Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Problem
Tak lama berselang, pintu itu terbuka. Semua orang beransur-ansur keluar dari ruang rapat termasuk Elden yang sedang menggendong Gevio. Memang terlihat baik-baik saja, tapi Erie tidak bisa mengenyahkan otaknya yang mengembara memikirkan apa yang sekiranya terjadi di dalam ruangan itu.
“Apa kau lama menungguku? Kenapa tidak tunggu di ruanganku saja?” Elden memberondong Erie dengan sejumlah pertanyaan begitu pria itu berada di depan istrinya.
“Aku pikir kau akan datang cepat karena Jenny bilang rapatnya akan selesai sebentar lagi,” jawab Erie.
“Benar. Maafkan aku. Aku tidak menyangka rapatnya akan lebih lama dari yang diperkirakan," sesal Elden.
Pria itu berjalan ke samping Erie dan duduk di sana. Ia juga menurunkan Gevio dan mendudukkan anaknya di tengah-tengah antara dirinya dengan sang istri.
“Apa tadi dia mengganggumu?” ucap Erie pada Elden, menanyakan hal yang sedari tadi mengusik pikirannya. Kemudian ia merendahkan pandangannya untuk melihat Gevio. “My Prince, apa kau mengganggu Daddy?” tanyanya kepada sang putra.
Gevio menggeleng kecil. Ia tidak menjawab Erie dengan ucapannya, tetapi anak itu justru memberikan sebuah pulpen kepada Erie. “Apa ini sayang?” tanya perempuan itu bingung.
“Punya Daddy,” balas Gevio.
Erie mengalihkan tatapan ke arah suaminya. Kedua manik cokelat itu menatap Elden seakan meminta penjelasan dari pria itu. Dan Elden dapat menyadarinya dengan cepat. “Dia tidak menggangguku, sayang. Tapi tadi ada satu kejadian yang menarik," timpal pria itu.
“Kejadian apa?” Erie menjadi penasaran. Keningnya mengernyit. Jangan-jangan Gevio melakukan hal-hal aneh di dalam sana. Atau mungkinkah anaknya berkata-kata yang tidak pantas? Erie menggeleng. Mereka mendidik Gevio dengan etika yang baik, jadi tidak mungki anaknya berperilaku tidak baik.
Pelan-pelan Elden mendekatkan wajahnya ke wajah Erie. Ia bersuara pelan yang terdengar seperti bisikan. “Gevio tadi memanggilku di tengah-tengah rapat. Sepertinya anak kita mencontoh ibunya yang pernah melakukan itu sewaktu dia di dalam kandungan.”
Erie tersentak. Ia menepuk tangan Elden dengan kencang. “Jangan dibahas lagi!” hardik perempuan itu. Wajahnya memerah karena menahan malu yang menghampirinya. Ia tidak menyangka Elden akan membahas peristiwa itu lagi. Peristiwa yang memalukan di mana Erie yang saat itu tengah hamil besar, tanpa tahu apa-apa masuk ke dalam ruangan rapat Elden dan memanggil nama pria itu dengan suara yang keras. Itu memang kejadian yang sudah lama. Erie nyaris melupakannya jika Elden tidak mengungkitnya hari ini.
“Hahaha!” Elden tertawa. “Vallerie, kau sudah menjadi seorang ibu tapi masih bisa tersipu seperti ini?”
“Memangnya kalau sudah punya anak aku tidak bisa malu?” gerutu Erie tidak terima.
“Tentu saja bisa. Kau bebas melakukan apa pun saat bersamaku, sayang.”
“Ck, kau ini semakin mahir menggombal.” Erie berdiri dari sofa. “Ayo cepat, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Aku takut makanannya akan dingin.”
Pria itu mengangguk. “Baiklah, ayo!"
Elden mengikuti Erie. Seraya menggenggam tangan Gevio, ia mengimbangi langkah anak dan istrinya. Mereka berjalan menuju lift yang kemudian mengantarkan mereka ke lantai paling atas, di mana ruangan Elden berada.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyantap makanan yang dibuat oleh Erie. Perempuan itu sengaja menyiapkan makanan yang mudah dan sederhana agar Elden bisa memakannya dengan cepat. Sebab dari informasi yang disampaikan oleh Mario, hari ini Elden memiliki jadwal yang cukup padat.
“Sayang, aku akan mengantarkan Gevio ke kamar dulu,” tutur Elden beranjak dari sofa sambil membawa Gevio yang tertidur ke dalam dekapannya. Ia mengantarkan anaknya ke kamar kecil yang tersedia di samping ruangannya. Kamar itu bisa ada karena sejak bayi, Gevio sering ia ajak ke kantornya. Elden yang takut suhu ruangannya tidak sesuai dengan Gevio akhirnya membangun sebuah kamar kecil.
Usai membaringkan Gevio di atas ranjang, Elden kembali ke sisi istrinya. Ia duduk di seberang perempuan itu sambil mengendorkan sedikit dasinya. “Gevio masih tidak berubah. Dia sangat suka tidur. Apakah di rumah dia juga seperti itu?” kata pria itu sembari memeriksa ponselnya barang kali ada notifikasi penting di sana.
Ketika tidak mendengar jawaban dari sang istri, Elden mengangkat wajahnya dari ponsel. Ia mendapatkan pemandangan di mana perempuan itu sedang melamun dengan sebelah tangannya menopang dagu. Lamunan itulah yang membuat Erie mengabaikan pembicaraan yang sedang Elden lakukan.
“Vallerie, ada apa?” tanya Elden memecah lamunan Erie.
“Ah!” ucap perempuan itu spontan karena terkejut. “Apanya?” sambungnya lagi sambil menunjukkan raut wajah bingung.
“Apa kau ada masalah?”
Erie menggelengkan kepalanya. “Tidak ada.”
“Vallerie, aku mengenalmu sejak kau masih kecil. Kau tidak mungkin mengabaikan perkataanku jika kau tidak mempunyai masalah.”
“Apakah begitu terlihat?”
“Benar. Sangat kelihatan.” Elden mengangguk. “Sekarang katakan, apa yang sedang kau pikirkan.”
“Baiklah, begini. Eum… Aku harus mulai dari mana ya?” ucap Erie di mana nada suaranya semakin mengecil.
“Sayang, katakan saja. Aku akan mencoba mengerti perkataanmu. Jadi kau bebas memulainya dari mana saja.”
Erie menyatukan kedua tangannya di atas pangkuannya. Ia memulai lagi untuk berbicara. “Begini Elden, aku ingin meminta bantuanmu, eumm, lebih tepatnya bantuan perusahaanmu.”
Elden mengernyitkan keningnya. Tumben sekali istrinya meminta bantuannya, apalagi perusahaannya. Pria itu semakin penasaran apa kiranya yang terjadi hingga perempuan itu melakukan hal tersebut.
“Perusahaanku? Untuk apa?” tanya Elden bingung.
“Apa kau sudah dengar kabar mengenai perusahaan Daddy yang nyaris bangkrut?”
“Eduard Company?”
“Iya.”
Ah, begitu. Sekarang Elden sudah tahu apa penyebabnya. Memang tiga hari lalu Mario menyampaikan kabar bahwa perusahaan ayah angkat Erie itu tengah berada di ambang kebangkrutan. Dari mana Mario mendapatkan informasi itu? Tentu saja dari mata-mata yang ia susupkan ke perusahaan itu. Oh, ayolah. Ini bisnis dan di dalam dunia bisnis diperlukan cara cerdik untuk bertahan. Ingat, yang diperlukan adalah kecerdikan, bukan kelicikan apalagi kecurangan. Sebab, mata-mata yang disusupi oleh Elden ditugaskan hanya untuk memantau kondisi perusahaan kompetitor saja, tapi tidak untuk mencuri rancangan produk-produk mereka.
“Aku sudah mendengarnya. Sepertinya bibimu itu melakukannya lagi,” ucap Elden. Lagi yang dimaksudkan Elden adalah tindakan berulang adik kandung dari ayah angkat Erie itu yang tidak kompeten. Bukan hanya sekali, terhitung ini sudah kedua kalinya wanita itu membawa perusahaan kakaknya ke depan pintu kehancuran.
“Sekarang apa yang ingin kau lakukan sayang? Bagaimana caranya aku membantumu?” tambah pria itu.
Erie menimpali, “Bisakah kau memberikan dana dan menyelamatkan perusahaan Daddy?”
Elden terdiam. Ia tidak melanjutkan perkataannya untuk menjawab ucapan Erie. Pria itu memilih untuk berpikir sejenak.
Melihat keterpakuan Elden membuat Erie merasa tidak enak hati. Suaminya itu sudah berulang kali membantu perusahaan ayah angkatnya, jadi sudah sewajarnya ia merasa ragu. Terlebih lagi, ini menyangkut dunia bisnis. Dunia yang begitu dicintai Elden hingga pria itu harus memikirkannya matang-matang.
“Elden, kalau tidak bisa juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu membantuku,” ucap Erie sesegera mungkin agar suaminya tidak berpikir terlalu keras.
Elden menatap mata Erie dan mencoba menjelaskan kepada perempuan itu mengenai isi kepalanya. “Aku tidak mengatakan kalau aku tidak bisa membantumu, sayang. Berapa pun jumlahnya itu tidak masalah bagiku. Hanya saja yang sedang aku pikirkan saat ini adalah sampai kapan perusahaan Daddymu akan bertahan?
Tidak baik bagi suatu perusahaan jika berjalan hanya dengan uang dari donatur tanpa peningkatan produksivitas karena mereka bukan lembaga amal.”
Yang dikatakan Elden adalah kebenaran. Dana yang dikucurkan pria itu saat ini memang bisa menyelamatkan Eduard Company, tapi sampai kapan? Jika terus menerus dipimpin oleh orang yang tidak kompeten, maka perusahaan itu akan terus dihantui oleh kebangkrutan.
“Aku sudah memikirkannya Elden. Aku rasa Aunty tidak bisa lagi menjadi CEO Eduard Company," tutur Erie.
“Aku juga berpikir begitu. Lalu, apakah kau sudah memilih penggantinya?”
Erie mengangguk. “Aku mencalonkan Pak Robbert,” katanya mengucapkan nama seorang laki-laki yang sudah cukup berumur yang selama ini menjadi sekretaris perusahaan sekaligus kuasa hukum perusahaan tersebut.
“Itu pilihan yang bagus, Vallerie,” puji Elden. “Selama aku mengenal Eduard, Robbert sepertinya cukup kompeten dengan jabatan itu. Dia sudah lama berada di perusahaan itu dan aku yakin dia bisa memimpin dengan baik.”
“Benarkan? Kau juga berpikiran begitu?”
“Iya, tapi…” Elden menghentikan ucapannya lagi. Ia beranjak dari sofa, berjalan mendekati mejanya dan mengambil sebuah dokumen dari setumpuk dokumen yang ada di sana. Kemudian pria itu kembali ke sofa dan duduk di samping istrinya. Ia melanjutkan perbincangan mereka. “Aku rasa mencopot Betty saja tidak cukup untuk meningkatkan performa Eduard Company. Kau lihat ini.”
Elden membuka dokumennya dan menunjukkan sederetan angka dan grafik dari dalam sana yang membuat Erie merasa pusing. Beruntung Elden mengetahui situasi itu hingga dengan sabarnya ia menjelaskannya kepada sang istri.
XXXXXX
Ini yang penasaran dengan kehidupan Bibi Betty yang terasa diabaikan di season satu. Sebenarnya bukan diabaikan lho, hanya tidak dijelaskan saja karena bukan jadi fokus cerita. Tapi tenang saja, di season ini, Bibi Betty akan menjadi tokoh penting dalam cerita. Jadi, jangan sampai kelewatan petunjuknya ya.
Mana nih jejaknya? Aku selalu menunggu dukungan semua pembaca lho... Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼