NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Segelas Pengkhianatan

BRAK!

"Apa?! Mobil baru?!"

Suara meja yang digebrak, disusul bentakan keras Rahardja, menggema di ruang kerja itu. Beberapa berkas bergeser dari tumpukannya, bahkan kotak pena ikut terangkat dari meja.

Saking terkejutnya kedua bahu Saras refleks terangkat.

"Saras, kamu ini selalu mengikuti gaya hidup orang lain tanpa memikirkan manfaatnya. Maunya serba mewah, padahal hanya menghamburkan uang."

Raharja mengatur napasnya sebelum melanjutkan. "Lihat kakakmu. Dia bekerja keras membangun kariernya sendiri. Sedangkan kamu..."

Rahardja tak melanjutkan kata-katanya.

Tangan Saras di atas pangkuannya terkepal erat. Selalu saja ia dibandingkan dengan kakak tirinya.

"Pa, Kak Chantika itu polwan. Urusannya sama penjahat, mana ada pakai barang-barang mewah. Sedangkan aku berada di lingkungan pebisnis yang menuntutku bergaul di kalangan sosialita yang glamor. Jadi gak adil kalau Papa membandingkan aku sama Kak Chantika," protes Saras.

"Kalau mau bergaya, pakai uangmu sendiri. Papa gak bakal nambahin uang bulananmu," tegas Rahardja.

Saras mendengus. "Aku hanya seorang staf. Papa tahu berapa gajiku. Mana mungkin aku punya banyak uang. Kalau Papa menaikkan posisiku menjadi manajer, aku gak bakal minta uang tambahan lagi sama Papa."

"Manajer?" ulang Rahardja sambil tersenyum sinis. "Apa kau layak?"

"Kalau terus dibiarkan jadi staf, kapan Papa tahu kemampuanku?" tantang Saras. "Semua orang di perusahaan hanya melihatku sebagai putri pemilik perusahaan, bukan sebagai orang yang bisa memimpin."

"Baik."

Rahardja mengangguk, lalu mengambil sebuah map dari laci mejanya.

Plak!

Ia melempar map itu hingga melayang dan mendarat tepat di depan Saras.

"Dapatkan investor untuk proyek ini, maka Papa akan menaikkan posisimu menjadi manajer."

Ia menatap putrinya lurus. "Kalau kau gagal, jangan pernah lagi meminta kenaikan jabatan ataupun uang tambahan dari Papa."

Saras mengangkat map tanpa berkata-kata, lalu melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.

Pintu tertutup sedikit keras di belakangnya, membuat Rahardja mengembuskan napas kasar.

"Sepertinya aku memang terlalu memanjakan anak ini," gumamnya pelan penuh sesal.

***

Malam itu, Saras melangkah masuk ke sebuah klub malam. Suara dentuman musik memenuhi klub malam seolah ikut menggema di dalam kepalanya. Lampu strobo membuat silau matanya.

Di sofa VIP, seorang pria bersandar santai. Dua wanita cantik duduk di kanan dan kirinya. Yang satu menyuapinya potongan buah, sementara yang lain memijat bahunya dengan manja.

Saras merapikan pakaiannya sebelum menghampirinya.

Bryan. Pria yang terkenal sebagai Casanova, pecinta seribu wanita, alias buaya darat.

"Tuan," Saras menyapa dengan seulas senyum ramah. "Saya ingin menawarkan kesempatan investasi yang sangat menguntungkan."

Bryan melirik sekilas tanpa minat. "Keuntungan?"

Saras mengangguk. "Perusahaan keluarga kami sedang berkembang pesat."

Bryan terkekeh pelan. "Benefit? Aku sudah punya terlalu banyak uang."

Ia menatap tubuh Saras dengan tatapan menilai tanpa menutupinya. "Jika kamu bisa memberikan keuntungan yang gak bisa kubeli, mungkin aku akan tertarik untuk berinvestasi."

Saras terdiam beberapa saat. Tatapannya bergantian mengarah pada dua wanita yang memeluk pria itu. Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.

"Papa selalu saja membandingkan aku dengan Chantika dan selalu membanggakan dia." Senyum licik yang samar, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Mungkin ini kesempatanku menjatuhkan dia di depan papa."

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto. "Bagaimana kalau... keuntungan yang tidak dimiliki pria lain?"

Bryan melirik layar ponsel yang disodorkan Saras. Di sana terpampang wajah Chantika. Cantik, berwibawa, dengan seragam polisi yang membuatnya tampak berbeda dari wanita-wanita yang biasa mengelilinginya.

Sudut bibir Bryan perlahan terangkat. "Siapa dia?"

Senyum Saras makin lebar. "Kakak tiriku."

***

Saras menghentikan mobilnya di area parkir sebuah hotel berbintang lima.

Chantika menyipitkan mata. Sejak tadi ia merasa ada yang janggal. Tidak biasanya adiknya bersikeras minta ditemani bertemu seorang investor. Apalagi malam-malam di tempat seperti ini.

"Ayo, Kak," ajak Saras. Ia melangkah lebih dulu masuk ke dalam hotel.

Tak lama kemudian, mereka sudah berhenti di depan sebuah kamar hotel.

"Kenapa membicarakan bisnis di kamar hotel?" tanya Chantika. Entah mengapa ia merasakan ada firasat buruk. "Bukankah biasanya pertemuan seperti ini dilakukan di ruang rapat, restoran, atau lounge hotel?"

Saras tersenyum tipis. "Kak, orang ini sangat sulit ditemui. Ini kesempatan emas. Aku sudah susah payah mencari tahu keberadaannya."

"Tapi...."

"Sudahlah, jangan buang waktu lagi," potong Saras. "Memangnya Kakak takut apa? Kakak 'kan seorang polwan. Bahkan berprestasi."

Chantika mengembuskan napas pelan. Meski masih merasa ragu, ia akhirnya memilih mengikuti adiknya.

Saras mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Bryan.

Tubuhnya tinggi, mengenakan jas mahal tanpa dasi. Beberapa kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan kesan santai sekaligus arogan.

Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya tajam, seperti pria yang terbiasa menilai wanita hanya dalam sekali pandang.

"Tuan Bryan, saya Saras. Dan ini kakak saya, Chantika." Saras memberi isyarat memperkenalkan mereka. "Kami dari Rahardja Group ingin menawarkan kerja sama investasi."

Bryan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti pada Chantika. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga kaki tanpa berusaha menyembunyikan ketertarikannya.

Chantika jelas merasa tak nyaman dengan tatapan pria itu. Garis rahangnya menegang samar.

"Sebenarnya aku sedang tidak berminat membicarakan investasi," ujar Bryan santai. "Tapi karena aku selalu menghargai wanita cantik... silakan masuk."

Ia membuka pintu lebih lebar.

Saras tersenyum puas. "Terima kasih, Tuan."

Ia segera menarik tangan Chantika memasuki kamar hotel. Setelah dipersilakan duduk, mereka menempati sofa yang berhadapan dengan Bryan.

Bryan menyilangkan kedua kakinya dengan gaya elegan. "Baiklah. Coba jelaskan proyek yang ingin kalian tawarkan."

Saras yang sejak tadi tegang langsung membuka map. Ia memaparkan rencana pembangunan kawasan komersial lengkap dengan proyeksi keuntungan yang sudah dipersiapkan.

Bryan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

"Angka pertumbuhannya lumayan," katanya tenang ketika membaca isi map, lalu membalik beberapa halaman proposal. "Tapi risiko investasinya juga tinggi."

"Karena itu kami berharap Tuan Bryan bersedia menjadi investor utama kami," ujar Saras cepat, penuh harap.

Bryan menutup map itu perlahan. "Berapa nilai investasi yang kalian harapkan?"

Saras menyebutkan nominalnya.

Bryan hanya terkekeh pelan. "Jumlah sebesar itu bukan keputusan yang kubuat dalam lima menit."

Ia meraih sebotol wine, lalu menuangkannya ke tiga gelas kristal. Saat memutar cincin di jarinya, butiran putih nyaris tak terlihat jatuh ke salah satu gelas.

"Setidaknya kita bisa berbincang lebih santai dulu." Ia mendorong dua gelas ke depan kakak beradik itu. Gelas yang telah dicampuri sesuatu sengaja diletakkan di depan Chantika. "Silakan."

Chantika menggeleng sopan. "Maaf, saya tidak minum alkohol."

Bryan tidak memaksa. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Sayang sekali. Wine ini baru saja kudatangkan dari Prancis."

Ia menyesap gelasnya sendiri lebih dulu, seolah ingin menunjukkan bahwa minuman itu aman.

"Lagipula, aku gak suka membahas bisnis dalam suasana yang terlalu kaku."

Saras segera menyenggol pelan lengan kakaknya. "Kak... tolong sekali ini saja," bujuk Saras. "Aku sudah susah payah mendapatkan kesempatan bertemu beliau."

"Tidak," tolak Chantika dengan tegas.

Saras kembali memohon. "Kak... cuma sedikit. Anggap saja menghargai tuan rumah."

Tapi Chantika bergeming.

Suara Saras kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih pelan. "Kak, kalau memang tidak mau membantu perusahaan keluarga, setidaknya bantu aku kali ini."

Chantika diam beberapa detik, menimbang. Ia tahu dirinya tak punya peran di perusahaan keluarga. Ia menghela napas, mengangkat gelas, lalu meneguk sedikit.

Alisnya mengernyit. Ada aftertaste yang aneh, dingin di ujung lidahnya; sesuatu seperti logam. Naluri polisinya berdentang pelan.

"Aku harus hati-hati," pikirnya. Ia menurunkan gelas, hendak meletakkannya.

Sebelum gelas itu menyentuh meja, suara Bryan memotong, "Aku gak suka melihat minuman yang kuberikan dibuang."

Ia menyandarkan tubuhnya, suaranya halus tapi ada ancaman di baliknya.

Saras menarik pelan ujung lengan baju Chantika.

"Kak... please," mohon Saras dengan suara bergetar.

 

...🔸🔸🔸...

..."Pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang kita percaya tanpa ragu."...

..."Iri hati membuat seseorang rela mengorbankan keluarga demi memenuhi ambisinya sendiri."...

..."Nana 17 Oktober"...

......🌸❤️🌸......

.

To be continued

1
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
Yunita Sophi
Enzo bilang yg sederhana tp itu... ada HOTEL ada VILLA dan jg SAHAM sampai 30 persen? wow Enzo sampe segitu cinta nya sama Chantika...😍😍
partini
Sandra anak nya atau anak istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!