[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [08]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Terkadang kita tidak sadar bahwa dua insan yang saling membenci sudah di takdirkan untuk saling bertemu dan saling melindungi satu sama lain....
...-Iris Anastashia-...
Siang telah berganti menjadi malam, Iris harus segera
pulang dari rumah sakit ini karena orang tua nya terus menelpon Iris, padahal jam masih menunjukkan pukul 19.30.
...Di telpon...
Halo Iris cepet pulang!
Iya ma. Iris pulang bentar lagi.
Gak ada bentar-bentar. Pulang sekarang!
Iris juga kan harus nunggu Mang Apri kesini.
Iya, pokoknya mama gak mau tau, kamu harus pulang pas Mang Apri udah nyampe ke situ!
Iya Ma, Iya. Iris juga lagi sama Sherin kok, mamah gak usah khawatir.
Iya, mama tau, kamu itu perempuan, gak baik malem-malem keluyuran.
Siapa yang keluyuran ma?
Gak ada basa-basi lagi, kamu siap-siap Mang Apri udah berangkat.
Iya Ma, nanti suruh Mang Apri kabarin Iris kalau udah nyampe.
Iya. Inget gak ada acara mampir!
Tut.
Mama Iris memutuskan sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Iris.
"Kenapa Ris?" tanya Sherin.
"Mama nyuruh gue pulang sekarang." jawab Iris sambil menghela nafasnya.
"Mereka khawatir sama lo." ucap Sherin secara tiba-tiba.
"Gue tau." ujar Iris.
Saat ini di dalam ruangan tersebut hanya tersisa Iris, Sherin dan Zhein. Sedangkan Celine dan Kenneth pergi keluar untuk membeli makanan.
"Rin, lo mau disini?" tanya Iris.
"Iya Ris, gue mau nemenin Haiden disini." jawab Sherin.
Kalau aja kita gak suka sama orang yang sama, pasti gak akan ribet kayak gini. Sakit banget.
"Nanti kalau ada apa-apa, kabarin Iris ya." ucap Iris sambil tersenyum.
"Iya, tenang aja." ujar Sherin.
Kring.. Kring..
Di tengah-tengah percakapan mereka, ponsel Iris kembali berdering.
...Di telpon...
Halo Mang, udah nyampe?
Aduh Non, Mang Apri lagi di bengkel, tadi ban mobilnya kempes, Non bisa pulang sendiri gak?
Yah Mang, Ya udah deh Iris pulang sendiri aja.
Gak apa-apa kan Non?
Gak apa Mang, mumpung masih siang juga, siapa tau ada taxi yang lewat.
Yaudah kalau gitu hati-hati ya Non.
Iya Mang.
Tut.
Iris menutup telponnya setelah menjawab perkataan Mang Apri.
"Kenapa Ris?" tanya Sherin.
"Ban mobilnya kempes, Mang Apri ke bengkel dulu." jawab Iris sambil mempersiapkan diri untuk pergi dari ruangan tersebut.
"Terus lo gimana?" tanya Sherin.
"Pulang naik taxi." jawab Iris.
"Serius? Lo gak takut kenapa-kenapa?" tanya Sherin.
"Takut sih tapi mau gimana lagi, Mama pasti marah kalau gak pulang sekarang, bisa-bisa gue di usir." jawab Iris.
"Udah ya gue pulang dulu, keburu malem. Rin, Zhein, gue pulang dulu ya." ucap Iris sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
"Hati-hati ya Ris." ujar Sherin.
Iris melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Haiden untuk segera pulang ke rumah.
"Duh gak ada taxi, padahal masih jam 7 malem." ucap Iris sambil melihat ke arah jalanan yang sama sekali tidak ada taxi lewat.
"Cewek." panggil segerombolan lelaki yang datang dari belakang secara tiba-tiba.
"Hai mau abang temenin gak?" tanya pemuda tersebut.
"Gak usah. Makasih." jawab Iris sambil tersenyum.
"Wih, cantik bro." ucap salah seorang pemuda sambil membawa sebotol minuman dan memegang pundak Iris.
"Maaf." ujar Iris sambil menyingkirkan tangan pemuda tersebut.
"Wih berani udah cantik, baik, sopan. Boleh gak kita temenin?" tanya seorang pemuda dengan gaya urakan.
"Maaf Kak, gak usah, biarin saya sendiri aja." jawab Iris.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Saat Iris berbalik karena mendengar keributan di belakangnya, dia melihat Zhein sedang memukuli satu persatu segerombolan pemuda tersebut tanpa ampun.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Zhein!" teriak Iris saat balok kayu mengenai kepala Zhein.
"Arghh!!" ringgis Zhein sambil memegang kepalanya yang terkena balok kayu.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Iris melihat Zhein tidak memberi peluang bagi musuhnya untuk berani menyentuhnya lagi. Dan tak lama kemudian segerombolan lelaki yang menggoda Iris itu lari dengan tertatih-tatih.
"Lo gak apa-apa kan?" tanya Iris sambil menyentuh kepala Zhein yang terkena pukulan.
"Gue gak apa-apa." jawab Zhein sambil menatap mata Iris yang terlihat khawatir.
"Duduk dulu." ucap Iris sambil menggenggam tangan Zhein agar duduk di kursi taman.
"Gue gak apa-apa." ujar Zhein sambil menurunkan tangan Iris dari kepalanya.
"Diem! Gue cuman mau liat aja, takutnya nanti parah, mumpung masih di rumah sakit!" bentak Iris yang kembali memegang kepala Zhein. Sedangkan Zhein hanya diam mematung mendengar bentakan dari Iris. Tidak ada yang berani membentak dirinya, siapapun orangnya. Hanya Iris yang berani membentak Zhein hingga diam mematung.
Kenapa gue diem? tanya Zhein dalam hati sambil menatap mata Iris yang sedang menghawatirkan dirinya.
"Sakit gak?" tanya Iris.
"Gue gak apa-apa Ris. Ini palingan cuman memar doang." jawab Zhein.
"Ya udah kalau sakitnya cuman aja, gue gak perlu repot ngobatin lo." ucap Iris sambil berdiri dari duduknya.
"Biar gue anterin." ujar Zhein sambil menggenggam tangan Iris.
"Gak perlu. Gue bisa sendiri." ucap Iris.
"Ya udah pergi aja, kalau emang lo merasa gak bakal ada kejadian kayak tadi lagi." ujar Zhein sambil melepaskan genggaman tangan Iris dan melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Iya ya, gimana kalau ada yang kayak tadi lagi? Duh, tadinya juga gak ada lagi.
Waktu gue butuh tukang taxi malah ngilang gitu aja. ucap Iris dalam hati.
"Zhein." panggil Iris, Zhein langsung memberhentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya.
"Gue ikut." ucap Iris yang sedang berlari kearah Zhein dan mensejajarkan dirinya dengan Zhein.
"Hm." gumam Zhein.
Kalau gak butuh udah gue tonjok ni orang. ucap Iris dalam hati.
Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, melindungi dan membutuhkan satu sama lain. Mungkin orang yang melihatnya secara selewat akan berpikir seperti itu.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗