Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta Renata
Reinhart langsung tancap gas menuju ke kampus Avicenna untuk mengikuti perkuliahan dokter Boy, ayah Renata. Tiga hari ini ia sudah banyak ketinggalan materi penting dari beliau.
Saat berhenti di lampu merah, ponsel Reinhart berdering. Sebuah panggilan dari Riyan.
"Assalamu'alaikum, Yan."
"Widih, ada yang kesambet apa gimana nih? Kok tiba-tiba pakai salam segala?" Riyan terkekeh di seberang sana.
"Yan, kalau ada yang mengucap salam, kamu harus menjawabnya, dosa kalau kamu gak jawab." Reinhart menceramahi Riyan.
"Iya, maaf. Wa'alaikumsalam, wahai ustadz Reinhart. Lagi dimana nih? Renata bilang kamu mau bukain pintu buat dia kemarin. Curang banget lo ya!" Riyan agak kesal dengan Reinhart.
"Sorry banget ya, Yan. Waktu itu gue lagi menenangkan diri."
"Kampret emang lo! Trus sekarang lo dimana? Udah jam segini belum ke klinik."
"Gue lagi nenangin diri di tempat nabi Adam dihukum." Reinhart sengaja mengerjai Riyan.
"Sialan lo! Becanda bae kerjanya. Cepat bilang lo dimana?" Riyan bertambah kesal.
Reinhart malah tertawa. "Gue gak bercanda." Reinhart turun dari mobil dan melangkah ke sebuah tempat yang cukup sepi bertuliskan 'tempat pemakaman umum'.
"Gue tutup dulu ya! Gue hari ini gak ke klinik. Gue masuk kuliah Dokter Boy. Wassalamu'alaikum." Reinhart menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
Langkahnya dilanjutkan menuju ke gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan 'Rania Tamrin' dan 'Rama Kramawijaya'.
"Assalamu'alaikum, Pa, Ma. Maaf ya Rein baru sempat datang berkunjung." Reinhart meletakkan buket bunga di atas makam Rania.
Reinhart menengadahkan tangan dan berdoa untuk kedua orang tuanya. Usai berdoa, Reinhart kembali bercerita tentang kegundahan hatinya.
"Tolong berikan aku kekuatan agar sabar untuk menunggu Anisa. Aku sangat mencintainya, Ma, Pa. Kalian pasti akan menyukainya kalau bertemu."
Reinhart mengembus napas kasar. "Kenapa sejak dulu aku selalu kalah dari Kak Rendra? Kenapa? Andai saja kalian masih ada, pasti kalian akan mendukungku kan?"
Reinhart duduk bersila di tanah tanpa peduli pakaiannya kotor. "Kali ini aku gak akan kalah, Ma. Aku pasti bisa bersama Anisa setelah pernikahan mereka berakhir. Aku akan bersabar untuk itu."
Cukup lama Reinhart berada di makam orang tuanya. Hingga sebuah getaran di ponsel memaksanya untuk pergi.
[ Kelas saya sebentar lagi dimulai. Segeralah datang, Reinhart ]
Itu adalah pesan dari Dokter Boy. Reinhart berpamitan pada kedua orang tuanya. Hatinya sudah merasa lega usai menceritakan semua pada mereka meski tak mendapat jawaban. Sejak mereka berdua meninggal, Reinhart tidak memiliki tempat untuk mencurahkan hati meski ia memiliki Riyan, tapi rasanya tetap berbeda dengan orang tuanya sendiri.
*
*
*
Rhea dan Renata mencecar Anisa dengan berbagai pertanyaan seputar kehamilannya.
"Huft... Aku memang sedang hamil, Rhe. Tapi tolong, jangan sebarkan kabar ini. Ya?" pinta Anisa.
"Ya ampun, Nis. Masa iya kita sejahat itu sih?" Rhea memeluk Anisa.
"Kami ikut senang mendengarnya. Tapi, kenapa kamu menutupi kehamilan kamu ini? Kan kamu sudah menikah." Renata ikut menyahut.
Anisa meringis. "Ada sesuatu yang membuatku harus menutupi kehamilanku. Tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak. Ini sudah jadi keputusanku dan suami." Anisa tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Renata bernapas lega karena ternyata Anisa benar sudah menikah dan bahkan sedang hamil. Itu artinya jalan menuju ke hati Reinhart makin dekat bagi Renata.
Renata mengirim pesan ke ponsel Reinhart. Renata ingin bertemu dengan pria itu hari ini juga. Hatinya sudah menggebu-gebu untuk bersama dengan Reinhart.
"Kami sudah saling kenal sejak lama. Aku yakin Kak Rein gak akan menolak aku," batin Renata penuh percaya diri.
*
*
*
Pukul enam petang Reinhart tiba di apartemen. Setelah jam perkuliahan selesai, Dokter Boy dengan sukarela mengajari Reinhart secara privat agar pria itu tidak tertinggal materi yang penting. Bahkan Dokter Boy memberi nasehat untuk Reinhart.
"Apapun masalahmu, selesaikanlah dengan baik dan kepala dingin. Untuk saat ini, pikirkanlah apa yang baik untuk masa depanmu. Jangan terdistraksi oleh hal-hal yang bisa membuatmu jatuh."
Baru saja Reinhart duduk di sofa ruang tamu dan melepas penat, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk yang segera dibaca oleh Reinhart.
[ Kak, kita dinner yuk. Aku udah pesan tempat di kafe biasa ]
Itu adalah pesan dari Renata. Reinhart menghela napas kasar. Inginnya beristirahat saja di rumah, tapi menolak keinginan Renata juga membuat batinnya tak nyaman. Ayah Renata sudah berbaik hati menolongnya, kini Reinhart harus membalas kebaikan Dokter Boy dengan bersikap baik pada Renata.
[ Baik, aku akan bersiap kesana ]
Di seberang sana, Renata tersenyum gembira membaca pesan balasan dari Reinhart.
"Kita sudah lama kenal, Kak. Mungkin sudah saatnya aku mengungkapkan rasa ini sama kamu." Renata bergegas menuju ke lemari pakaiannya dan memilih gaun terbaik untuk malam ini.
*
*
*
Tiba di sebuah kafe, Reinhart mengernyit bingung karena suasana kafe sungguh sepi. Reinhart berjalan masuk dan bertanya pada pelayan.
"Permisi, kenapa kafenya sepi sekali?"
Si pelayan tersenyum ramah. "Untuk malam ini kafe ini sudah di booking, Kak."
"Oh, begitu ya."
"Kakak langsung naik saja ke lantai atas. Nona Renata sudah menunggu di atas."
Reinhart mengangguk lalu menaiki anak tangga ke lantai atas. Reinhart melihat Renata yang berdiri menyambutnya.
"Kak Rein..."
"Kamu menyewa tempat ini cuman untuk kita dinner?" tanya Reinhart penasaran.
Renata mengiyakan. "Iya, Kak. Biar suasananya lebih intim aja. Silakan duduk, Kak."
Reinhart mengulas senyum tipis. Entah hanya perasaannya saja atau memang ada yang berbeda dari sikap Renata malam ini, Reinhart tak bisa menerkanya.
"Makasih ya Kakak udah bersedia datang. Papa bilang tadi Kakak sempat privat dulu sama Papa, karena Kakak ketinggalan materi waktu kemarin."
Reinhart tersenyum tipis. "Aku gak nyangka Dokter Boy bakal ceritain hal kayak gitu ke kamu."
"Aku yang nanya sama Papa. Semua tentang Kakak, aku harus tahu."
Reinhart mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Karena Kakak adalah orang yang spesial buat aku."
"Kayak martabak ya?" canda Reinhart.
Renata tergelak. "Aku senang Kakak udah balik kayak dulu."
Reinhart mulai menyuap beef steak ke dalam mulutnya. Akhir-akhir ini pikirannya memang sedang kacau karena Anisa. Namun, Reinhart harus melanjutkan hidup dan melangkah untuk masa depan. Rencananya untuk menunggu Anisa, harus berakhir indah dengan ia yang memiliki modal yang cukup untuk kehidupannya nanti dengan Anisa. Aaah, Reinhart sudah berpikir sejauh itu.
"Kak..."
"Hmm?"
"Ada yang mau aku omongin sama Kakak."
"Soal apa?"
Renata meletakkan pisau dan garpu lalu menatap Reinhart.
"Mungkin buat Kakak ini sangat mendadak, tapi buatku ... aku udah mikirin ini sejak lama."
Reinhart ikut berhenti makan dan menatap Renata. "Ada apa sih, Re?"
"Aku suka sama Kakak. Mungkin gak cuma suka, tapi udah jatuh cinta sama Kakak."
"Eh?" Reinhart terkejut mendengar pengakuan Renata.
"Keluarga kita kan udah lama saling mengenal. Aku juga udah kenal Kakak dari lama, jadi ... aku ingin kita punya hubungan yang lebih dari teman, lebih dari kakak adik dan—"
"Renata," cegat Reinhart.
Renata menatap Reinhart tak percaya. "Kakak mau bilang apa?"
Reinhart mengembus napas pelan. "Aku minta maaf..."
"Kakak nolak aku?"
Reinhart membisu.
"Karena Anisa?" terka Renata.
Wajah Reinhart berubah kaget saat mendengar nama Anisa disebut.
"Kenapa dia, Kak? Dia kan sudah menikah. Dia juga lagi hamil. Apa kurangnya aku dibanding dia?" Renata menahan tangisnya meski hatinya sungguh terluka.
"Maaf..." Reinhart menundukkan wajah.
Air mata Renata mulai menetes perlahan, tapi segera ia hapus.
"Apa aku punya kesempatan?"
Reinhart menatap Renata. "Aku sayang sama kamu sebagai adik. Kamu adalah gadis yang baik. Kamu berhak bahagia, Renata."
"Aku akan tunggu Kakak."
"Jangan, Rena. Jangan menungguku. Jangan sia-siakan waktu kamu hanya untuk menunggu pria sepertiku."
Tangis Renata akhirnya pecah. Hatinya dipatahkan dengan begitu dahsyat oleh Reinhart.
"Maafkan aku..." Reinhart beranjak dari duduknya dan menghampiri Renata. Tangannya terulur dan mengusap puncak kepala Renata.
"Aku akan tetap jadi Kakak kamu sampai kapanpun." Setelahnya Reinhart berjalan pergi meninggalkan Renata.
Tangis Renata makin kencang setelah Reinhart pergi. Tangannya memukuli dadanya yang terasa sesak. Renata kalah. Ia sudah kalah dari Anisa yang entah pesona apa yang dimilikinya hingga Reinhart jatuh hati pada wanita hamil itu.
*
*
*
Reinhart sampai di apartemen pukul delapan malam. Tidak terlalu lama ia makan malam bersama Renata karena ia tak mau memberi harapan palsu pada gadis itu.
"Rein, akhirnya lo datang juga. Abis dari mana lo?" Rupanya Riyan sudah menunggu di depan apartemen Reinhart.
"Lo gak ada kerjaan lain ya selain gangguin gue?" Reinhart menggeleng pelan lalu membuka pintu apartemen dengan kode kunci rahasia yang tidak Riyan tahu.
"Iz, kasih tau dong lo abis dari mana?"
"Dinner," jawab Reinhart singkat.
"Sendirian?"
"Kepo banget sih! Ada apaan lo datang kesini?"
"Lo harus ceritain kemana aja lo selama ini? Lo beneran di dalam sini, tapi kenapa gak mau bukain pintu buat gue?"
Reinhart menghempas tubuhnya di sofa. "Gue butuh nenangin diri dan pikiran, Yan." Reinhart memijat pelipisnya pelan. Kini hidupnya makin rumit setelah pernyataan cinta Renata tadi. Sungguh ia tak ingin menyakiti hati gadis itu. Namun, Reinhart juga tak mau Renata banyak berharap padanya. Hatinya sudah tertambat pada Anisa dan ia harus jujur soal itu.
"Trus, lo udah dapat jawaban dari semua beban pikiran lo?"
Reinhart mengangguk. "Baru sedikit."
"Lo jadi aneh sejak malam itu. Sebenarnya lo kemana dan ketemu siapa?"
Reinhart menatap Riyan datar. Haruskah ia menceritakan semuanya pada Riyan? Haruskah Riyan tahu jika Anisa menikah siri dengan Rendra dan jadi ibu pengganti untuk Raisa?
"Gue ketemu sama ...."
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸