Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Hadiah keuntungan dari sistem
"Santai saja. Hebat juga kamu, gak gengsi jualan begini," ucap Arga santai.
Dimas menatap Arga dengan bingung. Setahunya, Arga adalah anak dari keluarga kaya raya meskipun statusnya kurang baik di rumah.
Kakak-kakaknya selalu tampil mentereng dengan barang-barang mahal.
Namun sekarang, Arga justru duduk di halte bus sambil memegang gitar kusam layaknya seorang pengamen.
"Malah melamun. Namamu siapa? Aku belum tahu," tegur Arga memecah lamunan Dimas.
Dimas tertegun sejenak. "Oh! Namaku... Dimas. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?"
"Yah, tadinya cuma mau santai, eh malah dikira pengamen sama orang-orang. Tapi lumayan jugalah sensasinya. Ayo lanjut jualan, aku ikut sekalian mau cari minimarket lain," ajak Arga.
"H-hah? Ikut?" tanya Dimas bingung.
"Iya, ayo jalan."
Akhirnya Dimas hanya bisa pasrah dan berjalan berdampingan dengan Arga.
Sepanjang jalan, Arga iseng memainkan gitarnya untuk memecah keheningan.
Menariknya, petikan musik Arga justru memancing perhatian orang-orang sekitar.
Beberapa pejalan kaki yang awalnya hanya berniat mendengarkan musik, akhirnya malah berakhir membeli dagangan Dimas.
Lama-kelamaan, permainan gitar Arga menjadi jauh lebih lancar.
"Jago juga kamu main gitar. Belajar dari kapan, Ga?" tanya Dimas kagum.
Arga menoleh sekilas. "Bertahun-tahun lalu saat masih SMA," jawabnya jujur.
Dimas makin bingung. "Kan sekarang kamu juga masih SMA?"
"Sama saja rasanya," sahut Arga pendek.
Begitu melihat sebuah minimarket, mereka menepi sejenak.
Arga menggunakan uang receh hasil ngamennya tadi untuk membeli satu bungkus rokok paling murah.
Mereka kemudian duduk berdua di sebuah bangku pinggir jalan yang cukup ramai.
"Kamu merokok? Memangnya orang tuamu gak marah?" tanya Dimas ragu-ragu.
Arga menyalakan korek gasnya lalu mengembuskan asap pertama. "Jangan terlalu dekat, Dim, nanti bajumu bau rokok," peringat Arga.
"...Kalau ditanya marah atau enggak, ya pasti marah. Tapi santai sajalah. Hidup kalau terlalu mikirin omongan orang lain itu gak ada enaknya. Sekarang aku cuma ingin hidup bebas tanpa terkekang. Lagipula, ini sebetulnya lagi proses ngurangin rokok kok."
Dimas heran mendengarnya. Gaya bicara dan pemikiran Arga terasa sangat dewasa, seperti seseorang yang sudah kenyang pengalaman hidup. "Memangnya biasanya kamu habis berapa batang sehari?" tanya Dimas penasaran.
"Dulu sempat habis dua bungkus sehari. Makanya sampai punya riwayat penyakit jantung parah. Kalau sekarang sih, niatnya paling cuma tiga batang sehari."
Dimas langsung melotot kaget. "Riwayat jantung?! Sekarang kamu—"
"Sekarang sehat-sehat saja, gak usah terlalu dipermasalahkan," potong Arga cepat. "Ngomong-ngomong, kamu jualan begini buat bantu orang tua, ya?"
Dimas merasa Arga adalah orang yang aneh, terlalu blak-blakan tapi sulit ditebak. "Yah, begitulah. Orang tuaku punya warung makan ayam goreng. Lumayan ramai sih, tapi aku gak mau terlalu merepotkan mereka untuk uang jajan."
Arga mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Keren. Pokoknya kalau si Hendra atau gengnya ganggu kamu lagi, bilang saja ke aku. Nanti biar kuhajar mereka!" Arga kemudian mematikan rokoknya dan berdiri. "Ayo, kita habisin dulu daganganmu."
Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan. Kombinasi permainan gitar Arga dan kegigihan Dimas ternyata sangat efektif menarik pembeli.
Tepat jam 5 sore, seluruh dagangan di kotak Dimas habis terjual tanpa sisa.
Dimas tampak sangat senang, matanya bahkan agak berkaca-kaca saat menghitung uang hasil penjualan.
"Gak nyangka semuanya bisa habis dalam beberapa jam. Ini semua berkat bantuanmu, Ga."
Arga saat itu sedang mengisap rokoknya yang keempat, tampaknya ia masih agak kesulitan menahan kecanduannya sepenuhnya. "Mana ada, itu semua karena kerja kerasmu sendiri."
Saat Dimas hendak membagi setengah dari total uang hasil penjualan hari itu, Arga langsung menolaknya. "Ambil saja semuanya. Aku sudah cukup terhibur cuma dengan ikut jalan-jalan tadi."
Dimas terdiam sesaat, merasa tidak enak. "Eh? Kalau begitu... terima kasih banyak ya, Ga."
"Sama-sama."
Baru saja mereka hendak berbalik untuk pulang, sebuah suara lantang menghentikan langkah mereka. "Lah, ini dia anaknya! Dari mana saja kamu?! Bukannya langsung ke sini, ini kerjaan sudah numpuk tahu!"
Dimas dan Arga menoleh serentak. Seorang pria paruh baya dengan pakaian yang penuh noda oli berjalan mendekat.
'Ah, sekarang aku ingat. Ini Bang Jay,' batin Arga.
Dulu, ia memang mengambil pekerjaan sampingan di bengkel motor milik pria ini untuk mencari uang tambahan.
Jika diingat-ingat kembali, di masa lalunya Arga memang gila kerja dan mengambil banyak pekerjaan sekaligus.
Jaya menatapnya kesal. "Cepat kerjakan semua motor itu!"
"Oh, oke, Om Jay," jawab Arga santai.
Tanpa banyak protes, Arga langsung bergerak menuju area kerja bengkel.
Ia memperbaiki beberapa sepeda motor dengan cekatan hingga jam menunjukkan pukul 8 malam.
Dimas sendiri ternyata memilih tidak langsung pulang. Ia duduk di pojok bengkel sambil memperhatikan Arga bekerja dengan heran karena temannya itu tampak ahli dalam banyak hal.
"Gak pulang? Ini sudah malam lho," tanya Arga di sela kesibukannya.
"Ah, itu... iya, lupa. Tapi nanti saja sekalian," jawab Dimas sambil terkekeh pelan.
Arga akhirnya berdiri dan mengelap tangannya yang penuh noda hitam menggunakan kain lap. "Kalau gitu ayo balik, semua kerjaan juga sudah beres." Ia berteriak ke arah dalam ruangan bengkel, "Om Jay, sudah beres semua! Saya pulang duluan, ya!"
Saat mereka berdua berjalan meninggalkan area bengkel, langkah Arga mendadak terhenti. Matanya melotot kaget karena sebuah layar hologram biru tiba-tiba muncul mengambang tepat di depan wajahnya.
[Usaha jualan jajanan ringan + membereskan beberapa motor di bengkel selesai. Menghitung keuntungan...]
[Total penjualan jajanan ringan: Rp120.000]
[Total pendapatan bengkel: Rp300.000]
[Keuntungan dilipatgandakan 5 kali lipat. Total: Rp1.620.000]
[Uang telah ditransfer langsung ke tangan Anda.]
Arga menunduk dan seketika terperangah melihat segepok uang tunai yang tebal mendadak sudah berada di genggaman tangannya.
Dimas yang merasa heran melihat reaksi Arga langsung menoleh, lalu ikut syok melihat apa yang dipegang temannya itu. "Eh?! Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?!"
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arga menunjuk ke arah udara kosong di depannya. "Dari sini."
"Mana? Gak ada apa-apa di situ," sahut Dimas kebingungan.
Tanpa banyak bicara, Arga langsung membagi uang tersebut dan menyerahkan satu juta rupiah kepada Dimas, sementara sisanya ia kantongi sendiri.
"Kenapa malah dikasih ke aku?! Gak enak lah, ini kan uang hasil kerjamu sendiri, woi!" protes Dimas menolak.
"Ambil saja. Lagi pula ini hasil kerja keras kita berdua hari ini. Anggap saja layar aneh ini adalah bos kita. Kembali ke masa lalu saja sudah gak normal, apalagi cuma soal layar biru ini," jawab Arga santai.
Dimas menghela napas panjang. Ia akhirnya menerima uang tersebut meskipun pikirannya masih dipenuhi rasa heran yang luar biasa mengenai ucapan Arga tentang layar biru misterius itu.