NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Hari terus berlalu dengan suram, Girga menjanjikan bahwa besok dia akan membawa putrinya pulang ke rumah, namun Girga pun berpikir kembali, bagaimana bisa dia mengajak putrinya pulang dalam kondisi seperti ini? Dokter Fahru, dan dokter Rijal terus bulak balik buat meriksa keadaan Valeska, tapi lagi dan lagi, kata baik-baik saja, tidak terucap.

Sudah sepuluh hari mereka merawat Valeska. Sepuluh hari penuh air mata, dengan hati yang diliputi kecemasan. Setelah keluar dari ICU, Valeska menjadi lebih rewel dan sering mengalami sesak napas. Kini, dia bersikeras meminta kedua orang tuanya untuk rujuk dan memberinya seorang adik. Bahkan, dia memohon agar teman-temannya diperbolehkan menjenguk. Padahal, kondisinya saat ini belum memungkinkan.

"Cantiknya abang, ayo buka mulutnya," ujar Kaivandra.

Lalu menyodorkan satu sendok bubur tepat di depan mulut adiknya, Valeska tetap menolak. Delina, hanya mampu tersenyum getir melihatnya. Sejak kemarin, Valeska menolak semua makanan padahal perutnya kosong. Bahkan buah yang sudah dikupas pun tidak disentuhnya. Girga, menghampiri dan mengusap lembut rambut putrinya. Namun, hatinya terkejut saat mendapati segenggam rambut rontok di tangannya.Tanpa berkata apa-apa, ia menyembunyikan rambut itu ke dalam saku celananya.

"Adek, makan dulu, cantik," ujarnya lembut. "Papa tahu kok, adek nggak tidur. Papa minta maaf soal semalam, ya. Jangan marah lagi ..."

Namun, Valeska tetap memejamkan matanya, memilih diam dalam kesal.

"Adek mau Mama sama Papa rujuk, kan? Mau punya dedek bayi juga, kan?" Girga bertanya pelan.

Perkataan itu mengejutkan semua orang. Delina, Kaivandra, dan bahkan Valeska tak menyangka kata-kata itu akan terucap dari kepala keluarga. Girga dan Delina saling menatap, kemudian mengangguk sepakat. Mereka rela melakukan apa saja demi putri kesayangannya.

"Sebenarnya, Mama sama Papa itu nggak cerai. Kita hanya berjauhan karena satu dan lain hal. Tapi hubungan kita sudah membaik sekarang. Soal dedek bayi, nanti kita pikirkan, ya."

Valeska membuka mata perlahan, menatap mereka penuh ketidak percayaan. "Beneran? Nggak bohong, kan?" tanyanya lemah. Delina tersenyum, menggeleng.

"Nggak bohong, dek."

"Jadi, adek nggak usah mikir yang aneh-aneh lagi, fokus aja untuk kesembuhan, adek." Girga menambahkan, membelai kening putrinya.

Kaivandra, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Kalau mau jadi seorang Kakak, harus semangat, dong." Senyum tipis muncul di wajah Valeska meski bibirnya pecah-pecah.

Dengan suara parau, dia berbisik, "Adek akan berusaha semampu adek. Tapi kalau adek capek, tolong jangan ditahan. Biarkan adek pergi. Kalian harus ikhlas."

Air mata Delina tak lagi tertahan. Dengan suara bergetar, dia menjawab, "Kami akan berusaha ikhlas jika waktunya tiba."

Hati mereka teriris saat mendengar kata itu. Beda halnya dengan Valeska, di saat mereka menangis dalam diam. Dia malah semakin tersenyum, setidaknya keikhlasan mereka tidak membebani saat dia dipanggil Tuhan ke pangkuan-Nya.

"Udah ya, sekarang waktunya makan, mau sama siapa disuapin nya?" tanya Girga.

Valeska menggeleng lemah, pertanda dia tidak mau makan.

"Kenapa cantik? Katanya mau jadi Kakak, tapi kok kayak gini? Sekarang adek waktunya minum obat, dan harus makan dulu,"

"Adek sakit, Pa. Tenggorokan adek sakit," rintih Valeska, sembari memegang lehernya.

Girga menatap putrinya penuh khawatir. Sejak kemarin, hanya vitamin dari infus yang masuk ke tubuhnya.

"Sedikit aja ya, cantik," bujuk Kaivandra.

Dengan berat hati, Valeska membuka mulut. Namun, setelah suapan pertama, dia tersedak. Makanan yang belum sepenuhnya tertelan membuatnya muntah. Suasana jadi kacau. Girga mengusap punggung dan dada putrinya. Mata Kaivandra berkaca-kaca saat melihat adiknya. Lagi-lagi, Tuhan mengingatkan mereka bahwa kehilangan bisa datang kapan saja. Valeska terbaring diam, sementara waktu seolah berhenti.

"Efek dari kemoterapi, se'menyakitkan itu ya dek. Sampai organ yang tadinya sehat, jadi terluka. Pantas adek bilang capek."

***

Bel pulang sekolah sudah berdering. Mereka bertiga akan langsung pergi ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi Anaya, tadi siang Kaivandra mengirimkan pesan pada Laksha, jika mereka sudah diizinkan menjenguk.

Di sepanjang perjalanan, raut wajah mereka terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak, mereka sudah lama tidak bertemu bahkan saling mengirim pesan pun tidak. Semalam Prisha berbicara juga pada ayahnya, memohon agar dia ikut bekerja ke rumah sakit demi bertemu dengan Valeska. Namun, ayahnya yang bernama dokter Rijal itu tidak mengizinkannya sama sekali. Awalnya teman satu kelas akan ikut menjenguk, tapi balik lagi pada pihak keluarga yang tidak memperbolehkan.

"Kita ke sana bawa apa?" tanya Laksha."

Buah yang dia suka aja, soalnya kalau makanan cepat saji kita kan nggak tahu, pantangan apa yang nggak boleh dimakan sama Valeska," jawab Anaya.

"Gini aja, kita beli buah dulu. Sekalian sama beli roti, buat orang tua dan abangnya Valeska, gimana?"

Pertanyaan Prisha pun langsung disetujui oleh teman-temannya.

***

Mereka mulai menulusuri lorong rumah sakit, dengan membawa makanan berupa buah-buahan dan roti. Pancaran kebahagiaan, kian terlihat jelas di wajah mereka.

"Ayah," panggil Prisha, yang tidak sengaja berpapasan dengan sang ayah.

"Eh, kalian. Mau ke ruangan Valeska?"

Mereka pun mengangguk kompak, "Ruangan Valeska nomor berapa, Yah?"

"Di lantai tiga, nomor 115. Nanti, di sana jangan pada berisik ya, soalnya teman kalian lagi butuh banyak istirahat,"

"Oke siap, Om." Jawab Laksha, dan Anaya.

Dokter Rijal pun mengangguk paham, dan segera meninggalkan tempat tersebut lantaran akan bertugas kembali.Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka telah sampai di depan ruangan nomor 115. Prisha mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian memutar kenop pintu, satu persatu mulai masuk ke dalam ruangan dengan senyuman yang amat indah.

Begitu masuk, pandangan mereka langsung tertuju pada gadis yang sedang tertidur di atas kasur pesakitan. Di samping Valeska, terlihat keluarganya yang sedang duduk melingkari tempat tidur gadis itu.

"Kalian, sini Nak. Valeska udah nunggu kalian dari kemarin," panggil Delina.

"Cantik, itu ada teman-teman kamu ke sini, kamu happy?" tanya Delina sembari menatap ke arah Valeska.

Tak kalah sopan, perwakilan dari mereka pun menjawab. "Sebelumnya mohon maaf jika kedatangan kami kesini mengganggu waktu Om, dan Tante," ucap Anaya.

"Nggak sama sekali, bang ajak mereka ke sini."

Kaivandra pun berjalan mendekati ke tiga gadis yang masih berdiri di ambang pintu sana. Tangan mungil Valeska perlahan terangkat, memberi isyarat kepada teman-temannya agar mendekat. Kini, iwla bersandar pada beberapa bantal yang menyangga punggungnya.

Tenggorokannya begitu perih, seperti ada luka tak kasat mata yang menghalangi setiap kata.

"Kangen ..." lirihnya.

Tangan pucat itu bergerak pelan, mengusap punggung salah satu temannya.

"Kami juga kangen, Val," jawab Prisha, suaranya berat oleh rasa haru. Ia masih belum percaya bahwa Valeska yang dia kenal kini terkulai lemah, tak berdaya.

"Kak, sejak kapan Valeska sakit begini?" tanya Laksha pada Kaivandra.

"Sudah lama," Kaivandra menjawab dengan nada pelan.

"Tapi kondisinya semakin drop setelah kemoterapi, sampai harus masuk ICU."

Teman-temannya menatap Valeska, yang hanya mampu tersenyum di balik masker oksigen. Dengan gerakan lemah, ia mengangkat ibu jari, seolah meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.

"Kalian langsung ke sini habis sekolah? Apa nggak capek?" tanya Girga yang merupakan ayah dari Valeska.

"Nggak, Om," jawab Prisha mewakili teman-temannya.

"Rasanya nggak pantas kalau kami bilang capek hanya karena menjenguk Valeska. Justru kami bersyukur Om dan Tante mengizinkan kami datang."

"Mau peluk ..." ucap Valeska yang hanya cukup didengar oleh papanya.

"Valeska minta dipeluk," Girga menyuarakan keinginan putrinya.

"Boleh." awab mereka serempak.

Girga dan Delina, mundur sedikit, memberi ruang bagi ketiga gadis itu untuk merentangkan tangan, siap memeluk tubuh rapuh Valeska. Pelukan itu terasa hangat meski Valeska membalasnya dengan kekuatan yang nyaris hilang. Baru beberapa hari berpisah, namun rindu seolah telah bertumpuk bertahun-tahun.

"Cepat sembuh ya, Val. Kita harus tampil di prom night nanti," ucap Anaya penuh harap.

Valeska mengangguk, senyum kecil terukir di wajahnya. Setelahnya, Laksha yang memeluk, menatap Valeska lama.

"Val, jangan terlalu banyak pikiran ya. Biar cepat sembuh dan balik ke sekolah. Lo pasti kangen kan?"

Valeska hanya menjawab dengan senyuman.

"Gue juga mau," sela Prisha, menunggu giliran dengan wajah memelas.

Valeska kembali membuka tangannya lemah. "Sini," katanya pelan.

Prisha mendekat dan langsung memeluknya erat. "Gue kangen banget, Val. Tiap hari gue nangisin lo. Lo, harus sembuh, ya? Kita harus bareng lagi."

Kata-kata Prisha membuat Valeska terkekeh kecil. Sikap temannya yang satu ini memang tak berubah.

"Hati-hati infusnya, Nak. Jangan sampai lepas," Delina memperingatkan dengan lembut.

Valeska mengangguk, di sisi lain, ada pasang mata yang terharu saat melihat kedekatan Valeska dengan ketiga temannya. Anaya, Prisha, dan Laksha hanya menjenguk kurang lebih satu jam, karena sadar matahari mulai tenggelam. Ketiganya pamit, sementara Valeska melepas mereka dengan senyum tipis, menyembunyikan kepedihannya.

Dan sekarang, di dalam ruangan itu hanya menyisakan Girga, Delina, dan Kaivandra. Valeska tetap berada di tempat tidur, sementara orang tua dan abangnya sedang menikmati makanan yang baru saja mereka pesan.

"Apakah harus kayak gini dulu supaya bisa merasakan kehangatan ini?" tanya Valeska dalam hati, dia tidak lepas memandangi momen indah di depannya.

Kaivandra yang paham adiknya diam, dia pun menoleh ke samping lalu berkata. "Cantiknya abang kenapa?"

Valeska hanya tersenyum tipis, lalu mencoba menjawab, "Adek seneng melihat momen bersama kayak gini."

Valeska berucap bohong. Sebetulnya, sejak teman-temannya izin pulang, Valeska sudah merasakan sakit di bagian kepalanya. Namun, dia tahan karena tidak ingin membuat keluarganya khawatir, apalagi setelah dia tahu kalau mereka belum makan sejak tadi pagi.

Kaivandra memandangi adiknya yang diam tak bersuara. Wajah itu, dulu penuh rona cerah, kini begitu tirus dan pucat, warna kuning samar di kulitnya semakin meresahkan. Hati Kaivandra teriris, tak sanggup melihat penderitaan itu lebih lama.

"Ma, abang udah kenyang," katanya, sambil meletakkan sendok.

"Baru makan sedikit, bang. Habiskan dulu, nanti mubazir," ujar Delina, yang akhirnya membuat Kaivandra mengangguk pasrah.

Setelah makan, Girga mengajak putra sulungnya pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli beberapa keperluan. Di dalam ruangan kini hanya tersisa Delina dan Valeska. Ketika Delina beranjak ke kamar mandi, ia tersentak mendapati Valeska meringkuk di tempat tidur, menggigit bibir untuk menahan rasa sakit yang tak tertahankan.

"Adek kenapa, Sayang? Sakit, ya?" Delina segera mendekat, panik.V

Valeska mengangguk samar, tangannya yang lemah menggenggam lengan mamanya.

"Monsternya jahat, Ma ... Adek nggak suka," lirihnya di sela isak tangis.

"Mama di sini, sayang. Kita lawan, ya?" Delina mencoba tegar, meski suaranya bergetar.

Delina mengambil obat pereda nyeri dan dengan lembut membantu Valeska meminumnya. Meski susah payah, Valeska berusaha menelan, namun rasa sakit di tenggorokannya membuatnya meringis. Delina mengelus kepala putrinya, meredam jerit yang bergaung di hatinya. Di setiap isak, rasa sakit itu terasa menggandakan pedihnya. Ia hanya bisa memeluk, mencoba menjadi benteng untuk putrinya yang terus melawan monster dalam tubuh kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!