suaranya bergetar halus.

Rasa cemas di dadanya seketika berubah menjadi rasa lega yang luar biasa melihat suaminya pulang dengan selamat, namun melihat penampilan Oliver, ia tahu ada sesuatu yang sangat besar yang baru saja terjadi.

Oliver menatap meja makan di kejauhan yang masih menyisakan sisa-sisa lilin yang padam dan hidangan yang mendingin di bawah tudung saji.

Matanya bergetar hebat saat menyadari bahwa ia telah melewatkan makan malam yang disiapkan oleh istrinya dengan penuh cinta.

Pria tirani itu melangkah lebar memotong jarak di antara mereka.

Tanpa memedulikan kehadiran Sekretaris Ryan di belakangnya, Oliver langsung menarik tubuh ramping Viona ke dalam dekapan hangatnya yang teramat erat, seolah-olah ia takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Viona akan menghilang dari hidupnya.

"Maafkan aku, Viona... Maafkan aku..."

bisik Oliver dengan suara yang sangat rendah, serak, dan sarat akan penyesalan yang mendalam di ceruk leher Viona.

"Aku melewatkan makan malam kita. Aku membiarkanmu dan Yoyo menunggu dalam kegelapan..."

Viona merasakan detak jantung Oliver yang berdegup sangat kencang dan tidak beraturan di dadanya.

 Ia melingkarkan kedua lengannya di punggung kokoh Oliver, mengusapnya perlahan untuk menyalurkan ketenangan.

"Tidak apa-apa, Oliver. Yang penting kau pulang dengan selamat,"

 balas Viona lembut, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

 "Apa yang terjadi? Kenapa ponselmu tidak aktif?"

Oliver melonggarkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap menangkup pipi Viona dengan sangat protektif.

 Ia menatap mata jernih istrinya dengan tatapan yang kini berkilat oleh ketetapan hati yang membara.

"Ada tikus kotor yang mencoba melarikan diri dari kota ini setelah melakukan kejahatan besar padamu di masa lalu, Viona,"

ucap Oliver, suaranya kembali mendingin saat menyebut musuh-musuhnya.

"Dan aku harus memastikan sendiri bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki celah untuk lolos dari hukum malam ini."

Oliver berbalik sejenak ke arah Sekretaris Ryan yang masih setia berdiri di dekat pintu.

Ryan dengan sigap melangkah maju dan menyerahkan map dokumen hitam tebal yang dibawanya kepada Viona.

"Nyonya Viona," ucap Ryan dengan nada hormat yang mendalam.

"Tuan Besar Oliver tidak aktif ponselnya sore ini karena beliau memimpin langsung operasi pembekuan aset, penyitaan izin praktik Klinik Medika Selatan, dan penangkapan paksa terhadap dr. Sasmita, Widya Lin, serta Adrian Lin di perbatasan distrik luar kota saat mereka mencoba melarikan diri dari tuntutan hukum."

Viona tertegun, tangannya yang memegang map hitam itu bergetar halus.

 Ia menatap Oliver dengan pandangan tidak percaya.

"Oliver... ini..."

"Buka dan bacalah, Sayang,"

bisik Oliver lembut, menuntun tangan Viona untuk membuka map tersebut.

 "Malam ini, aku tidak hanya membawakanmu permintaan maaf atas makan malam yang terlewat... tetapi aku juga membawakanmu kebenaran mutlak yang telah mereka curi darimu selama tiga tahun ini."

Di bawah pendar cahaya lampu ruang tamu yang hangat, Viona perlahan membuka lembaran dokumen di dalam map tersebut.

Dan saat matanya membaca baris demi baris hasil analisis laboratorium asli serta surat penangkapan resmi yang tertera di sana, air mata kembali mengalir deras dari pelupuk mata jernihnya—namun kali ini, itu adalah air mata kebebasan dan keadilan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!