NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Kosong... Uap putih masih mengepul. Nutupin seluruh kamar mandi dan Lantai basah. Genangan air ngalir keluar kemana-mana. Tapi...? Tidak ada siapa-siapa.

"Bu...?" bisik Tio. Senternya muter ke setiap sudut. "Tadi aku denger suara sisir."

Ibu Mimi maju. Ngintip ke shower. Kran nya mati. Tapi shower nya masih netes. _Tik... tik..._Di lantai kamar mandi, ada jejak kaki basah dan itu Kecil. Dari pojok kamar mandi dekat cermin. Ia Berhenti di situ.

Serra narik Anya ke belakangnya.

"Nya...! kamu ngerasa nggak?"

Anya ngangguk. Lehernya kaku.

"Ada yang di belakang cermin."

_Krak._ Cermin retak sendiri...Satu garis. Dari atas ke bawah. Dan dari balik retakan itu, embun keluar. Bentuknya tulisan.

*"AKU DI SINI"*

Wulan langsung jerit kecil. "Bu!!"

Ibu Mimi langsung angkat botol air doa. Disiram ke cermin. _Busr._ Embun nya ilang. Tapi ganti jadi bayangan. Bayangan perempuan, Rambut panjang, baju putih

Tapi bukan di depan cermin.

*DIDALAM CERMIN*

Dia nempelin telapak tangannya ke kaca, Dari dalam dengan 5 jari. Persis kayak tadi. "Nyaaa..." suaranya terdengar dari dalam cermin. "Kamu kasih barangku ke orang lain...? Kamu jahat."

Anya mundur. "Aku...?aku cuma mau bantu kamu tenang."

Bayangan itu geleng. Pelan. Terus dia angkat tangan. Di tangannya ada sisir pink yang patah. _Sret..._ Dia nyisir rambutnya di dalam cermin. Sekali. Dua kali. Terus dia nunjuk ke Anya. Lewat kaca. "Kau nggak bisa nolong aku. Karena kamu... mirip aku."

Hening.

Tio mengerut. "Maksudnya?"

Bayangan itu ketawa. _Hehe..._ lalu menghilang lagi. gelap. Cermin kembali bening dan uapnya hilang. Cuma sisa embun dan 1 retakan panjang di tengah. Cuma suara napas mereka berlima yang terdengar.

"Astaghfirullah....." Tio langsung memukul tembok. "Hilang gitu aja?!"

Serra masih meluk Anya dari belakang. "Nya...! kamu denger kan tadi? Dia bilang kamu mirip dia." Anya tidak jawab. Wajahnya makin pucat. Bibirnya gemetar. Matanya masih menatap ke cermin yang retak itu.

Ibu Mimi ngusap dada. Baca istighfar berkali-kali"Ya Allah...? ya Allah..." Ibu Mimi peluk Anya kenceng. Dahi ketemu dahi."Nak...! setan paling pinter itu bisikin kita lewat rasa takut. Dia mau kamu ngerasa sendirian. Padahal kita ada 5 di sini." bisik Ibu Mimi.

Anya angguk pelan. Air matanya netes.

"Iya Bu..?

Bu Mimi geleng."Jangan dengerin dia, Takdir kamu masih panjang nak."

Serra, Wulan dan Tari langsung duduk melingkar. Mereka nempel satu sama lain di Lantai 1 dingin. Tapi ada kehangatan yang mereka ciptakan.

Wulan langsung genggam tangan Anya."Kita nggak akan kemana-mana ya Nya...Janji!."

Tari nyodorin air putih lagi. "Minum. Biar nggak lemes."

Serra ngusap punggung Anya. "Udah...!udah. Tarik napas. Kita bareng-bareng."

Ibu Mimi masih genggam kepala Anya. Bibirnya komat-kamit. Baca perlindungan.

Shower sudah mati total. Tapi hawa dinginnya masih nyisa. Nempel di keramik.

Tio berdiri di pojok. Senter masih nyala. Matanya tidak lepas dari tangga. "Bu, kita diem di sini atau gimana?"

Ibu Mimi melepas pelukannya dari Anya. Napasnya udah lebih tenang."Kita pagar rumah ini sekarang juga. Mumpung masih pagi."Ibu Mimi berdiri. Lututnya bunyi. "Ambil garam, air dan al-Qur'an."

Mereka buru-buru ngambil Garam 1 bungkus dari dapur, air putih sebotol dan Al Qur'an kecil punya Anya.

Bu Mimi taburin garam di setiap pojok kamar. Sambil baca. "Bismillah...! Bismillah...!"

lalu dipercikan air doa ke kusen pintu, ke jendela, ke tangga."Yang punya rumah ini, kalau kamu denger...? kami nggak ngusir kamu," kata Ibu Mimi lantang ke arah tangga. "Kami cuma mau kamu tenang. Barangmu udah kami sedekahkan. Atas namamu. Semoga sampai."

Tidak ada jawaban. Cuma angin dari jendela, nerbangin gorden. Jam 6 lewat. Matahari sudah masuk dari celah pintu. Hawa sudah nggak sedingin tadi.

Anya akhirnya bisa napas lega. Pertama kalinya sejak subuh. "Nya, laper nggak?" tanya Serra pelan."Mau aku bikinin teh anget?"

Anya menggeleng."Aku mau nenangin diri dulu."

Anya menyandarkan kepalanya ke dinding. Dinding kamar yang tadinya dingin, sekarang mulai hangat karena tersengat cahaya matahari pagi.

Warna oranye dari luar jendela pelan-pelan mengusir sisa gelap yang dari subuh masih nempel di setiap sudut. Tapi dada Anya masih naik-turun. Napasnya belum benar-benar tenang. Jantungnya sempat berdegup kencang banget, dan sekarang masih berusaha menstabilkan diri.

Serra tidak beranjak dari sampingnya. Tangannya masih setia mengusap punggung Anya. Pelan. Hangat. Nyata.

Kayak bilang, _“Aku di sini. Kamu nggak sendirian.”_

Anya merem sebentar. Ngerasain kehangatan itu masuk sampai ke tulang. Untuk pertama kalinya sejak jam 12 malam, rasanya dia benar-benar butuh ketenganan.

Di sudut ruangan, Ibu Mimi baru saja menyelesaikan percikan air doa terakhir di ambang pintu kamar mandi. Beliau mengembuskan napas panjang, lalu menyeka keringat dingin di dahinya dengan ujung jilbab. Tangannya masih gemetar. Tapi raut wajahnya udah lebih tenang dari sejam lalu.

Tio melangkah pelan ke arah cermin. Hatinya masih was-was. Cermin itu sekarang sudah benar-benar bening. tidak ada uap atau embun. Cuma menyisakan satu garis retakan vertikal yang ngebelah kaca itu jadi dua.

Tio ngusap garis itu pake ujung jari. Dingin.

"Kok bisa retak sendiri ya, Bu?" gumamnya pelan.

Ibu Mimi nyamperin. Ikut natap retakan itu. "Itu tandanya, Nak...?dia udah ngetok dari dalam. Dan kita baru aja nutup pintunya."

Wulan sama Tari ikut mendekat. Nempel di belakang Tio. Di pantulan kaca, keliatan mereka berlima. Komplit. Tidak ada yang kurang ataupun bayangan lain.

Serra masih duduk di lantai, nemenin Anya. "Gimana, Nya? Udah mendingan?"

Anya ngangguk kecil. Suaranya serak. "Udah...! agak mendingan."

Matahari sudah naik tinggi. Cahayanya masuk dari jendela, jatuh pas di garis retakan cermin. Garis itu berkilau. Kayak luka yang udah kering.

Bu Mimi narik napas. "Udah....Cukup?. Kita jangan diem di sini terus. Selama kita diem, dia yang main duluan."

Bu mimi lihat ke sekeliling. Ke kardus-kardus yang udah dirapikan. Ke garam yang berserakan di pojokan. Ke Al-Quran kecil di pangkuan Anya. "Kita ke panti sekarang. Pastiin anak-anak yang nerima barang tadi baik-baik aja. Habis itu kita cari tau soal Minar Kita selesaikan ini baik-baik."

Tio ngangguk. Langsung ngambil kunci motor. "Ayo. Sebelum..."

_Tik._

Semuanya diem. Dari kamar mandi. Netes lagi. Satu tetes Jatuh ke lantai keramik. Tapi kali ini, tidak ada suara shower atau bunyi _sret sret_. Cuma tetesan air biasa.

Ibu Mimi langsung baca _Bismillah_."Itu terakhir. Dia ngasih tau dia masih ada. Tapi kita juga masih ada. Dan kita lebih banyak."

Anya berdiri. Kali ini tanpa dibantu. Lututnya masih lemes, tapi dia bisa. Dia genggam tangan Serra. "Ayo. Kita berangkat."

Pas mereka jalan keluar, Anya nengok sekali lagi ke cermin. Di pantulan itu, dia lihat dirinya sendiri. Rambut dikuncir. Mata sembab. Dan di belakangnya... kosong. Tidak ada siapa-siapa. Dia senyum kecil dan untuk Pertama kalinya hari ini.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!