"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIDADARI DI BALIK Fajar
Malam semakin larut. Jarum jam sudah menunjuk pukul 2 dini hari.
Menyisakan kesunyian yang hanya diisi oleh deru napas Zaid yang teratur. Dalam. Panjang. Seperti orang yang akhirnya bisa tidur nyenyak setelah seminggu gelisah.
Di sisi ranjang yang lain, Khadijah masih terjaga. Matanya terbuka. Menatap kegelapan di atas.
Pertanyaan Zaid sebelum pria itu terlelap tadi terus bergema di kepalanya. Memantul. Bergema. _'Apa kamu betah tidur dengan cadar seperti itu?'_
Kalimat kaku. Singkat. Tapi terus memantul di dinding hati yang mulai melunak. Yang mulai retak.
Khadijah menoleh perlahan. Sangat pelan. Menatap punggung Zaid yang naik turun dengan stabil. Tenang.
Ada rasa bersalah yang menyelip di sela dadanya. Menusuk.
Sebagai seorang istri, ia tahu. Ia hafal haditsnya. Bahwa menyembunyikan kecantikannya dari suami sah adalah sebuah bentuk jarak. Sebuah tembok yang seharusnya tidak ada di dalam rumah tangga.
Selama ini, ia bertahan dengan cadar 24 jam. Karena merasa Zaid belum menerimanya. Karena merasa dirinya hanyalah "beban" yang terpaksa dipikul. Karena takut. Takut kalau Zaid jijik. Takut kalau Zaid ngeledek.
Namun, kalimat Zaid tadi. Meski diucapkan dengan nada kaku. Dan segera ditinggal tidur. Terasa seperti sebuah undangan tersembunyi. Sebuah celah kecil. Sebuah permintaan agar ia mulai merasa "di rumah" di dalam kamarnya sendiri.
'Mas Zaid peduli, pikirnya. Walau dia nggak nunjukin.'
Dengan tangan yang sedikit gemetar, jantung berdebar, Khadijah perlahan melepas jarum pentul yang menyematkan cadarnya di bawah dagu. Satu. Dua.
Kain hitam itu luruh pelan. Jatuh ke bantal.
Memperlihatkan hidung yang bangir mancung dan bibir yang mungil berwarna pink alami. Kulitnya yang selama ini tertutup kini menghirup udara bebas.
Kemudian, dengan gugup, ia melepas hijab instan yang membungkus kepalanya. Resleting di belakang dibuka.
Rambut hitam legam yang panjangnya mencapai pinggang terurai jatuh seperti sutra mahal di atas sprei putih. Berat. Wangi. Halus.
Ia mengibaskan rambutnya pelan. Merasa lega. Kulit kepalanya dan lehernya menyentuh udara malam yang sejuk. Sebuah kemewahan yang jarang ia rasakan sejak menikah. Rasanya seperti baru lepas dari penjara.
'Mas Zaid benar,' batinnya sembari memejamkan mata, pipinya memerah karena malu sendiri. 'Ini jauh lebih nyaman. Ya Allah, ampuni aku.'
Dengan perasaan campur aduk antara malu dan lega, ia pun akhirnya menyusul sang suami ke alam mimpi.
Udara subuh yang dingin mulai merayap masuk lewat celah ventilasi jendela. Jam 4.30.
Khadijah terbangun saat alarm di ponselnya bergetar pelan. Getarannya seperti bisikan.
Namun, saat ia hendak beranjak untuk mengambil wudhu, ia merasakan beban berat dan hangat melingkar di pinggangnya. Kuat.
Khadijah mematung. Jantungnya berdegup kencang. 'Duk duk duk.' Hingga ia takut suaranya akan membangunkan raksasa yang sedang memeluknya.
Zaid. Entah sejak kapan dalam tidurnya, telah bergeser. Mungkin karena mimpi. Mungkin karena dingin.
Dan kini memeluk Khadijah dengan sangat erat dari belakang. Posisi spooning.
Lengan kekar Zaid melingkari perutnya. Menahannya. Sementara wajah Zaid terkubur di antara helai rambut Khadijah yang harum wangi mawar dan sampo melati. Napasnya menghangatkan leher Khadijah.
Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Khadijah. Dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Ini adalah kontak fisik terjauh dan pertama sejak mereka menikah 8 hari yang lalu.
Khadijah mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit. Mau lepas.
Namun pelukan Zaid justru semakin mengencang. Refleks. Seolah-olah pria itu takut kehilangan pegangannya di tengah mimpi. Seolah memeluk sesuatu yang berharga.
"Zaid..." bisik Khadijah lembut. Suaranya parau khas orang bangun tidur. Serak dan manis. "Zaid, bangun... sudah subuh. Adzan sebentar lagi."
Zaid menggeliat. Masih setengah sadar.
Sensasi lembut dan aroma harum yang memenuhi indra penciumannya membuatnya enggan membuka mata. Ia merasa seperti sedang memeluk tumpukan awan yang sangat wangi. Awan sutra.
Perlahan, kesadarannya terkumpul. Ia merasakan tekstur halus seperti benang sutra di wajahnya. Di hidungnya.
Zaid membuka matanya perlahan. Masih mengantuk.
Hal pertama yang ia lihat bukan lagi langit-langit kamar yang kaku dan putih.
Melainkan hamparan rambut hitam legam yang terurai indah di atas bantal. Mengkilap. Bergelombang.
Zaid berkedip. Dua kali. Mengira ia masih bermimpi.
Ia mengangkat kepalanya sedikit dari bantal. Dan saat itulah Khadijah berbalik menghadapnya untuk membangunkannya kembali.
Waktu seolah berhenti berdetak. 'Tik.'
Di depannya, tanpa penghalang selembar kain pun. Tanpa cadar. Tanpa hijab.
Khadijah menatapnya dengan mata bening yang masih sayu karena kantuk. Bulu matanya panjang. Basah.
Wajah itu... Ya Allah.
Zaid terpaku. Otaknya nge-lag.
Kulitnya seputih pualam. Bersih. Dengan rona merah alami di pipi karena baru bangun. Bibirnya yang manis tampak sedikit bergetar karena gugup. Rambut panjangnya yang terurai berantakan justru menambah kesan kecantikan yang alami. Mentah. Seperti bidadari yang baru saja turun dari langit untuk menetap di ranjangnya.
Zaid bengong. Mulutnya sedikit terbuka. Namun tak ada kata yang sanggup keluar. Lidahnya kelu.
Selama ini ia membayangkan berbagai macam wajah di balik cadar itu. Jelek. Biasa. Rata-rata.
Tapi kenyataan di depannya jauh melampaui imajinasinya yang paling liar sekalipun.
Rian benar. Bahkan Rian meremehkan kecantikannya. Ini bukan sekadar cantik. Ini adalah keindahan yang menenangkan jiwa. Yang bikin dada sesak.
"Zaid?" Khadijah menyentuh lengan Zaid yang masih melingkar di pinggangnya. Jari-jarinya dingin. Mencoba menyadarkan suaminya yang tampak seperti kehilangan nyawa. "Mas Zaid, kamu kenapa? Kok diem?"
Zaid tersentak. Seperti kesetrum.
Ia segera melepaskan pelukannya dengan kaku. Tangannya ditarik cepat. Namun matanya masih belum bisa berpaling dari wajah Khadijah. Seperti terpaku magnet.
"Kamu..." suara Zaid serak. Tenggorokannya mendadak kering. Ia menelan ludah. "Kenapa... kenapa kamu buka? Cadarnya?"
Khadijah menunduk. Dalam. Wajahnya memerah sempurna hingga ke telinga. Sampai ke leher. "Karena Mas yang minta tadi malam," jawabnya lirih. Jujur. "Mas tanya apa saya betah... jadi saya pikir, mungkin ini saatnya. Mungkin Mas mau saya merasa nyaman di rumah sendiri."
Zaid menelan ludah lagi. Tenggorokannya sakit.
Ia merasa seperti orang bodoh. Bodoh sekali. Yang baru saja menemukan harta karun senilai triliunan di halaman rumahnya sendiri. Dan selama ini ia injak-injak.
Keangkuhan yang selama ini ia bangun sebagai "pria jalanan yang dingin" runtuh berantakan. Hancur. Hanya dengan sekali tatap.
"Jangan..." Zaid menggantung kalimatnya. Nafasnya tertahan. Membuat Khadijah mendongak cemas. Matanya berkaca.
"Jangan apa, Mas?" tanya Khadijah lirih. Takut. "Mas nggak suka melihat wajah saya? Jelek ya?"
"Jangan ditutup lagi," sambung Zaid cepat. Potong. Suaranya lebih tegas. Tapi ada nada permohonan di sana. Nada yang tidak pernah ia pakai sebelumnya. "Maksudku... kalau di dalam kamar. Di rumah. Jangan ditutup lagi. Aku... aku baru sadar kalau aku punya istri. Istri yang... yang cantik."
Kata terakhir itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan.
Khadijah tersenyum malu. Sangat malu. Lesung pipi kecil di sudut bibirnya muncul. Pemandangan yang membuat jantung Zaid melakukan backflip. Jatuh.
Khadijah bangkit dari ranjang. Gerakannya anggun. Rambut panjangnya bergoyang mengikuti gerakannya seperti air terjun.
"Ayo sholat subuh, Mas," ajak Khadijah sembari melangkah menuju kamar mandi. Suaranya sudah kembali tenang. "Nanti telat. Adzan sudah mau."
Zaid masih duduk mematung di ranjang. Seperti patung.
Ia menatap punggung istrinya sampai menghilang di balik pintu kamar mandi. Sampai suara air mengalir terdengar.
Ia menyentuh dadanya. Di atas jantung. Yang berdegup kencang. Kencang sekali.
Pagi ini, Zaid Al-Idrus sadar.
Bahwa peperangan sesungguhnya bukan lagi melawan geng motor Macan Hitam di jalanan. Bukan lagi melawan Abi.
Melainkan melawan hatinya sendiri.
Hati yang mulai menyerah. Yang mulai luluh. Yang mulai jatuh cinta pada pesona sang Hafizah.
Pada wanita yang selama ini ia anggap sebagai beban... dan ternyata adalah hadiah.