Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 - Koridor Tanda Jalan Keluar
"Raka!"
Suara Alea menggema di lorong rumah sakit ketika melihat suaminya berlari menuju tangga darurat.
Namun Raka tidak berhenti.
Pintu besi didorong hingga terbuka lebar.
**Brak!**
Tangga darurat itu sepi. Hanya suara langkah kaki yang bergema di antara dinding beton.
Raka mendongak.
Seseorang berjaket hitam sedang berlari turun dua lantai di bawahnya.
"Berhenti!"
Pria itu tidak menoleh.
Ia justru mempercepat langkah.
Raka mengejar.
Dua anak tangga sekaligus ia lewati.
Jarak mereka semakin dekat.
Namun saat hampir berhasil meraih bahu pria itu...
Pria tersebut melempar sebuah tabung kecil ke arah lantai.
**Pyar!**
Asap putih langsung memenuhi tangga darurat.
Pandangan Raka seketika tertutup.
Ia refleks menutup hidung dan mundur beberapa langkah.
Ketika asap mulai menipis...
Pria itu sudah menghilang.
Yang tersisa hanya sebuah kartu berwarna hitam.
Raka memungutnya.
Di bagian depan hanya ada gambar seekor burung garuda dengan tinta perak.
Di bagian belakang tertulis satu kalimat.
> **Berhentilah menjadi pahlawan.**
Tatapan Raka mengeras.
Ini bukan sekadar ancaman.
Seseorang sedang bermain dengannya.
---
Sementara itu...
Alea masih berdiri di depan ruang ICU.
Tangannya terasa dingin.
Bibi Maya yang datang menyusul segera merangkul bahunya.
"Sudah duduk dulu, Nak."
Alea menggeleng.
"Aku tidak apa-apa."
Padahal wajahnya jelas terlihat pucat.
Adrian menghampiri sambil membawa dua botol air mineral.
"Minum dulu."
Alea menerimanya.
"Terima kasih."
Adrian memperhatikan perempuan itu beberapa saat.
"Kalau boleh jujur..."
"Saya kagum."
Alea mengernyit.
"Kagum?"
"Dalam beberapa hari hidupmu berubah total."
"Tapi kamu masih bisa berdiri."
Alea tersenyum pahit.
"Bukan karena aku kuat."
"Kalau begitu?"
"Karena aku tidak punya pilihan."
Jawaban itu membuat Adrian terdiam.
Ia mulai mengerti kenapa Raka begitu keras kepala melindungi Alea.
Perempuan ini memang tidak mudah menyerah.
---
Tak lama kemudian, Raka kembali.
Kemejanya sedikit kotor terkena debu dari tangga darurat.
"Apa kamu berhasil menangkapnya?" tanya Adrian.
Raka menggeleng.
"Dia lolos."
"Lalu ini?"
Raka menunjukkan kartu hitam yang ditemukannya.
Wajah Adrian langsung berubah.
"Kartu ini..."
"Kamu mengenalnya?"
Adrian mengangguk pelan.
"Dulu..."
"Setiap anggota inti organisasi itu selalu membawa kartu seperti ini."
Alea yang mendengar pembicaraan mereka akhirnya angkat bicara.
"Organisasi apa sebenarnya?"
Untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab.
Raka menatap Alea.
Lalu menarik napas panjang.
"Sudah waktunya kamu tahu sebagian."
Alea menunggu.
"Lima tahun lalu..."
"Aku bukan sekadar konsultan hukum."
"Aku diminta membantu tim investigasi mengungkap jaringan pencucian uang yang melibatkan beberapa perusahaan besar."
"Kasus itu hampir selesai."
"Tapi..."
Raka berhenti.
"Seseorang membocorkan seluruh penyelidikan."
"Akibatnya?"
"Beberapa saksi menghilang."
"Sebagian meninggal."
"Dokumen utama lenyap."
"Dan pelaku utamanya tidak pernah tertangkap."
Alea menatapnya tanpa berkedip.
"Kasus itu..."
"...berhubungan dengan ayahku?"
"Awalnya aku tidak tahu."
"Baru setelah perusahaan Prameswari terseret, aku menyadari polanya sama."
"Lalu... kamu menikah denganku karena penyelidikan ini?"
Pertanyaan itu membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.
Raka tidak langsung menjawab.
Keheningannya justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
Alea menundukkan kepala.
Dadanya terasa sesak.
"Jadi..."
"...pada awalnya, aku memang hanya bagian dari misimu?"
Suara itu begitu pelan.
Namun cukup membuat Raka merasa bersalah.
"Iya."
Jawaban jujur itu keluar tanpa ragu.
"Tapi itu hanya pada awalnya."
Alea tersenyum tipis.
Senyum yang menyimpan luka.
"Terima kasih karena sudah jujur."
Ia berbalik dan berjalan menuju jendela lorong rumah sakit.
Raka ingin mengejarnya.
Namun ia tahu...
Saat ini Alea membutuhkan ruang.
---
Di dalam ruang ICU, monitor jantung Arga kembali stabil.
Dokter keluar sambil melepas masker.
"Pasien sudah bisa bernapas lebih baik."
"Besok kemungkinan sudah bisa dimintai keterangan singkat."
Semua mengembuskan napas lega.
Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Seorang perawat berlari dari ujung lorong.
"Waduh... Dok!"
"Ada apa?"
"Rekaman CCTV ICU dari satu jam terakhir..."
"...hilang."
"Hilang bagaimana?"
"Sistemnya diretas."
Raka dan Adrian saling berpandangan.
Musuh mereka bukan hanya berani menyerang.
Mereka juga mampu menghapus jejak tanpa meninggalkan bukti.
Dan itu berarti...
Permainan ini jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Di balik jendela lorong, Alea memejamkan mata.
Ia baru saja mengetahui bahwa pernikahannya bermula dari sebuah misi.
Tetapi satu pertanyaan lain mulai tumbuh di dalam hatinya.
**Kalau awalnya hanya misi... sejak kapan tatapan Raka berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab?**
**Bersambung...**