The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang di Atas Air
Aku sedang meminyaki pedang di salah satu sudut geladak ketika laju kapal mulai berubah.
Marlow memberiku sebotol kecil minyak kamelia setelah makan siang. Cairannya berwarna kuning pucat, hampir bening, dengan aroma lembut yang mengingatkanku pada biji-bijian kering. Ia juga menyerahkan sepotong kain wol yang sudah kusam dan menyuruhku membersihkan seluruh bilah, bukan hanya bagian yang terlihat kotor. Menurutnya, kelembapan danau dapat merusak baja lebih cepat daripada darah.
Ia menyebut pedang sebagai perpanjangan tanganku. Bila aku ingin terus membawanya, aku harus mulai memperlakukannya sebagai sesuatu yang hidup bersamaku, bukan benda yang hanya kutarik ketika marah. Karat kecil yang dibiarkan tumbuh dapat membuat bilah patah saat paling dibutuhkan. Darah yang mengering di dekat pelindung tangan dapat masuk ke celah logam, mengeras, dan merusak keseimbangan senjata.
Biasanya Marlow yang membersihkannya setiap kali kami berhenti. Di dalam tenda, di tepi sungai, bahkan di kamar penginapan, ia akan mengambil pedangku tanpa berkata banyak, memeriksa mata bilah, mengasah bagian yang tumpul, lalu mengembalikannya sebelum pagi.
Aku sempat menganggapnya sebagai hal biasa. Di istana, benda-bendaku selalu kembali dalam keadaan bersih. Sepatu berlumpur ditinggalkan di depan pintu dan muncul kembali keesokan hari tanpa noda. Pakaian kotor menghilang dari kursi. Pedang latihan disusun kembali di rak setelah aku selesai menggunakannya. Aku jarang memikirkan tangan siapa yang mengerjakan semua itu.
Namun Marlow bukan pelayanku.
Demi apa pun, dia bukan.
Ia justru lebih sering menyuruhku bekerja daripada menanyakan apa yang kuinginkan. Mengumpulkan kayu. Mengikat tenda. Mengambil air. Menjaga api. Memeriksa tali. Dan sekarang membersihkan pedang sendiri.
Jadi aku melakukan yang ia minta. Aku duduk di atas peti rendah dekat sisi kapal, satu lutut terangkat untuk menopang pedang. Sarungnya diletakkan di antara kedua kaki. Mula-mula aku mengusap bilah menggunakan kain kering, menghilangkan debu halus dan bekas jari yang menempel pada permukaan baja. Setelah itu, kutuangkan beberapa tetes minyak kamelia pada kain wol dan menggosokkannya dari pangkal menuju ujung.
Lapisan tipis mengilap muncul mengikuti gerak tanganku.
Pedang itu sebenarnya bukan milikku.
Aku menemukannya tergeletak di samping seorang tentara Izengard yang sudah mati pada malam istana diserang. Tubuh pemiliknya terbaring dekat persimpangan koridor, separuh tertutup permadani yang jatuh dari dinding. Darah mengalir dari bawah zirahnya dan menyusuri sela batu.
Aku tidak ingat wajahnya. Aku bahkan tidak tahu apakah ia mati membela Dad atau membantu Dann merebut istana. Seragam mereka sama. Lambang di dada sama. Pedang, sepatu bot, dan zirah mereka dibuat oleh pandai besi yang sama. Pada malam itu, kesetiaan tidak dapat dikenali dari pakaian.
Aku hanya melihat senjata di samping tangannya dan mengambilnya.
Mungkin orang itu sudah mati sebelum pengkhianatan dimulai. Mungkin ia dibunuh setelah mencoba menolong keluargaku. Mungkin justru tangannya ikut menumpahkan darah para penjaga yang masih setia kepada Dad.
Aku tidak akan pernah tahu.
Pedang itu sudah membunuh setidaknya dua orang di tanganku.
Tentara pertama mati di Mitenn Highroad. Aku masih dapat merasakan hentakan ketika bilah memotong lehernya, seolah baja menyimpan ingatan dan mengirimkannya kembali ke telapak tanganku setiap kali kugosok.
Tentara kedua mati di rumah Danmer. Pedang menembus perutnya ketika wajah kami hanya terpisah beberapa inci. Aku melihat kehidupannya padam perlahan, tidak seperti tentara di jalan suci yang mati dalam satu gerakan cepat.
Dua tentara Izengard.
Aku membalik pedang dan mengusap sisi lainnya.
Mungkin senjata itu akan terus menuntut darah tentara Izengard selama Dann masih hidup. Bukan karena bilah memiliki kehendak sendiri, tetapi karena setiap jalan yang kupilih seolah berakhir pada orang-orang berseragam kerajaan yang dulu seharusnya melindungiku.
Aku tidak tahu berapa banyak yang harus mati sebelum aku dapat berdiri di hadapan Dann.
Tidak tahu berapa banyak lagi darah akan mengering di baja sebelum pedang ini akhirnya mencapai tubuh pamanku.
Kapal bergoyang ringan. Air Blue Lake memukul lambung dengan bunyi teratur. Dari tempatku duduk, aku dapat melihat layar utama mengembang di atas kepala dan bayangan tali bergerak di atas geladak.
Aku melanjutkan mengoles minyak sampai seluruh bilah tertutup lapisan tipis. Marlow mengatakan terlalu banyak minyak hanya akan mengikat debu, jadi aku menggunakan sisi kain yang lebih bersih untuk mengangkat kelebihannya.
Aku baru menyadari sesuatu berubah ketika layar mulai kehilangan bentuk.
Kain yang sebelumnya menggembung penuh perlahan mengendur. Tali-tali tidak lagi menegang seperti sebelumnya. Suara angin tetap ada, tetapi kapal tidak membelah air dengan kecepatan yang sama.
Pada awalnya aku mengira kami sudah mendekati Kirren.
Aku melihat ke depan, berharap menemukan garis pelabuhan, atap-atap bangunan, atau menara penjaga di tepi danau. Namun tidak ada daratan. Blue Lake masih terbentang di sekeliling kami, luas dan biru kelabu, tanpa apa pun selain riak air dan cahaya matahari yang mulai menurun.
Seorang awak berlari melewati peti tempatku duduk.
Ia tidak membawa tali atau peralatan. Wajahnya tegang. Ia berhenti di dekat tiang, meneriakkan sesuatu kepada dua orang di atas, lalu menunjuk ke arah timur laut.
Awak lain mulai bergerak.
Salah seorang menarik tali untuk menurunkan sebagian layar. Dua orang lainnya melepaskan ikatan pada peti dan memindahkannya lebih dekat ke tengah geladak. Kapten muncul dari buritan dengan teropong pendek di tangan. Ia mengangkatnya ke mata, melihat cukup lama, lalu mengucapkan perintah yang membuat beberapa kru saling menatap.
Kepanikan mereka tidak meledak menjadi jeritan. Justru bergerak dalam suara yang ditahan, langkah cepat, dan tangan yang mulai melakukan terlalu banyak hal sekaligus.
Aku berdiri.
Pedang masih berada di tangan. Aku menyarungkannya perlahan, lalu memasukkan botol minyak kamelia dan kain wol ke dalam tas kecil di kakiku.
Marlow datang dari arah buritan.
Ishar mengikutinya beberapa langkah di belakang. Rambutnya kembali diganggu angin danau. Ia memegang sisi peti untuk menjaga keseimbangan ketika kapal berbelok sedikit.
Wajah Marlow tenang, tetapi langkahnya lebih cepat daripada biasanya.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia berhenti di depanku. Tatapannya turun sekilas pada pedang yang baru selesai kurawat, lalu kembali ke wajahku.
“Kapal tentara Izengard.”
Aku melihat ke arah danau. “Di mana?”
Marlow mengangkat dagu ke sisi kanan kapal.
“Mereka menuju ke sini.”
Aku mengikuti arah pandangannya.
Pada awalnya aku hanya melihat air, langit, dan silau matahari. Kemudian sebuah bentuk gelap muncul jauh di antara riak. Lambung panjang. Dua layar. Tiang yang lebih tinggi daripada kapal kami.
Sebuah bendera berkibar di puncaknya.
Jarak terlalu jauh untuk melihat warna secara jelas, tetapi aku mengenal bentuk lambangnya bahkan sebelum kapal itu mendekat.
Burung elang Izengard dengan sayap terbentang.
Kapal tersebut bergerak lebih cepat daripada kami. Layarnya penuh, haluannya memotong air dan meninggalkan buih putih panjang di belakang. Beberapa sosok berdiri di geladak depan. Cahaya memantul dari sesuatu yang mereka kenakan.
Zirah.
Aku merasakan tanganku kembali menyentuh gagang pedang.
“Apakah mereka melihat kita?” tanyaku.
“Mereka sudah mengubah arah dua kali,” jawab Marlow. “Mereka melihat kita.”
Ishar berdiri di sebelahnya. Wajahnya kehilangan sedikit warna, tetapi ia tidak mundur atau memegang lenganku. Pandangannya tertuju pada kapal yang semakin membesar.
“Kapten kapal ini mengatakan apa?”
“Tidak banyak.” Marlow melirik ke arah buritan, tempat kapten kami berbicara cepat dengan awaknya. “Ia tidak membawa barang terlarang. Ia tidak punya alasan melarikan diri, dan kapal ini terlalu lambat untuk mencobanya.”
“Kita bisa bersembunyi di antara peti.”
Marlow tidak langsung menjawab. Ia memeriksa susunan muatan, kanopi kecil, pintu menuju ruang bawah, lalu kembali melihat kapal tentara.
“Mereka akan memeriksa semuanya kalau sedang mencari kita.”
Aku menelan ludah. “Mereka mungkin hanya memeriksa perdagangan.”
“Dann mengirim pengumuman sampai Arlenville. Kirren adalah pelabuhan terbesar di Blue Lake. Semua kapal yang menuju ke sana akan diperiksa.”
Aku memandang awak kapal. Sebagian dari mereka kini memperhatikan kami dengan cara berbeda. Mereka tidak tahu siapa kami, tetapi mereka tahu kehadiran kapal tentara bukan pertanda baik. Kapten menatap Marlow dari kejauhan, wajahnya mengeras seolah menyesali keputusan menerima tiga penumpang tanpa nama.
Angin menarik beberapa helai rambut Ishar ke wajah. Ia menyingkirkannya dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Kalau mereka menemukan kita, apa yang terjadi pada kru?”
Pertanyaan itu tidak ditujukan kepadaku.
Marlow melihat kapten dan para awak.
“Mereka akan dituduh membantu buronan.”
Aku merasa perutku mengencang.
Orang-orang ini tidak mengenal kami. Mereka membiarkan kami naik karena entah bujukan atau ancaman Marlow. Mereka tidak tahu bahwa seorang pangeran buron berdiri di antara peti mereka, membawa pedang yang sudah membunuh tentara kerajaan.
Aku melihat kembali kapal Izengard.
Kini sosok-sosok di geladak mulai terlihat lebih jelas. Ada setidaknya belasan orang di atasnya, mungkin lebih banyak di bawah dek. Beberapa membawa busur. Satu orang berdiri di haluan sambil memegang terompet logam.
Kapal kami semakin lambat.
Awak menurunkan layar tambahan. Kapten tidak mencoba melarikan diri. Ia justru mengatur kapal agar tetap stabil, menunggu pemeriksaan yang tidak dapat dihindari.
Marlow melangkah mendekat dan menurunkan suaranya.
“Jangan menarik pedang tanpa perintahku.”
Aku menatapnya.
“Aku serius, Kal. Bila kau kehilangan kendali lagi, bukan hanya kita yang mati.”
Tatapanku bergerak kepada Ishar, lalu para kru kapal. Aku merasakan berat pedang di pinggang, minyak kamelia yang baru saja kuoleskan masih meninggalkan aroma tipis pada kain di dalam tas.
Perpanjangan tanganku.
Namun tangan yang tidak dapat dikendalikan hanya akan membuat senjata itu menuntut lebih banyak darah.
Aku melepaskan gagangnya.
Kapal Izengard semakin dekat, membawa lambang kerajaan yang dulu membuat orang-orang menunduk kepadaku.
Kini lambang itu datang untuk menangkapku.